MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
145



"Kamu masih marah?" Tanya Rita menatap lekat wajah ganteng Kazen.


Kazen menghela nafas, dan senyum. "Tidak itu kan tadinya, syukurlah kamu sudah menendang dia jauh-jauh. Oh iya kamu kan hari Sabtu libur, jadi mama maunya minggu ini. Bagaimana?" Tanya Kazen memandang Rita yang kaget.


"Hah? Sabtu minggu ini?" Tanya Rita bengong.


"Iya, mama ingin cepat-cepat bertemu yah merasa tidak enak lihat kamu waktu di acara terus diam," kata Kazen.


Rita berpikir harus pakai baju apa coba. "Oke deh, aku bisa," kata Rita yah bagaimana nanti saja deh.


Kadang Kazen juga mengatakan hal mesum seperti ingin menyentuh tubuh Rita, yang langsung kena jitak dan jambak.


Kazen hanya tertawa meskipun wajahnya terlihat dia sangat serius. Kadang hampir mencium bibir manis Rita untungnya selalu saja ada yang mengganggu, termasuk Bubu.


Mereka terdiam menikmati lagu-lagu Indonesia dan barat. Kazen bernyanyi dan Rita memandangi keluar.


"Kazen," kata Rita tiba-tiba.


"Apa?" Tanya Kazen kebetulan mobilnya terhenti karena macet menuju Lembang.


"Kok badan kamu bisa besar? Makan apa saja?" Tanya Rita yang menahan memandangi badan Kazen.


Kazen menatap Rita dengan agak cengo. "Badan aku?" Tanyanya.


"Memangnya apa lagi?" Tanya Rita.


"HAHAHAHA!!" Kata Kazen tertawa keras. Untunglah kaca mobil di tutup.


"Apa? Kok ketawa sih? Aku suka heran sama orang yang badannya besar. Kok bisa?" Tanya Rita memandanginya.


"Makanya aku itu gemaaaas sama kamuuuu ingin aku gigit," kata Kazen menutup wajahnya.


Rita memandangnya dengan datar dan sebal. Tanpa mereka ketahui ternyata mobil sudah dipasang alat penyadap. Mereka semua tertawa mendengar penuturan Rita.


Kazen masih tertawa dan Rita sebal. "Kita ajak makan keluarga kamu yuk," kata Kazen menahan rasa geli.


"Ish, tidak dijawab," kata Rita bete.


Mobil menuju gerbang rumah Rita dan terparkir di luar. Rita keluar dengan jutek, Kazen memegang tangannya dan mencium kilat kepala Rita.


"Kamu ya bukannya menjawab, malah kasih aku kecup," kata Rita memukul dadanya.


"Ya karena banyak makan dan olahraga. Ayo ah, sekalian aku mau jenguk Bubu," kata Kazen tertawa.


"ASSALAMUALAIKUM!" Teriak keduanya yang disambut Bubu.


"Bubu, apa kabar sayang?" Tanya Kazen. Bubu memandangi Kazen dan meminta digendong.


"Duh, ada Bapaknya manja," kata Bapak Rita.


Kazen mencium tangan orang tua Rita dan tertawa sambil memegang Bubu yang menjilati dagu Kazen.


"Bu, Kazen mau ajak makan-makan," kata Rita langsung menuju kamar untuk ganti baju.


Semuanya girang dan bersiap, ternyata ada Rin yang datang, biasa untuk melihat ada makanan atau tidak. Dia menatap Kazen dengan pandangan sinis.


"Oh ini pacarnya Rita," kata Rin.


"Malam Kak. Saya Kazen," kata Kazen dengan sopan.


Rin senyum lalu memasang wajah jutek dan pergi ke kamar dimana ibunya dan ayahnya tengah ganti baju. Prita juga sama dan juga Rita.


"Kamu benar-benar punya pacar ya aku kira halu," kata Rin sambil melipat kedua tangannya.


"Hah? Halu? Aku? Kapan aku halu?" Tanya Rita mengangkat salah satu alis matanya.


"Ya kamu tidak pernah cerita tuh soal Kazen ke keluarga," kata Rin.


"Semuanya juga tahu, hanya Kakak saja yang tidak. Lagian kalau diberitahu juga memangnya kakak peduli," kata Rita yang berganti jilbab.


"Yah lebih baik yang ini daripada Alex. Kamu kan berkhayal juga," kata Rin.


