
Tepat seperti dugaan Prita, Rita beli banyak sekali jajanan.
Mereka juga makan pizza yang terbaru, yang ujungnya bisa dipelintir.
Tidak lupa Rita membeli salad kesukaan ibunya dan menu yang bisa dimakan oleh Bapaknya.
Meskipun keluarganya memiliki kekurangan, Rita tidak pernah lupa memberikan yang bisa membuat ibunya gembira.
Kalau kakaknya sih menyukai apa saja tidak ada pantangan, termasuk berita Hoax.
Rita bisa tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh keluarga dan teman-temannya.
Mereka juga kadang bertukar makanan saat dia kampus.
Makanan persediaan Rita dia masukkan ke dalam lemari makanan.
Kemudian membuka laptop dan menonton sebuah film.
Ibunya sangat senang melihat salad tersebut dan berterima kasih pada Prita.
Prita hanya diam, tapi Rita tidak peduli. Bapaknya bertanya siapa yang membeli, Prita katakan Rita.
Bapaknya datang ke kamar Rita untuk memberikan uang sebagai pengganti.
Rita menolak mengatakan uangnya cukup untuk sehari-hari. "Terima kasih ya kuenya, Bapak suka," kata Bapaknya membelai kepala Rita kemudian pergi.
Hanya Bapak yang begitu, ibunya tentu berharap Prita yang belikan.
Namun lain halnya dengan Prita yang mengatakan Rita lah yang membelikan salad untuk ibunya.
Ibunya tidak bergeming kemudian beranjak saat Rita memakan cemilan.
"Kamu yang beli salad?" Tanya Ibu dengan suara yang malas.
"Berdua sama Prita," kata Rita menatap ibunya.
"Ibu kira Prita ternyata kamu juga. Yahhh," kata ibu kemudian kembali dengan raut muka yang kurang enak.
"Bilang dong Terima kasih. Pelit sekali sama anak sendiri," kata Rita manyun.
Ibu datang lagi bukan mengucapkan terima kasih tapi... "Nanti lagi biar Prita yang beli. Kamu tabung saja uangnya untuk sehari-hari jadi tidak usah minta lagi. Uang ibu sedikit lagi karena Prita mau ujian akhir," katanya lalu pergi.
Rita hanya mengelus kan dadanya dan mengatakan Istigfar, menggelengkan kepalanya.
Itulah kenapa Rita bekerja keras agar tidak membuatnya meminta pada ibunya.
Kadang Bapaknya memberikan uang 200 ribu untuk sekedar jajan tapi tidak setiap bulan, karena Rita selalu menolak.
Dirinya sudah bekerja dengan gaji yang lumayan tapi Bapaknya hanya berkata, "Sudah sepantasnya orang tua memberikan uang pada anaknya. Terima saja,"
Kalau ketahuan Ibu, Ibu pasti meminta bagian Prita juga membuat Bapaknya memberikan meski terpaksa.
Laptop hasil dari uang Rita sendiri, Ibunya memaksa memberikan pada adiknya yang lebih membutuhkan.
Prita menolak karena akan mulai menabung dan memberitahukan Ibu jangan pernah memaksa apapun pada Rita.
Apalagi barang-barang yang Rita hasilkan sendiri.
Setelah berpisah dengan Alex, Rita mulai banyak kegiatan perlahan ketidaknyamanan mengenai Alex memudar.
Berganti kan dengan kegiatan yang membuatnya sangat sibuk.
Rita juga mendatangi reuni kampusnya serta SMP dan SMA.
Meskipun reuni SMP mereka berlima tidak bisa datang.
Toh, ada teman-teman SMP lainnya yang menyambut kedatangannya.
Ney? Tidak ada, yang datang hanyalah orang-orang yang hampir banyak Rita kenal.
Mereka juga sengaja tidak mengundang terlalu banyak orang termasuk Ney.
Rita datang setelah salah satu dari teman sekelasnya dahulu, memberikan undangan melalui instagram.
Yang datang ada lima puluh dua orang itu juga termasuk dari kelas lain.
Mereka bersenda gurau dan tidak menyangka perubahan yg terjadi pada Rita.
Ternyata sangat banyak alumni SMP yang berhijab, kebanyakan mendapatkan hidayah dari sebuah kecelakaan.
Sebagian ada juga yang meminta maaf pada Rita yang dulu sengaja membully nya tapi tidak separah Ney.
