
Sepulang mereka ke rumah, sudah ada mobil merah terparkir di dalam alhasil mobil Bapak, hanya bisa di parkir di luar.
Rita di bantu turun yang sebenarnya sudah bisa sendiri. Rin dan ketiga anaknya menyambut dan terhenti.
"Ate kenapa?" Tanya mereka bersamaan.
"Kakinya kenapa pakai kayu?" Tanya Arda.
"Ate kecelakaan. Ini sudah di rawat oleh dokter. Jangan dipegang ya," kata Rita.
"Ayo jangan menghalangi, ate Rita harua istirahat total. Kalian jangan ganggu ya," kata Prita.
Ibu sama sekali tidak bertanya bagaimananya, terus menonton hanya sekilas melihat Rita yang kesusahan jalan.
"Sakit?" Tanya Ray cemas.
"Yah lumayan sampai nangis saat dipakaikan gips," kata Rita senyum.
Mereka bertiga membantu meski hanya memegang ujung baju Rita saja sampai kamarnya.
Rin hanya bengong. "Kok bisa begitu sih? Memang parah sekali atau pura-pura?" Tanyanya.
"Kakak kurang ajar," kata Prita sambil membawakan beberapa hasil ronsen.
"Dapat santunan banyak dong," kata Rin dengan wajah mengejek.
"Maksudnya?" Tanya Rita sebelum sampai pintu kamarnya.
"Kamu kan kecelakaan pasti nanti dapat banyak hadiah ya dari Alex. Jangan lupa keluarga kamu," kata Rin seenak mulutnya.
"Aku sudah putus dengan Alex. Sudah lamaaaa.. Kakak hanya peduli dengan pemberian dia saja kan? Tidak perlu datang pura-pura cemas segala," kata Rita dengan jutek.
Rin tidak menjawab, banyak yang tidak dia ketahui karena memang tidak peduli. Dia memang hanya datang bila ada makanan enak saja.
"Kenapa bisa putus Bu? Rita nya selingkuh ya?" Tanya Rin pada ibunya.
"Mana ibu tahu. Tanya Saja sendiri," jawab ibunya.
"Putus karena perkataannya menyakitkan apalagi lebih membela musuh. Buat apa dipertahankan bukan selingkuh ya tidak seperti kekasih-kekasih kakak tuh," kata Rita kembali lagi dan masuk kamar.
Rin hanya diam dia cemberut kalau Rita mengetahui semua mantannya. Kakaknya agak mirip Ney hanya kakaknya bukan playgirl.
Dari sifat, karakter dan pribadinya. Sama-sama Toxic juga, sangat senang memutarbalikkan fakta. Kalau tidak senang dengan Rita, dia akan melaporkan dengan hal yang tidak pernah ada.
Halusinasi akut juga, semoga anak-anaknya tidak ada yang menurun penyakit delusi nya. Antara kenyataan dan khayalan dicampur aduk, dan melanglang buana dengan omongannya.
Yang sebenarnya jauh dari kenyataan. Rin ingin kembali menjawab tapi tidak jadi karena adiknya yang memandangi tajam.
"Ya setidaknya dapat uang ganti rugi dari yang membuat kecelakaan," kata Rin.
"Mereka sudah ditangkap dan akan dipertanggung jawabkan perbuatannya. Syukur-syukur mereka mau ganti rugi kalau memang harus," kata Prita duduk menghela nafas.
"Makan dulu kamu pasti syok kan," kata ibu.
"Tidak usah sudah kenyang dengan makanan itu," kata Prita melihat sampah di kantong.
Anak-anak Rin berada dalam kamar mereka bertiga agak sedih. Rita menyuruh mereka mengambil makanan yang disukai.
Tapi anak-anak menolak dan keluar kamar sambil menutup pintu. Obrolan keluarganya agak terdengar.
"Sudah, yang penting Rita selamat dan kakinya sudah ditangani yang ahli. Tidak perlu minta rugi segala," kata Bapak yang duduk istirahat.
