
"Eh iya kamu tahu tidak ada yang di luar dugaan," kata Rita heboh.
"Soal?" Tanya Arnila penasaran.
"Ney Mengikuti ignya Koko dong," kata Rita mengirimkan foto buktinya.
"SERIUS? KOK TAHU? LHO?" Tanya Arnila kaget melihat foto bukti.
"HAHAHA lihat kan. Aku kan salah satu pasiennya Arn. Yang dia ruqyah, aku juga sering konsul soalnya sering diganggu begituan di rumah," kata Rita.
"Iya ya rumah kamu agak angker," kata Arnila ketawa.
"Tapi aku diberi surat yang mantap poll bisa mengusir mereka dan tidak kembali lagi," kata Rita.
"Boleh tidak aku minta? Siapa tahu bisa aku gunakan untuk di sini juga," kata Arnila.
"Boleh boleh. Nih, aku kirim ya," kata Rita.
Dibaca setiap hari, lebih mantul!
Pagi : A'udzu bikalimatillahi taamati min syarri maa khalaq (3x)
Sore : Allahumma ma ashbaha bi min ni'matin faminka wahdaka la syarika laka lakalhamdu wa lakaas syukru (1x)
"Nanti aku ucapkan setiap hari," kata Arnila menyimpan surat tersebut.
"Aku kerjakan setiap hari sudah masuk 3 bulan, alhamdulillah tidak pernah diganggu lagi," kata Rita.
"Lalu soal Koko bagaimana lagi?" Tanya Arnila. Padahal dia sendiri yang bilang kalau Koko itu halusinasi. Eh sekarang Ney malah mengikuti ignya.
"Pas aku iseng kan lihat-lihat ig terus buka ignya Koko. Ada doong nama dia terus sudah di terima sama Koko!" Kata Rita.
"Hah!? Ihh tuh anak kenapa ya. Sepertinya malu deh Rita ternyata ada orangnya," kata Arnila menggelengkan kepala.
"Hahaha iya pasti malu sekali tub pad lihat memang ada orangnya. Terus aku chat Koko kan, 'Ko, kenapa diterima itu orang yang bully aku?' 'Hah? Yang mana? Yang mana? Namanya siapa?' "Nih, Ney Grizelle. Aku heran kenapa dia ikuti Koko? Ihhh,' 'Ok, aku blokir ya. Sudah tuh,' Begitu," Rita menceritakan.
"WOH!! Langsung?" Tanya Arnila kemudian mencoba melihat.
Iya nama Ney sudah tidak ada, isinya hanya keluarga besar Rita dan sepupunya.
"Langsung doong. Sudah lihat kan? Enak saja sudah bilang aku halu, kamu tuh yang halu!! Bisa-bisanya bilang Koko itu bohong eh dirinya sendiri Mengikuti ignya. Malu ya Mbak?" Tanya Rita langsung ketawa
Arnila tertawa juga ya ampun ada-ada saja! "Kalau tahu namanya di blokir marah tuh," katanya.
"Bodo! Maaf saja ya dia mau masuk, bukan level aku tuh. Ogah sekali aku kenalkan Koko ke tukang bully," kata Rita.
"Begini nih kalau semua orang dijadikan musuh. Saat nanti dia butuh bantuan, sudah mintanya," kata Arnila.
"Iya jangan sampai ya kita jadi orang yang meninggi bukan merendah. Tapi merendah pun jangan sampai membuat diri direndahkan," kata Rita.
"Setuju! Kira-kira dia sadarnya kapan ya kalau Koko blokir dia?" Tanya Arnila.
"3 hari paling tapi kalau dia kepo ya hari itu juga tahu kena blok," kata Rita.
"Menurut aku dia add Koko karena penampakannya yang ganteng ya," kata Arnila.
"Yahh dia sih memandang orang apalagi laki-laki dari fisik kan sudah nya jadi penyakit mata," kata Rita.
"Iya biasanya membandingkan kenapa begini kenapa begitu," kata Arnila yang juga sudah tahu seperti apa Ney.
"Aku tidak akan lagi memberikan kesempatan dia untuk kenal atau dekat yang aku kenal. Termasuk Koko," kata Rita.
Arnila tertawa ya pasti tidak akan lagi mau buka celah kalau sudah seperti ini.
"Koko jarang aktif ya di ig?" Tanya Arnila yang mencoba menyapa.
"Hmm susah sih kalau ada orang yang mengontak mau itu chat ig atau nomor, hanya untuk niat kepo, main-main, bertanya iseng, tidak akan di balas. Sepertinya Koko bisa tahu ya mana orang yang memang butuh bantuan," kata Rita.
"Kalau dia terima juga kan susah dihubungi Rita. Kamu minta Koko blokir untuk apa?" Tanya Arnila.
"Koko juga mengerti kan kalau memang Ney sumber masalahnya. Jadi dia tidak masalah sih," kata Arnila.
"Iya, katanya dia itu tidak bersyukur seharusnya dia tidak banyak ulah hanya karena iri. Sudah syukur ada orang yang mau jadi temannya eh malah diusir," kata Rita.
