
"Tante sudah bilang berapa kali berhentilah kalian berbuat onar seperti ini.
Kalau kalian tidak nyaman melihat kekasih Kazen, pergilah cari di luar. Kalian ini sudah keterlaluan dari kekasih Kazen lalu pun kalian berbuat ulah.
Mau sampai kapan kalian seperti ini?" Tanya wanita itu kesal
"Tapi Tante bagaimana mungkin perempuan ini pantas," kata Sal.
"Kalian itu saudara-saudaranya Kazen, kalian tidak mungkin bisa menikahi saudara sendiri!
Sekali lagi kalau kalian berbuat hal di luar nalar, Tante akan kirim kalian kembali ke Korea!" Kata wanita membuat mereka bertiga histeris.
"Jangan," kata mereka bertiga.
Rita hanya menyimak soal mereka sambil kebingungan. Dia merasa ini seperti drama yang di setting karena tampak garing.
"Hahaha saya bercanda. Kalian kan sudah besar apa pantas masih suka melakukan hal yang kuno?
Menumpahkan air ke baju haduuh apa tidak ada ide kreatif?" Tanya wanita itu membuat Rita tertawa.
Ketiganya hanya menunduk mendengarnya.
"Tante, kami boleh kan ikut? Tante sudah jarang mengajak kami ke sana," kata Pho membujuk.
"Kenapa tante harus pilih-pilih orang?" Tanya Lara.
"Harus. Ada sesuatu yang Tante pikirkan," kata wanita itu.
Rita tidak mengerti soal apa yang mereka bicarakan. Prita datang dan mengatakan bahwa wanita tersebut sangat mencurigakan.
"Masa iya ibunya? Kok tidak mirip ya?" Tanya Prita berbisik.
"Aduh, maaf ya Rita kelakuan mereka. Mereka sering bermasalah dengan kekasih yang Kazen bawa," kata wanita itu menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa Tante. Wajar Karena ganteng sih jadi kalau dia punya kekasih, ya sayang," kata Rita.
Wanita itu hanya tertawa mendengarnya.
"Mereka bertiga saudara dekat dari keluarga kami. Yah begitu deh mana ada juga yang menyatakan cinta. Hancur deh. Ayo kita masuk ke ruangan," ajak wanita itu.
Wanita itu pergi menyambut yang lain. Prita dan lainnya mengambil piring begitu juga Rita.
"Duh, enak sekali ya kamu bisa sesuka hati karena Kazen yang mengundang. Setelah kamu diundang, pasti kamu mengiba ya supaya adiknya juga ikut," kata Lara memainkan rambutnya.
"Iya nih jadinya seenak hati," kata Pho.
"Apa benar Kazen yang undang? Jangan-jangan sama dengan yang tadi ketahuan memalsukan identitas," kata Lara.
"Itu saya yang undang," kata Kazen keluar dengan wajah agak kesal.
"Kazeen. Kamu kemana saja?" Tanya mereka manja.
Kazen mendorong mereka dan berdiri di sisi Rita. Sebelum mereka bertiga mengomel, wanita tadi datang lagi sambil membawa sepiring makanan.
"Sudah selesai? Ayo makan bersama," kata wanita itu dan semuanya terdiam. Mengambil makan tanpa bicara.
Kazen memastikan Rita baik-baik saja, dan duduk sebelah Rita. Adiknya memutuskan untuk terpisah saja karena merasa agak aneh.
Saat makan pun Rita bisa mendengar mereka bertiga berbisik yang tidak enak. Kazen mengancam sehingga ketiganya terdiam.
"Sudah," kata Rita.
Kazen menjaga Rita sekali wanita yang katanya ibu Kazen mengamati. Rita merasa aneh melihatnya, ini ada sesuatu. Pasti!
"Kalian ini seperti ibu-ibu yang jual panci. Terus bicara sambil ghibah!" Kata Kazen menatap mereka.
Datanglah orang tua Kazen yang asli yang mereka cipika cipiki dengan wanita yang mengaku ibunya. Tampak Kazen menatap wanita yang baru datang.
"Kamu kenal?" Tanya Rita membuyarkan Kazen.
"Kenalan ibuku," jawabnya hanya itu.
Mereka makan bersama Lara duduk samping Rita sebelah kiri. Kazen memberikan kode pada Lara.
