MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
22



"Setengahnya memang aku ingin kenal kamu," kata Alex dengan jujur yah sebagai hadiah perpisahan.


"Bilang saja begitu susah sekali pakai alasan komputer eror segala," balas Rita .


"Kamu tidak penasaran sama mimpi aku? Ceritanya," kata Alex.


"Kalau mau cerita, cerita saja jangan banyak drama!" Balas Rita.


"Iya iya aku lihat kamu dalam mimpi bahagia dengan laki-laki lain," kata Alex tanpa menjelaskan ciri-ciri atau siapakah orang tersebut.


"Sesuai yang kamu harapkan," kata Alex mengangguk. Ya apapun mimpinya itu hal baik lah.


"Aku ingin melihat kamu bahagia tapi tidak mungkin dengan aku," kata Alex sedih memegangi dadanya.


"Iyalah mana mungkin, tidak sepadan dengan kamu," kata Rita.


"Kenapa kamu berpikiran begitu? Aku tidak cari yang sepadan kok," kata Alex. Inikah alasannya Rita ingin pergi saja darinya?


Disaat perempuan lain berlomba-lomba mendekatinya, banyak bohongan agar dilirik, hanya Rita yang memutuskan untuk pergi. Mirip dengan sosok Kayla yang juga sama-sama menghindari Alex setelah mengetahui siapa dirinya.


"Kamu pernah mengatakan hal itu bahwa kamu mencari yang sepadan," kata Rita.


"Aku hanya bercanda," kata Alex menepuk dahinya.


"Bercanda sampai 3x? Menurut aku kamu serius dan kamu kenal aku hanya untuk bermain saja," kata Rita.


Sebenarnya Alex sudah mencapai tingkat serius pada Rita namun Rita tidak juga peka. Alex juga terlalu berkelit menyampaikan maksudnya sampai akhirnya malah berlayar terlalu jauh.


"Aku tidak percaya diri dengan kondisi badanku, Rita aku takut nanti kalau aku koma, kamu meninggalkan aku," kata Alex.


"Doa kamu akan di sentuh kok," kata Rita sebal.


"Itu bukan doa aku," kata Alex.


"Sudah sering kamu chat begitu, itu doa. Pasti di sentuh," kata Rita tidak peduli.


"Aku tidak mau," balas Alex kebingungan.


"Jangan terlalu banyak berharap ke saya. Kamu sendiri akhirnya banyak membuat aku sedih dengan kelakuan kamu," balas Rita.


Alex sedih membacanya, dia mengakui memang benar karena daripada melihat Rita dengan orang lain, lebih baik dia membuat Rita membencinya. Membuatnya banyak sedih tapi dia sendiri yang merasa sedih.


"Aku hanya tidak ingin kamu membenci Ney Tapi aku juga tidak akan memaksa kamu menjadi temannya lagi. Hanya jangan dibenci," kata Alex.


"Jangan paksa orang untuk tidak membenci. Kamu saja benci penyakit kamu kan," kata Rita.


"Iya iya aku benci karena terlahir begini. Aku juga sering drop memang salah sendiri, sengaja berbuat masalah. Tapi berkat keberadaan kamu, aku jadi lupa kalau aku sakit," jelas Alex.


"Kamu senang tapi aku? Kamu juga bilang kalau aku perempuan pembawa sial bagi kamu. Sejak kenal aku, kamu selalu drop!" Balas Rita.


"Maaf, kamu banyak menderita karena aku," kata Alex menyesali perkataannya yang membuat Rita semakin jauh.


"Kamu sudah tahu dan sadar tapi kenapa masih memaksa untuk aku terus di sisi kamu? Mirip Ney sih kamu ini, hanya kamu tidak pernah meneror menelepon segala. Tidak kirim barang seenaknya," kata Rita.


"Iya dong. Kirim barang tanpa persetujuan itu artinya sama saja tidak tahu tata krama. Kalau orangnya tidak mau dikirimi, jangan memaksa," kata Alex.