"Oh! Begitu ya. Iya sih memang aneh, beberapa orang tulus jadi temannya tapi ya begitu akhirnya malah membuat semuanya pergi. Semua orang yang sudah tahu ya sama dengan kita sih," jelas Arnila.
"Yang aku heran sih ngapain dia sampai neror nelepon segala? Pakai nomor lain, berkali-kali?" Tanya Rita tidak paham.
"Ya itulah kesukaannya, orang-orang yang tidak suka sama dia dikejar terus mungkin ada tantangan sendiri daripada yang suka dia," kata Arnila.
Sama dengan yang terjadi pada keduanya sampai sekarang. Meskipun entah bagaimana dengan kabar Arnila.
"Saat dia banyak memfitnah, itu saat aku sedang diterima kerja, Arn. Jadi aku sih tidak ada waktu untuk membicarakan dia. Ternyata aku diterima sebagai staf," kata Rita.
"Wah, lebih asyik ya bisa membuat lupa masalah kemarin. Kalau dia sih terus saja seperti menyogok aku dengan kisah karangan dia soal kamu," kata Arnila.
"Heran tuh orang. Terus selain itu ada lagi?" Tanya Rita.
"Ada tapi kamu jangan marah ya soalnya tidak enak juga sih aku ceritanya," kata Arnila.
"Yahh sudahlah cerita saja. Toh kelakuan dia memang edan kan," kata Rita.
"Dia ada cerita kalau kamu itu sebenarnya Penyihir," kata Arnila.
Rita yang mendengarnya sangat terkezut! "APA!? Atas dasar apa dia menuduh aku begitu? Kurang ajar!"
"aku juga bengong mendengarnya semakin aneh dia menuduh kamu. Penyihir bagaimana coba?" Tanya Arnila.
"Kalau memang iya aku ubah kamu jadi naga buat terbang kerumahnya. Dan bakar hidup-hidup dia tuh," kata Rita dengan kesal.
"Hahaha keren aku jadi naga. Dia bilang begitu aku peringatkan, jangan suka mengatakan orang dengan seenaknya apalagi Penyihir. Jaga omongan kamu, aku bilang begitu terus dia diam. Dia tidak tahu kan karakter orang itu seperti apa," jelas Arnila.
"Parah asli. Kamu bisa lihat sendirilah orang gila yang sesungguhnya seperti apa, dia tuh otaknya ada yang rusak. Edan, aku penyihir? Hanya ada dalam game RPG kelas Witch," kata Rita.
"Karena itulah aku bilang kalau dia sudah banyak menyakiti orang dengan mulutnya. Suatu hari semua itu akan berbalik ke dia," kata Arnila.
"Ah, sudahlah nanti juga kena batunya. Biasanya orang yang mulutnya suka keluar kata jahat,kebohongan nanti dia sendiri yang alami. Mungkin saja sekarang dia lagi buat ramuan sambil ketawa Hihihi seperti nenek lampir," kata Rita.
"Hahahaha bisa jadi sih," kata Arnila tertawa.
"Lihatlah siapa yang suka menakut-nakuti orang dengan cerita zurig-zurig? Yang senang mengobrol sesuatu mistis. Penyihir yang aku lihat dalam film ya begitu kerjaannya. Rambut dia saja sudah mirip nenek lampir," kata Rita.
Mereka berdua sempat melihat foto Ney yang sekarang. Di cat warna-warna yang tidak cocok jadinya lebih mirip pemeran jahat di Dalmation 101. Rita pernah katakan hal itu dan Ney kesal. Memang menurutnya sama sekali tidak cocok.
Seharusnya sebelum memakai Ney lebih dulu melakukan penelitian. Bukan asal pakai saja, dari warna dan bentuk wajah yang cocok. Bertanya pada ahlinya bukan seenak matanya.
Tidak heran jadi bahan ketawa Rita yang melihatnya. Niat untuk menjadi lebih manis atau imut, malah terlihat seperti nenek-nenek.
"Tapi memang tidak cocok ya," kata Arnila.
"Ya dia harusnya lihat dulu dari warnanya dibayangkan bukan asal nempel-nempel. Mana warnanya malah membuat dia kelihatan sangat tua. Lihat tuh banyak artis atau orang-orang, bertanya ke orang dekat bagus yang mana," kata Rita masih tertawa.
"Sama dengan skincare ya berarti," kata Arnila yang sudah memakai warna cokelat.
"Iya. Kamu pakai?" Tanya Rita.
"Hehehe aku pakai cokelat tapi kata dia jelek. Ah bodo amat justru yang dia lebih aneh," kata Arnila.
"Aku juga pakai warna cokelat," kata Rita.
"Sama! Aku coba-coba ke salon. Kamu?" Tanya Arnila.
"Sendirian lah sudah biasa maskeran wajah. Aku coba rambut, boleh juga. Nanti mau coba warna pirang," kata Rita.
Bersambung ....