MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
70



Rita dan Dian akhirnya selesai memanjakan diri dan keluar dengan perasaan segaaarr.


"Kita makan di MacDo yuk," ajak Rita semangat.


Wajah sudah cantik, badan sudah bersih mulus sekarang waktunyaaa perawatan perut alias makan!


"Ayo ayo!" Kata Diana semangat.


Saat mereka berjalan menuju tempat makan, beberapa orang tentunya laki-laki bersiul dan menatap mereka dengan senang.


"Berasa artis ya," kata Diana tertawa.


"Hahaha memang beda ya kalau kita sudah perawatan," kata Rita.


Kemudian Koma mengadakan akan datang ya berharapnya mereka masih berada di sana.


"Yah, sudah selesai ya?" Tanya Koma bertemu mereka berdua.


"Iya sudah sejak tadi," kata Rita.


"Tenang nanti kalau kamu ada waktu luang, kita kesana lagi deh. Atau mau diantar?" Tanya Diana.


Koma menggeleng, "Nanti saja benar ya ajak aku,"


"Iya iya. Yuk kita mau ke MacDo. Sudah makan?" Tanya Rita.


"Belum. Aku lelah, disuruh antar sana sini oleh tetehku. Kita makan yuk, kali ini jangan traktir ya kita bayar masing-masing," kata Koma.


"Oke," kata mereka berdua.


Mereka memasuki gedung MacDo yang lumayan ramai. Diana menempati meja kosong dan menunggunya. Koma dan Rita memesan duluan, setelahnya mereka bergantian.


"Kapan teteh kamu menikah?" Tanya Rita yang menata makanannya di meja.


"Pertengahan bulan September. Sengaja mencari bulan yang jarang diminati katanya," jawab Koma.


"Di rumah kamu yang Jawa itu kan?" Tanya Rita.


"Surakarta, Rita. Iya, Jawa Tengah kan," kata Rita memakan kentang.


"Hehehe iya ya sama-sama Jawa. Tapi aku bingung mengundang kalian nya bagaimana ya?" Tanya Koma menatap porsi Rita yang yahh seperti biasanya banyak.


"Kalau kamu mau, ambil saja ya," kata Rita ketawa.


"Siaaapp," kata Koma.


"Memangnya kenapa, Kom?" Tanya Diana datang dengan porsi lebih banyak dari Rita.


"Waduh! Na, kamu sama Rita pesan banyak? Kalian mau buat acara mukbang ya?" Tanya Koma kaget.


"Kan ada kamu ini, bisa kan bantu kita habiskan semua hehehe," kata Diana.


"Ooh jadi kalian sengaja ya pesan banyak? Supaya aku bantu makan?" Tanya Koma menggelengkan kepala.


"Kita kan tim perut besar," kata Rita.


Mereka bertiga tertawa dan tentu Koma dengan sigap mau membantu.


"Rumah asli kamu di mana sih, Kom?" Tanya Rita yang mulai makan Burger.


"Dari Surakarta itu jauh lagi sih, agak pedalaman soalnya ujung," kata Koma yang mengambil makanan mereka.


"Pedalaman?" Tanya Diana bengong.


"Jangan mikir yang aneh-aneh. Desa hmmm masih banyak hutan, pohon-pohon. Rumah aku semacam model jadul," kata Koma membuat temannya melongo.


Dalam pikiran keduanya terpampang rumah besar, model klasik yang dikelilingi hutan.


"Pantas kamu suka hal-hal yang horor," kata Rita menatap Koma.


"Hah? Apa hubungannya? Kalian mikirnya apa sih?" Tanya Koma menangkap wajah mereka yang aneh.


"Aku mikirnya penampilan rumah kamu sih. Nih aku cari contohnya, rumah kamu seperti ini?" Tanya Diana menunjukkan foto rumah.


"Mana? Mana?" Tanya Koma penasaran.



Rita menahan pemikirannya, dia sudah agak merinding.


"Ini bukan?" Tanya Diana.


"Ohhh iya hampir tapi ini kan modern ya kalau aku mah jadul kebawah," kata Koma dengan santainya.


"Jadul ke bawah bagaimana sih?" Tanya Rita bingung.


"Ya sudah nanti kalian berkunjung saja ke sana. Ikut aku pulang saat bulan idul adha. Mau?" Tanya Koma.


Rita menelan ludah kalau modelnya dibawah rumah itu jangan-jangan...


"Boleh. Yuk Rita!" Kata Diana semangat.


Ingin rasanya teriak kalau dia tidak suka horror tapi yah mereka berdua adalah sahabatnya jadi Rita oke saja.


Koma dan Diana bertepuk tangan, Rita hanya menghela nafas dia akan membawa serta Al Qur'an.


Keenam sahabat Rita menyukai apapun yang horor berbanding terbalik dengan mereka pada Rita sendiri.


Meski sudah lama dekat dengan mereka, sekalipun mereka tidak pernah menakutinya.


Berbeda dengan Ney yang secara sengaja menakuti dengan pemikiran halusinasinya.


