MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
27



"Ah, rasanya tidak enak kalau di traktir terus sama kamu," kata Koma.


"Hmm ya sudah tidak jadi. Bagaimana, Diana?" Tanya Rita.


"Ayo! Kita tinggalkan Koma saja," kata Diana menyeret tangan Rita menuju ruangannya.


"Eh aku juga ikut! Iya deh tapi nanti giliran aku ya yang mentraktir," kata Koma melipat tangannya.


"Siap. Tunggu sebentar ya sebentar lagi waktunya pulang. Aku mau bereskan semuanya dulu," kata Rita masuk ruangan.


Koma dan Diana menunggu sambil duduk di depan ruangan, mengobrol dengan seru mengenai sekolah Rita.


Hanya bertemu dengan keduanya saja masalah seberat apapun yang Rita alami, tiba-tiba menghilang begitu saja.


Karena mereka adalah penghilang stres meskipun mereka juga memiliki masalah.


Bagaimana dengan Alex? Setelah Putusnya dia dengan Rita, Alex pun berkutat dengan kesibukannya meski kondisinya agak mengkhawatirkan.


Dia menerima semua keputusan Rita meski terkadang, di sela sibuknya dia selalu memeriksa ponselnya.


Mungkin saja Rita akan kembali menyapa.


Namun tidak ada apapun, Alex menghembuskan nafasnya.


Masih tetap pada pendiriannya bahwa Rita salah menilai tujuan Ney.


Alex juga kadang berkomunikasi dengan Ney untuk mencari sesuatu yang dinilai Rita cukup aneh.


Dia menyamakan beberapa cerita yang ternyata sangat bertolak belakang.


Ney bertindak sesuka hati mengetahui Alex lebih mempercayainya, bahkan hal bohong pun Alex percayai.


Bahkan menceritakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata adanya.


Apakah mungkin Alex akan semakin mengetahui sesuatu yang aalah pada Ney? Akankah Alex menyadari sesuatu yang tidak sesuai kenyataannya?


Yah, soal Alex kita akan kesamping dulu sementara waktu.


Kembali pada Prita dan Rita yang akhirnya mengajak Diana dan Koma untuk makan sore bersama.


Mereka berlima bersenang-senang dan Rita sudah lama juga tidak mentraktir mereka berdua.


"Wah, sudah lama juga ya kita tidak bermain lagi hehehe," kata Koma gembira.


Mereka saling berpegangan tangan dan Prita bersama temannya berada di belakang.


Mengobrol untuk mengajak 2 temannya lagi.


"Cieee yang diterima di tempat kerja," kata Rita menggoda.


"Hah? Kita diterima?" Tanya Diana kaget.


"Kalau kalian sudah dibagikan jadwal tes mengajar tandanya sudah diterima," kata Rita ketawa.


"Jangan-jangan tes mengajar itu hanya formalitas?" Tanya Koma.


"Ya begitu deh. Asalkan kalian kreatif pasti diterima, kan aku juga begitu," kata Rita menunjuk dirinya sendiri.


"Wah!" Kata Koma sangat senang.


"Yey," kata Diana ber tos ria.


"Jadi... kita bisa bersama lagi deh," kata Rita yang ikut senang.


"Kalian tahu soal kita melamar ke sekolah kamu, terdengar juga oleh Asma. Dia pasti ikut melamar," kata Diana sebal.


"Hah!? Kok bisa?" Tanya Koma dan Rita bersamaan.


Orang seperti Ney sudah tentu banyak dan pasti ada yang lainnya termasuk seperti Asma.


Bedanya, Asma masih lebih baik dari Ney. Sifatnya yang sangat berbeda hanya mudah Kepanasan, alias mudah iri tetapi bukan tipe Kepo.


Asma lebih terlihat iri karena Rita bisa menjadi sahabat bagi Diana.


Tetapi tidak begitu bersahabat dengan Koma, mungkin agak sama ya dengan Ney.


Hanya Ney yang iri secara keseluruhan pada Rita dan mungkin Ney juga iri pada beberapa temannya yang lain.


"Kalian waktu itu diskusinya bagaimana kok dia bisa tahu?" Tanya Rita sambil jalan.


"Kalau kita sih hanya berdua mungkiiin dia curi dengar saja Ri. Soalnya tiba-tiba dia chat ke aku begini, "Aku juga dalam waktu dekat ini mau melamar ke tempatnya Rita," ih sebal!" Kata Diana.


"Kalau ada juga salah satu guru atau staf harus ada yang keluar. Mana kepala sekolah lagi ada keperluan ke luar kota," kata Rita.