"Eeeh itu punya Prita! Minta ijin dulu bisa kan," kata Prita melihat kakaknya seenak mengambil makanan.
"Buat apa? Masa kakak sendiri harus ijin," kata Rin tidak peduli.
"Malu deh punya kakak minus sopan," kata Prita merebut makanannya.
"Bu!!" Kata Rin.
"Berisik! Prita, kasihlah tiga biasanya juga kamu ambil makanan Rita," kata ibu.
Prita beri dengan cara dilempar ke mukanya dan Rin marah sekali. Bapak memarahi keduanya dan Prita tidak peduli.
"Yang salah memang kamu! Mau kamu kakak atau siapapun, ambil barang atau makanan harus ijin dulu!" Kata ibunya menengahi.
Prita akhirnya memberikan semuanya di atas meja, anak-anak yang baru dari taman langsung berlarian.
"Kamu tidak makan?" Tanya Bapak.
"Bisa minta ke Rita kan, dia juga dapat sekantung lebih besar," kata Prita menggambarkan.
"Hah? Dari yang dempet kan mobil?" Tanya Rin bengong.
"Bukanlah, mereka itu enam remaja tanggung yang menyebalkan. Tahu kakinya sudah kena bentur malah di tabrak lagi," jelas Rita.
Rin dan kedua orang tuanya meringis.
"Kaki ate bagaiman, Pak aki?" Tanya Salman dengan sedih.
"Retak, dek. Makanya tidak boleh banyak gerak. Dua kali benturan kan ya? Bapak tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya," kata Bapak dengan mata yang berkaca-kaca.
Semuanya terdiam, hanya Prita yang berani menemani Rita yah anak Biologi sih. Nonton film setan saja hanya dia sendiri yang ketawa.
"Coba kalau waktu itu ibu tidak menyimpan bagiannya Rita. Dia tidak akan mengalami kejadian seperti ini," kata Bapak menatap istrinya.
"Ibu kan selalu lapar setiap malam, Pak kan tahu ada sakit lambung," kata ibu agak menyesal.
"Ya tapi dahulukan dahulu anak! Prita beli hokben itu pas untuk semuanya. Kalau kurang kan bisa pesan," kata Bapak.
Ibu hanya diam dan Bapak membuka kamar Rita melihat apa dia demam atau tidak.
Dalam kamar ketiganya mengajak bicara Rita, mungkin agar Rita tidak terlalu sedih.
"Ate benar putus sama aa Alex?" Tanya Arda duduk di karpet.
"Iya. Tidak boleh?" Tanya Rita.
Mereka teringat akan cake hijau pemberian Alex yang membuat mereka senang. Karena jarang sekali orang tuanya membeli cake seenak itu.
"Kan ate yang jalani, kalau sudah tidak cocok ya lebih baik pisah saja," kata Ray.
Prita lalu datang, sebelumnya memang keponakan ini menjenguk tapi keluar kemudian datang lagi. Mencoba tongkat kayu.
"Hei, hei. Ayo makan malam dulu sana!" Kata Prita mengusir para krucil.
"Makan dulu ate," kata Salman.
"Ya," jawab Rita sambil senyum.
"Sepertinya akan sulit untuk tidur," kata Prita melihat kondisi Rita.
"Tidak perlu selimut, ini sudah diberi banyak perban, kaki kiri saja yang ditutup. Tidak ada nyamuk yang akan datang," kata Rita.
Prita membawakan meja kecil yang biasa Rita gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah. Lalu ditaruh air minum Aqua, obat serta beberapa makanan.
"Sudah saja, aku bisa ambil nanti," kata Rita sambil membaca komik yang bukan lalu tidak bisa dibaca.
"Prita sementara tidur disini saja ya," katanya agak khawatir.
"Jangan. Kalau mau apa-apa bisa sendiri kok," kata Rita menolak terakhir kali dia tepar karena pendarahan di hidung, ibunya marah.
"Kalau ada apa-apa, telepon ya," kata Prita.
"Iya iya, Aku mau rehat dulu rasa sakitnya lumayan," kata Rita.
