
Ada juga yang bertanya pada Rita apakah Kazen memperlakukannya sangat dingin? Namun mendengar jawaban Rita membuat mereka aneh.
"Dia sangat romantis tapi kalau memang sudah serius, diganggu pasti ngamuk," jawab Rita.
Namun jadi kebanggan Rita juga dia tidak perlu sangat cemas bila Kazen dihampiri wanita penggoda. Karena akibatnya benar-benae bikin sakit hati.
"Kamu dingin ya kalau didekati," kata Rita saat berjalan bersama.
"Yah buat apa juga lirik mereka kalau sudah punya yang galak," kata Kazen menatap ke arah kolam penguin.
Mereka jalan-jalan kadang bertemu Prita atau Seren, mereka bergantian memasuki wahana ekstrim. Wajah Kazen pun ekstrim saat berganti masuk Rollercoaster.
Suara teriakannya paling bergema membuat beberapa orang memilih diam. Hanya Rita yang menutup wajahnya seakan-akan tidak mendengar.
Mereka juga memasuki wahana bianglala terbesar, yang membuat Rita pucat karena sangat tinggi. Satu kincir dihuni Rita, Kazen dan beberapa perempuan.
Mereka menertawakan Rita yang berwajah pucat yang katanya pura-pura. Namun harus menerima kenyataan pahit saat Kazen memeluknya membuat mereka semua sebal.
Kazen tampak tidak takut apapun dan saat memeluk Rita yang ketakutan beberapa perempuan memberikannya nomor dan isyarat, "intim".
Kazen mengambil dan merobek-robek lalu di buang ke wajah perempuan itu. Mereka semua kaget dan tidak berani menatapnya.
Wajah Kazen yang sadis tidak terlihat oleh Rita yang sedang pusing dan merasa tekanan ketinggian. Setelah putaran pertama, mereka memilih ganti kincir.
Seren dan Shin serta kedua teman Prita masuk. Dan melihat Rita yang tertunduk, harus bertahan di kinciran.
"Semangat Teh, bertahan dua putaran lagi," kata Anne dan Fitri.
"Astagfirullaaah," ucap Rita dengan pelan.
Kazen hanya tertawa melihatnya dan iba karena Rita memang tidak menyukai bangunan tinggi. Akhirnya ya tidur juga terpaksa.
"Rita bisa tidur dalam keadaan begini? Hebat," kata Seren.
Mereka semua memandangi Rita dengan aneh namun mengerti, daripada muntah. Sampai akhirnya dibangunkan Kazen karena sudah selesai.
Di tempat lain, Ney menunggu di luar Dufan karena tidak ada kelihatan Rita dia memutuskan kembali pulang dan berpikir nanti dia akan datang ke Bandung.
Sore harinya semua berada di sebuah cafe di dalam dufan. Kazen, Seren dan Shin menjadi daya tarik cafe tersebut.
"Hebat ya pancaran aura mereka bertiga," kata Sasmi pada Prita.
"Yah, tubuh mereka bule sih. Wajar malah jadi seperti kucing pembawa keberuntungan. Apalagi Seren yang benar-benar... Princess sekali," kata Prita mengaguminya.
Mereka makan dengan lahap, lagi-lagi Rita juga di komentari pedas oleh beberapa pengunjung.
"Kok bisa ya jadi pasangannya?"
"Tidak cocok dong laki-lakinya ganteng, masa pasangannya biasa?"
"Lebih baik aku kan daripada dia. Lihat saja bajunya,"
Bla bla bla bla.. yang membuat Rita mulai emosi. Lalu...
BRAK!
Rita dan lainnya memandangi Kazen yang tiba-tiba berdiri.
"KALAU KALIAN MAU MAKAN, TIDAK USAH BERKOMENTAR SOAL SIAPA YANG PANTAS MENJADI PASANGAN SAYA! Apa urusan kalian! Kalau kalian disini hanya mau mengomentari penampilan kami atau mereka, KELUAR!!!" Teriak Kazen membuat pemilik cafe, petugasnya, Rita cs dan pengunjung lain bengong menatapnya.
Semenit kemudian para netizen yang berkomentar hanya terdiam, mereka tidak ada lagi yang berani bicara.
