MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Rita vs Ney



"Oooh jadi ini ya sikap kamu sama aku," kata Ney sengaja mengeraskan suara karena banyak pengunjung.


Sana sudah tahu taktik itu dan menanti gerakan dari Rita, tidak lupa dia rekam secara diam-diam.


Rita menatap Ney yang disambut dengusan dan ketawa yang macam badut.


Ney makin menjadi panas melihatnya. "Kamu dulu pernah bilang aku perempuan murahan tapi sekarang, siapa yang murahan?


Kamu berpaling dari Alex dan mencari laki-laki yang lebih kaya lagi kan. Cuih!


Tidak menduga ya jilbaber lebih matre, hatinya juga busuk seperti apel yang berlubang!" Kata Ney dengan kalimat kasarnya sambil memandangi Rita.


Ney cekikikan menatap Rita yang agak kaget. Rita membalasnya dengan menunggu lebih banyak pengunjung.


"Hmfh! Cara kamu masih tetap sama ya. Kotor, berusaha mencari perhatian ke semua pengunjung lalu dengan sengaja mengatakan sesuatu dengan nada tinggi.


Sebenarnya yang murahan itu cara kamu. Murahan ya tetap saja murahan," kata Rita membuat Ney kaget.


Beberapa pengunjung tertawa mendengar penuturan Rita, ada juga yang bertepuk tangan dan setuju. Sana yang menjadi salah satu mengacungkan jempol.


"Yang busuk itu kamu Ney hahahaha!!!" Kata Sana membuat Ney sangat marah.


"Hati busuk? Situ kali, sok-sok an seperti dekat dengan orangnya padahal tidak dikenal. Apa tidak malu?" Tanya pengunjung lain.


"Iya mana seenaknya buka-buka tas orang. Wajar saja Mbaknya langsung bersihkan tangannya," kata pengunjung yang berjalan melewati mereka.


"Mbak, sudah tinggalkan saja. Dia itu memang suka cari perhatian, bicara jelek ih kok mau sih diladeni,"


Ney hanya diam saat dia hendak bicara lagi, muncul Seren.


"Rita, what are you doing? I'm waiting why don't you come? Who's this?"


( Rita, apa yang kamu lakukan? Aku menunggu lama kenapa kamu tidak datang? Siapa ini? )


Tanya Seren yang membuka kacamata hitamnya. Bajunya pun diganti jadi lebih... WAH! Seren datang dari arah belakang Ney.


Rita yang menatapnya agak kaget juga, inikah Seren yang asli? Ney dan Sana juga menatap Seren dengan menganga. Luar biasa cantik, beberapa pengunjung memberikan suit an.


Jakarta juga banyak bule yang datang untuk berwisata tapi kalau Seren sih memang kelewat batas cantiknya.


Badan Seren juga yang mirip biola dengan penampilan super star, rambut pirang yang lurus dibuat hiasan kepang yang cantik.


Ney lebih kaget lagi saat Seren menggenggam tangan Rita, dia tidak mampu berkata apapun. Rita mengerti dan tertawa.


Ney melihatnya senyuman Rita yang sudah sejak dulu dia lihat, tulus dan jenaka. Tapi dia jelas mendengarkan bule pirang itu mengatakan dengan bahasa Inggris.


"Apa tidak salah? Kamu kenal sama dia pasti pakai Gugel kan? Hahaha kamu kan tidak bisa Inggris. Jujur saja deh, sini aku bisa terjemahin kamu," mata Ney dengan senyum menyebalkan.


"Oh, yeah sorry i was going to your place, but i was blocked by this person I don't know,"


( Oh, ya maaf aku bermaksud pergi ke tempatmu tapi aku dihalangi oleh orang yang tidak aku kenal )


Kata Rita meminta maaf dengan menyesal.


Mendengar itu Ney kaget bukan main apalagi suara Rita terdengar agak bagus mengucapkan kalimat asing.


