
Sore menjelang teman-teman Prita datang setelah Prita berikan alamat dan mereka bertiga terkejut.
"Hebat! Dia menginap di hotel ini?" Tanya Anne yang menganga.
"Kalian bawa baju kan?" Tanya Fitri.
Mereka berdua mengangguk, ya karena Prita berkata mereka akan menginap semalam di hotel yang megah tersebut.
Prita datang dan mereka berpelukan, Rita serta Lazen dan Seren pun ikut. Mereka saling bersalaman, dan ketiganya terpesona dengan ketampanan Kazen dan Shin.
"Mereka temannya adik kamu?" Tanya Shin pada Rita.
"Iya, sahabatnya," kata Rita.
"Ini Anne, Fitri dan Sasmi. Yang perempuan pirang ini Seren, kekasihnya kak Shin. Kalau sisanya tidak perlu dikenalkan ya," kata Prita.
Ketiganya agak kecewa ternyata Shin sudah memiliki kekasih, mana kekasihnya ada juga. Tapi mata mereka memang tidak bisa lepas dari Shin.
"EHEM! Daripada lirik pacar orang,ebih baik mulai cari pacar," kata Shin sambil duduk.
Mereka bertiga tampak sebal dengan kata-kata Shin yang disikut oleh Seren.
"Bercandaaa selamat kenal ya. Kita nanti mau jalan-jalan, kalian mau ikut?" Tanya Shin tertawa.
"Oh hehe tidak terima masih, kita juga mau mengunjungi beberapa tempat," kata Sasmi.
"Oke deh kalau begitu kita menyebar ya," kata Rita yang sudah siap.
"Tunggu sebentar ya mereka sudah disini," kata Seren menuju resepsionis.
"Siapa?" Tanya Rita.
Prita dan ketiga sahabatnya sudah pergi ke luar hotel, mereka terkejut dengan hotel tempat Prita berada.
"Keponakan Seren yang ada di Indonesia. Mungkin kamu akan kurang nyaman karena mulut mereka tajam," kata Kazen.
Seren datang sambil menyandarkan kedua tangannya di bahu kedua keponakan. Kazen tiba-tiba tampak siaga, Rita bingung.
"Hai. Kenalkan ini keponakan aku yang mau ikut kita jalan-jalan. Reza dan Lian. Keponakan laki-laki Seren tampak berbadan atletis, usianya sekitar empat belas tahun.
Yah, sudah terlihat ketampanannya sih karena kulitnya yang putih dengan gaya rambut yang belah tengah. Mirip V BTS. Karena itulah Kazen agak protektif pada Rita.
"Yang ini namanya Reza, dia sekolah di New Zealand School Jakarta. Usianya empat belas. Ini Rita Ashalina kekasihnya Om Kazen," kata Seren.
Yang namanya Reza memandangi Rita dengan wajah terkejut. "Hah!? Kekasihnya Om Kazen? Kok di luar level kita ya,"
Rita langsung berasa jatuh dari ketinggian mendengarnya. Ganteng-ganteng ternyata songong nya luar biasa.
"Heh! Kamu tidak diajarkan etika di sekolah atau rumah? Begitu bicara sopan pada orang lebih tua?" Tanya Shin marah.
"Ya deh. Salam kenal," kata Reza sambil mengulurkan tangan. Satu tangan kirinya dia masukkan ke dalam saku celana panjangnya.
"Iya," kata Rita mengatupkan kedua tangannya dan Reza agak salah tingkah lalu ikut mengatupkan juga kedua tangannya.
"Sudah, jangan sering dipandang. Dpsa," kata Kazen pada keponakannya Seren.
Reza mengangkat salah satu alis matanya. "Apaan sih Om? Siapa juga yang tertarik sama tipe begini," kata Reza.
Kazen mendengus, dia memang berdiri setengah menutupi wajah Rita. Lian perempuan yang tingginya hampir sama dengan Reza, juga sama menatap sinis ke arah Rita.
"Heh! Pandangan apa itu?" Tanya Shin. Seren hanya menggelengkan kepalanya melihat dua tingkah keponakannya.
"Suka-suka dong, main larang saja. Kenalkan Nama aku Lian, nama aslinya panjang kamu pasti tidak akan hapal," kata Lian dengan nada tinggi.
Rita hanya bengong dan sebelum Shin meledak, sudah Seren yang memperingati dia.
"Kamu kamu kamu! Tahu ya usia kamu dengan Rita itu jauh! Sopan sedikit dong, mau aku beritahu kalian berdua sama wali kelas!?" Tanya Seren tidak jauh lebih galak.
Yang lain memandangi Seren lalu keponakannya. Lian dan Reza menundukkan kepala.
"Kalian itu mulai sombong ya semenjak sekolah yang paling mahal disini. Langit itu masih ada langit lagi, angkuh sekali sih jadi anak. Sudah jangan dikenalkan deh, aku jadinya makan esmosi lihat mereka," kata Shin kesal.
"Hhhh apa salahnya ajak mereka? Rita maafkan mereka ya," kata Seren memohon ampun.
"Euh haha iya tidak apa-apa. Kalian anak-anak kaya?" Tanya Rita pada mereka.
Mereka berdua kaget, Shin dan Seren juga.
"Iya kita memang kaya terus kam.. kakak mau apa? Minta uang?" Tanya Lian dengan congkaknya.
"Bukan, anak orang kaya apa semuanya minus etika dan adab ya? Aku kira hanya orang-orang kalangan biasa saja yang begitu ternyata yang seperti kalian juga ada ya," kata Rita membuat keduanya kaget.
Setelahnya Seren setuju setidaknya akan lebih baik bila anak dari kalangan atas lebih mengerti etika.
