MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
116



"Nyaris sekali," kata Kazen bernafas lega.


Keduanya juga bernafas lega, lolos dari kejadian kritis.


"Untung Rita tidak angkat kepala sedang asyik main game," kata Seren.


"Ada bagusnya ya Rita maniak RPG," kata Kazen menatap Rita yang masih memainkannya.


Ney kembali menaiki eskalator menuju atas, dia masih kepo dengan penampakan Kazen. Meski sudah menikah setidaknya, bisa lah untum cuci mata.


Jangan sampai kalian yang sudah menikah seperti ini ya. Rejeki orang hehehe memalukan mengejar laki-laki kece hanya untuk memenuhi hasrat kepo.


Dalam toko Rita menguap lebar karena kebosanan, aroma parfum membuat hidungnya gatal. Kemudian Rita ambil masker berwarna biru dalam tasnya. Dan lanjut bermain.


Ney sampai di depan toko parfum dan yakin laki-laki itu masuk kesana. Dia masuk sambil melihat kanan dan kiri, membuat petugas toko mendatanginya.


"Kemana ya tuh si ganteng? Aku yakin deh dia masuk dan keluar dari toko ini," kata Ney. Kalau bertemu mau apa dia? Kenalan pastinya.


Dia berdiri tepat sebelah dimana Rita duduk memainkan permainannya. Karena memakai topi, tentu sukar melihat wajahnya.


Rita memeluk tas parfum yang Kazen titipkan padanya dan Ney masih mencari, untungnya dia tidak bertanya pada Rita.


Rita memakai earphone sehingga yang terdengar hanyalah suara dari game tersebut. Ney mondar mandir di depan Rita sambil terus mencari.


Karena tidak menemukan, Ney menyerah dan berjalan di sebelah Rita kembali. Dia berbalik menatap perempuan yang sepertinya dia pernah lihat.


Ney berusaha menatap wajahnya namun karena memakai topi, jadinya tidak terlihat jelas. Dia cemberut tapi sekilas melihat pipi perempuan itu putih bersih.


Ney menatap topi lebar berwarna krem yang Rita pakai, dia menganga saat melihat sebuah merk tertera. Dia tahu betapa harga tersebut.


"Edan!! Nih perempuan main game online dalam toko parfum sambil memakai topi puluhan juta!?


Tas yang dia pegang... eh buset! Itu parfum yang sedang panas-panasnya dan dia peluk begitu saja!?


Aku saja harus menabung dua tahun baru bisa kebeli. Aku yakin ini pasti anak super tajir!


Aku harus kenalan sama dia ya untuk koleksi koneksi aku nanti, jadi aku bisa memanfaatkannya dan untuk mengalahkan Rita!" Pikir Ney dengan mantap.


Hampir saja Rita di tepuk saat petugas toko mendatanginya dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?"


Ney tidak jadi karena kaget, niatnya harus gagal. "Oh itu. Saya sedang mencari seseorang tadi saya lihat," kata Ney.


"Hmmm dalam toko ini? Kalau bisa saya bantu ciri-cirinya bagaimana?" Tanya petugas itu.


"Tampan, putih dan orangnya tinggi. Segini, yang keluar dan masuk toko ini," kata Ney mempraktekkan tingginya.


"Wah, kalau itu sulit banyak sekali pengunjung dengan ciri seperti itu," kata petugas.


"Ya sudahlah tidak apa-apa. Terima kasih," kata Ney lemas.


"Sama-sama," kata petugas yang hendak pergi.


Ney berpikir dan kemudian menyusul petugas untuk mencari tahu. "Anu, Mbak tunggu. Apa Mbak kenal perempuan yang sedang duduk di sana?"


Petugas itu menatap Rita yang masih menunduk lalu menghela nafas.


"Oh, Mbak yang itu datang bersama yang lainnya. Dia sedang menunggu kekasihnya yang entah dimana di toko ini," kata petugas dengan sopan.


"Anak orang kaya ya? Habis belanjaannya yang puluhan juta," kata Ney.


