MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
32



"Ya Allah begitu juga lebih baik sih kalian semua di suruh untuk jangan lupa berdoa dan jaga omongan di gunung," kata Koma mengangguk setuju.


"Sepertinya banyak yang melanggar aturan ya Rita," kata Diana.


"Iya, Na. Kita bertiga bingung kan mendengarnya lalu Deti hanya bilang, "Itu bukan manusia makanya aku memaksa ajak kalian pergi.' Ya bagaimana sebenarnya sih aku dan yang lain sudah ada pikiran ke situ," kata Rita.


"Tapi kalian yang masih harus tahu tata krama, akhirnya mengobrol basa basi kan. Iya juga susah kalau pergi begitu saja malah bisa-bisa kena ekor," kata Koma akhirnya mengerti.


"Jadi kalian bertiga melihat wujudnya nenek-nenek sedangkan Fitri tidak," kata Diana merenung.


"Deti juga melihat tapi auranya tidak seperti manusia. Ya aku sih tidak tahu ya soal begituan, jadi kita bertiga menahan pikiran itu kalau sudah jauh," kata Rita.


"Kamu tidak takut saat teman kamu berkata begitu?" Tanya Diana.


"Yaa nenek itu datang memperingatkan dan kita juga salahnya tidak berdoa dulu. Setidaknya kalau memang bukan manusia, dia keluar dengan wujud yang baik," kata Rita.


Koma menghela nafas dan melipat kedua tangannya. Diana berpikir ya intinya dimanapun, kemanapun mereka mengunjungi tempat yang berbeda. Doa itu penting!


Rita dan guru lainnya pun bila berwisata selalu melantunkan doa keselamatan selama perjalanan, agar Allah swt senantiasa melindungi mereka semua. Kenapa hiking malah lupa?


"Deti mengatakan bahwa makhluk yang itu tidak jahat hanya ingin memberitahukan saja memang sebelum memasuki gunung, biasakan berdoa dahulu agar tidak diganggu," kata Rita.


"Deti masih suka ajak hiking?" Tanya Koma.


"Ada sih tapi kan sekarang aku jadwalnya berbeda sama dia. Jadi dia hiking dengan kelompok kampusnya yang lain," kata Rita.


"Oh dia kuliah lagi?" Tanya Koma.


"Iya S1 tapi di tempat lain dan dia masuk komunitas Hiking. Memang sangat senang tapi dia kangen dengan kita semua," kata Rita.


"Asyik ya coba di kampus kita ada komunitas hiking juga ya," kata Koma.


Mereka berdua setuju, ya guru juga ada kegiatan hiking namun 4 bulan sekali saja karena sisanya banyak tugas sekolah.


"Makhluk seperti itu ternyata ada yang baik juga ya," kata Koma.


"Tergantung kitanya juga sih Kom. Kalau kita hiking niatnya cari ribut, buat rusuh ya hasilnya kena gangguan. Tapi kalau untuk mengagumi keindahan gunung tersebut in sya allah baik-baik saja," kata Diana.


"Di puncak kalian semua cerita ke Fitri?" Tanya Diana.


"Iyalah, dia hanya bengong. Masalahnya aku, Yati dan Deti sama-sama melihat dan dia sendiri yang tidak. Dan sesudahnya kita sama-sama melantunkan surat pendek," kata Rita mengingat kenangan tersebut.


"Iya harusnya begitu kan. Pulang aman?" Tanya Koma.


"Aman alhamdulillah," kata Rita.


"Aku juga mendengarkan kisah horor di radio memang akan lebih baik begitu, berdoa sebelum masuk dan sesudahnya. Karena saat jalan atau bicara kita tidak tahu menginjak apa atau membicarakan siapa," kata Koma.


"Ampun deh, Kom. Nonton bioskop yang seram, baca novel seram, komik seram sekarang masih kurang? Mau coba hiking ke tempat itu?" Tanya Rita menggelengkan kepalanya.


"Hahaha habis penasaran sih siapa tahu memang ada rumah di bawah," kata Koma.


"Ada tapi kosong bagaimana tuh?" Tanya Rita.


"Nah itu masalah yang berbeda," kata Koma kemudian.


"Kita harus sama-sama menghormati keberadaan mereka juga. Anggap saja kita turis yang memasuki wilayah mereka, kan kalau kita datang ke suatu tempat juga harus sopan dan ramah," kata Diana. Mereka berdua mengangguk.


"Kalian bertemu nenek-nenek?" Tanya mereka.


"Tidak ada padahal kan kita lewat jalan itu lagi tapi tidak ada apa-apa," kata Rita.


"Aku mikirnya kamu ketempelan dari gunung syukurlah sudah hilang. Kita bisa lihat kamu ceria lagi," kata Koma.


"Betul betul," kata Diana senyum lebar.


"Bulan lusa kita hiking lagi yuk," ajak Rita.


"Ayo," kata mereka berdua.


"Ikut dong," kata Prita dan kedua temannya datang.


"Selesai deh ya pengalaman kamu di gunung," kata Diana menarik nafas lega.


