MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
103



Mereka bertiga berjalan sambil merencanakan apa yang mau di obrolkan di depan meja Ney.


Mereka sudah ada di depannya dan menatap Ney fokus makan. Mereka mengangguk, suara agak dikeraskan.


"Eh, gila ya Xin sekarang sudah lebih maju hidupnya," kata Ratna.


"Iya iya, dulu semasa SMA dia kan termasuk murid terkumel. Wah tidak nyangka setelah kuliah lulus, dia menikah dengan laki-laki kaya," kata Ayu tertawa.


Ney mendengar soal itu dan mengangkat kepalanya memandangi mereka bertiga.


Ayu, Ratna dan Rita memang bukan teman dekat Xin tapi mereka paling tahu soal perkembangan seseorang.


"Xin hidupnya maju? Masa iya sih lebih dari aku," pikir Ney agak sangsi. Dia yakin mereka hanya mengada-ada.


"Dulu pacarnya tukang jualan ponsel kan. Tidak sangka ternyata berasal dari keluarga kaya dong," kata Rita.


Ney bengong mendengar lagi.


"Kalian tahu tidak, aku sempat melihat ponsel dia," kata Ratna.


"Dimana?" Tanya Rita dan Ayu bersamaan.


Ney hanya tertawa mendengarnya sudah tentu mereka terkejut mengetahui ponselnya jadul.


"Tadi dia sempat menelepon entah siapa. Ponselnya banyak berlian dong," kata Ratna membuat senyuman Ney surut.


"Wah! Berlian? Imitasi kali," kata Ayu.


"Itu asli neng. Jenis tipe yang hanya ada di luar negeri. Ya belum masuk ke Indonesia kalau setahu aku," kata Ratna mencari-cari.


"Ponsel dia yang paling mahal kalau dibandingkan dengan ponsel milik kita. Jauh deh ditandingkan," kata Ratna.


Ney terdiam, dia ingat belum bertanya seperti apakah ponselnya sekarang. Kalau benar, dia pasti akan lemas sekali. Apalagi berlian?


"Wajar, suaminya anak sultan, untung ya Xin bukan tipe perempuan songong hang biasa kita kenal," kata Ayu.


Mereka berdua tertawa. Ney tidak pernah melihat Xin memamerkan benda atau apapun pada orang. Diam-diam menghanyutkan, Ney jadi tidak sabar.


Mereka bertiga mengeluarkan ponsel yang sama dengan Ney. Membuat Ney menganga menatap miliknya dan dia simpan dalam tas.


"X1X1 memang bagus kan ya di jaman tahun lalu sempat memanas juga kan. Kalau punya Xin memang luar biasa deh," kata Ayu menghela nafas.


"Suami kita saja belum tentu bisa membelikan," kata Rita.


"Dia benar-benar orang kaya baru tapi kesannya masih sama ya. Cuek, punya ponsel satu itu saja akan terus menjadi yang trending meski jaman sudah berubah," kata Rita. Mereka setuju.


Ney tidak bisa bersabar lagi, dia harus cari tahu ponsel yang Xin milik siapa sampai tidak ada tandingannya segala.


"Hai, apa kabarnya kalian?" Tanya Ney.


"Oh, kamu Ney ya. Kita baik," kata Ratna. Umpan mereka kena ke orangnya.


Mereka mengobrol basa basi kemudian Ney utarakan bertanya soal Xin.


"Aku penasaran sebagus apa sih ponsel dia sampai ponsel kita tidak ada tandingan?" Tanya Ney.


"Kalau kamu lihat, pasti pingsan deh. Sebentar aku coba pinjam," kata Ayu.


"Memangnya dia mau pinjamkan? Ke aku kok tidak ya?" Tanya Ney.


Mereka bertiga tertawa.


"Kamu kan memang bukan teman dia. Kalau aku atau mereka pasti diijinkan. Sebentar ya," kata Ayu bergegas pergi.


Ney kesal mendengarnya namun memang benar sejak masa sekolah SMA, Ney selalu banyak memamerkan semua hal.


Menyindir juga paling sering karena logat Cina yang Xin selalu keluarkan. Itulah tidak mungkin mereka bisa dekat seperi minyak dan air.