Petugas hanya tersenyum. "Mungkin, karena kekasihnya adalah dari kalangan orang bukan sembarangan,"


"Hah? Apa? Dari mana? Sering ya belanja disini?" Tanya Ney kaget yah jadi ladang gandung buat dia. Dengan tawa yang mengembang.


"Sangat sering tapi saya tidak bisa katakan siapanya, hanya salah satu temannya pemilik butik di Mall ini. Sepertinya kekasihnya yang duduk di sana juga bukan dari keluarga biasa," kata petugas.


"Ah begitu. Mbak tahu namanya?" Tanya Ney.


"Maaf, itu tidak bisa kami beritahukan meski kami tahu. Apapun yang berhubungan dengan orang-orang yang ikut bersamanya, itu adalah rahasia. Maaf saya tidak bisa membantu Anda untuk soal itu. Ada lagi?" Tanya petugas sebelum kembali bekerja.


Ney kecewa mendapatkan jawaban itu tapi dia tidak bisa memaksanya, bisa-bisa kena usir. Petugas pergi saat tidak ada jawaban dari Ney.


Ney berpikir, apakah dia akan langsung bertanya atau bagaimana.. Akhirnya, dia putuskan untuk bertanya.


Ney menghampiri Rita, dia berdehem namun Rita sama sekali tidak mendengar. Dia sibuk dengan teman-teman satu gengnya dalam game.


"EHEM!! Permisi!" Kata Ney menepuk bahu Rita.


Lagi-lagi Rita sama sekali tidak merasa, fokusnya hilang untuk orang lain. Dia benar-benar niat timnya harus menang. Ney menunggu lama tapi tidak juga digubris dan memperhatikan Rita yang memencet permainannya.


"Wah! ponselnya juga tipe sultan! Tidak salah lagi ini perempuan harus masuk ke circle aku! Atau.. aku dekati dan masuk circle dia deh," pikir Ney tertawa sendirian.


"Hei, usir dia deh. Tampaknya dia mau ganggu orang itu. Kalau tidak nyaman, bisa-bisa mereka tidak datang lagi," kata petugas lain.


"Dia memaksa aku untuk memberitahukan nama perempuan itu. Sepertinya kalau kita beritahu pasti dia ekori," kata petugas tadi.


"Makanya kalau tidak ada urusan lebih baik suruh dia kemana deh," kata yang lain.


Karena masih kekeuh, Ney memang terus menunggu sampai perempuan itu (Rita) menjawab.


"Maaf, Kak. Tolong jangan mengganggu pengunjung lain ya. Apalagi saya lihat sepertinya Kakak terus berdiri di depannya," kata petugas itu.


"Oh, tadinya saya mau kenalan begitu mirip teman saya. Sepertinya memang bukan, maaf deh," kata Ney pergi begitu saja.


Dia sebal usahanya lagi-lagi gagal tapi dia akan mengawasi kemana perempuan itu pergi. Saat Ney hendak berjalan ke pintu, dia berbalik.


Petugas yang tadi pun kembali ke tempatnya, Seren menghampiri Rita dan bertanya.


Ney menganga menatap penampilan Seren yang sangaaaat cantik sekali. Wanita itu tampak tertawa dan membetulkan topi sambil sesekali memperlihatkan parfum.


Ney penasaran dan memandang sekelilingnya jangan sampai petugas itu menangkapnya lagi. Dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan.


"Good, isn't it?"


( Bagus tidak? )


Tanya Seren menggunakan bahasa Inggris.


Rita tidak heran bila Seren berbicara asing karena kadang Kazen pun sama. Setidaknya dia bisa menjawab dengan bahasa sederhana.


"Good. Suitable,"


( Bagus. Cocok )


kata Rita yang mencoba mencium aromanya.


Ney terus mendengarkan, dia tidak menyangka perempuan bertopi dan berjilbab itu bicara lancar bahasa asing.


