
Sebelum Rita mengakhiri percakapannya dengan Feb, Feb sempat menanyakan soal perkara Hokben tersebut.
"Kamu ada buktinya dia kirimkan Hokben itu bukan salah kirim?" Tanya Feb.
Rita kemudian mengirimkan kembali semua bukti pada Feb. Feb sangat terkejut kali ini alamatnya bukan alamat Rita atau alamat rumahnya.
Alamat sebuah Mall yang Feb dan Rita sama-sama tahu. Ya meski Rita belum pernah mengunjungi tempat itu.
"Kamu merasa aneh tidak sih? Pengiriman kali ini dia pakai nama aku, tapi alamatnya dimana dia pernah bekerja," kata Rita.
Feb memijat kepalanya kemudian tertawa lagi. Memang agak kurang sedikit waras sih.
"Jadi kamu pernah dengar dia bekerja di Lotte? Tapi bukan Bogor kalau tidak salah," kata Feb.
"Dia sendiri yang cerita pakai bangga sekali kerja disana tapi akhirnya kena pecat kan karena kerjanya tidak baik," kata Rita.
"Iya. Hahaha parah! Saat masuk juga memang sudah berbuat keonaran sih Ri. Kalau ke aku, dia bilangnya keluar sendiri," kata Feb.
"Terserah sih bodo amat aku mah tidak penting juga dia mau kerja dimana, ujungnya selalu di pecat kan. Sekarang dia pikir aku lupa kali ya," kata Rita.
"Edan memang orangnya. Tapi apa maksudnya dia pesan Hokben pakai alamat Lotte lalu shipping nya alamat sana juga?" Tanya Feb bingung.
"Yah siapapun tidak akan mengerti sih. Aku saja aneh. Tapi kalau dia sampai memakai nama aku, dan nomor hp sudah fix ya dia niatnya mau buat nama aku jelek," kata Rita.
"Iya memang. Aku juga teringat dia kerja di sana. Apa dia tidak malu ya? Sudah banyak masalah yang dia buat sendiri, terus kirim-kirim," kata Feb.
"Makanya begitu juga sudah tidak ada muka dia tuh! Orang tuh kalau mau kirim kan memberitahukan alamat ya, nah kurir pertama dia nanya alamat aku," kata Feb.
"Itu mah bukan jahil tapi sengaja. Aku juga heran apa maksudnya?" Tanya Feb.
"Secara tidak langsung dia tuh seperti mengikuti orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Memakai nama orang lalu menjahili pegawai Hokben kan. Yang kena, ya si nama penerima," kata Rita menurut pemikirannya.
"Nah iya. Berarti dia masuk ke orang-orang jahil kan. Gila ya Bogor ke Lembang hahahaha pas sampai pingsan itu," kata Feb tertawa keras.
"Makanan yang diantar pun terbuang sia-sia kali. Kurang pintar kalau dalam membuat orang terlihat jelek," kata Rita tertawa juga.
"Yang kedua ini alamatnya sama dengan yang shipping. Jadi seperti dia pesan Hokben dari Mall ini, untuk ditujukan ke alamat yang ada di Mall juga?" Tanya Feb garuk kepalanya.
"Iya. Soalnya Mbaknya bilang kurirnya sudah sampai di alamat yang diberikan. Lah? Aku di Lembang kan, aku nanya ya di situ. Buat apaaa?" Tanya Rita.
Feb terus tertawa. "Yahh tidak hanya kamu saja kok yang mengalami ini. Aku, Safa, Varinka beserta anak-anak grup lalu orang-orang yang satu perkuliahan sama dia juga sama,"
"Hah!? Untuk?" Tanya Rita kaget.
"Supaya dia disebut orang baik, yang senang membagi barang atau makanan. Tapi hampir semuanya tidak ada yang menerima, dibuang sama seperti kamu," kata Feb.
"Ish, kurang ilmu itu harusnya dia banyak belajar ya. Agama terutama, dia sepertinya tidak tahu ilmu sedekah bagaimana," kata Rita.
"Mana ada Rita, pergaulan dan lingkungan dia jauh sekali dengan kamu dan Arnila yang islami. Banyak kok orang baik yang menghampiri dia tapi akhirnya memilih untuk pergi," kata Feb.
"Karena orangnya yang memilih sulit menerima," kata Rita.
"Iya, jadi aku, Safa dan Varinka sebenarnya ya berteman sama dia hanya kasihan saja. Alasan yang sama seperti kamu dan Arnila," kata Feb dengan jujur.
Rita mengerti dan menghela nafas. Mau tertawa soal Hokben, ya bagaimana secara tidak langsung dia juga yang kena dosa.
Memalsukan identitas, memberikan pesanan palsu, alamat yang tidak sesuai, berusaha menjelekkan nama orang dan mempermainkan orang lain.
Selamat menikmati dosa kamu dan ganjarannya pasti sangat nikmat sekali.
"Memang aneh kan seperti yang kamu bilang. Dia pakai nama aku, pesan makanan dari Mall itu dan diterimanya di area itu juga dengan nama aku," kata Rita
"Iya itu mah sudah masuk ke penipuan. Parah! Kamu tidak sendiri Rita, hanya kamu yang berani mengungkapkan sedangkan yang lainnya hanya bisa kesal," kata Feb.
