MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
75



"Dengar tuh apa kata Ayah. Kamu ini kok bisa-bisanya mudah percaya sama wanita. Sekarang baru kenal sudah mulai kumat," kata kakaknya, Mina.


"Kalau tidak percaya, tanya saja Shin!" Kata Kazen pergi menuju kamarnya di lantai tiga dengan sebal.


Ruang keluarga luas sekali, satu orang bicara, suaranya bisa terdengar kecuali bisikan.


Mereka semua berpandangan kemudian menghubungi Shin melalui televisi.


"Ayo kita tanya," kata Mina semangat berbeda seperti apa lagi sih?


"Assalamualaikum," sapa Shin.


"Walaikumsalam, Shin apa Bibi mengganggu?" Tanya Mamanya Kazen.


"Oh, Bibi. Sama sekali tidak, ini baru saja pulang ke rumah. Ada apa?" Tanya Shin langsung duduk di sofa.


"Dengar-dengan Zen sedang pendekatan dengan perempuan lagi? Kenapa kamu tidak halangi sih?" Tanya Mama.


"Zen ngecengin dia dari setahun lalu sebelum berangkat ke NY. Sudah sudah juga," kata Shin garuk kepalanya.


"Setahun lalu?" Tanya mereka bertiga.


"Tapi kok Zen tidak pernah cerita ya?" Tanya Ayahnya membetulkan kacamata.


"Yaaaa karena Bibi suka mengganggu kan. Tes segala macam, sepertinya Zen tidak suka cara Bibi," kata Shin.


"Iiih itu kan ada manfaatnya. Bibi tidak mau ya Zen berkenalan dengan perempuan matre. Seperti yang terakhir itu lho," kata Mamanya.


"Hahaha tenang saja Bi, kata Zen sudah kapok dan sekarang tampaknya memang serius deh," kata Shin memberitahukan.


"Benarkah!? Ceritakan perempuan yang sekarang seperti apa," kata Mina tertarik. Bisa juga adiknya tobat.


"Aku yakin kalian semua akan terkejut karena berjilbab. Bukan jilbab yang liar ya sampai pinggang," kata Shin.


"Berjilbab!? Serius? Bukannya Kazen tidak suka ya?" Tanya Minna.


Ayah dan Ibunya berbeda, mereka langsung sujud syukur ke lantai. "Alhamdulillah, benar tobat dia,"


"Anti jilbab ternyata gebetannya yang berjilbab. Dasar aneh!" Kata Minna.


"Kamu serius kan bukan menyembunyikan yang biasanya?" Tanya Mama curiga.


"Demi Allah, Bi serius! Kami sudah bertemu sama orangnya," kata Shin.


"Sudah bertemu!?" Tanya mereka lagi.


"Memang sih jauh dari tipenya Zen, cantik juga putih terus tinggi. Yang jelas tidak terduga bukan tipenya. Saat aku marahi, kedua matanya berubah serius," kata Shin.


"Wah, dia serius jatuh hati tuh. Kalau setahun lalu kan perempuan itu bisa jadi sudah punya kekasih kan," kata Minna.


"Tampaknya sudah putus secara kurang baik. Karena wajahnya agak sediiih sekali kalau menatap Kazen," kata Shin.


"Kalau sudah jatuh cinta pasti sudah dia lupakan sih, Shin. Mama berdoa kali ini dia benar mau serius," kata Mamanya terharu.


"Iya Bi, karena dari bulan lalu dia stalker orangnya sampai memasang cctv di enam tempat berbeda," lapor Shin.


"APA!? Lagi-lagi dia seperti itu. Sudah Ayah katakan, kalau ketahuan bisa ditangkap polisi apalagi untuk urusan pribadi. Cinta lagi," kata Ayahnya marah.


Tiba-tiba...


"AKU BUKAN STALKER!!!" Teriak Kazen dari lantai tiga dengan marah, lalu menutup pintu kamar dengan keras.


Kemudian keluar lagi dan menjelaskan dari atas. Ketiganya hanya mendengarkan.