"Sorry for making you so long,"


( Maaf ya membuat kamu menunggu lama )


kata Seren tersenyum. Siapa sih yang tidak meleleh melihat kecantikan dan ramahnya Seren?


Rita tersenyum juga, dia tidak bosan menatap Seren karena memang menurutnya dia wanita paling cantik. Meski tidak tahu dalamnya.


"That's okay. I'm having fun playing an RPG. Still a long time?"


( Tidak apa. Aku sedang seru memainkan RPG. Masih lama? )


Tanya Rita merenggangkan pinggangnya pelan.


Ney sebal Bule cantik itu sama sekali tidak menyebutkan nama perempuan yang dia inginkan. Dia menghela nafas sambil pura-pura memilih parfum.


"No, why don't we have lunch?"


( Tidak, kenapa kita tidak makan siang saja? )


Kata Seren mengedipkan matanya sebelah.


"I was sore but he told me not to wait outside,"


( Aku pegal tapi dia melarang ku menunggu di luar )


kata Rita malas dan memberikan topi milik Seren. Yang dimana menurut pandangan Ney tentu tidak begitu.


Tanpa tahu topi itu hanya dititipkan oleh Seren karena tahu Ney berada di tempat yang sama. Pandangan Ney, Rita memberikan topi itu kepada Seren.


Ney masih belum melihat wajah Rita karena dia masih membelakanginya. Seren menarik tangan Rita sambil berjalan menjauh dari sana.


"Let's have a look. You not shop?"


( Ayolah kita lihat-lihat. Kamu tidak belanja? )


Tanya Seren.


Rita tertawa, buset saja kalau belanja parfum disini. Kelar dompetnya.


"Later when you're done,"


( Nanti saja kalau kalian sudah selesai )


kata Rita.


Sampai mereka jauh, Ney sebal sekali nama!! Sama sekali tidak bule sebutkan bahkan perempuan itu pun tidak menyebut nama sang bule.


Dengan payah, Ney berjalan kesal menuju pintu. Saat itu Rita berbalik karena ketinggalan earphone dan dengan jelas wajah Rita terlihat.


Rita kembali pada Seren dan pas sekali Ney berbalik melihat perempuan berkerudung tertawa dengan bule. Dia melihat tangan mereka berpegangan. Namun tidak sempat melihat wajahnya.


Mereka menuju tempat Kazen yang sedang mencoba berbagai aroma. Kuat juga hidungnya.


"Hei! Lama ah!" Kata Rita kesal.


"Maaf! Sini sini kamu suka parfum apa?" Tanya Kazen menarik Rita yang bete.


"Mau apa?" Tanya Rita menatap parfum yang ribuan banyaknya.


"Aku mau belikan untuk kamu. Pilih saja atau kalau kamu sudah punya parfum kesukaan, beli lagi disini," kata Kazen.


Dua petugas mengatakan kalau Rita beruntung memiliki kekasih seperti Kazen. Mereka nampak iri namun itu sudah biasa banyak pembeli berpasangan.


"Tidak perlu. Aku masih punya," Rita menolak.


"Yah, mbak sayang lhoo," kata petugas lain.


"Hehe aku keluar ya. Tidak tahan lama-lama di toko parfum," kata Rita agak mual.


"Mau kemana? Jangan jauh-jauh," kata Kazen.


"Kesana. Dekat kan," tunjuk Rita bangku luar toko parfum dari arah belakang.


"Oke," kata Kazen membiarkan Rita keluar. Sangat cemas kalau saja dia tahu soal tadi.


Shin tentu menangkap pemandangan tadi dan menceritakannya. Kazen dan Seren menganga, ya manusia hanya bisa berencana.


Buktinya Ney hampir menemukan kenyataan bahwa orang yang ingin dia kenal adalah Rita. Namun, memang takdir berkata lain.


Meski pas-pasan dengan waktu yang sama, bila Allah tidak berkehendak maka semuanya akan sia-sia. Niat Ney selalu gagal, selalu ada yang menghalangi.


Bersambung ...