"Kalau diam dan hanya kesal, dia akan semakin kurang ajar. Tadinya aku bingung mungkin mereka salah, tapi saat disebutkan nomor hp, wah! Kurang ajar patut di bonyok mukanya," kata Rita kesal.
"Tonjok saja kalau ketemu mewakili orang lain," kata Feb.
"Tidak mau! Aku lakukan itu untuk diri aku sendiri, kalau kesal dan marah lakukan sendiri. Jangan mau nitip-nitip biar dia mengerti, kalau kelakuannya memang buat orang sangat terganggu!" Kata Rita.
"Orangnya memang muka badak jadi kita melawannya harus muka badak juga.
Jangan pakai hati kalau berhadapan dengan orang macam itu. Aku ya sudah lama kenal dia, aku tahu caranya.
Berapa kali aku beritahu ke dia, tidak suka cara kepo dan kelakuannya tapi apa? Masih kan.
Jadi aku ambil cara lain yang lebih ekstrim yang buat dia berdebar kencang, dan tahu kalau bermain api denganku, dia sendiri yang akan terbakar.
Dia sekarang terbakar, Feb," Kata Rita.
Mereka berbincang Feb juga menceritakan bagaimana teman-temannya menyumpahi Ney.
Masalahnya ada juga yang lebih parah dari Rita perangainya ke seseorang. Banyak orang yang diam-diam menjadi temannya hanya untuk menghancurkannya.
"Mereka pernah lebih dihancurkan dari kamu, Rita dan pembalasan mereka sedang berproses dan ada yang sudah terjadi," itulah apa kata Feb yang terakhir.
Setelah itu Rita lega mungkin memang benar dia harus mulai waspada dengan siapapun kecuali para sahabat yang sudah dia kenal.
Feb pun demikian, dia tahi dan mengerti kalau Rita pasti akan lebih waspada bersamanya.
Feb tidak menyarankan Rita untuk lebih dekat dengannya karena teman dan lingkungannya memiliki perbedaan jauh.
Lingkungan Feb sangat bebas dan pergaulannya melebihi ilmu Rita. Begitulah dunia Ney yang sebenarnya, yang pernah Feb ceritakan.
Orang yang setipe Rita dan Arnila atau Anna tidak cocok berada dekat dengan Ney, karena dilahirkan berbeda pergaulan.
Anna pun diceritakan sangat bertolak untungnya Anna bergaul dengan Anita. Berasal dari keluarga lebih dari Anita, tidak membuatnya sombong.
Feb menceritakan sebenarnya sebelum bertemu Arnila, Ney sempat mengejar Anna. Namun Anna tidak suka saat pertama bertemu, dia menolak bila Feb mengajak serta Ney.
Sama dengan Rita, Anna menyukai kegiatan perkumpulan dengan klub dan sangat jarang keluar malam.
Sampai suatu saat, Ney memaksa mengajaknya untuk ikut berpesta ke sebuah diskotik.
Tentu Anna menolak dan Ney menyebutnya perempuan norak seperti baru datang dari kampung.
Ney sama sekali tidak bisa melihat situasi, dirinya sudah tentu sangat beda jauh dengan keadaan Anna.
Anna tertawa saat teman-temannya hanya terdiam dan mengatakan, "Lebih baik aku dikatai kampungan daripada harus bergaul dengan perempuan rendah semacam PSK murahan seperti kamu!"
Ya itulah awal dari semuanya, Ney sangat marah tapi tidak bisa berkata apapun. Yahh penampilan pun jelas berbeda, teman-teman setuju.
Sejak saat itu juga hubungannya dengan Anna hancur dan memang tidak ada hubungan apa-apa sih.
Hanya saja terkadang Ney seperti lupa diri mengatakan dirinya setara dengan Anna, yang ditertawakan oleh Anna keras.
Feb hanya mengatakan Anna mirip dengan Rita, sama-sama keras bila berhadapan dengan Ney.
Namun Anna tidak sadis seperti Rita, dia membalasnya dengan kekurangan yang dimiliki Ney.
Ada kalimat yang pernah diucapkan sama persis dengan Anna, karena itu juga Ney tidak berani bertindak.
..."Jangan pernah berani membangunkan macan yang sedang tidur." ...
Itulah yang dikatakan Anna pada Ney saat dirinya dihina parah oleh teman-teman grup Anna.
Karena terus menghina Anna dengan segalanya namun tidak melihat siapa yang sebenarnya terhina.
Ney sempat berpikir apakah Anna dan Rita saling kenal? Karena dalam bicara dan penampilan agak sama.
Yang membedakan hanyalah Anna berasal dari keluarga Sultan. Sedangkan Rita keluarga menengah ke bawah.
Yang Rita ucapkan bukan macan melainkan naga. Karena Rita menyukai hewan naga yang menjadi salah satu hewan mitos.
Semua pemikiran Rita dan Feb terhadap pemesanan Hokben tersebut memang satu pemikiran.
Bersambung ...