MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
90



Ibu kemudian masuk ke kamar Rita dan kaget melihat bingkisan yang dipenuhi ukiran bunga Sakura.


Terdapat boneka dan buket bunga yang indah. Ibu memegangnya, selama ini tidak pernah ada orang yang memberikan Rita parcel.


Bahkan hanya sekedar bunga saja, berbeda dengan Prita dan kakaknya. Tidak ada satupun selain Alex dan Kazen.


Rita juga tampak tidak iri dan tidak peduli mengenai bunga. Memang bukan tipe yang menyukai bunga sih.


Tapi boneka Rita memang ada, sebagian dia dapatkan dari bonus cemilan atau cokelat yang sedang diskon.


Dalam hati ibunya, tidak percaya bahwa Rita selama ini selalu tertutup mengenai lawan jenis. Ternyata Rita memiliki seseorang yang selalu dia simpan.


Berbeda dengan adik dan kakaknya, Rita memilih menyimpannya sendiri tanpa ada kisah apapun.


Dulu pernah Rita sering cerita namun karena ibunya selalu beranggapan Rita hanya mengarang cerita, Rita pun menghentikannya.


Sejak itu dia jarang bercerita lagi kalaupun iya, dia akan ceritakan pada Kiara dan Mae.


Masalah yang Rita alami pun tidak ditanggapi sungguh-sungguh oleh ibunya. Jadi tidak ada gunanya berbagi kisah dengan ibunya bahkan sekarang.


Ibunya lebih mempercayai apa kata-kata kakaknya, Rin. Bahkan pernah juga Rita di sebut Rin jarang bangun pagi.


Yang akhirnya Rita balas yang menceritakan kakaknya pernah bolos sekolah dan datang ke kosan laki-laki.


Rin di marahi habis-habisan oleh ibu dan bapaknya, sampai dipaksa periksa ke dokter.


Sejak itu Rin tidak pernah lagi berani berbuat macam-macam, semua rahasianya ada pada Rita.


Paling hanya berani adu mulut dan mengadu saja. Tapi sekarang ibunya menyadari bahwa semua cerita Rita memang benar adanya.


Sama sih seperti Ney yang dahulu pernah berkata pada Rita, kalau dia butuh seseorang untuk curhat, dia mau mendengarkan. KALI INI.


KALI INI, dia mau mendengarkan semua keluh kesah Rita. Penasaran tidak sih kenapa dia baru KALI INI ya mau mendengar?


KALI INI, dia akan memberikan solusi bila Rita ada masalah. Dan KALI INI bagi Rita sudah tidak ada kesempatan. Rita tahu si tema Kali Ini hadir, karena Ney takut posisinya jatuh bila Rita dengan Alex.


KALI INI juga Ney akan bersungguh-sungguh menjadi sahabatnya. Tapi Rita menolak, sudah cukup baginya mengalami hal berat dan trauma itu sulit hilang.


Kenapa harus Kali Ini, kenapa tidak sedari dulu. Saat Rita hanyalah hantu dalam penglihatannya. Dan nampak nyata saat, Rita mengenal Alex.


Prettt!


Kembali ke soal Rita, Ibunya berpikir mulai dari Alex yang kelihatannya banyak memberikan sesuatu yang ibunya tidak pernah berikan.


Sekarang Kazen pemuda yang proses pendekatan dengan Rita. Merenung mereka berdua tulus menyukai Rita, menerima kekurangannya.


Ibu menghela nafas, ada rasa egois dalam hatinya kecewa pada anak keduanya. Berbeda dengan adik dan kakaknya yang memiliki prestasi, sedangkan dia tidak.


Ibu kini paham kenapa Rin sangat iri pada Rita meski dia kurang kasih sayang. Rita memiliki banyak sahabat dan teman dekat dari teman game, sekolah, kuliah bahkan dari tempat kerja.


Ibu menyesal kenapa hanya fokus pada anak pertama serta anak ketiga, meninggalkan anak kedua sendirian dengan alasan agar mandiri.


Enggan menerima perbedaan yang ada pada diri Rita, dengan pemikiran dan cara hidup yang berbeda jalur.


Menarik hati pria pun sangat berbeda, Rita yang paling tidak bisa ditebak. Sampai kakaknya pernah mengatakan bahwa ada kemungkinan Rita tidak menyukai laki-laki.