"Kita pergi saja ke tempat makan yang lebih tenang daripada disini," kata Kazen sambil melemparkan lap tangan dengan keras.
Saat mereka mau berdiri, pemilik dan beberapa koki meminta maaf karena telah membiarkan mereka masuk.
"Maaf mas, Mbak. Ini kesalahan saya, hal ini sudah terulang beberapa kali. Mereka memang senang mengomentari siapapun," kata A.
"Kalau sudah tahu keluarkan dong," kata Seren.
"Biar saya saja yang lempar mereka keluar," kata Kazen berdiri membuat Rita menahannya.
Enam orang perempuan tiga berjilbab dan tiga yang non, langsung kaget dan segera saja segera membereskan barang mereka. Melihat sorot mata Kazen yang menakutkan.
"Sabar sabar, tidak apa-apa kok. Aku baik-baik saja," kata Rita berusaha menahan badan beruangnya yang memang sia-sia.
Shin dan Seren segera menenangkan sambil duduk. Rita yang menahan pun malah terseret oleh badannya Kazen. Yang lain hanya menahan tawa melihat Rita yang berusaha menahan Kazen.
Setelah itu semua kembali tenang, meski Rita merasa ada sedikit tekanan dari tatapan Kazen. Mungkin tidak percaya kalau Rita baik-baik saja.
"Heh bodoh! Sorot mata kamu itu! Rita pasti merasa kamu sedang menyelidikinya! Kalau dia mulai ketakutan dan pergi bagaimana?" Tanya Shin mengirimkan pesan.
Kazen kemudian mengedipkan matanya dan bersikap kembali tenang. Rita menatapnya dia tidak yakin Kazen yang tadi memang sifatnya.
Kazen tersenyum, meski bingung ya Rita membalasnya. Seren memandanginya dengan tajam, dan Kazen mengerti.
Jangan sampai Rita tahu seperti apa sosok menakutkan Kazen dan Seren. Mereka selesai dan kembali ke mobil, Rita sudah tidak pusing dan mereka saling memeluk.
"Acara kemarin kapan ada lagi?" Tanya Rita.
"Tahun depan tapi tampaknya bukan di Jakarta karena ada pengganggu itu, beberapa keluarga memutuskan untuk mencari tempat lain," kata Seren senyum.
Rita senyum yah dia juga sebenarnya kaget saat lihat Ney bisa masuk. Ingin bertanya tapi malas jawabannya pasti songong, makanya dia memilih diam.
"Baguslah," kata Prita.
Setelah itu mereka berpisah dan Rita menghubungi rumah menanyakan keadaan Bubu. Bubu menatap Rita dan mencakar-cakar layar ponsel ibu.
Lalu menjilat nya tanda dia sangat merindukan Rita. Bubu tidak memperbolehkan ibu mengambil ponselnya dan membuat Rita tertawa.
Tidak lupa Kazen membeli pakan kelinci yang termahal dan terbagus. Bubu menantikan mereka berdua kembali.
"Rindu Bubu," kata Rita.
"Sebelum pulang ke Lembang dulu ya," kata Kazen menepuk bahu Shin.
"Baik, bos," jawab Shin dengan sigap.
Rita sudah mengantongi makanannya itu dan malamnya mereka sampai. Ibu menggendong Bubu dan melepaskan.
Bubu berlari saat melihat Rita turun, dan langsung menaikkan kakinya. Rita menunduk dan menggendongnya menatap Bubu.
"Aku pulaaang. Nih ada oleh-oleh," kata Rita. Bubu senang sekali menatap Kazen dan melompat ke arahnya.
Bubu senang bukan main, dia melompat-lompat berkeliling sampai Rita coba memberikan makanan tersebut.
"Bagaimana makannya, Bu?" Tanya Prita mengelus Bubu.
"Keripiknya habis setiap kali pergi ke kamar kalian tapi orangnya tidak ada. Kelihatannya kesal dan marah," kata ibu menunjukkan dua toples kosong.
"Waduh! Sabar ya," kata Rita mengelus badannya.
Bubu kesal namun dia maafkan karena makanan yang diberikan sangatlah enak. Rita pindahkan ke mangkuknya dan dia makan dengan cepat sampai habis.
Kazen dan Shin pulang, Rita agak penasaran dengan sisi tadi dari Kazen tapi dia tidak mau kepo. Karena baginya Kazen sudah cukup dengan begini.
