MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Hampers!



Rita menengok dan keluar tidak lupa mengambil hijab langsung pakainya. "Ya?"


"Dengan Rita Ashalina?" Tanya Bapak tersebut yang memakai baju berwarna Ungu.


Rita menghela nafas, apa lagi yang Alex kirimkan? Mereka sudah bubar lama juga.


"Iya saya sendiri. Ada apa ya?" Tanya Rita.


Bapak itu memegang sebuah paket dengan warna plastik yang mencolok. "Ada paket mbak,"


"Dari siapa ya Pak?" Tanya Rita. Kesan pertama dia tidak menyukai paket itu, ada firasat buruk mengenainya.


"Hmmm tidak ada namanya tapi ini langsung dari toko di Bogor. Sepertinya," mata Bapak tersebut.


Bogor? Siapa? Kalau paman dan bibi ada sih dari Bogor. Tapi mereka tidak dekat dengan keluarga, tiba-tiba kirim paket ya aneh.



*Foto di atas hanya sebagian penampakannya.


"Bogor? Dari siapa ya? Masa paman dan bibi?" Tanya Rita aneh.


Rita memandangi aneh terutama paket itu dibungkus dengan plastik berwarna merah.


Rita membaca nama tokonya tumben ada toko mengirimkan paket dengan plastik yang tidak biasa.


"Aneh sekali tumben ada toko kirimkan barangnya pakai plastik merah. Seperti musuh saja," kata Rita.


Sang kurir mengangkat bahunya dia hanya bertugas mengantarkan paket. Baginya juga memang terkesan aneh, biasanya paket merah untuk pengiriman barang bukan makanan.


Merah adalah warna yang tidak disukai Rita karena mirip dengan warna Neraka. Sang kurir pamit dan pergi, Rita masih keheranan dia memutar paket tersebut.


Dengan terkejut ada tulisan kecil yang hampir tidak terbaca karena bertumpuk dengan nomor sesuatu.


..."Untuk Rita dari Ney Grizelle"...


Tertulis di sebuah secarik kertas bersamaan dengan nomor ID paket, nama toko dan dia menuliskan tulisan kecil. Tampaknya sengaja supaya tidak terlihat.


Secara otomatis paket itu terlempar begitu saja ke atas tanah yang langsung Rita taburkan tanah dan mengubur nya. Dia terkesan jijik setelah tahu dari siapa paket tersebut berasal.


"Hiiiy," kata Rita merinding kemudian masuk ke rumah dan keluar lagi.


Kurir yang tadi mengantarkannya sempat melihat Rita dari spionnya. Dia memandang aneh melihat Rita melemparkan paket itu ke atas tanah dan menguburnya dengan batu-batu.


Kemudian Rita sedang membacakan ayat kursi dan meniupkan kedua tangannya, kemudian menyeka tanah dan batu di paket itu.


Kurir menggaruk kan kepalanya dan melihat Rita membawa paket itu menggunakan sarung tangan. Hanya memakai 1 jari telunjuk kanan dan kiri seolah-olah paket itu seperti benda keramat.


"Apa paket itu sebegitu kotornya?" Tanyanya sambil menuju ke rumahnya.


Rita menaruh paket itu dengan cara dilempar begitu saja ke lantai garasi dan bergidik. "Iiih! Kenapa sih tuh orang kirim-kirim lagi? Pasti mau mulai salah kirim lagi,"


Dia membalikkan paket itu dengan menggunakan sekop, enggan tangannya memegang langsung.


Terdapat dua puluh empat kue nastar dengan cokelat di dalamnya. Karena kesal dia menendang paket itu seperti pemain sepakbola dan dia lempar ke tembok.


Ya itu hanya khayalannya Rita karena sangat kesal pada makhluk bernama Ney. Masih saja dia terus mengganggunya ( dialami oleh Author ).


Karena isinya kue, dia tidak melakukannya dan masuk ke dapur untuk mengambil pisau. Pisau itu Rita tusuk-tusukkan sembarangan, tidak peduli apakah kuenya akan hancur atau tidak.


Kemudian semua bungkusan paket itu terbuka, dia menarik bungkusan tebal dan melihat isinya terdapat dus lain berwarna putih.


Terdapat tulisan berwarna hijau dan terdapat kertas kecil bertuliskan, "Dinikmati ya kuenya, aku dan kamu adalah teman." Yang kemudian Rita robek-robek.