"Alex memang ada dan sudah bertemu waktu aku ada dinas dengan guru-guru ke Malaysia. Ibu tidak cerita ya? Tidak heran sih," kata Rita.


Rin hanya terdiam mendengarnya, oh iya sih ibunya memang pernah cerita tapi dia menganggap itu hanya dongeng saja.


"Tapi apa dia mau ya saat tahu semua jeleknya kamu," kata Rin memandang sesuatu pada Rita.


"Hahaha bilang saja mau buat aku putus. Iri yaaa? Soalnya suami kakak lebih ganteng pacar aku. Hahaha!" Kata Rita membuat wajah kakaknya marah.


"Ceritakan saja kejelekannya Rita, toh Kazen sudah tahu semuanya kenapa hubungan mereka sudah masuk delapan bulan," kata Prita yang menguping.


Rin kaget, delapan bulan? Kemudian pergi dengan sikap menyebalkan. Dan tampaknya memang dia tanyakan perihal itu pada Kazen.


Rita dan Prita menguping dari balik tangga.


"Kamu sudah lama ya berhubungan sama adik saya? Rita," kata Rin.


"Oh iya alhamdulillah," jawab Kazen membelai Bubu yang duduk dengan sopan.


"Kok kamu mau sih sama dia? Tidak cantik dan berisi orangnya. Kurus begitu haha," kata Rin.


Kazen menatap Rin, dia tahu memang yang pasti tidak setuju adalah kakaknya. Kazen senyum menanggapinya.


"Tidak masalah, saya suka Rita karena hatinya yang tulus dan hangat. Bukan fisik sebagaimana dia menerima saya yang berbadan besar," kata Kazen.


"Ya menurut kakak ya lebih baik kamu cari yang lain deh. Yang lebih pantas bersanding jangan Rita, dia itu aneh orangnya," kata Rin membuat Rita kesal.


"Aneh bagaimana?" Tanya Kazen.


"Ya aneh sering berkhayal dan bicara sendiri lho. Saya sarankan ke ibu untuk diperiksakan ke Rumah Sakit Jiwa," kata Rin dengan nada mengejek.


"Menurut saya tidak pantas kakak yang anak tertua mengatakan hal begitu. Rita kan guru TK saya mengerti kenapa dia sering lakukan itu.


Dia belajar untuk menghadapi orang tua serta anak didik, menurut saya sah-sah saja," kata Kazen menatap Rin.


Rin diam mendengarnya, tidak ada rasa malu juga sama dengan Ney. Makanya sayang mereka bukan adik kakak kata Rita.


"Memangnya orang tua kamu tidak keberatan? Kalau kata saya sih lebih baik cari yang lain ya. Rita itu agak nakal orangnya kasihan kamu nanti," kata Rin.


Kazen mendengus mendengarnya sebelum menjawab Rita sudah muncul. Sengaja.


"Kazen, kita sudah siap. Yang tidak ikut hanya kakak saya saja," kata Rin dengan suara keras mengangetkan Rin.


"Oh siap. Aku nyalakan mobil dulu ya Bubu diajak saja nanti biar aku taruh di halaman resto," kata Kazen.


"Hah? Memangnya bisa? Halamannya jauh?" Tanya Rita takut.


Rin bertingkah merapihkan baju dan kemudian keluar dari ruang tamu, dengan watados nya ( wajah tanpa dosa ).


"Bisa dong. Bawa saja ya kasihan," kata Kazen menyerahkan Bubu yang menatap ke arahnya.


Rita kemudian menyusul Kakaknya, "Nakal? Hebat ya bisa bilang begitu ke orang lain. Dasar kakak kurang ajar," kata Rita meninggalkan Rin yang hanya terdiam.


Kazen juga bertemu dengan tiga keponakan Rita, yang mereka mengagumi sosok Kazen. Mereka berempat mengobrol dengan seru, Rin mengusap air matanya dan masuk.


"Bu, kakak sebaiknya di ruqyah deh," kata suaminya.


"Iya, dia itu kenapa ya sinis sekali," kata ibunya menghela nafas.


"Bapak lihat memang masalahnya sama adik-adiknya merasa superior karena ibu terus memihak," kata suaminya.


Ibu juga mengakui bahwa salahnya terlalu mempercayakan Rin sebagai kakak tertua.


"Kan Bapak sudah bilang jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ibu itu yang paling utama di semua posisi, kalau ibu lengah ya begini jadinya.


