
"Dia berhasil merebut?" Tanya Alex agak kaget.
"Tidak berhasil karena salah satu temanku menampar dia, entahlah apa yang sudah dia katakan," balas Rita.
Alex menganga membacanya lalu cengengesan. Dia tidak bisa berpikir bajwa Ney sampai melakukan hal tersebut hanya supaya dirinya lebih bisa diutamakan.
"Jadi silakan dukung terus dia yang tidak punya teman tulus sampai sekarang. Semuanya hanya menerima dia karena status dan rasa kasihan. Kalau ada yang dia atau orang lain terima pun karena mereka di bawahnya," balas Rita dengan mood kesal.
Bahkan Alex pun tidak bisa berbuat apapun tahu bahwa dirinya juga terpaksa Rita kontak. Alex terlaku berlebihan menganggap Rita sebagai sosok wanita yang bisa dijadikan tempat sandaran.
"Ney itu bukan tipe aku," kata Alex berharap Rita masih mendengarnya.
"Bodo amat deh! Aku tipe perempuan yang mudah di bully kan," kata Rita mulai mengungkit.
"Bukaaan ini mau sampai kapan berlanjutnya?" Tanya Alex jenuh.
"Sampai aku dapat bukti terserah kamu mau terima atau tidak," kata Rita dengan semangat 45.
"Kalau aku terima tetap saja kamu tetap tidak mau chat aku lagi," kata Alex sedih.
"Itu kamu sudah tahu," jawab Rita.
Alex mau tidak mau harus mulai menerima kenyataannya karena sifatnya yang rumit, pastilah Rita perlahan menjauh sesuai apa kata kakaknya.
"Kamu bisa tidak berhenti bersikap memihak orang lain? Soal perempuan aneh itu ya, kamu itu tidak tahu apa-apa, Alex. Harusnya kamu lebih berpikir kenapa Rita dan temannya itu menjauhi orang ini. Kakak yakin bukan karena mereka pemilih. Pasti ada apa-apanya di dalam diri orangnya, kalau kamu lebih memihak dia, kakak yakin kamu akan kehilangan Rita,"
"Toh kamu juga selalu bilang supaya aku cari yang lain kan," kata Rita dalam chatnya membuat Alex terdiam.
Ya dia memang pernah mengatakan hal itu tapi nyatanya, dia tidak mampu melepas Rita.
"Kasihan Rita kalau kamu terus membela orang yang belum pernah kamu ketahui asal usulnya. Sedangkan Rita? Kamu sudah kenal dia sampai 4 tahun lho. Yang kakak tahu, perempuan itu menyebabkan luka batin Rita kan?" Tanya Ibunya yang mengetahui keadaan anaknya saat itu.
Tentu saja semua chat Alex dan Rita serta Ney yang bermasalah tidak luput dari pandangan orang tuanya. Mereka jelas geram.
Alex mengingat apa kata ibu dan kakaknya, Jasmine. Dia menghela nafas memutuskan untuk menerima Rita menjauhinya. Meski Jasmine sangat menyayangkan mengenai kepergian Rita.
Alex pasti akan sangat sedih.
"*Kalau kamu tetap ingin berada di sisi Rita, terima apa pun pendapatnya jangan kamu keras kepala, Rita harus mengikuti pemikiran kamu. Ingat Alex, otak dia dan kamu sangat berbeda. Rita lebih menggunakan perasaan sedangkan kamu logika. *
Setidaknya Kakak lihat, Rita mencoba menggunakan logika sih. Rita itu berbeda dari perempuan-perempuan yang kamu temui, dia tulus sama kamu,"
Rita sejak lama memang sudah pergi, hanya Alex yang kurang bisa ikhlas melihatnya. Karena Rita juga, dirinya terus berjuang hidup dari penyakitnya.
Dia tahu Rita selalu menungguinya sadar bila koma. Dia tidak pernah pergi, tidak seperti para mantannya. Tidak tidur 2 hari hanya menunggu informasi dirinya sadar.
Lagi-lagi mengalami kejadian yang, Alex terus membela orang lain. Rita sangat jenuh, Alex sudah menyadarinya sejak lama.
"Oke, Rita seperti yang kamu mau aku akan akhiri semua ini. Terima kasih selama ini kamu mau terus menemani aku yang cacat," kata Alex menahan air matanya.
...Noah - Andaikan Kau datang kembali...
Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenang kan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau kutinggal kan
Alex berdiam menatap ponselnya tidak ada balasan dari Rita, tampaknya memang sudah pada batasnya. Dia menarik nafas dan mantap ikhlas membiarkan Rita pergi.
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu
Andaikan kau datang kembali
"Satu lagi saja aku mau tanya sama kamu. Tolong jawab ya," kata Alex berharap masih ada celah pintu sedikit saja, agar jelas semua yang dia cemaskan.
Rita mendengus, mau apa lagi nih orang? "Ya apa cepat," kata Rita jutek.
"Contoh?" Tanya Rita agak kurang paham. Wah, jangan-jangan mistis lagi nih...