Shin dan Kazen kembali pulang, dan Shin mengatakan betapa berbahayanya kelakuan dia di cafe tadi siang. Kazen dengan wajah serius menghela nafas.
"Kalau bukan Rita, sepertinya aku bisa lepas kendali," kata Kazen.
"Janganlah. Lepas kendali disini itu berbahaya, apalagi kamu bisa merusak apapun bahkan Rita," kata Shin.
"Sial," kata Kazen tidak berpikir ke arah sana. Dia teringat di masa lampau, meledak lalu meratakan semua yang ada.
Untuk menghentikan amarahnya, dia memanggil perempuan panggilan yang bisa menenangkan suasana hati. Memang tidak sampai ke dalam, tapi yah hampir semua kekasihnya mengalami.
Putus karena semuanya langsung menggunakan kesempatan itu untuk menguras hartanya. Uang yang diberikan dia lempar begitu saja, dan menyesal.
"Semua yang kamu pernah tiduri kebanyakan pencari uang kan," kata Shin.
Shin tentu tahu karena Kazen hanya butuh sentuhan saja agar amarahnya tenang. Sejak itulah dia mulai berubah, sholat rajin, suka puasa, banyak sedekah.
Tapi tetap sangar dan garangnya kalau ada yang mengusik orang yang dia sayangi. Rita tadi menahan badannya, yang malah terseret.
Kazen tertawa menceritakan hal itu, ternyata memang Rita sangat ringan. Dia cukup dengan memeluk Rita saja, yang tengah ketakutan.
Tangannya tidak nakal karena Rita memang benar-benar takut. Niat menikahinya oun tentu ada, semenjak sering menatap kedua mata Rita yang kecil.
Membuat Kazen harus selalu beristigfar karena pikirannya mulai melayang. Untungnya dari pihak Rita pun dia selalu kena jitak dan cubitan.
Shin tertawa kelakuan Rita selalu bisa menyadarkan sifat liar Kazen. Niat mencumbu bibir Rita pastiiii adaaa tapi selalu ketahuan dan berakhir di hajar.
"Bisa-bisanya anak Darma pasrah dihajar perempuan," kata Shin tertawa keras.
Kazen menggaruk kepalanya. "Tidak tahu tubuh dan tangan tiba-tiba menurut saja.
Karena Rita perempuan yang memang lemah, mudah terbawa perasaan. Dan aku tidak mau melihat dia menangis lagi, mirip Seren," katanya melirik Shin.
"Iya ya setelah Seren kamu tolak mentah-mentah aku pikir dia menerima aku karena terpaksa," kata Shin menghela nafas.
"Nikahi dia lah. Kamu tidak takut dia diambil orang?" Tanya Kazen.
Shin berpikir membuat Kazen tertawa dan mereka pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan paginya Rita mendapat kabar kalau dirinya bekerja di sekolah lagi. Rita bangun dan mandi, kepala sekolahnya meminta dirinya datang pukul delapan.
"Lho, mau kemana?" Tanya ibu yang membereskan rumah.
"Aku dipanggil kerja lagi," kata Rita sambil bernyanyi.
"Bagus deh," kata ibu senang.
Ya kenapa ibu tidak suka melihat Rita menganggur karena bertemu jodoh juga jadi minim kan. Dan membuat Rita menghamburkan uang tidak tentu, kemudian sedikit interaksi dengan banyak orang.
"Bagaimana dengan Asma ya?" Tanya Rita ingin tahu tapi tidak ada laporan apapun.
Rita tidak lupa memberikan kabar pada Kazen yang disambut senang. Karena bisa pulang bersama dan makan juga.
Kemudian Rita berangkat dan bertemu dengan para guru yang ternyata memang benar dipanggil kembali. Semua anak-anak bersuka cita, mereka menyebutkan bahwa paman itu membuat mereka kembali.
"Paman siapa?" Tanya Koma.
"Paman yang inginnya disebut kakak. Katanya dia janji mau buat ibu guru datang lagi. Yaaaay!" Sorak anak dari kelasnya Bu Diana.
"Maksudnya siapa sih?" Tanya Asmi heran.
Tapi Rita dan lainnya tidak tahu.