Harusnya ibu bisa memberi keadilan pada kakak, Prita dan Rita. Memberi pengertian pada Rin agar menyayangi adik-adiknya bukan sebagai musuh bahkan saingan.


Kalau kita nanti tidak ada, bagaimana hubungan mereka?" Tanya suaminya keluar kamar.


Ibunya berpikir menatap tangannya yang agak peyot. Baru sadar setelah usia Rita menginjak 25-an, tanpa ada bimbingan darinya.


Rita tumbuh sangat mandiri dan sendirian, apapun ada masalah dia tidak lagi menceritakannya pada ibu atau ayahnya.


Di luar Kazen masih mengobrol. Rin ceritakan hal itu dan mendapat peringatan keras dari suaminya. Membuatnya berlipat rasa sedihnya.


"Wah, pacarnya ate keren!" Ucap Ray memandangi Kazen.


"Badannya. Aku mau seperti Om," kata Arda menirukan gaya pegulat.


"Hahaha makan banyak dan jangan lupa olahraga," kata Kazen senyum.


Bapak menghampiri Kazen begitu juga lainnya. Rin mengatakan akan ikut menghindari tatapan Kazen atau Rita.


Rita sudah bawa kandang Bubu yang dimana dia juga merasa senang dan tidak henti-hentinya membuat suara gembira.


"Zen, kamu serius sama Rita?" Tanya Bapak. Rin agak kaget.


"Hah? Pak, masih baru lah. Kita belum ada pemikiran serius ke yang lain," kata Rita.


"Hehe iya Pak, kalem saja. Kalau jodoh tidak akan kemana," kata Kazen mengacungkan jempol.


"Bapak kan hanya nanya siapa tahu kalian hubungan putus nyambung," kata Bapaknya tertawa.


Kazen membuka mobilnya dan keponakan disarankan menaiki mobilnya, tapi Rin dan suami menolak. Mereka akan naik mobil sendiri.


"Pak, Bapak yakin kalau Kazen jodoh Rita? Rita kan usianya masih kecil kasa nikah sekarang?" Tanya Rin yang memang tidak setuju.


"Kok kamu bilang begitu sih? Doakan yang baik untuk adik kamu ya siapa tahu memang jodoh," kata Bapaknya menatap Rin.


"Habis mana bisa Rita mengarungi kehidupan rumah tangga. Masih suka nonton film kartun, suka makanan aneh," kata Rin.


"Lho, memangnya kenapa? Kamu pikir itu salah? Wajar kok kata Bapak. Coba ya kamu jangan suka berpikir negatif soal apapun!


Bapak lihat kamu ini memang terlihat tidak suka kalau adik kamu bahagia," kata Bapaknya membuat Rin diam.


Kazen keluar saat melihat Rita dan lainnya sibuk mengatur keponakan. Ini harus selesai.


"Maaf, tampaknya kakak memang tidak suka hubungan saya dengan Rita," kata Kazen.


Rin agak kaget, "Oh bukan bukan ya senang sih hanya kurang cocok," katanya.


"Mau cocok atau tidak kalau Kazen nya sendiri atau orang lain suka dengan Rita, apa urusan kamu. Sudah nak Kazen harap dimaklumi saja. Kami senang kamu dengan Rita," kata Bapak kemudian menaiki mobil.


Rin masih berusaha membuat Kazen enek. "Bukannya tidak suka hanya lebih bagusnya kamu punya cadangan lain deh,"


"Maaf sebelumnya kak, tapi saya tidak punya cadangan. Saya bukan playboy tapi apa kakak lebih berharap saya orang yang mudah memainkan perasaan Rita?


Kalau iya, maaf saya bukan orang tersebut. Saya selalu menjalani dulu satu kalau dirasa bukan jodoh baru cari yang lain," kata Kazen senyum.


Rin hanya diam.


"Kazen ayo! Nanti keburu semakin malam nih," kata Rita memanggil.


"Oke! Maaf Kak, kita harus cepat kalau terlalu malam kasihan besok Rita bekerja," kata Kazen kemudian menuju mobilnya.


Semuanya heboh melihat dan mencoba fasilitas mobil Kazen. Kazen banyak ditanya oleh keponakan, yang membuat mereka disuruh diam oleh ibu.


Bapak duduk di depan bersama Kazen, Rita, Prita dan ibu di tengah, belakang para keponakan yang ramai bicara.


Tempat duduk belakang lumayan agak luas jadi mereka bertiga bisa duduk dengan leluasa.