Alex menggigiti bibir bawahnya apa dia harus meneruskannya? "Semacam serangga kecil tapi dalam jumlah banyak,"
Rita membacanya dan berpikir. Satu-satunya yang dia pikirkan ya semut. Semut kan serangga kecil dan berkoloni juga, jumlahnya juga lebih dari banyak.
"Kepompong?" Tanyanya Rita.
"Lebih kecil lagi, macam anak-anaknya," kata Alex memberikan petunjuk. Alex berpikir kalau Rita bertanya ada kemungkinan dia jarang mengalami.
"Apa sih maksud kamu?" Tanya Rita heran.
"Ulat," jawab Alex pada akhirnya. Ternyata susah kalau penuh petunjuk pada Rita harus langsung saja.
"Ulat?" Tanya Rita, dia agak heran memangnya ada apa dengan serangga menggelikan itu?
"Iya. Aku mau cerita sedikit, beberapa bulan lalu saat aku chat dengan Ney karena suatu hal, aku kaget dengan kehadiran makhluk kecil itu di jendela," kata Alex.
"Lalu apa urusannya sama aku?" Tanya Rita mulai curiga.
"Zzz dalam Islam ulat itu diartikan sebagai ilmu hitam, Rita," kata Alex menjelaskan.
"Kamu penggunanya ya," kata Rita sudah mulai agak berjarak.
"Bukan enak saja!" Kata Alex langsung bete.
"Tidak perlu ber belit-belit maksud kamu apa sih? Mau tuduh aku kirim itu ke kamu!? NGAKU!! Ke Arnila, kamu sama Ney!?" Tanya Rita sudah paham. Kurang ajar!
"Emmm.. tadinya," kata Alex.
"DASAR ORANG JAHAT! Kamu sama Ney itu benar-benar luar biasa ORANG JAHAT!!" Balas Rita sekarang lebih marah dan sakit.
Alex diam, ya dia yakin mana mungkin Rita pelakunya. Hah tapi sekarang semakin yakin Rita akan meninggalkannya juga.
"Tenang, maksud aku apa kamu mengalami juga? Bukan menuduh. Ya tadinya," kata Alex membuat makin murka Rita.
"YA TIDAKLAH," Balas Rita. Tandanya sudah marah besar.
Alex tahu pasti meledak. "Bisa tenang tidak?" Tanyanya.
"MANA ADA sudah seenaknya kalian injak-injak aku, sekarang mulai menuduh ilmu hitam!?" Tanya Rita.
Alex banyak beristigfar, dan menarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan. Kalem kalem... stey kul.
"Jadi begini, saat itu aku menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan kamu. Tiba-tiba aku merasa ada yang menaiki tangan. Aku kaget sekali saat melihat banyak anak ulat merayap ke tangan," kata Alex merinding dan mual.
"Memang kamu lagi sial saja, jarang bersihkan jendela rumah," jawab Rita masih jutek.
"Bukan ituuuu. Pelayan rajin bersihkan laa. Pokoknya aku sampai muntah dan itu seperti mengejar aku," jelas Alex enggan membayangkannya lagi.
Rita dalam mode Super Saiya jadi mana bisa diajak berpikir jernih. "Oh kamu juga bisa ya disukai ulat,"
"Sudahlah kamu tidak mengerti, aku beritahu saja selama aku chat dengan dia selalu mendapati banyak ulat dan semakin banyak. Itu kalau aku mempercayai perkataan dia," kata Alex agak menyesal.
"Ya tidak heran kan kamu memang senang melakukan hal dilarang Allah swt. Terima saja akibatnya," kata Rita sudah tidak peduli.
Alex menghela nafas. "Pokoknya tidak baik maksudnya, Rita, ada yang mengirimkan itu padaku makanya aku nanya sama kamu. Apa kamu pernah seperti aku juga? Karena Arnila pernah cerita sama kasusnya denganku," kata Alex.
Hmm jelas ternyata nih orang kalau cerita atau nanya kenapa sih harus setengah? Kan jadinya salah paham.
"Tidak pernah! Kamu kan rajin mengaji masa iya bisa dikirim begituan?" Tanya Rita merasa aneh. Menurutnya orang yang rajin mengaji, memiliki tameng atau tembok yang tinggi.
"Sungguh? Tidak ada ulat-ulat kecil atau binatang kecil seperti kelabang?" Tanya Alex bertanya lagi. Kok bisa ya?
"Rumahku kan ada tamannya wajar kalau bertemu mereka-mereka disini. Tapi sekarang kan bukan musim hujan, apa-apa jangan disangkutpautkan dengan hal begituan deh," kata Rita mengangkat alisnya.
"Kamu baca deh soal binatang itu di gugel," kata Alex susah menjelaskannya.
"Malas! Karena aku tidak pernah mengalaminya. eh ada deng! Sekarang juga ada nih setiap chat sama kamu pasti mereka ada," kata Rita melihat sesuatu yang berjalan merayap dan BANYAK!
Bersambung ...