Kedua orang tuanya melihat menu yang Rita ambil sedikit daging ikan dan banyak sayuran.
"Kalau punya anak pasti perempuan yang cantik," bisik Ibunya yang asli.
"Tapi Ayah ingin laki-laki supaya bisa jadi pewaris," bisik ayah Kazen.
Lara berdehem memandangi mereka berdua yang mulai makan. Kazen juga makan sambil sesekali menatap mereka.
"Masa mereka berdua akan menikah?" Tanya Pho pada Sal.
"Memangnya kalian berencana akan menikah?" Tanya Sal langsung membuat yang lain tersedak.
"Hahaha masih jauh," kata Kazen meski ada rasa ingin juga.
"Ehehehe," kata Rita yang salah tingkah.
"Bohong kan," kata Sal dan Pho
Lara menghela nafas sambil makan. Tumben tidak mencaci Rita, Rita memandanginya yang makan dengan anggun.
Selesai makan, mereka berdiri dan mengobrol sambil mengambil puding. Prita datang dia sangat senang, ini sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan.
"Prita, nanti ke resepsionis dulu ya," kata Kazen.
"Ada apa?" Tanya Prita.
"Tadi kan kita makan kue di mall bagian kamu, aku simpan di resepsionis. Makan dengan teman-teman kamu ya," kata Rita.
"Wah asyik! Terima Kak Kazen," kata semuanya tertawa.
"Sama-sama," kata Kazen senyum.
"Kita mau pulang duluan ya, Anne sudah mengantuk," kata Prita.
"Iya. Oke," kata Rita.
Prita dan lainnya berpamitan pada mereka semua kemudian pergi. Rita melihat jam pada ponsel sudah pukul sebelas.
"Sudah malam juga," kata Rita.
"Ayo kita mulai saja. Ikut ya," kata wanita itu.
Kazen menghela nafas, "ikut saja dulu setelah itu kita pulang," kata Kazen.
"Oke," kata Rita terpaksa mengikuti wanita tadi. Dia ragu itu adalah ibunya Kazen.
Nama wanita itu adalah Ny. Lianda yang sebenarnya nama ibunya Kazen. Namun yang membawa Rita dan ketiganya, dia yakin bukan orang itu.
Rita hanya menganga melihatnya berbeda dengan ketiga orang tadi yang antusias.
"Ayo masuk. Tante menunggu saat-saat ini," kata Wanita itu.
Di dalamnya ternyata terdapat koleksi perhiasan serta bebatuan berharga. Serta guci dan patung atau benda-benda lainnya.
"Wah," kata Rita kagum.
Berbagai macam bentuk perhiasan sari gelang, cincin, gelang kaki, tangan semuanya serba ada.
Dengan kilauan berlian yang melambai-lambai dan juga kilauan emas-emas. Lara antusias dan membuka kotak dan dia pakai.
Rita hanya jalan-jalan memandangi ke sekelilingnya. Tidak cukup seharian melihat semuanya ini, oh ya serta harga.
Rita melihat semuanya dengan mata yang terus berkedip. Kilauan bebatuan dengan warna mentereng.
"Ini koleksi saya. Kalian suka yang mana?" Tanya wanita itu.
Rita tertarik dengan berbagai macam warna bebatuan dan menyebutkan nama mereka.
"Lho, kamu tidak tertarik dengan berlian?" Tanya Pho menghampiri Rita yang melihat emas dan lainnya.
"Aku lebih menyukai emas dan bebatuan," kata Rita.
"Ohh begitu. Sekedar informasi, kalau kamu bisa menarik hati Ny. Lianda kamu bisa bebas meminta beberapa perhiasan yang ada disini," kata Pho kemudian pergi.
Rita menatap Pho yang pergi lalu sibuk dengan perhiasan lainnya. "Aku tidak mau begitu kok,"
Sal datang dengan Lara yang memakai perhiasan mewah. "Itu benar kalau nanti kamu ditanya mau apa. Pilih yang paling mahal. Kamu bisa menjualnya kalau putus dengan Kazen," kata Lara tertawa.
"Huh, dasar! Saudara macam apa mereka?" Tanya Rita sebal. Rita enggan mendengarkan dia masih terus di posisi bebatuan.