Dia mengambil minyak tanah dan meneteskannya di atas kertas robekan itu dan membakarnya di lantai batu. Setelah jadi abu, Rita semprotkan dengan air dan dibuang begitu saja.


"Cuih, siapa juga yang berminat jadi teman dia lagi. Setelah semua masalah yang dia lakukan. Setelah mengatai aku penyihir lalu disebut suka fitnah dia. Makan tuh rasa kesepian!" Kata Rita dengan marah hendak melempar paket kue itu.


Dia ingin tahu seperti apa bentuk kuenya. Dibuka menggunakan pisau dan terlihat bentuk orang dengan selai nastar dan cokelat hijau.


"Hiiy!" kata Rita menutup kembali kotak itu. Dan bermaksud menginjak-injaknya namun terhenti mengingat apa kata adiknya.


"*Berikan saja ke orang lain meski kita tidak tahu ya apa niat yang mengirimkannya baik atau buruk. *


*Tapi kalau aku tidak menyukai orang itu, apapun yang dia berikan lebih baik diberikan ke orang saja. *


*Nanti balasannya aku mendapatkan poin kebaikan kan, pasti ikhlas karena aku tidak akan mau memakan atau menyimpannya kan. *


*Kalau makanan atau barang itu ada 'Sesuatu'nya, tidak akan kena karena kita membalasnya dengan kebaikan. *


Didoakan juga supaya berkah untuk dia yang misal mengirimkannya dengan niat buruk. Dia dapat dosa, kita dapat pahala dibuat menyenangkan saja gangguannya,"


"Boleh juga saran Prita. Adikku memang hebat!" Kata Rita tidak jadi menginjak.


Dia teringat pada kuli bangunan di belakang gang yang bekerja tanpa henti. Kadang tidak disediakan makanan oleh pemilik rumah.


Rita bangkit memasukkan paket itu ke dalam kresek lumayan sedang karena tidak mau sampai kena tangannya.


Dus luarnya sudah dia buang beserta plastik merahnya tadi sekalian dengan kertas-kertas. Tidak lupa, Rita mengirimkan foto pembakaran itu ke grupnya.


Rita keluar berjalan menuju gang belakang, dia melihat para kuli bersiap membeli makanan sore hari.


"Pak, permisi," kata Rita berdiri di kuli yang mungkin ketuanya.


Orang itu menatap ke Rita dan menghampiri dengan senyum. "Ya ada apa Teh?"


"Ini ada sedikit rezeki buat bapak-bapak," kata Rita memberikan kresek itu.


"Wah! Ini buat kami?" Tanya bapak itu kaget melihat isinya.


"Iya Pak, karena saya tidak suka kalau dibuang kan mubasir. Jadi saya berikan saja untuk bapak-bapak disini," kata Rita membungkuk sedikit.


"Ya Allah," ucap bapak itu terharu.


"Ada apa nih?" Tanya Kuli yang muda melihat bapak itu agak terharu.


"Teteh ini memberikan kita kue. Terima kasih sekali ya Teh," kata bapak itu memanggil yang lainnya.


"Kenapa tidak suka?" Tanya bapak itu menatap Rita.


"Pengirimnya orang yang hobi mengganggu saya," kata Rita bingung bagaimana menjawabnya?


"Laki-laki ya sayang kalau ditolak," kata yang muda cengengesan.


Mereka semua menatap ukuran kue itu yang lumayan besar dan berteriak girang.


"Perempuan. Musuh," kata Rita membuat pemuda dan Bapak terdiam dan tertawa lagi.


"Ohh yaa perempuan mah beda. Ya terima kasih sekali lagi ya Teh. Kalau ada lagi dan Teteh tidak suka, bisa diberi kita saja," kata bapak itu wajahnya kembali semangat.


"Penggemar kalau begitu. Kirim mengganggu sebenarnya ingin jadi teman Teteh," kata yang muda sambil makan satu.


"Tidak butuh," kata Rita menatap datar.


Bapak dan lainnya tertawa, pemuda itu diseret mereka semua supaya berhenti ikut campur.


"Pas ya isinya 24, satu orang dapat 2 bagian," kata bapak menghitung. Semuanya pas termasuk bapak sendiri.


Setelah itu Rita pamit pulang dan pergi. Pemuda keluar lagi setelah di ikat dan menggaruk kan kepalanya.


"Teteh yang tadi sepertinya kesal sekali. Apa aku salah bicara?" Tanya pemuda itu.