"Kamu bisa bicara Inggris? Bukannya tidak bisa itu sebabnya dulu kamu minta tolong aku terjemahin Alex kan. Apa kamu memang menguji aku?" Tanya Ney dengan nada drama.


Rita mendelik tidak peduli. Seren menahan amarahnya kepada Ney yang memang bersikap paling tersakiti.


Rita dan Seren tertawa bersama, membuat Ney semakin sakit mata!


"Kamu bilang tidak kenal aku? She's lying don't trust her! Believe me! ( Dia berbohong jangan percaya dia! Percaya aku! ) Rita, aku ini teman SMP kamu!" Kata Ney dengan wajah memelas.


rita semakin tertawa melihat wajah Ney, dan dari sini Seren menepuk bahu Rita. Kali ini gilirannya.


"Trust you? Me? Sorry your not my friend,"


( Percaya kamu? Aku? Maaf kamu bukan teman saya )


Kata Seren membuat Ney terdiam.


Ney tidak mengerti sejak kapan juga Rita memiliki teman asing, setahu dia hanya Alex. Ya setahunya sih padahal banyak.


Seren menatap Ney yang agak tidak mengerti dan Seren berdehem. "Ya ampun, Rita. Kok bisa kamu berkenalan dengan sembarang orang sih? Yang seperti ini lagi, bukan level kamu," katanya.


Ney kembali menganga tidak sangka Seren bisa berbicara bahasa. Tapi Ney agak kesal karena disebut sembarangan.


"Saya ini temannya dia ya sejak SMP jadi saya tahu apa yang dia tidak bisa. Tapi kok heran ya sudah punya teman kaya, yang lama dilupakan. Hati-hati kamu ditipu sama dia!!" Kata Ney menunjuk ke Rita.


"Bukannya Rita yang banyak ditipu sama kamu ya? Ya Tuhan, kalau memang kamu teman dia kok sampai tidak tahu kalau Rita bisa bicara asing dengan lancar?" Tanya seren dengan logat khasnya.


"Ya.. ya karena dia tidak pernah bilang," kata Ney.


"Apa penting? Kalau kamu memang kenal baik Rita, tidak perlu sampai Rita harus ceritakan macam-macam. Kamu pasti mengerti selama kenal dia, semuanya!" Kata Seren.


Ney memalingkan wajahnya melihat Sana masih tertawa.


"Aku kan sudah bilang hati-hati kalau kenalan dengan orang pinggiran. Kamu cerita kan saat sulit dulu, dia ini tidak pernah ada..Sekarang tahu kamu sudah maju, kenal sama aku pasti mengaku jadi sahabat," kata Seren.


"A-aku bukan sahabat dia hanya pernah satu kelas saja," kata Ney kembali dengan pernyataan lain.


Rita tidak heran memang begitulah sifatnya.


"Ah, teman sekelas. Yah wajarlah," kata Seren.


"Iya," kata Ney senyum menatap musuh ke arah Rita.


"Mana mungkin juga sih kamu jadi teman dekat Rita. Tidak pantas," kata Seren membuat Ney kaget.


"Puahahahahaha!" Kata Sana yang sedang berjongkok.


Di kejauhan Kazen dan Shin tertawa keras dalam toko teman mereka. Ney sama sekali tidak bisa membantah apa kata Seren.


Disebut orang pinggiran dengan wanita secantik Seren sih yah bisa membuat Rita juga beku.


"Keluarga saya itu orang kaya beda sama dia memang tidak mungkin sih. Mana mau aku jadi teman dekat dia juga, kalau kamu butuh teman yang bisa diajak bicara lebih menyambung, aku bisa," kata Ney.


"Buset tidak malu sekali ya," kata Rita berbisik.


Seren mengedipkan matanya, kalau Rita tidak perlu bicara lagi.


