MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
28



"Kok bisa sih kamu mulung orang seperti itu? Teman SMP kan banyak memangnya tidak ada yang lain?" Tanya Koma.


"Bah! Hahaha kok mulung sih?" Tanya Rita tertawa.


"Teman SMP itu kan banyak haruskah sama dia?" Tanya Diana.


"Mulung lho," kata Rita masih tertawa.


"Biarin! Dia kurang asem sih sahabat kita dia begitu kan. Kurang bersyukur ya orangnya bisa punya teman seperti kamu itu sudah jarang lho. Bercermin sedikit tuh harusnya," kata Koma kesal.


"Hus! Dasar kamu ini, tapi aku setuju Rita apa kata Koma benar Sudah tidak berteman lagi kan? Serius?" Tanya Diana agak cemas.


"Sudah Put-us," jawab Rita.


"Good job," kata mereka berdua mengacungkan jempol.


Mereka kemudian sampai di kedai Sushi yang tidak jauh dari Gramedia.


Mereka menduduki meja yang agak panjang. Prita menitipkan tasnya karena satu temannya belum datang.


"Jadinya 1 yang mau datang?" Tanya arita ke adiknya.


"Iya. Satunya lagi banyak tugas kuliah terus mau remedial juga. Pesan saja duluan," kata Prita.


Pelayan kedai datang dan memberikan menu, mereka semua memilih makanan dan minuman.


"Kamu masih sama Alex?" Tanya Diana sambil melihat menu.


"Alex juga menurut aku banyak bisa mulutnya," kata Koma.


Diana dan Rita tertawa.


"Memangnya dia ular? Ada-ada saja," kata Diana.


"Sudah Put-us juga. Aku blok semua kontak dia," kata Rita memutuskan menu.


Mereka berdua memandangi Rita dan merangkulnya.


Rita memang sudah menyukai Alex tapi apa mau dikata, lebih baik juga selesai.


"Tenang deh, masih banyak yang lebih baik Rita. Kita akan selalu mendoakan kamu yang terbaik," kata Koma memberi semangat.


"Makasih," kata Rita memeluk mereka berdua.


"Si Alex terlihat playboy ya. Dari fotonya tampak begitu," kata Koma membuat Rita bengong. Kok tahu?


"Eh? Memangnya kenapa?" Tanya Rita agak cemas.


Kadang intuisi Komariah dan Diana juga super tajam tapi mungkin karena mereka sangat mengerti mengenai Rita.


"Kalau aslinya dia tahu Alex mantan pelaku Playboy bagaimana ya?" Pikir Rita ketawa.


"Wajahnya agak genit mirip si perempuan aneh itu. Tapi yah dimana-dimana laki-laki tampan ada juga sih yang tidak genit. Malah kesannya cuek, tapi kalau ini harus hati-hati," kata Koma.


"Ha-ha-ha," kata Rita entah harus membalas apa.


"Takutnya kamu malah dipermainkan sama dia, Rita. Makanya aku bilang cari yang lain," kata Koma menjelaskan.


Rita mengerti padahal belum cerita, mau cerita eh ketahuan duluan.


"Aku juga kurang suka karena dia lebih membela pihak salah padahal dia sudah kenal kamu lama kan. Agak aneh," kata Diana dengan logat Palembang nya.


"Oh begitu," kata Rita tersenyum.


"Bagus deh kamu sudah tidak sama dia," kata Diana.


Rita menghela nafas dan menunduk. Mungkin memang benar kalau dia selama ini sudah dipermainkan.


Kiriman cake itu hanyalah alasan agar Rita mau terus ada sebagai mangsanya.


"Kita tahu kamu menyukai Alex tapi untuk kebaikan kamu, cari yang lain saja ya. Apalagi sampai si perempuan aneh itu sering ikut campur. Itu sudah tidak akan benar ujungnya," kata Koma.


"Iya Rita, Alexnya juga kurang bisa tegas ya sama mereka yang ikut campur. Malah kamu yang kena tanduknya, harusnya dia membuat mereka berhenti mengikuti kamu," kata Diana.


"Aku yang salah sih, aku kira mereka orang-orang seperti kalian berdua. Nyatanya.. malah berakhir begini," kata Rita menghapus air matanya yang jatuh.


Koma dan Diana berpandangan. Mereka mengerti Rita terlalu mudah percaya pada orang lain.


"Sebenarnya sih teman satunya itu yang bisa dipercaya. Tapi sama seperti Asma, perempuan aneh itu sangat iri karena temannya bisa lebih dipercaya oleh banyak orang," kata Diana.


"Untung juga sih sekarang sudah tidak ada pertemanan sama yang aneh," kata Koma.