"Xin, pinjam dong ponselnya," kata Ayu.


"Buat apa?" Tanya Xin memandangi Ney dari jauh. "Sudahlah,"


"Kuta mau balas supaya dia diam tidak semua orang bisa dia remehkan. Sini pinjam," kata Ayu.


Dengan malas Xin mengeluarkan ponsel yang ada di dalam kantong kecil.


"Oke tapi ingat jangan sampai dia sentuh ponsel aku ya. Membersihkannya harus pakai air suci,* kata Xin memberikan.


"Beres lagipula mana berani juga dia," kata Ayu lalu pergi.


"Eh, kalian juga apa kabar? Sudah lama juga ya," kata Ney kepada Ratna dan Rita.


Mereka berpandangan, yang kenal Ney memang hanya Ayu dan Xin saja. Ratna dan Rita dari kelas 3B.


"Siapa ya? Kamu kenal?" Tanya Ratna.


Rita angkat bahunya.


"Oh! Iya ya kita beda kelas. Tapi kok kalian nampaknya kenal Xin? Dia kan sekelas sama aku," kata Ney.


Mendengar omongannya saja sudah membuat mereka berdua mual hanya ditahan.


"Oh," kata mereka berdua malas.


Mendapatkan jawaban yang kurang puas, Ney mencoba membuka obrolan meskipun mereka tidak saling kenal.


"Aku tadi dengar kalian membicarakan Xin. Memangnya dia beli ponsel yang semahal apa sih?" Tanya Ney.


"Pokoknya keren sekali deh berbeda dengan kita ya," kata Rita.


"Iya, aku juga beli X1X1 dari hasil tabungan. Selama tiga tahun," kata Ratna.


"Kamu apa ponselnya?" Tanya Ratna.


"Wah, sama dengan kita ya. Kamu hasil tabungan atau hasil mengemis dari suami?" Tanya Rita.


Ney sebal sekali mendengar pertanyaan mereka seakan mengejeknya.


"Ini hadiah dari suami aku saat menikah. Kalau tabungan aku belikan untuk rumah," kata Ney dengan nada sebal.


Mereka berdua menahan tawa, yah tidak penting juga sih hasil tabungan atau memaksa suami belikan.


"Terus tipe Xin seperti apa? Katanya sangat mahal dari ini?" Tanya Ney.


"Aku dataaang," kata Ayu.


Ney agak berdebar memang apa bagusnya sampai berlian.


"Keluarkan keluarkan," kata mereka antusias.


Ayu mengeluarkan ponsel berwarna emas terang. Ney terdiam memandanginya, dia agak lemas.


"Goldstrike iphone 3GS Supreme!!" Kata Ayu histeris.


"Untuk informasi kalian ya, ponsel itu sudah ada di Indonesia hanya ada beberapa biji saja," kata Milan yang baru datang memperlihatkan ponsel yang sama.


"Yah kamu sih tidak aneh," kata Rita.


"Maaf ya baru datang. Aku ke depan dulu," kata Milan melambaikan tangan.


Ney menganga, dia tidak kenal siapa yang memiliki ponsel sama. Dia menyadari kalau reuni SMA ini bukanlah kelasnya.


Tapi yah sudah kepalang masuk, pantas beberapa penerima tamu keheranan karena nama Ney tidak tertera. Tapi dia masih ingat siapa saja yang pernah mengobrol dengannya.


Ya hanya sekilas sih.


"Ponsel ini desain dari pengusaha asal Australia. Dia yang memesannya," kata Ayu.


"Karena desainnya bagus dan yah tampilannya super mewah akhirnya masuk kan ke ranah perbincangan dunia. Sampai akhirnya dibuatlah beberapa biji," kata Rita melanjutkan.


"Lihat dong ini berlian asli kalau dicongkel laku berapa ya?" Tanya Ratna.


Ney tidak berani bicara lagi, ya memang kalah telak sih kalau begini.


"Harganya berapa sih?" Tanya Ratna.


"Kata Xin terbilang murah bagi The Real Sultan. Hanya ya kata dia dua puluh delapan miliar," kata Ayu.