Ibunya juga berpikiran sama, tapi Rita sama sekali tidak peduli. Yang tahu kebenarannya hanya Prita, dia pun dilarang menjelaskan kepada ibu dan kakaknya.


Tidak disangka-sangka yang menyukai Rita sejak masa SMA, adalah laki-laki yang lumayan keren, lumayan ganteng.


Tidak ada pacaran, hanya dekat tanpa status. Bisa dibilang berteman saja, laki-laki waktu SMA pun santai.


Mereka berpisah saat Rita memutuskan akan kuliah ke jurusan TK. Mereka tidak disebut putus karena sedari awal pun bukan pacaran.


Laki-laki menyatakan suka, Rita juga tapi hanya mereka yang langka. Mereka bertemu, mengobrol biasa, jalan-jalan bersama teman.


Usia berbeda tiga tahun, laki-laki sudah kuliah semester awal. Dan Rita kelas 1 SMA, tidak ada perjanjian. Rita membebaskan sang laki-laki bila ingin berpacaran dengan yang lain.


Tapi dia menolak dan akan lakukan hal itu bila mereka terpisah nanti. Saat Rita kuliah, laki-laki tersebut mengatakan akan menerima seorang perempuan.


Mereka berpisah dengan cara yang baik, dan Rita pun sibuk dengan kuliah kemudian bekerja. Hubungan mereka cukup sampai di sana.


Ney? Yah, dia sih sama sekali tidak tahu Rita juga jarang bertemu lagi karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman kuliahnya.


Makanya sewaktu Ney mengatakan kalau dia tahu segalanya soal Rita, sebenarnya itu semua hanya omong kosong dia saja.


Dia tidak tahu apapun! Tukang mengarang khayalan tingkat delusi dan halusinasi. Dalam pemikiran dia mungkin Rita yang lain ya, dia pernah sebutkan sesuatu yang menurut Rita, itu bukan dia.


Jadi Rita curiga kalau Ney ini memiliki kebiasaan akut yaitu mengambil kisah seseorang laku menempatkannya menjadi kisah kehidupan dia.


Rita sempat bertanya pada Feb apa benar keluarganya Dokter? Karena dulu Ney pernah berkata begitu. Seingat Rita, keluarganya bukan Dokter.


Ya benar, apa kata Feb kalau Ney itu sering ber delusi mengenai sesuai yang tidak ada, yang hal itu bukan dia tapi orang lain.


Tidak heran ke orang lain pun semua isi obrolan berbeda. Pada Rita mengaku keluarga Dokter, ke temannya mengaku keluarga Pengacara.


Yang yah, tentu saja semua orang sudah tahu soal sakitnya dia. Jadi banyak orang yang menyembunyikan cerita darinya.


Salah satu ciri penyakit Ain, yang dari mengagumi sesuatu menciptakan delusi pada dirinya. Seolah dia yang mengalami dan sudah semakin parah. Termasuk ke Rita.


Sejak itulah ibu berubah, mulai terbuka dan mendukung Rita meski belum sepenuhnya.


"Boleh minta nomor kamu? Jadi nanti aku tinggal menelepon saja," kata Kazen malu-malu.


"Hmmm ada. Tunggu," kata Rita mengambil hp dan membukanya.


Kazen duduk di kursi tempat Prita, dia berhati-hati agar tidak menyenggol kaki kanannya.


Rita memperlihatkan nomornya dan Kazen mencatat.


"Nomor baru?" Tanya Kazen.


"Iya. Karena ada seseorang yang senang memalsukan data, dia memasang nama dan nomor aku untuk menipu orang," kata Rita dengan tenang.


Kazen agak tersindir meski dia tahu maksudnya adalah Ney.


"Kalau yang ini kena hack orang lagi, pelaku terduga kamu dan mereka berdua. Kemudian aku akan ganti lagi dan tidak akan memberitahukan siapapun," kata Rita.


"Oh! Aku tidak akan berikan nomor kamu. Tenang saja," kata Kazen.


Diana dan Komariah sih mana mungkin beritahu, mereka tidak akan pernah ada kabar pada orang lain.


"Kita cukup bertemu saja atau mengobrol jangan banyak chat," kata Rita.