Ny. Lianda menatap Rita yang masih tidak beranjak dari tempatnya. Wanita satunya mengundurkan diri dan pergi, sudah cukup baginya menilai Rita.
"Kamu sedang lihat apa?" Tanya Ny. Lianda yang asli.
Tampilannya diubah sama dengan wanita tadi. Rita kaget dan memandanginya, dia merasa wanita ini dengan yang tadi berbeda.
"Oh, ini macam-macam bebatuan. Mereka cantik sekali," kata Rita dengan antusias.
"Leboh cantik batu berlian. Kamu suka mutiara dan emas?" Tanya ibunya Kazen.
"Iya tante," jawab Rita.
"Hmmm. Kalau saya menyuruh kamu satu perhiasan kamu mau yang mana?" Tanya ibunya.
Mereka bertiga mendatanginya ingin tahu jawaban Rita. Rita menatap wajah ibunya sulit dibaca olehnya. Namun mungkin ini suatu kode baginya agar putus?
Karena ya wajar orang kaya seperti keluarga Kazen pastilah tidak menginginkan anaknya berpasangan dengan yang biasa.
Masing-masing dari mereka menunjukkan beberapa perhiasan. Dan Rita agak bingung takut apa yang dikatakannya salah.
"Anu," kata Rita.
"Katakan saja," kata ibunya Kazen.
Rita menundukkan kepalanya, apapun itu akan dia katakan! Meski salah.
"Anda berkata begitu seakan-akan mengatakan berapa harga yang saya mau. Supaya saya putus dengan Kazen kah?" Tanya Rita.
Ibunya Kazen terkejut. Bagaimana bisa Rita memikirkan hal semacam itu, inilah mengapa Kazen marah pada ibunya soal pengujian.
Ibunya pergi begitu saja dan mereka bertiga kaget.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Sal menyusul tantenya.
Setelah itu petugas memberitahukan untuk keluar karena akan ditutup. Rita berpikir apakah dirinya salah? Tapi biasanya semua orang kaya akan begitu kan?
Ibunya Kazen datang dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Mereka bertiga hanya berdiri di belakang.
"Maaf ya Nak, semua perhiasan ini nampaknya tidak cocok dengan diri kamu yang sederhana.
Kamu bahkan tidak pantas membawa satu dari semua perhiasan saya. Silakan pulang," kata ibunya Kazen kemudian pergi.
Dirasa memang tidak mungkin, Rita menundukkan kepala dan melewati ketiganya.
Mereka tidak tertawa atau berkata sesuatu, hanya terdiam.
"Apa aku terlalu kasar ya? Apa dia mengerti maksudku?" Tanya ibunya Kazen yang sekarang bingung.
Mereka bertiga menatap ibunya Kazen yang heran.
"Apa?" Tanyanya bingung.
Rita sudah tahu meski anaknya menyukainya belum tentu keluarganya. Air mata menetes tapi langsung dia seka, Kazen menunggunya.
Dari kejauhan ayahnya menghela nafas. "Hibur kekasihmu. Ayah rasa ini terlalu jauh,"
"Baik ayah," kata Kazen menyusul Rita.
Rita menyambut Kazen. Dia senang.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Kazen cemas. Kazen mengirimkan pesan pada ayahnya.
"Apa ini terlalu kasar ya?"
Ayahnya membaca dan menghela nafas, dia menyusul istrinya dan menjelaskan.
Kazen mengajak Rita ke ruangan makan malam dan dia duduk bersama Rita yang kurang semangat. Yah tidak terlalu lancar.
"Pulang yuk," kata Rita.
"Ke Bandung?" Tanya Kazen.
"Hotel kan bajuku masih di sana. Aku juga sudah mengantuk," kata Rita senyum.
Ayahnya memberikan kode untuk pulang.
"Ayo," kata Kazen berdiri.
Nah, di saat itulah Alex datang dari ruangan lain yang ternyata Alex sendiri sudah ada saat itu.
bedanya, dia memiliki pertemuan dengan pesohor lain. Acara pameran yang akan diselenggarakan di negara lain.
Saat Rita datang itu, Alex sudah memasuki ruangan aula lain. Dan saat Ney muncul pun, Alex masih ada di tempat lain. Jadi jarak mereka sebenarnya dekat hanya waktu yang berbeda.
Bersambung ...