
Mereka bertiga dalam mobil tentu Seren duduk di kursi belakang. Tadinya, setelah dia banyak mengomel dan berisik, Kazen berganti duduk di belakang.
"Eh, Kazen cerita dong soal Rita ini. Kok bisa kamu gebet dia sejak lama? Lalu kamu masih suka dia? Orangnya seperti apa?" Tanya Seren menatap Kazen yang datar menatapnya.
"Dia tidak seperti kamu," jawab Kazen.
"Ish! Dingin sekali. Kamu yakin dia tidak akan beku dekat-dekat Polar Bear?" Tanya Seren pada Shin. Shin tertawa keras dan Kazen sebal.
"Sudahlah, jangan banyak tanya nanti juga kamu bertemu. Kamu mau hadiah yang seperti apa? Nih ada pakarnya," kata Shin.
"Iya iya serahkan saja padaku! Kamu mau beri dia apa, dengan bunga atau permata?" Tanya Seren.
"Permata? Eh iya, ingat ya Zen kamu sama dia baru sehari berkenalan lho. Awas saja kalau niat kenalan kamu ada jahatnya," kata Shin.
"Baru sehari? Kamu tidak ajak dia one night stand?" Tanya Seren.
Kazen dan Shin menatapnya dengan kaget. Mereka menghujani Seren dengan kata-kata bodoh dan idiot. Yang membuat Seren tertawa.
"Ya kaliii," kata Seren.
"Langsung dihabisi aku malam itu juga," kata Kazen merinding.
"Pokoknya di luar ekspektasi kita deh, Seren. Kamu akan terkejut nanti," kata Shin.
"Shin, nanti aktifkan nomorku," kata Kazen memiliki ide lain.
"Hah!? Yakin? Nanti ketahuan dong sama dia kalau kamu pelaku pengiriman chat itu," kata Shin.
"Chat apa sih?" Tanya Seren.
Kazen menghela nafas dan Shin mulai bercerita membuat Seren memandangi Kazen.
"Kamu gila ya! Kenapa juga kamu kirim begituan? Itu urusan dia untuk apa kamu ikut campur?" Tanya Seren berisik.
"Seren berisik!" Kata Kazen.
Mereka sampai di sebuah toko mewah dengan berhiaskan bunga mawar, tulip, dan bunga-bunga kecil.
"Toko ini, aku kangen! Aku masih ingat kamu memberiku seribu coklat, Shin," kata Seren yang sudah jatuh hati padanya.
"Seren mudah jatuh hati pada orang, itulah kenapa aku menolaknya. Semoga dengan Shin abadi," pikir Kazen.
Di hari itu memang Diana dan Komariah segera melakukan penyelidikan dengan nomor Kazen.
Shin mengaktifkannya dan menatap sahabatnya. "Ponselnya dimana?"
"Di kantor," kata Kazen.
"Benar nih kamu sengaja supaya mereka tahu?" Tanya Shin lagi.
"Supaya kita bisa menjenguknya juga kan. Apalagi bawa Seren," kata Kazen.
"Aku penasaran ya Rita ini seperti apa sih sampai tumben kamu tidak melakukan One...itu," kata Seren.
"Bukan tipe dia pokoknya," jawab Shin membuat Seren terdiam.
"Sama denganku? Tapi membuat Kazen jatuh hati? Taktik apakah yang perempuan itu punya sehingga sehari saja, membuat Kazen tepar," pikir Seren.
"Oh ya? Wah, aku tidak sabar," kata Seren menatap Kazen dengan mata yang penuh makna.
"Yuk masuk, dan beritahu apa saja yang cocok untuk orang yang lagi sakit," kata Kazen.
"Sakit? Jadi perempuan itu sedang sakit? Ah, beruntungnya dia," pikir Seren.
Mereka masuk dan Seren mulai memilih barang dan makanan yang cocok. Makanan yang pasti disukai oleh perempuan.
Kazen tidak yakin Rita akan menyukainya tapi dia pernah membaca suatu chat berisikan, warna yang tidak Rita sukai. Merah dan kuning.
Untuk cake, Kazen ingin sesuai pemikirannya dan Seren mempersilahkan. Shin memeluk Seren, takut Seren sedih melihatnya.
