MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
152



Ibunya menghela nafas bros itu dibuat dengan sangat detail namun ditolak begitu saja.


"Menurut Bibi bagaimana?" Tanya Kazen.


"Memang anaknya tidak suka barang yang terlalu mencolok. Bros yang saya lihat dia pakai, saya cari tahu ternyata harganya 5000 saja," kata Lianda tertawa.


Mereka bertiga menganga mendengarnya. Lima ribu disandingkan dengan yang jutaan, yahhh.


"Tapi bagus kan bros nya kebanyakan bros yang Rita punya ya sekitaran segitu. Mungkin dia tidak percaya diri memakai barang mahal," kata ayahnya tertawa.


"Tapi dia suka dengan pemandangan sini ya," kata ibunya.


"Iya, Nyonya," jawab Lianda.


"Ya sudah nanti aku minta Mina membuatkan yang sederhana saja. Dikurangi bebatuannya," kata ibunya apa boleh buat.


"Oke," jawab Kazen.


"Lalu soal perempuan yang tadi, mama sampai sakit kepala sudah diberitahu pun tampaknya bagi dia tidak penting. Sekarang gerak seperti biasa kalau dia mulai macam-macam lagi," kata ibunya agak mengancam.


"Tenang ma, apa yang aku perintahkan pada anak buah sudah aku dapatkan," kata Kazen duduk dengan santai.


"Oh ya? Kamu suruh mereka cari apa?" Tanya ayah dan ibunya penasaran.


Tidak anak tidak orang tuanya, berbahaya semua sekali memainkan mereka dijamin langsung tiarap.


"Ada deh. Sudah jangan cemas lagi lagipula mama pasti tahu karena pasang penyadap kan," tebak Kazen.


"Hohohoho," kata Ny Darma yang langsung menuju ruangannya.


"Selalu begitu," kata Ayahnya lalu bangkit dan menyusul.


Tidak ada yang ditakuti oleh Kazen soal Ney, dia tidak ingin Rita jauh darinya. Dia harus menepati janji pada seseorang.


Rita menyukai Kazen bukan karena dari latar belakang keluarganya tapi Rita suka saat Kazen dalam mode serius.


Sedangkan Kazen menyukai Rita karena pola pikir yang mudah ditebak. Saat dirinya bekerja memang dia selalu memakai kacamata.


Rita selama ini hanya tahu begitu tapi melihat langsung dirinya bekerja agak jarang. Kazen menolak takutnya Rita bosan menemaninya bekerja.


Bibi belum pergi karena ditugaskan membersihkan ruangan Kazen dan menyiapkan makan malam.


"Sepertinya Nona Rita sangat menyukai Anda," kata Lianda sambil membersihkan meja kantor.


"Ah, Bibi semua wanita akan suka dengan aku. Tapi apa menurut Bibi kami akan bisa jadi suami istri?" Tanya Kazen.


"Hmm tergantung sama Tuan saja saya hanya takut dia akan berubah saat tahu siapa Anda sebenarnya," kata Lianda menatap tuan mudanya.


Kazen berpikir ya selama dengan Rita, Kazen sama sekali tidak pernah menceritakan sisi dirinya yang lain.


Takutnya sama dengan wanita-wanita sebelumnya, dia kenal sederhana dan lembut berubah menjadi ganas dan menyukai uang. Hampir semuanya sama.


"Saya akan beritahu dia secara perlahan. Kita serahkan baiknya pada Mama dan Ayah, saya harap Rita akan selalu sama," kata Kazen.


"Saya setuju tuan dengannya tapi asalkan yang aneh itu tidak dia akui sebagai teman. Aneh sekali ucapannya pada Nyonya," kata Lianda.


"Saya juga berpendapat sama," kata Kazen.


Lianda tahu bahwa Kazen hendak membolos lagi karena hewan peliharaan Rita sakit keras.


"Tuan, ini saya masukkan ke dalam tempat makan ya," bisik Lianda.


Kazen mengangguk dan memeluk kepala pelayan itu yang sudah dianggap sebagai Bibinya.