"Kalau memaksa berarti dia memang ada niat cari gara-gara," kata Rita memancing.


"Iyalah. Tahu orangnya tidak mau tapi tetap dikirim itu sengaja namanya bukan cari gara-gara lagi," balas Alex.


"Berarti Ney kurang adab ya yang tidak mau dikirimi dia kirim," kata Rita membuat Alex terdiam.


"Iyaa," balas Alex meski sebal dirinya kena pancing. "Karena di sisi lain kenal kamu, aku bisa bertahan sampai sejauh ini, Rita,"


"Itu bukan karena aku, aku bukan manusia super. Itu karena Allah swt kamu percaya aku yang memanjangkan usia, Musyrik!" kata Rita.


"Iya iya tapi aku selalu mendoakan kamu bahagia dengan orang lain. Yang lebih normal, bila dia nanti datang jangan ceritakan soal Ney," kata Alex.


"Tidak akan ada bagian dia!" Kata Rita.


"Juga Arnila, mereka berdua itu seperti magnet kecuali Arnila benar-benar memotong jalannya dengan Ney," kata Alex.


Dia melihat tampaknya Arnila memang lebih cocok berteman dengan Rita bukan Ney. Kalaupun bertengkar, mereka tidak akan saling menyerang kepribadian minus mereka masing-masing.


"Tidak akan. Mereka berdua tidak akan ada lagi dalam hidupku yah, lagipula Arnila aku tidak tahu kabarnya juga," balas Rita tiba-tiba terpikirkan bagaimana kabarnya ya?


Apakah dia berhasil menjauh dari Ney? Tapi mungkin saja kalau sekarang Ney malah berbuat keonaran dengannya. Dengan maksud berbaikan mungkin? Tapi mana mau juga Rita terima karena dia sudah sangat menyakiti.


"Aku tidak akan mengganggu kamu lagi," kata Alex.


"Kamu sudah bilang tadi mau ulur waktu ya?" Tanya Rita kesal kapaaan dia perginya???


"Tadinya tapi aku merasa kamu memang sudah tidak mau lagi chat denganku. Jadi ini perpisahan," kata Alex sedih.


"Berhenti banyak bacot lah. Lakukan saja!" Kata Rita.


Astagfirullah!


"Iya ya tidak akan mungkin sedih kamu bisa main RPG sesuka kamu!" Kata Alex teringat kalau Rita sering memainkan game RPG setiap chat dengannya.


"Mau kenal kamu atau siapapun juga aku memang sudah sering memainkan RPG," Balas Rita cengengesan.


"Oh begitu ya," balas Alex ternyata Rita memang maniak game!


"Seharusnya kamu banyak-banyak bersyukur ya kenal sama aku," kata Rita.


"Kenapa? Ya tadi aku bersyukur," kata Alex


"Perempuan lain yang chat sama kamu, dia juga bisa chat dengan laki-laki lain tanpa kamu ketahui," kata Rita. Alex diam.


"Iya sih," balasnya pendek.


"Aku lebih baik ya. Chat sama kamu sambil main RPG. Kamu tuh kurang bersyukur! Ciptaan aku hanya lawan musuh, tidak ada chat dengan laki-laki lain hanya Petugas" jelas Rita.


"Iya sih," jawab Alex. Ya apa masalahnya? Toh Alex juga sering chat sama Rita sedang memainkan Loki. Lebih parah dia sih kalau sudah main, tidak bisa balas chat beda dengan Rita.


"Aku... hanya ingin lebih diperhatikan saja," kata Alex dengan jujur.


"Banyak yang perhatian sama kamu, apa kurang? Aku perhatian pun tidak pernah kamu hitung selalu bilang 'Arnila lebih perhatian' menurut kamu, enak tidak dibilang begitu?" Tanya Rita.


"Tidak," balas Alex.