"Waktu itu ada yang kesini cari Bu Rita, katanya teman lama," kata Bu Risma yang juga kembali menjadi staf.
Rita berpikir yang tahu soal dia hanya Kazen dan Shin. Ahhh mungkin Shin ya karena penampilannya memang mirip paman sih.
"Oh, Shin sepertinya ya. Ini bukan?" Tanya Rita memperlihatkan fotonya.
"Iya itu!" Seru mereka semua.
Semua guru hari itu akan diarahkan pada tugas yang baru. Bu Dewi pun turut hadir dan dengan wajah menyebalkan memandangi mereka.
"Bu Asma bagaimana?" Tanya Diana.
"Bu Asma keluar katanya mau kembali ke sekolahnya yang awal. Ya kasihan tidak ada yang mau membantu," kata Bu Nadia.
"Bu, anak-anak yang lain akan datang juga?" Tanya Anlin.
"Hmmm ibu tidak tahu tapi kalau gurunya kembali, mudah-mudahan mereka juga kembali ya," kata Rita.
Setelah itu mereka memasuki ruangan masing-masing, Rita juga merapihkan keadaan ruangan staf yang berantakan.
"Ini masih kosong," kata Rita sebal.
"Bu Asma memang tidak mengerjakan semuanya ya," kata guru lain yang melihat.
Dua staf yang kembali sisanya tidak pernah ada lagi, tambahan untuk staf pun datang. Bu Dewi di cecar habis-habisan oleh Yayasan dan termasuk kakaknya.
Karena itulah sekolah yang dibangun akan menjadi tempat dimana Bu Dewi bekerja sebagai kepala sekolah.
Kazen datang membawakan beberapa paket makanan yang disambut hangat oleh semuanya.
"Masuk. Rita ada di ruangannya, karena staf sebelumnya keluar yah semuanya harus dirombak," kata kepala sekolah.
Kazen menaruh semua paket tersebut depan ruang kepala sekolah. Kazen masuk dan melihat ruangan Rita masih berantakan.
Beberapa guru salah tingkah melihat Kazen. Kazen menunggu sampai Rita sadar.
"Kazen," sambut Rita ceria.
"Cieeeee seperti istri menyambut suami ya," kata mereka berdua yang sudah tahu.
"Sudah menikah!?" Tanya staf baru.
"Beluuuum haduh," kata Rita dengan wajah yang memerah.
Kazen hanya tertawa.
Kemudian Kazen ikut membantu. "Belum mulai mengajarnya?"
"Belum kelihatannya untuk sekarang kita bereskan dulu," kata Nadia.
"Lihat kosong semua. Asma benar-benar keluar begitu saja!" Kata Rita.
"Itu Alex ya?" Tanya Asmi terkejut.
Diana dam Komariah berpandangan, oh iya ya kan Asma sudah keluar waktu itu dan tidak tahu soal Kazen.
"Beda orang," kata Koma.
"Hah!? Terus itu siapa? Ganteng sekali," kata Asmi.
"Ya putus lah," kata Diana.
"Lho kok bisa?" Tanya Asmi.
"Ya ada masalah Yang itu namanya Kazen," kata Koma.
"Kazen? Namanya unik, Bu Rita memang suka nama yang unik-unik ya?"
Tanya Asmi.
"Tidak sih tapi laki-laki yang dulu suka sama Rita namanya juga aneh. Juki," kata Diana.
"Juki?" Tanya Asma bengong.
Mereka mengangguk, Asmi menepuk keningnya.
"Selama setahun ini kemana saja ya aku sejak dikeluarkan sama sekali tidak tahu kabar soal ini," kata Asmi kecewa.
"Yah, kita juga kaget sih. Lagi-lagi mereka pacaran di sini," kata Koma kesal.
"Tapi dia bawa sebagai ganti suap lho," kata Nadia membawakan paket makanan yang isinya komplit!
Rita keluar dan senyum. "Dari Kazen nih, ayo Bu Asmi ada buah kesukaan juga,"
Kazen menundukkan kepalanya dan membagikan semua makan pagi. Para guru dan staf sumringah menerimanya.
"Oh iya lalu ini aku beli es krim juga bisa dibagi-bagi," kata Kazen memberikan 2 kantong besar.
Bersambung ...