"Aku tidak apa, kan sudah punya kamu," kata Seren mencium pipi Shin,"
"Di toko juga pacaran," kata Kazen membuat keduanya berwajah merah.
"Makanya kamu pacaran dengan Rita," kata Seren.
"Kenapa?" Tanya Seren.
"Dia berjilbab dan pacaran bukan visinya," kata Kazen membuat Seren terdiam, kini dia mengerti kenapa Kazen tertarik pada Rita.
Seperti Alex, Kazen memilih warna kesukaan Rita yaitu hijau, pink dan putih. Pink sudah tentu bukan warna kesukaan Rita.
Warna pink disini adalah bunga Sakura yang menjadi kesenangan Rita. Pink tidak masuk warna yang Rita sukai juga.
"Bisa buat bunga Sakura?" Tanya Kazen pada koki.
"Tentu," jawabnya dengan gembira.
"Yahh kok pilih yang itu sih? Katanya mau aku pilihkan?" Tanya Seren sebal.
"Aku merasa yang kamu pilihkan terlalu mencolok," kata Kazen. Yah kebanyakan yang disukai Seren sih.
Seren cemberut dan Shin meninggalkan sahabatnya sendiri, menunggu kue tart itu selesai.
"Rita lebih cantik dari aku ya?" Tanya Seren.
"Kamu lebih cantik. Jangan marah hanya karena dia tidak menyukai pilihanmu," kata Shin menenangkan.
"Kok dia seperti sudah tahu banyak ya?" Tanya Seren melihat Kazen mengambil sesuatu dan mengumpulkannya.
"Ya dia sudah menyelidiki semuanya sih termasuk chat dengan sahabat serta musuhnya. Juga laki-laki yang pertama mendekati dia," kata Shin.
"Hah!? Dia melakukan itu lagi?!" Tanya Seren kaget.
Seren merenung sangat banyak perubahan yang dilakukan Kazen dari jaman dulu dan sekarang.
Yang sekarang dia tidak nakal, terlihat dewasa. Penuh perhitungan, apalagi memperlihatkan perhatiannya pada Rita.
"Kazen tidak pernah sama sekali memberikan apapun untuk perempuan. Apalagi baru kenal sehari," kata Seren.
"Nah kan," kata Shin menjentikkan jarinya.
"Rita ini istimewa ya? Aku ikut bahagia," kata Seren tertawa pada Shin.
"Kalau nanti bertemu jangan kaget ya," kata Shin.
"Kok aku jadi semakin penasaran," kata Seren.
"Orangnya biasaaaaa sekali," kata Shin.
Selesai juga hampers buatannya dan dia bangga. Boneka beruang putih sebagai julukan Kazen pun disematkan.
Mereka berdua tertawa kencang bahwa Kazen mengakui julukannya sebagai Polar Bear.
"Awas ya kalian," kata Kazen.
"Lucunya. Sini," kata Seren.
Kazen menolaknya dan cemberut. "Jangan pegang-pegang nanti berubah menjadi besar," katanya.
"Kurang ajar ya kamu. Kamu pikir aku Godzilla," kata Seren yang bermaksud menarik rambut Kazen.
Shin lalu memberikan Seren mawar putih dan Seren merangkul Shin. Kazen menghela nafas, dia melihat apa yang pernah Alex berikan pada Rita.
Menurutnya cake yang dia berikan sangat aneh. Inilah yang terbaik.
Rita tidak menyukai bunga yang romantis jadi Kazen membeli bunga yang bertolak belakang dengan Alex.
Anyelir, Azalea, Camelia, Cosmos, lavender dan tulip ( ya karena bagus artinya ). Itu semua dijadikan karangan bunga yang indah.
"Kamu mau memberikan bunga itu kepadanya? Banyak sekali," kata Seren yang sudah reda.
"Dia itu baru mendapat kecelakaan kan pasti sedih tidak bisa kemana-mana. Kita kembali ke kantor dulu ya," kata Kazen yang sudah membayar semuanya.
"Lho? Kapan menjenguknya?" Tanya Seren.
"Kita jemput teman-temannya dulu supaya ada alasan kan. Mereka akan terus mencari sampai dapat siapa aku. Dan kenapa mengirimkan pesan itu," kata Kazen.
Bersambung ...