Bagaimanapun, Kazen juga cemas kelinci betina milik Rita. Kazen mengendap-endap melihat tempat yang tidak ada cctv.


Sebelum Kazen bolos, Rita bergegas pergi menuju angkot. Dia menerima foto dimana Bubu terus me mojok di sudut kandangnya.


"Duh, kamu kenapa?" Tanya Rita agak sedih melihat kondisi badannya yang kurus.


Kejadian sebelum Ney pulang sambil marah, saat itu Rita melewati sebuah taman dimana terlihat Ney sedang duduk.


Rita merinding melihat Ney dan buru-buru pergi secepatnya. Ney remas kertas itu dan dia lempar sembarang. Kue yang dia terima dimakan dengan kesal sambil memandang ke sebelah kanan.


Dilihatnya Rita yang berjalan sendirian entah kemana. Ney segera membereskan semuanya dan kemudian mengejar Rita.


Rita tahu kalau pasti Ney akan mengejarnya dan berjalan melewati jalan tikus. Ya mana berani dia masuk karena tidak tahu arah.


Ney kehilangan jejak dia kesal dan marah di jalan. Ponselnya berdering ternyata telepon dari suaminya yang bermain dengan anak.


"Kamu di mana sekarang? Pulang!" kata suaminya.


Ney menghela nafas dan berjalan dengan kesal. "Ini juga mau pulang,"


"Kamu kenapa sih? Nadanya kesal begitu, kamu jadi bertemu teman kamu itu?" Tanya suaminya.


"Iya jadi dia datang hanya untuk kasih oleh-oleh saja terus pulang. Sebal sekali!" Kata Ney membuat alasan jangan sampai suaminya tahu kalau dia pergi menemui Rita.


Suaminya tertawa. "Teman kamu itu Rita ya maksudnya? Jujurlah jangan bohong lagi,"


"Sudahlah! Memang dia tapi dia sama sekali tidak datang dan ada di tempat kerja pacarnya! Aku sedang kesal sekali hari ini," kata Ney akhirnya terus terang.


"Kan aku sudah bilang buat apa sih orang dipaksa ketemuan? Kamu sendiri kan yang seenak jidat, berpikir kalau Rita tidak mungkin begitu," kata suaminya bukannya membela.


Ney hanya diam mendengarnya, dikira dikira eh benar apa kata suaminya.


"Soal Rita sudah selesai sampai disini ya. Jangan kamu coba-coba bereksperimen lagi.


Mau kamu menangis darah pun, Rita tidak akan pernah datang. Hari ini kita pulang ke Jakarta ya," kata suaminya membuat Ney kaget.


"Kok sekarang? Kan tiga hari," kata Ney.


"Aku ada pekerjaan mendadak nih lagian kamu urusan juga cepat selesai," kata suaminya.


Ney berpikir dan dapat ide. "Ya sudah kamu saja yang pulang ya, aku masih ada keperluan di Bandung,"


"Tidak! Kamu juga ikut pulang, aku sudah minta bibi membereskan semua baju.


Orang tua kamu mau mengunjungi orang tua aku. Apa kata mereka kalau anaknya sendiri malah senang-senang di Bandung tanpa memperdulikan orang tua? Pulang!" kata suaminya.


Ney kaget untuk apa orang tuanya datang ke sana? "Tapi urusanku lebih penting mas," kata Ney.


"Kamu lebih mementingkan bertemu teman daripada menemani orang tua? Sudah aku jemput kamu saja!" kata suaminya dengan marah.


Ney segan kalau melihat suaminya datang menjemput lalu kena marah, akhirnya mau tidak mau Ney pun kalah.


"Kenapa?" Tanya suaminya.


Ney menceritakan semuanya, sang suami hanya diam dan menghela nafas sambil garuk kepala.


"Lantas masalahnya apa?" Tanya suaminya.


"Iya masa ibu pacarnya Rita tidak suka sama aku katanya aku mau memanfaatkan kedekatan Rita ke anaknya. Jahat!" Kata Ney.


"Selama ini bagaimana kamu ke teman yang lain? Sama kan. Mereka dekat A, kamu dekati lalu kamu adu domba A sama B merambat ke yang lain.