"Setahuku Reza dan Lian bukannya anak yang sopan dan ramah?" Tanya Kazen pada Seren.
"Iya juga aku tidak tahu apa yang membuat mereka berubah drastis. Tapi apa kata Rita membuat mereka terkejut kan," kata Seren.
"Rita duduk di kursi ketiga sama aku saja," kata Seren.
Kursi kedua tentu dua keponakannya, dan paling depan Kazen dan Shin.
"Biasanya mereka tidak begitu Rita, mungkin pergaulan di sekolah kali ya," kata Seren.
"Bisa jadi," kata Rita memandangi mereka didepannya.
Tanpa mereka ketahui, Ney ternyata menuju perjalanan ke tempat yang akan Rita datangi. Dia berjanjian bertemu dengan Sana, Sana tentu melaporkan hal itu dalam grupnya.
"Mau ke Mall mana?" Tanya Sana.
"Senayan City yuk aku mau memperbaiki layar ponsel," kata Ney dalam telepon.
"Dih, perbaiki layar doang harus ke mall. Ya sudah aku kesana lima menit lagi," kata Sana.
"Oke," kata Ney menutup telepon dan menaiki Ojol menuju mall tersebut.
Di tempat lain mobil mereka memasuki parkir atas. Dan mereka keluar, Seren bergabung dengan keponakan.
"Yuk. Kita ke beberapa toko ya," kata Kazen.
"Oke," kata mereka semua.
Mereka menaiki lift menuju lantai empat dimanaaa Ney juga berada di sana. Berkeliling di sekitar toko ponsel mencari sesuatu yang menarik.
Kazen cs melewati pertokoan yang Ney berada, dia keluar dan PAS saat Rita juga melewatinya. Ney terhenti dan berbalik, jantungnya agak terhenti.
"Tadi..." Kata Ney kemudian berlari meyakinkan diri. Dia melihat sekitarnya dan terus mencari.
"Cari apa, Mbak?" Tanya salah seorang petugas.
Saat itu Rita sudah berbelok dan mereka menaiki eskalator. Dimana Ney masih terus berputar tidak menjawab pertanyaan petugas.
"Kok dari belakang orang itu mirip Rita ya? Tapi... mana mungkin dia ada di sini," kata Ney kembali ke toko ponsel tadi.
Rasanya tidak semakin nyaman hanya karena merasa melihat seseorang yang mirip Rita. Dia menggigiti kukunya ada rasa ketakutan tersembunyi.
"Kalau tidak salah orang itu memegangi tangan seorang laki-laki. Jadi tidak mungkin Rita, dia kan jomblo abadi. Hahhh aku ini ada-ada saja," kata Ney mendengus.
"Mbak, biasanya kalau merasa melihat seseorang yang Mbak kenal. Berarti memang itu orangnya, kalau Mbak merasa tidak nyaman meski mirip berarti Mbak punya banyak kesalahan sama dia," kata seseorang.
"Ih, apaan sih," kata Ney kemudian pergi dengan jutek.
Yang dilihatnya tadi memang Rita dan tengah memegang tangan Kazen dengan gembira. Keponakannya memandangi Kazen yang nampak bahagia juga.
"Mungkin kita salah," kata Lian.
"Belum tentu," kata Reza.
"Wah bagus-bagus ya," kata Rita memandangi ponsel disana.
"Iya dong toko disini paling terbaik," kata Lian kembali dengan nada pedas.
Nada mereka seperti anak-anak antagonis dalam film yang membuat dada semakin panas.
Rita mendiamkannya saja tidak ada gunanya melawan anak tanggung. Dia merasa ada chat masuk dan mengeluarkan ponselnya.
"Kak, kenapa tidak jual saja ponselnya? Tipenya sudah basi itu nih, kita saja ponselnya seharga dua puluh juta. Kakak tidak mampu ya?" Tanya Lian tertawa.
Rita memandangi mereka tanpa ekspresi dan membuat Seren juga kesal.
"Heh! Kalau tahu begini, aku tidak akan ajak kalian ikut! Orang tua kalian percaya kalian tidak akan berkata menyakitkan. Aku permisi dulu ya mau mengantar mereka pulang. Ayo pulang!" Ajak Seren menyeret mereka.
"Tidak apa-apa, Seren sudah biasa aku hadapi anak-anak seperti mereka. Banyak kok di sekitar sekolah, biasanya pasti mereka punya alasan tersendiri," kata Rita menahan Seren.
Reza dan Lian kaget mendengarnya. Sekolah? Mereka saling bertatapan...
"Iya tapi... aku tidak enak kamu pasti terganggu kan," kata Seren.
"Tidak. Benar sih kata mereka ponsel aku ini memang sudah jadul. Asal kalian tahu ya, aku beli ponsel ini asli dari uang yang aku tabung sendiri.
Tidak apa kalian tidak suka karena sudah basi. Tapi ini kan ponsel aku, ada kok orang tua murid yang ponselnya lebih basi dari ini," kata Rita dengan tenang.
"Rita kan guru, Ren baginya sudah biasa menghadapi berbagai macam karakter anak. Biarlah sebagai bahan agar Rita bisa bertahan," kata Kazen.
Seren lega melihat Rita tidak begitu memikirkan apa kata dua keponakannya. Reza dan Lian kini tahu siapa Rita dan apa pekerjaannya.
Mereka menatap ponsel dengan casing bunga sakura itu, ada wajah penyesalan.
"Mereka anak manja yang jarang dimarahi," kata Shin merangkul Reza. Reza hanya diam.
"Hahaha tidak apa-apa. Yuk," kata Rita.
Bersambung ...