"Memangnya kenapa? Tidak cocok sama kalian kan," kata Rita sudah tenang kembali.


"Bagaimana ya menurut kita dia bukan tipe perempuan yang bisa membuat kita ke arah baik sih," kata Koma lagi.


"Bukan setia kawan Rita. Karena nada bicara dan arah pembicaraannya lebih ke status dan harya orang sih," kata Diana.


"Ya memang begitu dia makanya aku jaga jarak sudah dari dulu," kata Rita.


"Tuh betul kan, Na pemikiran kita," kata Koma.


"Kamu suka Alex karena apa? Aku yakin bukan fisik," mata Koma.


"Dia lucu, konyol ya," jawab Rita.


"Iya memang kamu mah begitu. Bagus tidak memandang fisik ke orang tapi yang harus kamu waspadai kelakuan, Rita. Kalau saat kamu susah, seseorang menghindari bahkan menghilang hati-hati. Karena yang tulus tidak akan meninggalkan," kata Diana.


"Seperti kalian," kata Rita.


"Nah itu," kata Koma.


Mereka tertawa.


"Alex itu plin plan orangnya, dia kebingungan harus membela siapa. Akhirnya yang salah dia bela, secara nyata mungkin ya dia ada hati sama Ney?" Tanya Koma.


"Alex bilang tidak ada sih tapi entahlah," kata Rita.


"Sebagai pengalaman Rita, tidak apa-apa kok," kata Diana.


"Wajar kok sebelum bertemu orang yang tepat, harus bertemu yang eror," kata Koma.


"Kecuali..." kata Diana.


"Apa?" Tanya Rita.


"Kecuali kalian bertemu jadinya jelas," kata Diana.


"Iya, bertemu saja kalau pas ketemu pemikiran dia masih sama, baru tinggalkan," kata Koma.


"Tahun lalu bertemu kok," kata Rita.


"Lah terus?" Tanya mereka berdua bersamaan.


"Yaa begitu saja," kata Rita bingung. Dia mulai cerita dan mereka mendengarkan dengan seksama.


"Berapa lama kamu disana?" Tanya Diana.


"Sehari," jawab Rita meringis.


"Haaah? Sebentar sekali," jawab mereka berdua.


"Harusnya jangan sehari sih tapi kan kamu ke Malaysia karena ada dinas sekolah ya," kata Diana berpikir.


Pelayan toko datang dan mereka memberikan pesanan mereka.


Prita masih menunggu kemudian ikut memesan juga.


"Kurang ya? Iya sih," kata Rita. Ingatan itu hanya sekilas saja.


"Itu sama saja bertemu hanya 5 menit. Biar lebih mantap ya sampai 3 hari. Mengobrol masalah kalian atau hobi atau yang lainnya," kata Diana.


"Kalau sudah bertemu kan biasanya langsung ada kontak nyaman atau tidak, Na. Apalagi mereka sudah kenal 4 tahun," kata Koma.


"Tetap kurang mereka kan hubungan kenal dari media sosial. Kalau bertemu biasanya lebih berbeda," kata Diana yang sudah berpengalaman.


"Kita kenal saja kan 3 hari, terus Asma tapi ternyata yang lebih klo kita bertiga. Asma di luar lingkaran," kata Diana.


"Perempuan aneh itu juga ada?" Tanya Koma.


Rita mengangguk cepat. Mereka kaget dan bengong.


"Kok bisa?" Tanya Diana aneh.


"Tidak tahu. Tiba-tiba sudah ada di bandara, aku juga kaget," kata Rita.


Diana terdiam lalu tertawa membuat mereka bingung.


"Kenapa kamu, Na? Tiba-tiba ketawa," kata Rita.


"Hahaha ya sudahlah anggap saja perempuan aneh itu fans kamu," kata Diana.


"Fans?" Tanya Rita dan Koma.


"Iya. Karena aneh ya dia terus menerus meneror kamu kan, kirim barang juga. Perilaku itu kan mirip fans fanatik ya mungkin sebenarnya dia mengagumi kamu tapi kelewat negatif," jelas Diana tertawa.


"Iih," kata Rita.


"Eh bisa jadi begitu Rita. Karena semua tingkahnya aneh sih. Di luar batas orang normal," kata Koma tertawa.


"Iyuuuuhh," kata Rita merinding.


Keduanya tertawa cukup keras yang langsung ditutup dengan kerupuk oleh Rita.


"Enak kerupuknya," kata Koma.


"Nada bicara tinggi, tingkahnya menyebalkan karena dia cari muka dan perhatian dari kamu dan Alex. Anggap saja kamu artis papan atas bagi dia," kata Diana masih tertawa.


Bersambung ...