"Ya kalau sudah penuh mana bisa juga kan. Dia mah begitu ya suka ikut-ikutan," kata Koma manyun.


"Agak mirip Ney. Merasa tidak?" Tanya Rita.


"Oh Iya! Betul betul mirip! Bedanya kalau Asma hijaber kan, Ney tidak. Tapi jujur sih tipenya sama," kata Koma ketawa.


"Asma lebih dewasa dan tidak kepo meskipun yah rasa irinya itu lho. Mengganggu sekali," kata Diana.


"Kenapa sih dia begitu ya?" Tanya Koma heran.


"Dia secara terang-terangan bilang tidak suka kamu kan, Koma," kata Rita menahan tawa.


"Iyaaa tapi dia lebih baik sih jujur ya tidak suka sama orang dan benar-benar menghindari beda sama mantan teman kamu tuh," kata Koma cekikikan.


"Iya lebih baik Asma kan," kata Rita.


"Lebih baik tidak dua-duanya lah tapi tidak bisa ya. Hitam selalu ada dengan Putih kan," kata Diana.


"Kamu tidak balas?" Tanya Koma.


"Aku jawab Oh saja," kata Diana malas.


"Dia itu penuh kecemburuan sama aku, terus kamu," kata Rita.


"Iya kenapa sih? Terus bagaimana dengan tempatnya bekerja sekarang? Masa dia tinggalkan begitu saja?" Tanya Koma.


"Tukar saja dengan kamu tuh," kata Rita.


"Eh jangan! Tidak seru ah kalau dia yang masuk. Janganlah Kom, sudah jangan kemana-mana," kata Diana ketakutan.


"Haha ya mana mau saya juga, Na. Sudah diterima masa keluar? Bisa-bisa di cap mempermainkan," kata Koma.


"Biarkan saja dia mencoba," kata Rita angkat bahunya.


"Hubungan kamu sama yang aneh itu kok bisa sih sampai lama?" Tanya Koma.


"Ya lama juga banyak ketidak bersamaannya Kom," jawab Rita menggandeng tangan Diana dan Koma.


"Oh begitu. Jadi sebenarnya istilahnya memang sudah menjauh ya kamu ke dia," kata Koma.


Rita mengangguk.


"Kurang ajar ya beraninya main keroyok ke kamu, coba dia bully kamu sendirian," kata Diana geram.


"Harusnya sih begitu kalau dia ada masalah dengan kita. Bukan malah menyeret orang, berarti itu tandanya dia tidak berani," kata Koma.


"Sudah, Diana. Jangan sebut lagi namanya deh. Lagian sudah lama juga aku Putus dari dia. Baru sadar orangnya begitu," kata Rita.


"Masih ingat tidak waktu Diana menampar dia?" Tanya Koma ketawa.


"Hahaha," mereka bertiga tertawa mengingatnya.


"Memang kurang ajar sih Ri, dia hina kamu terus bicaranya tinggi sekali. Tidak cocoklah, tidak kaya lah, aku kan memang suka barang ber merk ya kata dia kalau Rita sama sekali tidak akan mengerti harga barang mahal," kata Diana dengan wajah juteknya.


"Hahaha memangnya kenapa? Memangnya aku harus bilang "Wow! Mahal" kan aneh," kata Rita tertawa.


"Yah kalau Diana suka barang mahal apa efeknya sama Rita? Mau dia peduli atau tidak kan justru kita carinya kenyamanan ya," kata Koma tertawa.


"Terus bilang kalau Rita itu tidak selevel sama aku. Aku sebal sekali sikapnya seperti dia putri raja," kata Diana menjiplak kelakuannya.


"Terus kamu bilang apa sampai dia agak syok," kata Rita.


"Aku bilang, Maaf ya aku tidak minat berteman sama yang Tidak Selevel seperti kamu," kata Diana dengan nada tingginya.


"Yah, salah sih lawannya orang Palembang. Kalah galaknya," kata Rita ketawa.


"Rita anak Sunda tapi galaknya melebihi orang Padang. Makanya aku kira kamu Padang Sunda, Ri," kata Diana.


Koma dan Rita tertawa keras begitu juga Diana. Prita memandangi kegilaan mereka bertiga.


"Kakak kamu lebih kompak ya sama mereka berdua daripada yang lalu," kata Anna.


"Iyalah, Teh Koma dan Teh Diana lebih disukai oleh keluarga. Karena sangat pengertian dan bukan tipe teman pembully. Pokoknya kalau sama mereka, aku juga bisa tenang," kata Prita.


Bersambung ...