
"Prita," teriak Rita saat itu, tidak ada jawaban. "Prita!"
Yang datang malah ibunya dengan wajah yang datar. "Mau apa? Prita kan kerja tidak seperti kamu sekarang. Kalau butuh apa-apa, usaha sendiri!" Kata ibunya pergi.
"Oh iya ya Prita kan kerja. Aku lupa," kata Rita kemudian mengambil tongkat berjalannya.
Rita sudah tahu tidak ada gunanya bergantung pada siapapun apalagi ibunya sendiri. Dia tertarik berjalan setidaknya kakinya tidak begitu sakit.
"Hah bosan di kasur terus. Jalan-jalan sedikit," kata Rita belajar menyeret kaki dan memperkirakan seberapa jauh dia bisa jalan.
Rita mencoba ke halaman dan melihat kandang kelincinya. Ahhh sudah kosong, dia merindukan binatang bertelinga panjangnya.
Rita kembali ke dalam rumah dan menelepon tetangganya itu, namun yang dia dengar membuatnya patah hati.
"Maaf Teh, kakak membawanya ke rumah yang di Bekasi," kata pembantunya.
Rita menutup telepon dan sedih sekali, teringat kelincinya itu selalu bila dia sedang kesepian. Pasti datang menghibur dengan mempersilahkan Rita membelainya.
"Apa beli lagi saja ya?" Pikir Rita mumpung kandangnya masih bagus, dibuat dua tingkat.
Di rumah Ney, Ney kembali memikirkan untuk mengirimkan hal lain tanpa dia beritahukan pada Feb atau grupnya.
Kali saja dengan cara ini, dia bisa mendengar kabar dari Rita dan akunnya yang di gembok dibuka semua.
"Oh iya, aku pesan Hokben saja, Rita pasti suka dan memakannya. Lalu aku yakin dia akan hubungi Feb untuk menyampaikan terima kasih ke aku," kata Ney membuat ide cemerlang.
Ney terus berusaha agar dirinya bisa baikan kembali dengan Rita. Sangat berusaha. Berpikiran semua yang dia buat dan katakan, pasti sudah dilupakan.
Toh dia sudah meminta maaf soal perangainya namun yah, masih terus dengan tema kepo nya.
Ney menelepon ke sebuah kedai Hokben yang ada di kota tempatnya berada.
"Selamat siang dengan Hokben Bogor, ada yang bisa kami bantu?" Tanya CS.
"Siang, saya mau pesan Hokben Paket C dan New Hoka Hemat ya satu saja," kata Ney sambil memilih menu di aplikasinya.
"Baik, atas nama siapa?" Tanya Cs.
Ney tersenyum. "Rita Ashalina," jawabnya.
"Baik, Mbak Rita ada nomor yang bisa kami hubungi?" Tanya CS.
"12345," jawab Ney memandangi nomor Rita dan menahan ketawanya.
"Baik, pesanan akan kami proses dan kirim. Akan kami hubungi bila pesanan sudah siap. Totalnya lima puluh ribu rupiah ya. Ditambah New Hoka Hematnya empat belas ribu. Total delapan puluh lima ribu ya," kata CS.
"Iya," kata Ney sabar menunggu.
"Ada biaya kirimnya tidak apa-apakah?" Tanya Cs.
"Iya tidak apa," jawab Ney melihat saldonya berkurang.
"Mau melakukan pembayaran dengan apa? Transfer juga bisa," kata Cs.
"Saya bayar pakai Mandiri saja," kata Ney. Meski hampers entah kemana kabarnya tapi Hokben ini pasti terlihat.
"Baik, Mbak Rita pembayarannya sudah kami terima ya. Harap diaktifkan hpnya karena kurir kami akan menghubungi," kata CS dengan sopan.
"Iya, baik. Terima kasih," kata Ney menutup hpnya dan sangat senang, dia tidak sabar dengan respon Rita.