"Boleh. Hmmm nanti aku boleh kan ajak kamu jalan-jalan?" Tanya Kazen.


"Ya boleh sih kalau kamu tidak keberatan. Jalanku lama," kata Rita menunjukkan kakinya.


"Tidak apa. Jalan santai," kata Kazen senang.


"Benar ya jangan beritahukan siapapun. Janji?" Tanya Rita dengan mata yang berharap. Dulu dia lakukan itu pada Alex namun Alex mengingkari. Dan dia kapok mempercayainya.


Kazen senyum dan mengalikan jari kelingking Rita. "Aku janji,"


Mereka akhirnya bisa mengobrol, Diana dan Komariah keluar supaya mereka bisa leluasa. Prita datang dan mereka bertiga membicarakan sesuatu yang agak berat.


Kazen menawari Prita untuk menjadi dosen di salah satu universitas yang ayahnya miliki, namun ditolak.


"Aku ingin bekerja tanpa koneksi dari orang. Jadi aku bisa menghargai diri sendiri yang berusaha bekerja tanpa bantuan," kata Prita.


Kazen bangga dan mengacungi jempol.


"Aku juga sendiri lho mencarinya bukan minta tolong dimasuki apalagi dari jalan belakang," kata Rita.


"Iya kalian berdua hebat. Kalian berusaha keras bukan tipe orang yang mau enaknya saja kalau hidup. Berbeda dengan orang yang enggan berusaha dan ingin hidupnya selalu lancar," kata Kazen.


"Kita jadi tahu kan proses dan rasa lelahnya itu," kata Prita.


"Iya jadi waktu kita dibayar tuh ada perasaan, "inilah hasil kerja saya, dari usaha mencari sampai diterima kerja". Kalau minta dimasukkan koneksi, kesannya di beri gaji juga tidak ada usaha kerasnya. Seperti itu," kata Rita.


Kazen tampak gemas menatap Rita yang langsung di kipasi oleh Prita.


Di sebuah rumah yang dihuni oleh seseorang yang masih sajaaa kepikiran. Soal pesanan Hokben yang tidak ada kabar sama sekali mirip dengan hamper nya.


"Kenapa sih semua yang aku pesan tidak ada kabar begini? Feb atau Rita sama sekali tidak ada apapun!" Kata Ney memeriksa lagi.


Dalam aplikasinya sudah tertulis selesai tapi tidak ada kabar bagaimana. Akhirnya dia hubungi ke Hokben Center dan menanyakan bagaimana pemesanannya.


"Aku yakin pasti sudah sampai tapi kok tidak ada pemberitahuan ya?" Tanya Ney aneh.


"Siang, kami dengan Hokben Center. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Pegawai Hokben.


"Siang, Kak. Begini, kemarin saya memesan paket Hokben ke alamat yang saya kirim. Tapi sampai sekarang tidak ada informasi lagi. Apa sudah sampai?" Tanya Ney.


"Baik, mohon ditunggu sebentar ya. Atas nama siapa?" Tanya Center.


"Rita Ashalina," kata Ney agak tersenyum.


Petugas tersebut menghentikan proses pencariannya dan menghubungi Manajer, mengatakan orang yang memakai nama Rita menghubungi kembali.


"Pak, orangnya menghubungi kembali," kata Petugas.


Manajer kemudian mengambil alih. "Biar saya saja,"


"Baik, Pak," kata petugas.


"Halo, jadi Ibu memesan satu paket Hokben namun sampai saat ini masih belum ada informasi terkait sudah terkirim apa belum. Benar?" Tanyanya mirip petugas Telkom.


"Iya, Pak. Kenapa lama sekali ya? Biasanya sehari sudah ada kabar," kata Ney berpura-pura cemas.


"Atas nama Rita Ashalina?" Tanya Manajer memeriksa dan mendapatkan tulisan bahwa identitas dipalsukan.


"Iya, betul. Itu nama saya ya, Pak," kata Ney menahan tawa.


Sengaja Manajer membiarkan selama lima menit sambil menggunakan jam. Petugas hanya menahan tawa melihatnya, kemudian Manajer mengangkat kembali telepon.


"Maaf Bu, kami tidak menerima pesanan paket apapun atas nama Rita Ashalina. Mungkin ibu Salah Kirim atau pesan?" Tanya Manajer.


Bersambung ...