Mereka membully dengan candaan karena Rita terlalu pendiam, mereka pikir dia sombong.
Mereka sempat bertanya apakah Rita masih berteman dengan Ney setelah Rita mengatakan sudah tidak, mereka bernafas lega.
"Akhirnya kamu sadar juga," kata Aris tertawa.
"Huh! Bilang dong kalau ada apa-apa tuh, jangan bisanya di biarkan saja," kata Rita.
"Rita sekarang sudah berani mengemukakan pendapat ya. Waktu SMP kamu pendiam sekali," kata Alura perempuan idola di sekolah mereka.
"Maksud aku bukan bully negatif kok supaya kamu lebih berani bicara saja. Kamu tidak tahu kan kelakuan Ney bagaimana," kata Aris duduk di sebelahnya.
"Ya aku kan butuh proses juga, Ris. Di SMA, kuliah lalu kerja aku belajar Psikologi dan lainnya," kata Rita waktu itu.
"Soal Ney, kita senang kamu sudah tidak dengan dia lagi. Mau kami beritahukan tapi aku pikir biar kamu saja yang mengalami. Ternyata baru sekarang ya," kata Alura.
Rita menghela nafas. "Sudah lupakan saja soal dia ya, aku tidak mau ingat-ingat. Sekarang aku tahu kenapa kalian tidak menyukainya,"
Reuninya berjalan lancar, Rita juga menyapa teman yang beda kelas dan mereka pulang bersama dan berpisah untuk berkumpul lagi di tahun mendatang.
Lalu reuni SMA juga rita datang dan mereka semua kaget.
Sama dengan teman-teman SMP, banyak juga teman perempuannya yang berhijab.
Semester akhir sudah Rita dan teman-temannya lewati, akhirnya Koma dan Diana menerima lowongan kerja yang ditawari oleh Rita.
"Nih, sekolahku ada lowongan butuh 2 orang guru kelas. Coba saja," kata Rita memberikan persyaratan pada mereka berdua.
"Serius?" Tanya mereka berdua yang memang butuh.
"Iya, semoga kalian diterima ya. Jadi aku ada teman mengobrol. Ada sih staf lain tapi... yah begitulah kurang fit," kata Rita mengedipkan salah satu matanya.
Mereka kemudian mengirimkan lamaran dan Rita sangat senang sekali mereka bertiga bisa mengobrol dan sering bertemu.
Setelah diterima, mereka bisa bekerja sama diskusi untuk pembuatan kreatifitas kelas Idul Adha nanti.
Mereka akan mulai diuji mengajar minggu depan.
Rita mendoakan semoga mereka berdua diterima masuk karena mereka bertiga bisa bekerja kembali.
Ketika sedang asyik bekerja, ponselnya berbunyi.
"Assalamualaikum, Prita mau keluar nih sama teman-teman. Mau ikut tidak?" Tanya Prita entah dimana.
"Kemana?" Tanya Rita sambil mengerjakan tugas.
"Makan Sushi," jawab Prita.
Rita tidak membalas dia teringat pengalaman sushi yang tidak menyenangkan itu. Enak sih tapi bukan tipenya.
Seolah Prita tahu yang dipikirkan oleh kakaknya, "Sushi nya macam-macam kok bukan sushi nasi uang kotak itu saja, ada yang roll juga. Rita pasti suka! Ikut sajalah ajak juga teh Diana dan Teh Koma," kata Prita.
Yah, kapan lagi sih bisa main dan makan bersama lagi dengan mereka.
"Oke deh. Aku ajak dulu ya kebetulan mereka datang ke sekolah untuk melamar kerja," kata Rita kemudian ponselnya ditutup.
Rita kemudian keluar ruangan kebetulan juga mereka berdua selesai berkeliling. "Eh, ikut yuk!" Ajak Rita.
"Mau kemana? Kamu sudah selesai kerjanya?" Tanya Diana melihat ke ruangannya.
"Yah, pekerjaanku mah beresnya masih lama. Kita makan sushi," kata Rita dengan senang.
Mereka berdua senang juga tapi berubah lemas, mereka akan mulai mengajar kan minggu depan.
"Kita sih mau mau saja tapi kan kita mengajarnya juga bukan depan. Senin nanti kan mulai di tes," kata Koma sedih.
"Tenaaang sebagai penyemangat, aku traktir. Kapan lagi kan?" Tanya Rita.
Bersambung ...