Mereka semua terkejut bukan main, Ayu menghela nafas. Dia membeku mendengarnya, uang tiga puluh juta saja dia harus memeras.


"Xin mertuanya juga baik sih, oh iya ini hadiah dari mertuanya lho. Kita tahu Xin ponselnya jadul, dia benar-benar dipermak," kata Ratna.


"Wajar ya kita mah apalah, tidak ada yang bisa beli ponsel beginian," kata Rita mengelus.


"Mau memeras suami bekerja sampai punya uang dua puluh delapan miliar, bisa-bisa kena cerai," kata Ayu.


"Nabung berapa abad baru bisa tercapai?" Tanya Rita menghitung.


"Untuk kamu sih tidak akan mungkin bisa dapat," kata Ney datar.


Rita menatapnya dan berkata, "Iya ya kamu benar kita mah miskin, uang begini mah mana mungkin bisa,"


"Aku tidak semiskin itu ya enak saja," kata Ney marah.


"Hahaha tetap kamu miskin kalau berhadapan dengan orang yang memiliki ponsel semewah ini. Ponsel kamu saja sama dengan kita, ya kamu kaya setara dengan kita," kata Ratna.


Ney tidak bisa membantah lagi, susah dengan orang yg memiliki ponsel paling mahal sedunia sih.


"Saat kalian mengumpulkan uang mencapai jumlah ini, tidak mungkin masih ada," kata Milan muncul.


"Halah! Paling juga dia pinjam ke orang lain terus mengaku kalau ini punya dia. Sudah biasa kok kalau ingin dianggap tinggi," kata Ney.


Mereka memandanginya.


"Pinjam? Xin sejak sekolah mana ada meminjam?" Tanya Ayu.


"Dia itu berandalan kalian juga pasti tahu kan. Jadi tidak mungkin deh jadi orang kaya," kata Ney ketawa. Tidak ada yang berbalas ketawa.


"Aduh, Mbak jangan suka menilai orang hanya dari tampilan baju ya. Jaman Now orang kaya banyak lho penyamarannya dan bahkan terlihat di bawah rata-rata," kata Ratna.


Ney mendengus mendengarnya, dia tidak peduli meski panas hatinya.


"Apa sih gunanya harus pamer ponsel segala? Mending kalau situ memang kaya kalau ternyata ya sesuai omongan kamu? Mengaku-aku, bukannya kamu yang malu?" Tanya Rita menatapnya menantang.


Mereka semua tertawa. Pembuktian apa? Ponsel miliknya pun sudah banyak orang yang miliki.


"Harus ya mbak, orang kaya kemana-mana pakai baju ziarah emas?" Tanya Milan.


Ney hanya terdiam dia kembali ke mejanya, kesal iya sebal iya. Dia ingat seperti apa Xin semasa sekolah, orang kumel berubah menjadi kaya melebihi dirinya.


Namun Xin sama sekali tidak sombong kesannya masih sama sangat cuek. Ayu mengembalikan ponselnya pada Xin.


Ney menatap Xin yang mengobrol dengan salah satu guru yang pernah menghukumnya di kelas. Kemudian Xin pamit hendak ke suatu tempat.


Sebelum Xin pergi, ney sudan menyusulnya dia masih tidak yakin soal ponsel tersebut.


"Yakin ponsel itu milik kamu? Menurut aku, kamu hebat ya bisa pura-pura. Pinjam dari siapa? Mengaku saja deh aku tidak akan bilang-bilang," kata Ney.


"Aku? Pura-pura pinjam? Hah! Lucu ya kamu berusaha jadi pelawak? Tapi garing. Yah, aku yakin kamu iri sama hidup aku yang lebih beruntung. Jauh lebih kaya dari kamu," kata Xin kemudian berjalan lurus menuju aula depan.


Saat jalan, Ney bisa lihat dengan jelas cincin pernikahan Xin yang juga mewah. Dia menganga masa iya pinjam soal cincin juga?


Tujuan datang ke reuni mau lebih songong eh malah kena lempar oleh orang yang lebih sultan.


Bersambung ...