Padahal sudah tahu kalau Rita tidak suka yang horor tapi baginya itu sangat menyenangkan, menakutinya bahkan sampai menyebutkan ada apanya.


Yang me ruqyah Rita menyebutkan bahwa itu hanya ada dalam khayalan Ney saja. Alias tukang mengkhayal.


Karena orangnya selain perusak hubungan orang, pembuat masalah termasuk hobi menakuti orang.


Seharusnya dia bekerja di Rumah Hantu ya, dengan bakat menakuti pasti banyak menerima bonus uang.


"Ehehehe nanti ya," kata Rita kembali makan lagi.


"Iya nanti, kita tabung uang dulu kan ongkos ke Jateng lumayan," kata Diana.


"Oh iya Kom, aku mau nitip kado saja deh buat teteh kamu," kata Rita.


"Aku juga!" Kata Diana.


"Iya, aku juga kan tidak bisa datang. Jadi mau kirim paket saja, nanti digabung," kata Koma.


"Lho? Kenapa?" Tanya Rita aneh.


Koma memandangi Diana, begitu juga sebaliknya dan mereka mengangguk.


"Apaaa kalian merahasiakan apa hayo?" Tanya Rita tidak suka.


"Kita kasih tahu saja deh," kata Koma.


Mereka kemudian menceritakan soal yang terjadi selama Rita tidak ada. Rita kaget juga.


"Jadi kalian diminta ikut masa percobaan lagi?" Tanya Rita kaget.


"Iya, kamu mau Diana?" Tanya Koma.


"Kalau Rita kembali bekerja di sana, ya aku mau saja. Kamu?" Tanya Diana.


"Ayo," jawab Koma.


Ah senangnya. Rita bersyukur untuk mereka berdua meski untuknya mungkin tidak ada harapan.


"Aku sih mana mungkin disuruh, Na. Lagipula masa kerjaku juga sudah lama sih," kata Rita memandangi makanannya.


"Eh, jangan begitu Rita," kata Diana senyum.


"Kamu juga di tarik lagi kok. Sepertinya ada yang melaporkan soal adiknya deh," kata Koma.


"Siapa? Asma? Asmi?" Tanya Rita.


"Asmi, Bu Dewi guru hampir semua keluar, Rita. Karena staf lain kan sisa Lina dan Kinan saja," kata Koma.


"Ya Allah! Bu Dewi itu maunya apa sih?" Tanya Rita kaget.


"Gosipnya sih ingin merebut tanah warisan. Padahal dia sudah dapat bagian," kata Diana.


"Hah!? Wajah begitu tidak menduga ya," kata Rita.


"Iya jadi bagaimana ya. Tidak bersyukur," kata Koma.


"Terus soal penarikan ku kok bisa?" Tanya Rita.


"Kita juga bingung mendapatkan pesan lalu dijelaskan kalau guru yang dipecat sama adiknya, akan dikembalikan lagi," jelas Diana.


"Menurut aku pelakunya sama yang mengirim pesan ke Asma deh," kata Rita.


Mereka setuju siapa orangnya, masih belum diketahui.


"Kenalan kamu kali," kata Diana.


"Aku tidak punya kenalan di sana. Oh iya soal nomor yang kirim pesan ke Asma, lokasinya tidak jauh dari sekolah," kata Rita memperlihatkan peta.


"Mau coba di selidiki?" Tanya Koma.


"Main detektif-detektifan nih?" Tanya Rita senang.


"Aman tidak ya?" Tanya Diana meski penasaran juga.


"Kita coba yuk mumpung diberi rehat seminggu," kata Rita semangat.


"Ayo deh, gabut juga. Menunggu minggu ini berakhir karena kita akan kembali sibuk," kata Diana.


Mereka kembali makan tanpa bicara, beberapa orang menatap ketiganya seperti dalam acara mukbang.


Tiba-tiba hp Diana berbunyi, dia mengelap tangan kanannya dan mengambil hpnya.


"Eh, eh," kata Diana mengibaskan tangannya heboh.


"Cieee penggemar tuh," kata Rita ketawa.


"Siapa?" Tanya Koma sambil makan burger.


"Asma," kata Rita. Koma tertawa.


"Angkat dong," kata Koma menahan tawa.


"Ih! Kenapa sih dia? Curhat ke aku terus," kata Diana cemberut.


"Kan dia ada usaha ingin dekat sama kamu," kata Rita.


"Rita tidak dapat chat atau telepon dari Asma?" Tanya Koma.


"Aku kan sudah hapus dia," kata Rita menunjukkan bukti.


"Dia punya masalah dengan Rita, mana berani dia curhat. Lalu apa katanya?" Tanya Koma.


"Kalian diam ya," kata Diana. Rita dan Koma mengangguk. Diana sengaja memakai speaker.


"Assalamualaikum, ya Asma kenapa?" Tanya Diana.


"Walaikumsalam. Kamu dimana Diana?" Tanya Asma.


"Memang kenapa?" Tanya Diana tidak memberitahukan.


"Hmmm aku ke rumah kamu ya. Mau curhat," kata Asma nadanya sedih.


Bersambung ...