"Tapi... penampilan kamu kok... seperti perempuan biasa ya. Baju juga yah... tidak sesuai kelas saya. Maaf ya saya tidak berminat menghubungi kamu yang sudah menghina teman saya," kata Seren memeluk Rita.


Ney semakin tidak bisa berkutik, mau dibilang temannya yah sudah keceplosan mengaku bukan.


Iya pernah jadi teman tapi kurang ajar orangnya. Ogah lagi deh aku nerima orang kaya dia teman aku saja masih banyak yang kelakuannya baik," kata Rita dengan nada angkuh.


Ney terdiam mendengarnya, apalagi kesan dari Rita juga sangat jutek kepadanya.


"Iya Rita sudah jadi pertanda kalau saat kamu sulit lalu ditinggalkan. Yang lainnya masih banyak kan," kata Seren.


"Maaf. Kamu dengarkan tadi? Aku memang bukan teman dia, sebaliknya juga. Jadi aku bersyukur sih bukan sahabat dia," kata Rita memandang sangat sinis pada Ney.


Ney menjadi kikuk, dia tidak bisa berkata apapun dan hanya menatap ponselnya saja. Segala cara yang asalnya mendekati Rita malah berbalik jadi jebakan.


"Alex itu asli buta ya untuk apa membela perempuan tipe begajulan begini sih?" Tanya Seren heran.


"Kamu kenal Alex?" Tanya Ney kaget sekali. Syukur-syukur tidak punya penyakit jantung, kalau ada pingsan berkali-kali dia.


"Kenal? Tentu saja, satu keluarga denganku," kata Seren membuat Ney semakin syoooking sodaaaa.


"Ba-ba..." kata Ney yang terbata-bata.


"Yuk Rita, jangan lama-lama disini apalagi mengobrol dengan orang yang seenaknya mengaku-aku kenal temanan sama kamu. Eh ternyata hanya karena sekelas saja," kata Seren memakai lagi kacamatanya.


"Kekasihku ajak makan malam," kata Rita.


"Ah yaa. Ayo!" Kata Seren dengan riang.


"Rita tunggu. Aku hanya ingin bilang selamat ya kamu punya kekasih baru terus namanya siapa?" Tanya Ney yang Rita sama sekali tidak jawab dan memilih pergi.


"Wih gila ya teman barunya. Wah Ney, ini sih sama sekali tidak akan bisa kamu jangkau. Apa kata Arfa benar ya, akan sulit untuk orang seperti kamu mendekati Rita lagi," kata Sana kemudian pergi.


Ney mengibaskan kedua tangannya, wajahnya kepanasan dan agak gerah meski cuaca hari itu tidak begitu panas. Dia kepanasan memandangi Seren yang sangat memukau.


Dia masih ingat bagaimana Seren menggenggam tangan Rita dan mereka nampak seperti kakak beradik.


"Bagaimana bisa? Huh! Kalau saja waktu itu aku mendengarkan apa kata Arnila mungkin sekarang aku masih ada bersama Rita!" Kata Ney menyesal sekali.


Seren kembali dan menepuk bahu Ney. Dia kaget!


"Yang tadi itu memang aku bukan teman dekatnya tapi kamu harus hati-hati. Dia suka mengadu domba orang, aku dan temanku saja putus gara-gara dia," kata Ney kesempatan.


"Hentikan. Kamu pikir saya tidak tahu muslihat apa yang sering kamu gunakan pada Rita dan Alex?" Tanya Seren melipatkan tangannya.


Ney diam. "Ke... itu itu salah paham!"


"Dengar ya Ney, kamu itu tidak tahu apa-apa mengenai keluarga Alfarizki dan saya.


Kamu sudah membuat sesuatu yang menakutkan dengan ulah kamu. Saya tahu bagaimana kamu menjatuhkan Rita dan Alex." kata Seren dengan nada agak berbeda.


Ney diam mematung sampai Seren berlalu pergi. Badannya mendadak menggigil ketakutan.


"Tung... tunggu!" Kata Ney memberanikan diri.