Ya sudah pasti kena banting dan ditusuk lagi sih. Mungkin.
"Berhasil! Nah, bagaimana ya reaksi Rita hihihi pasti akan heboh sekali dan langsung menghubungi aku. Kemudian setelah itu, aku akan mengirimkan bukti chat Rita ke Alex dan teman di grup. Bukti bahwa Rita telah menerima niat baikku dan makanannya," kata Ney tertawa sendiri.
Setelah itu dia periksa anaknya dan memandikannya. Pesanannya sedang di proses dan tengah menghubungi Rita.
"Lihat saja kamu akan kalah Rita. Kamu tidak akan pernah bisa menang dari ku. Hahaha kasihan," katanya bicara sendirian di kamar.
Satu yang aneh dari kelalaiannya adalah dia tidak memikirkan dari kota mana Rita berada.
Dirinya dimana, Rita di mana jadi kiriman ini memang ada niatan yang tidak baik.
Orang NORMAL ya kalau hendak mengirimkan barang via kurir bukan paket, pasti dia tahu dimana si penerima berada.
Tidak seenak jidatnya kirim-kirim entah alamat dimana, berasa sudah kirim kejutan. Ney memang kurang di otaknya sih.
Entah apa maksud dia tanpa memberitahukan kota dimana Rita berada. Dan.. dia memakai nama Rita sebagai dirinya tanpa menjelaskan dimana alamatnya berada.
Beberapa waktu di rumah Rita, dia sedang duduk di sofa dan menonton Good Morning.
Hpnya berdering dan dia melihat nomor yang tidak tertera dalam Kontaknya.
"Siapa nih?" Tanya Rita tidak dia angkat karena tidak kenal. Sampai akhirnya orang tersebut mengirimkan pesan.
"Selamat siang Kak, saya Fahri dari Hokben mau antar pesanannya," kata Fahri.
"Hah? Pesanan? Perasaan aku tidak belanja online deh," kata Rita aneh.
Lalu Rita periksa ternyata ada foto orang yang dalam keterangannya adalah kurir Hokben.
"Hokben? Kapan saya pesan?" Tanya Rita bingung.
"Iya Kak," jawab kurir yang juga kebingungan.
"Atas nama siapa ya pengirimnya?" Tanya Rita.
Fahri garuk kepala, menyangka Rita pura-pura entah mungkin mengusili nya. Tapi masalahnya sudah dibayar.
"Atas nama Rita Ashalina, Kak," jawab kurir.
"Hah? Aku bingung Kang. Saya kecelakaan kemarin mana mungkin bisa pesan Hokben," balas Rita.
Fahri membaca balasannya dan ber-istigfar. Lalu siapa dong?
"Ini Hokben Lembang ya? Mungkin adik saya yang pesan," balas Rita.
"Hokben Bogor, Kak. Tadi sekali pesannya," balas Fahri.
"Kang, ada bukti pembayarannya? Demi Allah Kang, saya kemarin habis kecelakaan sekarang juga saya masih sakit. Disini ada Hokben buat apa jauh-jauh pesan ke Bogor?" Tanya Rita bingung.
"Ada, tunggu sebentar," kata Kurir meski aneh dan bingung juga.
Dikirimkan lah buktinya tersebut membuat Rita tersentak! Ada seseorang yang menggunakan identitas nya untuk niat yang entah apa.
"Sebentar sebentar, Kang. Saya tidak bohong ya, saya bagi lokasi saya sekarang. Ini pesanan tidak masuk akal!" Kata Rita.
Rita kirim kan lokasinya sekarang dan membuat Fahri juga terkejut. Lembang?
"Kak, jarak kakak ke kami jauh sekali. Saya tidak yakin hokben nya bisa bertahan. Malah basi," kata Fahri.
"Ya makanya saya heran. Mungkin Rita yang lain?" Tanya Rita.
