MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
118



Di lantai bawah, Ney yang menemui Sana pun berjalan dan memberikan pesanannya. Saat diberikan, sudah tentu suara dari mikrofon dia dengar.


Kaget setengah dunia mendengar nama Rita yang disebut. Ney berhenti berjalan meyakinkan kalau yang disebut memang nama itu.


"Kak Rita, pesanannya sudah selesai silakan melakukan pembayaran,"


"Rita!? Jadi... benar dia ada di sini!? Jangan-jangan sosok yang aku lihat di lantai ponsel tadi...itu memang dia!?" Kata Ney sangat terkejut.


Dia lupa orang bernama Rita itu ada ribuan bukan hanya yang bermasalah dengannya saja.


Sana juga mendengarnya namun dia biasa saja, nama Rita itu banyak!


"Kenapa kamu? Ayo kita belanja," ajak Sana sambil makan.


"Jadi dong. Sebentar aku mau memeriksa sesuatu," kata Ney yang langsung berlari menuju eskalator lantai atas.


"Eeeh kamu mau kemana sih? Yang namanya Rita itu banyak!" Teriak Sana menyusul.


Wajah Ney tampak sangat serius, tangannya agak gemetaran. Dia harus memastikannya. Dia menuju kedai yang tadi dan menanyakannya sambil menggigiti jari jempolnya.


Sangat panik.


Sebelumnya Seren sempat memberitahukan petugas kedai jangan memberitahukan apapun.


"Kalau dia menanyakan ciri-cirinua katakan saja namanya Rita Anggraeni Widya," kata Seren.


Petugas mengangguk mengerti.


Nama bon Rita memang ada lengkap, tapi petugas itu memasukkannya ke dalam saku celana kerjanya. Nampaknya mereka menghindari sesuatu.


"Jangan, Seren. Katakan saja yang sebenarnya," kata Rita ingin tahu bagaimana reaksi Ney.


"Nanti dia cari gara-gara lagi sama kamu, bisa songong sekali. Kamu mau?" Tanya Seren.


"Tenang. Aku akan menutup mulutnya nanti. Ayo kita cari tempat sembunyi," kata Rita bergegas.


Seren mengikuti saja dan masuk ke toko baju. Beberapa menit kemudian mereka melihat Ney yang berlarian.


"Itu ya?" Tanya Seren.


"Iya! Gila untuuuung banyak yang menggagalkan rencana dia," kata Rita bersyukur.


"Tandanya Tuhan kamu memang tidak ingin dia dekat lagi," kata Seren.


Di kedai, Ney mencari namun sayang nampaknya orang bernama Rita itu sudah pergi.


"Maaf Mbak tadi yang pesan burger namanya Rita?" Tanya Ney agak kelelahan.


"Iya, Kak. Ada apa ya?" Tanya petugas tetap ramah.


"Rita siapa Mbak namanya?" Tanya Ney.


"Wah kalau nama lengkapnya saya tidak tahu. Dia hanya sebutkan Rita saja," kata petugasnya membuat Ney lemas.


Ney diam, dia yakin itu Rita! Rita Ashalina tapi lalu kemana? Cepat sekali menghilangnya.


"Kenapa dia ada di sini sih? Ada keperluan apa jangan-jangan diam-diam bertemu Alex," kata Ney bicara sendiri.


Dia panik sekali, harus bertemu Rita dan menjelaskan semua taktiknya. Tapi ya mana mau juga Rita dengar sudah ketahuan semua belang dia.


"Ney! Kamu ngapain sih!?" Tanya Sana akhirnya sampai.


"Kamu dengar kan Rita ada di Jakarta dan dia membeli burger ini! Tapi saat aku kesini secepat mungkin, dia sudah tidak ada!" Kata Ney frustasi.


"Hah? Yakin itu Rita? Nama Rita banyak! Aku yakin pengunjung disini ada belasan dengan nama Rita," kata Sana yang sudah mengabari grup.


Mungkin juga tapi Ney yakin ada Rita, untuk memastikan dia tanya kembali. "Mbak, dia pakai baju apa? Lavender bukan? Jilbabnya bunga-bunga hijau,"


Itu yang Rita pakai dan hampir dia tepuk untuk berkenalan. Pikiran mengerikan bercampur aduk bila Mbak itu berkata Iya.


"Bukan karena banyak yang membeli burger juga Kak. Seingat saya putih bukan corak bunga jilbabnya," kata petugas.


"Memangnya kenapa kamu sampai komplit begitu?" Tanya Sana penasaran.


"Aku sempat melihat perempuan berpakaian warna itu, dan aku juga menepuk bahunya tapi tidak digubris," kata Ney.


"Ya memang bukan dia," kata Sana menggelengkan kepala.


"Tapi hobi Rita itu senang main game!" Kata Ney dengan suara keras.


"Kak, saya juga senang main game," kata petugasnya memperlihatkan permainan.