"Aku juga bisa ya seperti itu tapi aku masih punya hati. Memikirkan kamu tapi yah... Aku bukan pacar atau istri kamu, tahulah batasannya," balas Rita yang kemudian melihat staf datang.


"Bu, dikasih bonus nih minuman yogurt kesukaan Bu Rita," kata Dewi mengeluarkan semuanya.


"Alhamdulillah," kata Rita memilih stroberi dan mengocoknya.


"Kalian juga dapat kok," kata Dewi.


"Terima kasih ya," kata mereka semua.


Rita makan dengan lahap, rasa makaroni panggang keju memang paling mantap. Dia beri di atasnya saus keju dan pedas semakin poll.


Alex membalas. "Jadi teman aku ya? Kalau jadi teman, nanti kamu banyak keuntungan," katanya menunggu balasan.


Pelayan masuk membawakan nampan penuh makanan sehat. Alex makan tanpa nafsu karena sebentar lagi dirinya harus rela melepaskan Rita.


Sambil makan, Rita membaca pesan Alex. "Tidak mau,"


"Kenapa? Tidak akan rugi," kata Alex sambil makan.


"Aku tidak mau punya teman mirip es balok seperti kamu," kata Rita membalas lalu mematikan.


"Aku tidak bisa menjanjikan sama kamu menjadi orang yang terbaik di hidupmu," kata Alex agak mirip pujangga.


"Aku tidak pernah mengharapkan apapun pada kamu," balas Rita. Dia meminum yogurt nya dengan nikmat.


"Kamu sedang mencari suami kan? Aku kira kamu berharap ke aku," kata Alex.


"Iya memang. Tapi aku tidak pernah berharap kamulah sosok itu," kata Rita.


"Oh tentu saja karena aku sakit kan," kata Alex semakin sedih.


"Bukan. Aku juga penyakitan tapi aku terus ingin dapat kebahagiaan juga kan. Kamu tidak bisa menerima kekurangan aku, yang kamu sempurna," kata Rita.


"Tidak kok," kata Alex lega ternyata bukan karena penyakitnya.


"Kamu banyak menuntut, minta aku berubah mengubah kepribadian, sifat. Kamu pikir lebih superior dari Allah swt tapi kamu lupa bahwa kamu sendiri tidak bisa mengubah perilaku kamu. Apalagi sakit kamu," kata Rita mengingatkan.


"......." balas Alex yang tidak ingat mengenai dirinya bahwa bukan manusia yang sempurna juga. Dia menyesal menuntut banyak hal pada Rita hanya karena tidak seperti para perempuan di sekitarnya.


"Kamu juga mencap aku sebagai perempuan tidak baik dari awal, mengatai aku Iblis yang bersembunyi dalam jilbab. Kamu anggap semua perempuan iblis lalu kenapa masih mendatangi aku?" Tanya Rita.


Alex tidak bisa berkata apapun bukti Rita bisa mengingat semua, berarti dia memang sangat terluka. Terutama oleh perilaku Ney.


"Kamu dekati saja laki-laki jadi penyuka sesama sekalian! Kalau kamu anggap semua perempuan itu iblis," kata Rita membuat Alex hanya bisa diam.


"Maaf," kata Alex.


"Kamu itu susah! Aku tidak mau punya teman seperti kamu, kamu jadi teman Ney saja! Dia pasti bangga," kata Rita sudah sangat sebal.


"Tapi kamu beda Rita maafkan semua perkataan ku yang sudah lalu," kata Alex sangat menyesal.


"Aku tidak memihak Ney, aku hanya menyayangkan pahala dan kebaikan yang kamu lakukan akan sia-sia menghilang," kata Alex.


"Itu bukan urusan kamu ya mau pahala aku hilang atau berpindah tempat. Akan selalu ada pahala dimanapun, seperti uang yang keluar masuk dompet," kata Rita.


Bersambung ...