"Aku sudah bilang ke Shin kalau aku tidak menguntit dia. Saat itu aku ingin sholat di mesjid ITB Bandung. Memangnya tidak boleh?! Bertemu dia itu kebetulan!!" Teriaknya lalu masuk kamar lagi.


"Iya iya, jangan marah begitu dong. Kan hanya nanya," kata Mina melihat adiknya sudah tidak ada.


"Kumat marahnya," kata Mamanya tertawa.


"Harap maklum Bibi, tadi gadis itu mendapat kecelakaan. Dia di pepet mobil berisikan enam remaja tanggung dan kaki kanannya retak," cerita Shin agak sedih.


"Astagfirullah! Lalu bagaimana keadaannya?" Tanya Ibu dan Ayahnya kaget.


Shin menceritakan semuanya, Mina sangat takjub hanya karena satu perempuan jilbab itu, membuat adiknya sangat cemas.


"Kamu tahu dimana rumah gadis itu?" Tanya mamanya cemas.


"Tahu dong kan kami takut mereka bertemu remaja jahat lagi. Jadi kami ikuti mereka dari belakang," kata Shin.


"Ya baguslah. Lantas saja kalau begitu, besok antar kami ke rumahnya ya," kata Mama membuat Minna dan Shin kaget.


"Sebentar Ma, adik aku yang bodoh dan bermuka es itu dan gadis itu baru kenal, Ma. Apa sopan tiba-tiba kita datang hanya karena Zen baru sehari kenal dan menolong?" Tanya Mina.


"Iya ya," kata Mamanya berpikir.


"Lagipula akan aneh sayang. Kalau kita datang ada kemungkinan akan jadi pihak yang disalahkan. Para remaja tidak ada yang datang untuk minta maaf, bukan? Lalu kita tiba-tiba datang?" Tanya suaminya.


Mamanya batal mendatangi rumah Rita hanya untuk berkenalan. Shin juga lega, hampir saja!


"Habis Mama senang sih akhirnya Zen kenal gadis yang benar. Apa orangnya baik dari penampilannya?" Tanya Mama.


"Hmm kalau menurut aku sih baik hanya agak murung. Baru sehari bertemu malam juga. Kazen tampaknya sudah tidak sabar untuk kenal," kata Shin tertawa.


"EH!?" Tanya mereka.


"Ma, sudah sudah jangan mulai lagi mau ikut campur. Semuanya jadi berantakan kan," kata Mina tidak setuju.


Mama Kazen cemberut mendengarnya. Mina menjelaskan lagi kalau cara ibunya itu norak.


"Kok kalian begitu sih? Mama kan hanya... ingin kenal baik," kata Mamanya ngambek.


"Kakak setuju apa kata Ayah kalau mama terlalu ikut campur, terlalu kepo. Semua yang dipilih oleh Zen, mama yang sibuk dan heboh memperbaiki. Akhirnya? Mama tahu kan?" Tanya Mina.


"Iya. Semua benar bersamaan. Kazen kecewa makanya sengaja tidak cerita soal gadis ini," kata suaminya memeluk bahu.


"Maaf Bi, aku juga sependapat dengan Mina dan Paman. Untuk kali ini, cukup percaya pada Zen. Dia sudah sangat dewasa memilih jalan yang dia inginkan," kata Shin meminta maaf.


"Ih, Shin juga memihak begitu. Ya sudah kalau begitu, Mama tidak akan ikut hanya mengawasi ya," kata Mamanya.


"Benar ya. Jangan ikut campur!" Kata Mina.


"Tapi harus jadi lho karena perempuan yang berjilbab itu tidak semuanya jelek. Lina juga berjilbab kan hanya Zen tidak suka katanya terlalu manja," kata Mama.


"Lina kan memang manja sekali Ma, sampai minta Zen tidak bekerja dan hanya menemani dia. Siapa juga sih yang tidak suka," kata Mina.


Namanya hanya diam mendengarkan anak pertamanya. Mamanya juga sebenarnya kurang sreg waktu masakannya di protes.