Aku heran sama kamu, apa memang kerjaan kamu seperti itu, Ney?" Tanya suami.


"Aku bukan adu domba hanya... hanya mengatakan yang sebenarnya," kata Ney membela diri.


"Terserahlah menurut aku cukup hentikan semua tingkah kamu ya. Aku tidak mau lagi menjadi tameng untuk masalah yang kamu selalu buat," kata suaminya menyerah.


"Kok kamu begitu sih bukannya membela," kata Ney marah.


"Aku lelah! Teman-teman kamu datang mengadu, bilang kamu begini kamu begitu, ajarkan etika sama istri kamu jangan suka ikut campur.


Sampai mengaku punya kelebihan bisa menerawang, cukup Neyyy istigfar.


Saya menikahi kamu bukan karena kelebihan sesat kamu. Aku ingin memenuhi tugas sebagai seorang pria.


Kalau kamu mau menjadi dukun silakan tapi jangan bawa nama aku dan anak. Lakukan saja sendiri," kata suaminya membuat Ney kaget.


Sampai temannya mengatakan soal kelebihannya meramal? Orang biasa tentu menganggapnya gila, banyak ber halu tidak salah Rita mengatakan itu juga kepadanya.


Itu adalah alasannya agar semua orang memperhatikan dan banyak bergantung. Salah satu tanda ciri dari Toxic adalah mengaku memiliki kelebihan di luar batas.


Beberapa menit berlalu, Suaminya kesal juga setiap pulang kerja pasti saja ada yang menelepon. Isinya pengaduan yang dilakukan Ney pada mereka.


"Aku hanya ingin Rita tidak lupa mengundangku kalau menikah. Makanya aku terus memburu dia," kata Ney.


"Haaaaa untuk apa sih berharap begitu? Pikir Ney, kamu mengatakan hal kasar sama dia demi kebaikan?


Bukan itu demi kamu. Iya memang kamu ada niat baik tapi dengan disusul harapan dibayar, dibalas budi.


Rita membalas kamu dengan berlimpah keinginan. Begitu? Kamu menikah ada ingat undang Rita? Aku yakin dia menunggu lho.


Kamu cerita soal aku dulu sama Rita, sampai dia mencari solusi. Bagaimana perasaannya saat dia tahu kabar kamu menikah dari Arnila?" Tanya suaminya.


"Aku... aku kan lupa. Banyak kesibukan persiapan pernikahan kita," kata Ney kalau tidak salah.


"Tapi kamu tidak lupa ya sebelum kita menikah, pacaran dengan orang lain. Daebak!" kata suaminya membuat Ney membeku.


Ya bodohnya juga sih suaminya, sudah tahu kena selingkuh masih saja terus menikah. Kan bisa dibatalkan, uang yang tidak bisa ditarik ya ikhlaskan.


Toh suaminya setahu Rita pintar cari uang. Bekerja selalu serius sampai akhirnya mendapatkan posisi tinggi.


"Doakan Rita bahagia dari jauh kamu tidak perlu banyak berharap akan diundang.


Karena dari kelakuan kamu juga yang sangat keterlaluan, memanfaatkan Rita hanya saat kamu sedih.


Ya sekarang terima saja hasilnya ternyata Rita dengan orang yang berjabat tinggi. Wajar kalau dia juga LUPA sama orang seperti kamu," kata suaminya.


Ney tidak bisa membalas, ya seperti dia memanfaatkan orang saat dirinya sedang susah dan bersedih.


Namun lupa membalas saat orang itu selalu ada untuk dia. Sampai dilupakan kehadirannya saat dirinya mengalami masa indah.


Sebenarnya Rita tidak terlalu sakit sih karena memang dia sudah tahu bahwa Ney hanya memanfaatkannya saja. Soal dekat atau sahabat memang tidak pernah ada.


Tapi yah belum tentu orang lain sependapat bagi mereka memang sangat keterlaluan tingkah Ney. Rita juga tahu kalau Ney memilih-milih orang.


Ney pikir Rita akan mengemis memohon dia kembali saat Ney meninggalkannya sendirian. Tanpa disangka, Rita sudah lebih dulu memiliki bestie yang paling dekat yaitu Mega.