Ney terdiam.


"Duh, kamu ini otaknya bagaimana sih. Semua orang ya senang bermain game bukan hanya Rita. lagian kenapa juga sih kalau benar Rita ada disini? Suka-suka dia dong," kata Sana membuang sampah.


Ney bernafas lemas ternyata buka orang yang tadi dia temukan. Pernyataan petugas kedai juga meyakinkan kalau beda orang.


"Soalnya di ig dia aku melihat bersama laki-laki lain. Lalu kok aku tidak tahu," kata Ney agak cemberut.


Sana tertawa. "Apa pula urusannya sama kamu? Suruh siapa senang membuat masalah? Kamu lupa, kamu sudah bukan prioritas dan kamu sudah di pecat sebagai Teman dia," kata Sana masih tertawa.


Ney diam mendengar apa yang Sana katakan. "Lalu dari kapan dia dengan laki-laki yang baru ini?


"Kenapa sih ngurus sekali hidupnya dia, masih saja ya hidup kamu tuh tukang kepo. Kalau begini terus, bisa-bisa ketahuan sama suami kamu. Kalau dia nanti bosan bagaimana? Minta talak," kata Sana.


Ney menatap Sana agak tidak berekspresi. "Halah, hanya karena masalah ini saja masa iya suami aku sampai minta talak?" Tanyanya.


"Siapa tahu Ney isi hati tidak ada yang bisa tahu. Menurut aku ya jangan sampai kamu terlihat dengan masalah yang sama.


Mau Rita jadi dengan siapa dari kapan, bukan urusan kamu. Tapi kalau kata aku sih, sejak dia blokir kamu deh, mungkin memang sudah ada yang mendekati," kata Sana memperhatikan ponselnya.


"Ah tapi masa sih, Na. Dia itu jomblo abadi lho bayangin saja sejak SMP ya tidak ada yang mau dekat-dekat dia," kata Ney.


"Kata siapa? Itu menurut kamu, sepupu aku bilang banyak kok yang suka sama dia hanya dia tidak ada minat pacaran," kata Sana membuat Ney diam.


"Iya dong, sebelum kamu jadi murid pindahan dia sudah lebih dulu kenal Rita," kata Sana tertawa.


Ney masih tidak percaya tapi mungkin saja dia masuk ke SMP yang sama saat kelas dua kemudian kelas tiga mereka masih satu kelas.


"Ciri-cirinya apa?" Tanya Ney.


"Rambutnya panjang, berkacamata juga, dan wajah imut. Kalau kamu memang sudah ada pasti tahu tapi mungkin beda kelas," kata Sana.


Ney tidak tahu ternyata selama ini banyak orang yang lebih memperhatikan Rita dibandingkan dirinya.


Sosok Rita memang mudah dikenali karena badannya yang tinggi semampai, kemana dia pergi selalu jadi sorotan. Membuat Ney tidak menyukainya.


"Kamu pikir jomblo abadi kan tapi sekalinya dia berubah dari jaman SMP sampai sekarang, Ney. Ada macam-macam pemanis wajah, pernak pernik, apalagi krim-krim. Wajarlah sekarang punya kekasih," kata Sana.


Ney terdiam, memang sih waktu SMA juga pernah lihat Rita memasuki toko parfum bersama adiknya. Ney pikir Rita itu norak sama sekali tidak bisa berdandan.


Kuliah pernah bertemu penampilan Rita memang banyak berubah, apalagi wajahnya sudah mulai menampakkan warna-warna lembut dari kosmetik.


Badannya wangi oleh parfum yang agak mahal, ya dua puluh lima ribuan. Kalau Ney niat, dia bisa begitu juga apa susahnya sih tinggal moles-moles.


Ya pernah ada dia sama dengan Rita tapi... agak kurang ahli. Rita bengong saat Ney menemuinya dengan tampilan wajah kurang.. rapi.


Tapi Ney sama sekali enggan dibantu, lipstik pun tampak seperti asal dia pakai. Berapa kali pun Rita ingin membantu, Ney tetap menolak menurutnya itu sudah usaha dia.


Meski banyak orang yang menertawakannya dan Rita mengatakan kalau dandanannya tidak rapih.


Sejak itu Ney menghapus semuanya dia mulai belajar meski hanya sesaat. Kalau Rita memang karena Prita sudah lebih dahulu, dan memperkenalkan pada Rita soal kosmetik.


"Maaf Kak, nama ya Rita Anggraeni Wijaya kalau tidak salah ya karena temannya memanggilnya ada Wijaya," kata petugas tersenyum.


"Tuuuh kaaan! Apa aku bilang, tidak percaya sekali sih kamu! Beda orang!" Kata Sana menghardiknya.


"Tapi masa sih?" Tanya Ney tidak percaya ternyata salah orang. "Aku yakin itu Rita Ashalina habis belakangnya mirip!"


