
"Ya Mbak?" Tanya suami.
"Kang, ini ada pembeli yang bertanya apa paketnya sudah sampai tempat tujuan?" Tanya Mbak GoSay.
"Paket?" Tanya suami. Ada banyak paket yang dia kirimkan, mana ada yang ingat apa saja.
"Iya, dia bertanya kenapa kabar soal paket yang dia kirim tidak ada kabar dari penerimanya," kata Mbak.
Kurir bengong menatap istrinya yang menghitung uang hasil antar barang. Sang istri mengerti dan menulis sesuatu, "Tanyakan paket yang mana,"
"Paket yang mana ya, Mbak? Kan saya banyak mengantarkan paket hari ini," kata suaminya memeriksa daftar paket dia hp lain.
"Sebentar. Yang isi paketnya dua puluh empat kue nastar dan cokelat dari Toko Mistul di Bogor," kata mbak itu.
Setelah dicari, ketemu juga. Paket yang ke tiga puluh.
"Ooh yang itu," kata kurir.
Istri menulis, "Bilang saja paketnya sudah di terima tapi pemiliknya sedang pergi. Saya lempar saja ke dalam gerbang,"
Suaminya mengangguk.
"Bagaimana, Kang? Ini yang bertanya rese sekali tidak sabar. Saya sudah malas, mohon info secepatnya," kata mbaknya dengan nada kesal.
"Sudah Mbak, tapi penerimanya sedang tidak ada jadi saya lempar saja ke dalam gerbangnya," kata suaminya menunggu.
"Oh, baiklah. Terima kasih ya, Kang," telepon ditutup.
"Lalu ini bagaimana?" Tanya suaminya bingung.
"Sudah! Biarkan saja kan memang sudah diterima. Sekarang terserah Teteh itu, Akang sudah memenuhi tugas pengantaran," kata istrinya meninggalkan tiga lembar uang dalam dompet suami.
"Ambil saja semuanya, sisakan seratus ribu untuk beli kue dan minum," kata suaminya.
"Katanya diambil semua tapi bilang sisakan. Bagaimana sih?" Tanya istrinya tertawa dan tetap memberikan dompet pada suaminya.
"Hehehe," jawab suami yang lega dan rebahan di karpet sambil terus mendengarkan radio bututnya.
Di percakapan lain sang pemilik toko mengabarkan pada Ney yang menunggu.
"Bagaimana, Mbak? Lama sekali sih," kata Ney.
Mbak yang mendengarkan di sabarkan oleh temannya mengingat nanti malam mereka gajian. Jadi harus tahan!
"Halo Mbak, paketnya sudah diterima tapi kata kurirnya, yang menerima sedang tidak ada di rumah," jawabnya dengan ramah.
Ney yang mendengarnya lega namun kecewa karena kalau begitu paketnya bisa dibuka oleh siapa saja dan tidak oleh Rita.
"Mbak, bisa tidak kurirnya memeriksa kembali apa paket saya diterima sama orangnya, atau tidak? Soalnya itu paket penting sekali," kata Ney memaksa.
"Maaf ya Mbak, kurir Gosay bukan kurir GoSpy. Kalau Mbaknya mau begitu bagaimana kalau Mbaknya saja yang datang sendiri ke rumah penerima. Terima kasih," jawab mbak GoSay kemudian menutup teleponnya.
Ney kesal mendengar jawaban Mbak GoSay tersebut.
Semua karyawan GoSay tertawa keras mendengar salah satu pegawai mengatakan hal itu.
"Huh! Rita kemana sih? Kabar paket ku bagaimana nih kalau dia tidak ada?" Tanya Ney terus mondar mandir dengan gelisah.
Menghubungi Prita juga tidak mungkin, nomornya dia tidak tahu. Prita juga sudah lama memasukkan nomor dan namanya dalam daftar hitam.
Terpaksa, dia menanyakan pada Feb dan Feb sadar kalau kirimannya sudah sampai.
"Si Ney! Hmph! Pasti soal kiriman itu," kata Feb.