Ney sama sekali tidak tahu karena memang tidak pernah Rita pertemukan, waktunya selalu bersilangan. Mega juga menolak dikenalkan karena menilai Ney memiliki motif terselubung.


Mega adalah bestie Rita yang paliiiing terdekat. Mereka saling melengkapi, Komariah dan Diana termasuk paling dekat juga tapi hanya dengan Mega yang paling pas.


Firasat Mega sangat tajam, hanya dari kisah pendek mengenai Ney, dia tahu dengan pasti motif jahat untuk Rita. Dia yang paling parah menolak soal Ney. Makanya Rita tidak pernah mengenalkannya.


"Apa yang kamu perbuat, tanggung jawab sendiri jangan lemparkan masalah kamu pada aku," kata Suaminya lagi yang dimana Ney teringat pada kata ibunya Kazen.


"Kenapa sih semua orang berkomentar sama?" Tanya Ney. Ya memang begitu kenyataannya.


"Dan ingat jangan sampai kamu mempermalukan diri sendiri seperti yang kamu lakukan Minggu lalu!" kata suaminya kesal. Dia baru menerima berita dari salah seorang rekan kerjanya.


Malu? Sangat! Karena rekan kerjanya itu sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilakukan Ney di pameran. Dengan pertanyaan, "Ini istri kamu kan? Baju itu pernah dipakai saat menghadiri makan malam bersama Bos kita,"


Mendengar hal itu, Dins langsung kaget dan membuka semua video. Dia sampai memeriksa baju merah berbunga di lemari, persis sama!


Bisa saja kan gaun yang lain karena pasti banyak yang jual. Karena ada tanda gosong bekas kena setrika dan itu sama dengan gaun yang ada di rumah.


Ya dia marah sekali karena ada Rita di dalamnya, dia yakin Ney berencana mengaku-aku dapat undangan agar bisa mengobrol lagi dengan Rita.


"Aku melakukan apa? Minggu lalu?" Tanya Ney yang kembali membeku di jalan. Dia mencari tempat duduk taman bawah.


Suaminya mengirim foto dan video membuat Ney menutup mulutnya. Dia terus memeriksa dan hanya kaget dalam diam.


"Itu bukan aku. Percayalah!" Kata Ney.


"Tanda bakar ini yang kamu tidak sengaja gosong kan sama!


Kamu ini gila ya! Menghadiri acara pameran mobil mewah yang dimana kamu juga memalsukan data orang!?" Tanya suaminya dengan nada keras.


Ney tidak percaya berita itu kan sudah berlalu juga apalagi saat itu suaminya di jalan menuju rumah. Siapa yang memberitahukannya?


"Kamu parah tahu tidak. Benar-benar senang ya mempermalukan aku lalu membuat masalah! Ahhhh aku tidak sanggup kalau ini tersebar di kantor," kata suaminya.


"Kamu tahu ini dari mana? Ya banyak kan orang yang punya gaun sama dengan bekas gosong di ketiak," jelas Ney agak gemetaran.


Sering buat masalah, kena marah orang, mengancam, kena balasan semua yang dia lakukan kalau ketahuan pasti! Kedua tangan dan badannya semacam ajojing getar-getar mirip cacing kepanasan.


"Berita! Kamu pikir aku tidak akan tahu? Mana rekan kerja aku juga yang kirim foto dan videonya.


Aku kira itu orang lain masa iya gaun begitu hanya kamu yang punya! Aku yang beli, dan aku tahu cara jalan kamu bagaimana. MEMALUKAN!" Teriak suaminya.


Ney tersedu-sedu lagi, ketahuan deh sama suaminya coba kalau dia beritahukan dari awal. Yah mana mungkin juga saran suami dia dengarkan karena dia mengedepankan egonya, bahwa akan berhasil.


"Kamu pernah tidak sih berpikir sebelum bertindak? Untungnya mereka tidak memenjarakan kamu! Keluarga yang paling kejam ada lima belas salah satunya termasuk Darma!" Kata suaminya agak panik.


Bersambung ...