"Nomor kakak 12345 kan?" Tanya Fahri.
"Iya, tapi buat apa saya pesan Hokben Bogor? Asa euweuh gawe ( tidak ada kerjaan ). Adik saya kemarin baru saja beli hokben, masa sekarang beli lagi dari kota lain," jelas Rita.
Fahri garuk-garuk kepala. "Yakin Kakak tidak pesan?"
"Yakin se yakin-yakinnya, demi Allah! Kalau Akang tidak percaya telusuri saja nomor saya dari aplikasi pencarian lokasi," kata Rita.
Tidak ada salahnya dicoba, sang kurir masih berada di kedai tersebut. Beberapa pegawai menghampirinya dan bertanya kenapa belum berangkat.
"Bukan dia yang pesan. Tuh, lokasinya di Lembang! Bukan Bogor," kata Fahri.
"Wah, ini mah sengaja sepertinya. Terus kakak ini jelaskan sesuatu?" Tanya temannya.
"Dia baru kecelakaan mana sempat pesan hokben, dari Bogor pula? Basi dong, kalau mengusili kurir sepertinya tidak," kata Fahri.
"Wah, parah nih orang yang memakai nama orang lain. Hati-hati sepertinya yang memesan hokben ini punya dendam ke Teteh ini," kata temannya.
"Atau sengaja pesan entah untuk tujuan apa. Kalau menjahili si penerima, keterlaluan sekali sih. Ini kejahilan yang di luar batas," kata yang lain.
Fahri kemudian membalas, "Oh iya ya kakak ada di Lembang. Lalu pesanannya apa mau dibatalkan saja?"
"Memangnya saya gila Kang? Pesan Hokben jauh-jauh? Kalau ini sebagai bentuk kejahilan seseorang, sama sekali tidak lucu," kata Rita.
"Baik, Kak saya akan hubungi CS nya dulu ya untuk membatalkan," kata Fahri tidak jadi naik kendaraannya.
"Iya," kata Rita dengan lega tapi masih kepikiran juga sih. Siapa kiranya? Masa iya si Ney gila itu lagi? Buset!
"Maaf kak, alamat rumahnya benar kan disini?" Tanya Fahri mencoba bertanya lagi.
"Dimana?" Tanya Rita. Bukannya dia sudah bilang ya kalau rumahnya di Lembang? Eh tapi kalau alamat lengkap kan tidak tahu ya.
"Mungkin mbaknya mau kirimkan ke teman atau saudara di alamat yang saya kirimkan beserta bukti transfernya," kata kurir.
Hah? Rita kemudian membaca lagi dan heran se edan nya.
"Tidak tahu Kang. Saya tidak kenal sama alamat itu. Pertama, bukan saya yang pesan meski nama dan nomor hp yang Akang tahu. Kedua, alamat tersebut saya tidak tahu dimana," balas Rita sebaaal.
Fahri mengangguk, benar juga dan Rita memberitahukan alamat lengkap rumahnya. Fahri dan temannya menyelidiki dan benar saja itu lokasi Rita berada.
"Akang nih di daerah mananya ya?" Tanya Rita mulai curiga sesuatu.
"Bogor kak daerah Cibinong," kata Fahri.
Ahhh Rita ingat ada orang yang bertempat tinggal tepat di daerah itu. Dia jadi ingat dengan alamat kiriman dari Feb.
Ney, ya rumahnya terletak di Bogor, Cibinong dan lokasinya ternyataa tidak begitu jauh dari alamat yang tertera di bukti pembayaran.
Wah wah wah, memang Ney gila yang kirim. Rita menyeringai, "Oh jadi ini apa yang dibilang Arnila duluuu sekali. Hah! Pernyataan membuat aku kalah dan tunduk sama dia?"
Sekarang Rita sudah tahu harus berbuat apa, yah kita lihat saja siapa yang nanti akan menyatakan kekalahan.
Bersambung ...