"Iyalah. Jangan bertanya yang sensitif," kata kuli yang lain.


Kebanyakan mereka menaruh 1 bagiannya di tas masing-masing dan bekerja dengan giat.


"Sepertinya memang kiriman dari orang yang tidak dia sukai. Ada kemungkinan si pengirim ini bermasalah dengan Teteh yang tadi," kata bapak.


"Kenapa bisa tahu?" Tanya pemuda itu.


"Nih," kata bapak itu menunjukkan kertas yang ternyata masih ada di dalam kotak.


Mereka semua turun dan penasaran dan membaca sama-sama.


"Aku ikhlas kok jadi teman kamu lagi kan kamu tidak punya siapa-siapa :)"


"Wah! Eror ini mah orangnya," kata kuli lain.


Pemuda itu tertawa cempreng dan dilempar lap oleh yang lainnya.


"Perempuan katanya ya, saya yakin orangnya pemaksa. Mencap tidak punya teman terus tulis ikhlas? Apa dia tidak malu ya menitipkan tulisan begitu ke toko?" Tanya pemuda itu.


"Tadi waktu mau ke pasar aku lihat ada dua orang yang mendatangi rumahnya Teteh itu. Masa yang begitu tidak punya teman?" Tanya kuli yang buncit.


"Tampaknya memang dia yang kesepian makanya mengganggu Teteh yang tadi. Sudah buang, bakar saja," kata bapak itu.


Pemuda itu menurut sekalian membakar kotak yang mereka terima. Dia masih tertawa sambil menutup mulutnya daripada dilempar batu bata.


Rita kemudian mampir ke toko dan membeli es krim sebanyak 5 buah dan akan disimpan di kulkas.


"Dari mana?" Tanya ibu agak curiga.


"Beli es krim," jawab Rita masuk ke rumah.


"Ibu mau ya," kata ibunya.


"Ya," jawab Rita singkat dan kembali ke kamar.


Kadang ibunya terlihat tidak peduli tapi memasakkan makanan yang Rita sukai. Itulah cara ibunya menasehati meski dengan perkataan nyelekit.


Kedua sahabatnya tertawa melihat semua penampakan paket dengan judul Paket Keramat.


"Hahaha dibakar," kata Koma dengan emoji tertawa.


"Berani sekali ya tuh orang sampai kirim lagi. Aneh!" Kata Diana.


Sahabatnya yang lain tidak jauh berbeda isi komentar nya dan menyarankan Rita lebih banyak bersabar.


"Tidak jelas ya tingkahnya terus saja kirim-kirim. Kelihatan sekali dia kesepian Rita. Berusaha membuat kamu mau menerima," kata Rara sahabat semasa SMA.


"Entahlah, apa maksud dia untungnya aku dapat pemberitahuan dari temannya sendiri dong," kata Rita.


"Hati-hati Rita meski dia bilang tidak minat jadi teman Ney, tetap kamu harus jaga jarak. Temannya itu di saat yang tepat juga bisa menghancurkan kamu," kata Rara.


"Iya, Ra kita jarang ada kontak kok," kata Rita.


Rita berpindah ke grup lain.


"Terus paketnya kamu kemana kan?" Tanya Koma.


"Tadinya mau aku injak-injak tapi aku mengikuti saran Prita. Aku berikan ke orang yang membutuhkan," kata Rita.


Mereka mengirimkan stiker jempol.


"Bagus Rita, jangan sampai kamu heboh koar-koar di media sosial. Nanti dia senang tahu paketnya sudah terkirim," kata Diana.


"Hampir saja aku mau update, masukkan ke ig," kata Rita lega.


"Jangan Rita, ada kemungkinan memang itu yang dia tunggu. Kalau kamu pasang, dia akan bangga sekali apalagi isinya pembakaran paket dia kan," kata Koma.


"Hmmm iya juga ya," kata Rita tidak kepikiran. Memang emosi itu membakar seluruh pikiran.


"Dia pasti akan simpan video yang kamu pasang di ig dan jadi senjata dia untuk lebih memfitnah kamu. Yang dimana wajar kita menolak pada paket kiriman yang tidak kita sukai," kata Diana.


"Iya, aku setuju," kata Koma.


"Iya dia memang suka menyimpan apapun dan memang pernah kejadian, dia ungkapkan," kata Rita.


"Karena dia memang tukang pembuat masalah. Sudah tidak baik kalau dia simpan foto-foto orang lain termasuk aib," kata Koma.


Bersambung ...