"Memang kenapa harus jadi?" Tanya Ayah.


"Mama tidak sabar ingin menimang cucu dari Zen," kata Mamanya dengan malu.


"Ya elah, Ma! Kan Mina ada," kata Ayahnya menepuk jidat.


"Ada dua lagi, kembar tuh!" Kata Mina yang anaknya berada di rumah sepupu.


"Ya memang tapi kan mama juga ingin Zen punya anak. Biar mereka tinggal disini supaya rumah ini berisik," kata Mamanya.


Kemudian mama menuju kamar sambil membayangkan entah siapa gadis yang Zen pilih kali ini. Dia berjanji tidak akan lagi mencampuri.


"Setidaknya mama kamu sudah beri lampu hijau. Selanjutnya..." kata Ayah memandangi kamar Kazen di lantai atas.


Mereka mengobrol lagi dengan Shin dan kita beralih ke dalam kamar Kazen.


Kazen berada dalam kamarnya yang lumayan luas dengan permainan PS terbaru, dan ruangan olahraga.


Kamar mandi yang luas terdapat bathtub yang modern. Komputer, lemari semua serba keren.


Dia sedang mencari tahu kue atau bunga apa yang cocok untuk orang yang sedang sakit.


Hatinya senang berkenalan termasuk tahu rumahnya berada. Dia tidak masalah bila rumah Rita kecil atau besar, yang penting dia memang sudah jatuh hati kepadanya.


Dia akan berusaha membuat Rita benar-benar melenyapkan ingatan mengenai Alex. Dia siap bersabar dengan Rita.


Pagi hari tiba dalam kediaman Rita, dia bangun dan memeriksa keningnya. Ah, tidak demam ternyata meski aneh.


Bapak dan adiknya memeriksa kamar Rita yang terduduk mengucek kedua mata. Bapak melihat Ibu sedang membuatkan omelette keju kesukaan Rita.


Rita ingin turun dan lupa kalau kakinya diperban dan merintih. "Aku lupaaa," katanya memegang kaki kanannya.


"Kamu ini baru kecelakaan tapi lupa kalau kaki diperban," kata Bapaknya membantu berdiri.


"Kalau nanti kita pergi, kamu bagaimana kalau butuh apa-apa?" Tanya Prita yang memutuskan untuk ijin men dosen.


"Bisa bisa merapat di dinding pelan-pelan," kata Rita.


Dia cuci muka di wastafel dekat kamar mandi. Dan kembali ke kamar lagi.


Bapaknya pergi menyiapkan mobilnya dan ibu datang dengan kesan malas ya dan menaruh piring itu di meja.


"Terima kasih," kata Rita senyum.


Ibunya tidak menjawab dan langsung ke dapur. Sudah lengkap seragamnya, Rita memandangi jam.


Rita makan dengan lahap, makanan yang dibuat ibunya selalu enak. Rita sisakan sebagian untuk siang dan meminum obat.


Dia merasa panas dan ternyata dia demam! Tidak panik, itulah yang selalu Rita gumam kan. Dia meminum penurun demam dan rebahan.


Pukul sepuluh Rita dibangunkan oleh Bapaknya yang isi piring ditambahkan sosis dan nasi kepal buatan Prita.


"Ya?" Tanya Rita agak lemah.


"Bapak tadi membeli kue. Kamu makan ya obatnya pahit kan," kata Bapaknya memberikan sebungkus besar kue yang agak berat.


"Iya, terima kasih," kata Rita senyum lemas.


"Ini buat kamu, Prita dan ibu sudah dapat bagiannya. Bapak harus bekerja, kamu bisa sendiri kan? Ibu juga siap-siap ke sekolah," kata Bapak.


"Iya tadi sudah minum anti sakit dan untuk demam," kata Rita.


"Pergi dulu. Assalamualaikum," kata Bapaknya.


"Walaikumsalam," kata Rita. Dia menghela nafas menatap banyak makanan di mejanya namun nafsu makan sedang menurun.


Bersambung ....