"Eh? Serius ada yang tersesat?" Tanya Diana dan Koma.


"Kita juga kaget. Ternyata dari cerita mereka ya sama kejadiannya dengan kita bertiga bertemu nenek. Tapi bedanya ada 1 kelompok yang bicaranya sombong" kata Rita.


"Ohh jadi yang bicara sombong itu yang tersesat? 2 jam lumayan ya bukan 2 bulan atau 2 tahun," kata Koma.


"Syukurnya kita masih bisa pulang dengan selamat ya," kata Diana mengelus dada.


"Sudah lama juga kan kita niat untuk menghilang stres bukan buat masalah," kata Rita.


Prita duduk bersama kedua temannya secara terpisah karena mejanya tidak cukup dengan tambahan mereka.


"Lalu kamu ada rencana bertemu dengan Malay lagi?" Tanya Koma.


"Tidak ada. Kisah dia dengan Ney dan Arnila sudah cukup menguras tenaga, waktu dan esmosi. Jadi aku sudah tidak ada minat bertemu mereka semua lagi atau Malay sekalipun," kata Rita.


"Ya bagus deh Rita. Soal Arnila juga sayangnya dia temannya perempuan aneh kan jadi pasti ada kontak yang belum selesai," kata Diana.


"Iya, sudah deh kamu kan punya kita, apa kehadiran kami kurang bagi kamu Rita?" Tanya Koma.


"Tidak kurang. Sudah cukup mengisi kekosongan tidak ada yang kurang soal kalian, sahabatku yang lain. Arnila hanya kenalan jauh saja," kata Rita senyum.


"Kita bukan melarang kamu berteman dengan siapa saja tapi kamu pasti merasa kan, siapa saja yang bisa membuat kamu merasa tenang seperti di dalam rumah," kata Diana.


Rita mengangguk bersyukur mereka selalu ada dan masih bersamanya. Sesusah apapun, mereka tidak pernah pergi termasuk sahabat SMA nya juga.


"Malay tidak mendatangi kamu lagi kan? Kalau masih, agak mirip si perempuan aneh tuh. Pemaksa juga," kata Diana mencoba minum Rita dan Koma.


Mereka memberikannya. Dan mencoba juga memakai sendok.


"Tidak ada. Aku sudah blok semuanya termasuk email dia. Aku kan lagi nabung nih, dia kira buat ke Malaysia. Sok tahu kan," kata Rita.


"Oh, kamu lagi nabung? Hahaha sok tahu dia ada kemungkinan dia menantikan kamu buat ke sana. Lalu untuk apa tabungannya kalau sudah terkumpul?" Tanya Diana.


"Untuk nanti persiapan kalau aku menikah entah di usia berapa. Aku kumpulkan uang sendiri," kata Rita.


"Ohhh bagus untuk resepsi saja?" Tanya Koma mengacungkan jempol.


"Memangnya orang tua kamu tidak bantu?" Tanya Diana.


"Kata ibu cari sendiri karena ibu sudah melakukan tugas dengan membayar sekolah sampai kuliah. Uangnya kan sudah terpakai banyak untuk kuliah Prita dan pernikahan kakak," kata Rita menatap mereka dengan lurus.


Mereka berdua menatap sendu Rita namun memberi semangat.


"Kamu bisa Rita! Gaji kamu sekarang sudah naik juga kan," kata Koma.


"Osh! Yah, resepsinya di rumah saja tidak makan banyak biaya juga," kata Rita.


"Kamu ada cerita ke Malay soal ini?" Tanya Koma.


"Ada. Ya itu dia kepedean kalau aku menabung untuk ke sana. Aku tidak mau! Buang-buang uang mana mahal belum hotel, makannya, biaya pulang. Paspor juga! Ah, mungkin habis 5 juta ya," kata Rita menghitung.


"Paspor kan kamu sudah ada. Masih berlaku kan tahun kemarin," kata Diana.


"Oh iya! Semoga dia menikah duluan deh sama orang sana atau siapa kek! Malas aku harus kesana hanya untuk lihat mukanya doang!" Kata Rita.


"Hahaha iya mahal padahal kan sebelah Indonesia ya. Aku juga sedang mulai menabung untuk menikah, jadinya aku melamar ke tempat kamu hehehe," kata Koma.


"Aku juga sama," kata Diana.


"Yes bisa kerja dengan kalian berdua. Kalian sudah punya pacar dan mau menikah, aku masih begini saja," kata Rita cemberut.


"Tenang, kami berdoa dengan keras sebelum kami menikah, kamu harus punya juga. Kita tidak diburu waktu kok Rita," kata Koma menepuk pelan bahu Rita.


"Pacar aku juga belum mapan jadi sama-sama sedang berusaha. Usia kita juga masih muda jadi kita manfaatkan waktu sebisa mungkin," kata Diana menepuk bahu kanan Rita.


"Iya, kamu tidak sendirian Rita. Kami selalu ada bersamamu sampai kapanpun," kata mereka membuat Rita malu.


Bersambung ...