Prita menutup kamar dan pergi. Rita menyiapkan charger yang sudah menempel.
Rita menghela nafas dan memikirkan Kazen dan semua. Begitu cepat kejadiannya, dan kini tangan kanannya pun harus rehat.
Untungnya jempol masih bisa digunakan hanya saja harus pelan karena sakitnya, lumayan buat nangis.
Rita menceritakan apa yang dialaminya malam ini kepada dua sahabatnya. Mereka sangat terkejut dan menanyakan apakah dirinya ada di Rumah Sakit?
Rita menceritakan pertama bertemu laki-laki yang sangat tampan, yang menolongnya.
"Dia menyapu bersih enak remaja sekaligus!" Kata Rita dengan semangat.
"Kelihatannya sangat kuat selain wajahnya ganteng," kata Koma tertawa.
"Maaf ya kalau aku balasnya lama karena aku melukai tangan kananku," kata Rita menceritakan.
"Ya Allah, Rita! Kamu pasti emosi sekali ya sampai memar," kata Diana.
"Benar sih memukul tanpa ilmu itu luar biasa sakitnya. Besok tidak bisa ikut jadi detektif," kata Rita kecewa.
"Ya ampun Rita, masih daja bisa-bisanya kepikiran soal jadi detektif. Besok aku dan Koma saja yang jadi detektif, kamu istirahat," kata Diana tertawa ngakak.
"Nanti kita pasti cerita," balas Koma.
Rita manyun, dia kan ingin sekali beraksi dan lihat siapakah orang yang mengirimkan pesan pada Asma.
Setelahnya terhenti sesaat karena sakit kaki kanannya mulai kambuh. Rasanya ingin merobek-robek sesuatu tapi Rita tahan.
Karena tidak boleh banyak makan obat anti sakit banyak, dia hanya berdoa agar Allah mengurangi rasa cenut-cenutnya.
Setelahnya dia lelah karena menahan rasa perih dari tulang yang retak. Dan untungnya kedua sahabatnya pun akan tidur untuk besok.
Rita kelelahan dan tidur sambil duduk karena kalau dia berbaring, sakitnya lebih terasa.
Di tempat lain, Ney masih saja berkutik dengan aplikasi pengantaran paket dan menghubungi mereka secara parah!
Karena malas, sang CS mencabut kabel teleponnya dan membuat Ney marah-marah.
Di rumah Kazen mereka sudah tiba, Shin mengantarkan Kazen pulang. Tanpa disadari Kazen terus menerus berjalan bulak balik.
"Kenapa sih Zen dari tadi bulak balik mulu? Mama pusing lihat kamunya," kata mama sambil melempar majalah.
Kakak perempuannya keluar dan menatap heran adik laki-lakinya. "Kamu kenapa sih?"
"Paling juga soal perempuan," jawab Ayahnya dengan santai.
"Ya ampun, baru juga sebulan di Indonesia sudah berburu kamu? Kali ini orang mana?" Tanya Kakaknya menggelengkan kepala.
Kazen tinggal di sebuah perumahan mewah nan sultanos. Yang tinggal di perumahan itu memang orang-orang khayah sajah.
Dengan dinding berwarna kuning langsat dengan ornamen mewah yang menghiasi gerbang dan juga pintu, jendela.
Beberapa mobil besar yang mewah pun terparkir dengan rapih. Terdapat kolam renang dengan empat yang berbeda, tentu dengan air panas.
"Kamu punya pacar lagi? Tidak kapok ya," kata kakaknya menghela nafas.
"Bukan. Masih... perkenalan kok," kata Kazen masih berdiri.
"Kamu selalu bilang begitu akhirnya sampai sudah bermalam," kata Ibunya tidak percaya.
"Itu kan remaja dan aku tidak berbuat mesum kok. Orang tidurnya di luar kamar," kata Kazen membuat keluarganya tertawa.
"Ayah tidak suka ya kalau kamu mulai kumat memberi uang ke perempuan. Belum jadi mereka sudah mengkosongkan dompet kamu," kata Ayahnya.
Bersambung ...