"Halo, Feb. Ada pesan dari Rita tidak?" Tanya Ney dalam telepon.
"Pesan apaan? Sudah tidak ada kontak apapun lagi," jawab Feb dengan malas.
"Buka deh ig kamu. Cepat! Aku tunggu," kata Ney dengan seenaknya.
"Tidak mau," jawab Feb.
"Kamu tidak mau bantu teman sendiri?" Tanya Ney kesal.
"Teman? Kapan kita jadi teman? Untuk apa orang level atas berteman dengan orang level bawah. Itu kan kata kamu. Jadi soal Rita atau siapapun, kamu pecahkan saja sendiri dengan usaha kamu. Jangan libatkan siapapun!" Kata Feb menutup teleponnya.
Ney diam mendengarnya dan menatap Feb menutup teleponnya. Tidak sedikit orang yang menolak membantunya, karena dia sering mengejek dan menghina.
Ney menelepon lagi berkali-kali dan mengirimkan chat. Feb saja terganggu dengan usahanya yang sering menelepon.
"Feb, bantu aku dong masa begitu saja kamu marah sih? Aku hanya bercanda bilang begitu kita kan sudah kenal lama. Aku sedang ada masalah dengan kiriman paket untuk Rita," ketik Ney.
Tidak ada balasan, Feb mematikan hpnya.
"Kata kurirnya sudah di terima tapi Rita nya sendiri tidak ada di rumah. Jadi aku ingin kamu beritahu dia, kalau aku kirim kue buat dia. Aku tunggu kabarnya," Ney mengirimkan dan terus menunggu.
Sampai malam menjelang pun chatnya sama sekali tidak terkirim. Ney menghela nafas, dipanggilnya Feb dari grup juga tidak datang.
"Kamu kenapa? Frustasi sekali," kata suaminya.
"Mmm ini aku kirim kue untuk Rita," kata Ney membuat suaminya menghembuskan nafas.
"Masih saja mengganggu dia. Biarkan saja yang penting sudah sampai kan. Mau diterima oleh siapapun tidak masalah," kata suaminya menonton televisi.
"Ya aku ingin tahu reaksinya dia. Aku kirim yang dia suka," kata Ney.
"Apa sebegitu salahnya kalau aku kirim sesuatu ke dia? Arnila saja kirim," kata Ney cemberut.
Suaminya berbalik menatap istrinya dengan heran. "Oh, jadi kamu kirim karena tidak mau kalah? Mau sampai kapan kamu terus bertingkah begitu? Banyak ya orang yang terganggu sama kebiasaan kamu,"
Ney diam, dia membuka ig Rita yang terlihat foto cake hijau dengan warna yang cerah. Dia yakin itu dari Arnila karena tahu juga kesukaan Rita.
Padahal Arnila sudah tidak ada entah kemana selama tiga tahun ini. Kado cake yang Ney lihat bukanlah dari Arnila, melainkan dari Alex.
Memang Rita tidak pernah mencantumkan nama siapa yang mengirim. Dia hanya menuliskan 'The Green Green Cake' keplesetan dari judul lagu Green Green Grass.
Suaminya termenung, selintas dia merasa pernah melihat foto kue berwarna hijau dari alamat Rita. Dia buka dan mungkin yang dilihat istrinya adalah itu.
"Yakin itu dari Arnila?" Tanya suaminya.
"Ya aku yakin setelah dia kirim pasti membicarakan aku panjang lembar. Semacam kue tutup mulut," kata Ney dengan kesal.
"Yang ini kan?" Suaminya menyodorkan foto. Ney kaget, dia melihatnya ya sama dengan yang dia lihat.
"Iya yang ini. Kok kamu..." tanya Ney menatap suaminya.
"Mana mungkin kalau ini dari Arnila. Apa dia pernah beri kue ulang tahun ke orang. Yang bulannya saja acak?" Tanya suaminya duduk kembali.
Ney diam tapi jadi tidak menduga bahwa suaminya add ig Rita! "Kamu add ignya Rita? Sejak kapan?" Tanyanya curiga.