"Banyak! Yang mirip hanya belakang bukan berarti memang dia orangnya! Sudah ah aku mau belanja, kalau kamu masih ingin memastikan dan kejar sosok yang mirip, aku tidak mau ikut-ikutan!" Kata Sana pergi meninggalkan Ney.


"Tunggu, Sana! Sori iya mungkin memang bukan Rita yang aku kenal kali ya. Entah kenapa aku jadi kelewat sensitif dengar namanya dan... kenyataan dia sudah punya kekasih tanpa beritahu aku," kata Ney menjelaskan.


Sana berbalik pada temannya, "Dengar baik-baik ya Ney yang buat masalah itu kamu.


Rita jenuh sama kamu, karena kamu sering ganggu dia. Sekarang dia bahagia, susah bagi kamu untuk ikut senang?


Mendoakan dia selalu bahagia? Kamu bukan sensitif tapi itu adalah perasaan bersalahnya kamu sama dia.


Kamu takut bertemu, berhadapan makanya ke semua orang berpikiran sosoknya sama. Kamu sudah kan minta maaf ke dia menyesali perbuatan?" Tanya Sana.


"Sudah tapi kelihatannya dia tidak menerima jadi aku mau bertemu lagi," kata Ney.


"Cukup Ney jangan ganggu lagi dengan alasan kamu yang lain! Kalau dia menerima, kamu jangan mulai membuat masalah lagi.


Tidak perlu sampai mengiriminya hadiah segala. Yang dia mau, kamu pergi jauh dari dia!


Itu yang harus kamu mengerti. Orang memaafkan bukan berarti bisa menerima kembali!


Kalau dia tidak memaafkan kamu, artinya kamu sudah kelewat batas dan terima resikonya sendiri! Bukan terus menyerang.


Mengerti tidak sih semua orang itu jenuh sama kelakuan kamu termasuk aku!" Kata Sana yang berbalik dan pergi menjauhinya.


Sambil berjalan Ney terus menerus bicara memang sudah kelakuannya tidak mau mengalah. Sana juga masih terus dengan pendapatnya bahwa semua ini memang salahnya.


Kalau tidak menyukai Rita sejak awal, kenapa memaksa mau berteman? Toh Rita saja tidak memaksa, dia punya teman lain.


"Masalah kamu kasusnya sama dengan Solar, Susan termasuk Anna. Sudah banyak contohnya dan apa sekarang?


Kamu memaksa Rita sama dengan kamu memaksa mereka bertiga. Apa sih tujuan kamu?


Mereka bertiga ya sampai menyumpahi tahu karena kamu masih mengganggu!


Hentikanlah Ney tidak ada gunanya memaksa diri sendiri memasuki zona mereka.


Masih untung kamu tuh punya Safa, Varinka, Aku apa kurangnya kita yang tahan sama sifat playing victim kamu," kata Sana dengan nada kesal.


"Dia yang sebenarnya ada masalah sama aku!" Kata Ney tidak mau kalah.


Sana mendelik kan matanya. "Sudah salah malah terus bicara. Kamu itu bermuka dua, Rita juga sudah tahu makanya dia pergi.


Depan kecengan nya kamu berkata manis, belakangnya kamu menghina Malaysia itu.


Kenapa tahu? Karena semua orang menceritakan hal yang sama," kata Sana menatap Ney.


"Tunggu maksud kamu apa sih? Aku tanya sama mereka, mereka tidak pernah tuh cerita apa-apa ke kamu," kata Ney cemberut.


"Sakit hati mereka kamu pikir sedikit? Berapa orang yang asmaranya hancur gara-gara mereka cerita ke kamu? Berapa orang yang kamu adu domba!?" Tanya Sana dengan suara agak tinggi.


Rita dan Seren dalam toko tentu terdengar sambil bersembunyi di balik baju pajangan.


"Apa semua anak Jakarta nyablak ya?" Tanya Rita pada Seren.


"Hmm tergantung lingkungan dan orangnya sendiri sih. Teman-teman aku banyak orang Jakarta tapi tidak nyablak, separah mereka," kata Seren.


"Oh ya? Apa mereka juga senang menyerang kelemahan atau fisik orang?" Tanya Rita.


"Ada sih beberapa tapi kalau dilawan balik menggunakan kelemahan mereka, ya diam. Memang agak nyelekit sih kalau lawan mereka anak Sunda, Jawa ya seperti kamu," kata Seren senyum.


"Harusnya mereka bisa menyesuaikan lihat siapa lawan bicaranya," kata Rita.


"Iyalah. Tidak semua orang akan menerima sifat nyelekit tapi kalau mereka, tidak akan ada ujungnya. Kamu kenal yang satunya?" Tanya Seren.


Rita menggeleng. Dia belum pernah melihat Sana, ya jarang tahu juga karena Ney banyak menyembunyikan sesuatu.


Bersambung ...