"Wah asik ya mobilnya," kata Bapak memandang sekeliling.


"Alhamdulillah Pak," kata Kazen senyum.


"Hasil kerja dia sendiri tuh," kata Rita.


Ibu juga kagum melihat isi mobilnya. "Eh, waktu kalian ke Jakarta tidur di hotel kan?"


"Iya, yang pesan sahabatnya," kata Rita.


"Kalian tidak pesan satu kamar kan?" Tanya ibu was was.


"Ya Allah Bu, ada Prita dan teman-temannya. Lagian mana mau Rita sekamar orang belum nikah," kata Rita.


"Ya ini kan ibu nanya saja. Takutnya kamu bertindak seenaknya," kata ibu.


"Rita sudah usia berapa Bu?" Tanya Prita.


"Iya, ibu lebih pantas bicara begitu saat Rita masih SMP atau SMA. Sekarang usianya mau ke 30, masa iya bisa seenaknya?" Tanya suaminya membuat ibu terdiam.


"Kalau memang begitu juga sudah aku tonjok area gawatnya," kata Rita membuat yang lain tertawa.


"Rita, masa kamu galak begitu sih sama Kazen? Ah, ayah tidak percaya kalau Kazen se nakal itu. Tidak kan?" Tanya Bapaknya menepuk bahu Kazen.


"Hahaha tidak beda kalau sudah menikah kan," kata Kazen tertawa.


"Ish," kata Rita sebal dalam hatinya ya berharap semoga Kazen lah sosok jodohnya.


"Kamu tahan sama galaknya Rita? Kenapa dia banyak yang menolak karena galaknya," kata Bapak tertawa.


"Bahahaha saya bisa tahan daripada kena tinggal," kata Kazen. Rita pun hanya tertawa mendengarnya.


"Hanya saran ibu, kalian jangan bermesraan depan kakak ya," kata ibu tiba-tiba.


"Lho, kenapa? Normal lah, kakak juga kalau pacaran lebih brutal. Baru kenal sehari sudah pegangan tangan, cipika cipiki. Ibu tidak tahu kan? Lebih liar tuh," kata Rita mengungkapkan.


"Kapan!?" Tanya kedua orang tuanya.


"Ya waktu SMA lah sampai aku diancam. Bukan suaminya yang sekarang, yang sama Tiko itu," kata Rita.


"Tuh Bu, dengar kan. Justru anak pertama sendiri yang liar, Prita tidak kan apalagi Rita yang galak," kata Bapak membuat Kazen menahan tawa. Ibu hanya diam.


"Wah wah Rita punya banyak rahasia nih," kata Kazen menatap dari kaca depan.


Rita cekikikan, Prita penasaran dan Rita ungkap semuanya. Untungnya keponakan sedang sibuk memainkan game dari ponsel Kazen dan Prita.


Prita memandangi ponselnya saat mobil melaju ke dekat ITB. "Kak, berhenti sebentar dong,"


"Ada apa?" Tanya ayahnya.


"Aku titip tugas kliping. Tuh orangnya, sebentar kok," kata Prita langsung keluar.


"Sepertinya pacar baru tuh," kata Kazen.


Semuanya melihat keluar ya tampaknya begitu. Pemuda itu memperhatikan Prita dan membuatnya tertawa.


"Cieeee pacar baruuu," kata Rita dengan suara keras.


Prita malu sekali dan diperkenalkan lah pemuda itu, Aros.


"Malam Bu, Pak, Kak," katanya dengan sopan.


"Malam juga," jawab semua.


"Pri, ajak saja sekalian makan malam," kata Rita melihat Kazen yang Kazen tidak keberatan.


"Boleh nih?" Tanya Prita ragu.


Akhirnya Aros ikut namun menggunakan motornya dan Prita memutuskan ikut dengannya. Kelihatannya berbeda dengan pacar sebelumnya.


"Kita mau makan dimana?" Tanya Bapak.


"Restoran Asia, Pak," jawab Kazen.


"Haduh! Masakan luar ya. Aduh, Ayah tidak terlalu suka kurang kenyang," kata Bapak Rita.


"Hahhh Bapak payah," kata Rita pelan.


"Tenang Pak, di sana juga tersedia masakan Sunda, Solo. Bapak bisa pilih yang disukai," kata Kazen dan Bapak pun tenang.


"Sekali-kali makan dong yang Asia, enak kok. Buat kenyang juga kan ada porsinya," kata Rita.


Bersambung ...