"Sudah lama kan kamu sendiri yang suruh aku tambahkan nama dia," kata suaminya membuat Ney terdiam.
Ah dia lupa!
"Tapi aku jarang beri komen sih," kata suaminya menyalakan rokok.
"Kenapa dia terima kamu?" Tanya Ney.
"Kan kamu yang maksa dia buat terima. Mau bukti?" Tanya suaminya.
Ney diam mendengarkan dan suaminya menyerahkan hpnya kembali. Terdapat chat yang memang Ney memaksa Rita untuk menerima pertemanan dengan ig suaminya.
Dijelaskan beberapa kali Rita menolak karena merasa itu tidak sopan meski dia kenal Ney.
"Kan? Kamu pura-pura lupa atau memang lupa?" Tanya suaminya membuat Ney diam.
"Tapi sekarang dia blok aku tapi ig kamu tidak," kata Ney cemberut.
"Kan dia tidak suka orang yang kepo, sering stalking atau hack," kata suami.
"Aku tidak begitu kok, untuk apa begitu ke Rita!" Kata Ney.
"Kamu selalu tahu apa yang Rita lakukan, kerjakan, rasakan. Jangan bilang kamu melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan aku," katanya menatap Ney.
Ney kaget, dan menjawab dengan tenang. "Tidak kok kenapa kamu berpikiran begitu sih ke istri sendiri,"
"Itu hanya pendapat aku saja karena kamu yang awalnya kepo biasa saat Rita tidak kenal Alex. Sekarang kamu sangat berlebihan," kata suaminya.
Ney tersentak soal Alex pun suaminya tahu? "Oh. Tidak, aku tidak melakukan itu ke dia,"
"Karena aku bekerja jauh dan tidak bisa mengawasi kamu selama jauh dariku. Kamu sudah punya teman, kenapa masih kejar Rita?" Tanyanya menatap layar televisi.
Ney diam mendengarnya, jantungnya berdebar. Rasanya tidak enak mendengar perkataan suaminya.
Dirasa suaminya merasakan sesuatu yang mencurigakan, padahal memang hanya pemikiran saja.
"Aku sedikit kepo," kata Ney.
"Sedikit? Dari Rita kenal orang bule, kamu sendiri yang mencari tahu. Kalau kamu mau begitu, seharusnya kamu tanyakan pada Rita dengan sopan. Sudah berapa kali kamu seperti itu dengan teman yang lain?" Tanya suaminya.
"Itu karena... aku kan temannya! Menurutku tidak butuh ijin segala," kata Ney dengan cuek.
"Hahaha teman? Sadar dirilah! Kelakuan kamu begini, sudah puluhan kali lho. Ujungnya apa? Kamu di jauhi dan di tinggalkan," kata suaminya tertawa.
"Ya mereka terlalu sensitif saja orangnya padahal yang aku katakan benar semua," kata Ney menatap tangannya sendiri.
"Aku BACA ya yang terjadi antara kamu dan teman lain, Arnila, Rita, bahkan Alex itu. Mengakui salah sudah kan?" Tanya suaminya berbalik.
"Sudah," kata Ney pelan.
"Minta maaf sudah?" Tanya suaminya.
"Sudah sampai email," kata Ney.
"Terus kamu mau ulang lagi? Berapa orang yang terus kamu kejar dan berakhir kamu di tinggalkan?" Tanya suaminya.
Ney diam menunduk, kedua matanya seperti akan menangis.
"Cukup kamu sudah lakukan semua, sudah bukan kewajiban kamu kejar dan berpikir bisa berteman lagi.Mau dengan Rita, Arnila atau siapapun!
Kamu sudah mengaku salah pada mereka, cukup! Langkah kamu selanjutnya, tinggalkan mereka.
Kenapa? Karena mereka tidak pernah berusaha mengejar kamu. Lebih baik kamu terima teman yang lain, yang selalu ada buat kamu," kata suaminya panjang lebar.
Sama apa yang dikatakan oleh teman-temannya dan Ney hanya termenung.
Bersambung ...