"Apa?" Tanya Seren dengan nada dingin. Super.


"Kamu benar... tema Rita? Rita kan orang biasa mana mungkin...bisa mendapatkan orang...sekelas tinggi seperti...kamu," kata Ney memberanikan diri.


"Kamu pikir dia berbohong?" Tanya Seren dengan tajam.


"Iya. Karena dia memang pembohong berat! Sumpah!" Kata Ney yang mengira Seren akan percaya.


Seren mendengus keras membuat Ney tidak tersenyum.


"Saya bisa lebih tahu menilai orang yang benar-benar baik dengan yang hanya pura-pura terlihat baik.


Contohnya kamu, saya yakin kamu mengira bisa kenal dekat dengan Alex saat Rita kenal dia?" Tanya Seren.


"Itu karena Alex ada hati dengan Rita jadi kalau memang mau mendapatkan Rita bukankah dia harus dekat dengan sahabatnya?" Tanya Ney.


"Kalau kamu memang benar-benar sahabat Rita. Paham?" Tanya Seren.


"Aku memang sah..." kata Ney kembali.


"Kamu bukan siapa-siapa Rita. Menurut pandangan aku, kamu hanya mengada-ada entah mungkin untuk pamer ke teman-teman?


Atau pembuktian yang lainnya. Aku sering mengalami hal itu dan akhirnya saat mereka mendapatkan pamor, dengan seenaknya menendang teman-temannya," kata Seren membuat Ney tidak bisa berkata-kata.


"Apa salah?" Tanya Ney.


"Oh, Nona seharusnya kamu berhati-hati dengan kami. Kamu tidak akan pernah ingin berhadapan dengan siapa kami sebenarnya.


Permainan kamu itu sangat mudah kami mainkan kembali, tapi apa kamu bisa tahan dengan permainan ala kami?" Tanya Seren sikap dan nadanya berubah seperti saat dia diskusi.


Ney merasakan hawa menekan yang sangat dahsyat, dia ketakutan terlihat jelas pada kedua matanya.


"Pembullyan? Pernahkah kamu berpikir apa yang akan terjadi bila keluarga besar Alfarizki tahu, salah satu anggotanya kamu permainkan?


Ckckck urusan kamu sudah masuk zona mereka, entah apa yang akan terjadi nanti ke depannya," kata Seren dengan nada tenang.


"Tolong aku!" Kata Ney secara otomatis.


"Hahaha maaf ya aku bukan malaikat. Minta saja pada Tuhanmu.


Rita pernah ya meminta tolong ke kamu, kamu bantu? Atau kamu tinggalkan?


Kamu biarkan dia sendirian. Entah ya kalau yang "lain" tahu kelakuan kamu, akan dibalas seperti apa.


Saran saya, tetap di zona kamu. Tidak perlu merasa setara dengan siapapun yang Rita kenal. Sadari siapa kamu sebenarnya bila masih mau cari aman," kata Seren kemudian pergi.


"Wah wah diberi nasehat oleh orang kelas atas. Bagaimana rasanya? Menyenangkan bukan? Anggaplah dia Anita, agak mirip dia sih. Benar tidak?" Tanya Sana menepuk bahu Ney.


Ney gemetaran, dia sangat ketakutan terngiang-ngiang kalimat "yang lain" dari ucapan Seren. Jantungnya berdebar keras, dia terjatuh lemas di lantai itu.


"Makanya jangan suka usil sama orang,"


"Dia kenapa?"


"Biarkan saja!"


Orang-orang tidak peduli apa yang sudah terjadi. Sejak itulah Ney terus terdiam, dia hanya mengikuti Sana lalu pulang.


Apakah dia akan kapok? Tentu tidak. Yaelah, masih ada saja taktiknya tentu tidak lain berusaha mendekati Rita kembali apalagi Rita berada di Jakarta.


Masih menyimpan misteri, ada apakah?


Bersambung ...