MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
KAZEN MAHENDRA DARMA ( Meet - Perkenalan )



"Kesal juga mereka membicarakan aku karena badan tinggi. Terus aku akan merebut kekuasaan mereka, apaan sih?!" Kata Rita dengan nada sebal.


Diana tertawa dengan keras. "Oh iya kamu itu tidak pernah ikut ospek kan ya?"


"Tidak," jawab Rita.


"Kenapa? Kan asyik siapa tahu bisa gebet senior laki-laki," kata Diana.


"Mana adaaa jurusan guru TK ada mahasiswanya. Kalau jurusan Sekolah Dasar tuh baru ada. Lihat saja kita sekelas bidadari semua," kata Rita ketawa.


"Hahaha oh iya ya tapi kenapa kamu tidak datang?" Tanya Diana masih tertawa.


Memang dia kalau sudah tertawa, kesananya mau ada perkataan lucu atau tidak pasti ketawa.


"Jangan ketawa terus nanti wibawanya hilang. Malas saja paling yang senior pamer mereka lebih berkuasa. Kalau ada yang cantik pasti diculik," kata Rita.


"Hahaha yah namanya juga kesempatan dalam Ospek. Sudah begitu kan di sinetron juga sama," kata Diana.


"Pencarian jodoh," kata Rita.


Mereka berdua tertawa bersamaan, yah teman kuliah mereka ada empat orang yang seperti itu. Ospek bagi mereka adalah pencarian jodoh.


Entah kalau di universitas lain.


"Kalau ikut ospek meski dimarahin atau jadi target senior laki-laki, setidaknya bisa kenalan lebih awal dengan yang lain," kata Diana.


"Kan bisa kenalan kalau masuk kuliah. Memangnya kamu ikut ospek?" Tanya Rita.


"Tidak," jawab Diana.


Rita mendorong bahu Diana, dan mereka bercanda dalam kamar spa tersebut dengan ketawa yang agak keras.


Di luar ruangan spa, dua petugas perempuan saling berpandangan.


"Baru kali ini dapat pelanggan yang bisa bertahan lama saat spa," kata Susi.


Ria mengangguk, "Tampaknya mereka sahabat dari kuliah. Lupa akan panasnya ruangan spa,"


Mereka kemudian mengobrol soal Rita dan Diana betapa kerasnya tawa mereka.


Setelah lima belas menit selesai, mereka keluar dan disambut angin yang segar. Langsung dari jendela yang dibuka.


"Wah, dari sini terlihat kebun stroberi," kata Diana yang antusias.


"Minumannya apa mau disediakan sekarang?" Tanya petugas spa.


"Nanti saja mbak kalau sudah sampai lima," kata Diana. Rita setuju.


"Kalau begitu ini minuman setelah melakukan spa supaya badan kembali segar. Karena masih ada beberapa yang harus dilakukan," kata mbaknya menyiapkan dua cangkir teh hijau.


"Wah asyik juga disini," bisik Diana pada Rita.


Rita mengangguk memang enak, setiap bulan dia selalu datang tapi semenjak mulai bertumpuk tugas, jadi lupa.


Selanjutnya mereka melakukan perawatan tangan dan kaki, dengan ditemani aroma terapi yang berbeda namun lembut saat dihirup.


Petugas memijat tangan dengan lembut dan penuh tekanan. Membuat mereka rileks terkadang terasa sakit apalagi Rita.


Kemudian kening buat mereka menjadi mengantuk.


"Tangan dan kakiku seperti tidak ada," kata Diana membuat Rita dan petugas tertawa.


"Bersyukurlah aku dipecat," kata Rita yang kebalikan membuat Diana tertawa.


Kemudian beralih saat mbak lain datang dan memberitahukan melakukan pembersihan wajah. Inilah yang paling Rita tidak suka tapi harus demi membuat kulitnya segar dan awet muda.


"Ahh pasti sakit," kata Rita sebal.


Memang kebanyakan sakit sih kalau soal Facial. Apalagi tekan komedo, haduh! Benar saja mereka harus menahan sakit hidungnya ditusuk.


Petugas jelaskan bahwa alatnya tumpul sampai diperlihatkan pada mereka.


"Tapi kenapa sakit," kata Diana yang meneteskan air mata.


"Itulah kenapa aku tidak suka Facial!" Kata Rita menahan sakit. Dia merasa seakan-akan hidungnya akan berdarah.


"Tidak berdarah tapi memang menyakitkan," kata petugasnya.


Sepuluh menit berlalu dengan rasa cenut-cenut di hidung mereka. Untunglah supaya tidak bengkak dan sakit, hidung mereka ditempel perekat.


"Ini gunanya untuk mengurangi rasa sakit. Jangan dicabut tunggu sampai kering sendiri," kata petugasnya.


Rita dan Diana meneteskan air mata menuju ruang tamu untuk rehat sebentar.


Rita dan Diana duduk selonjoran.


"Aduuuh, ini kenapa perawatan begini aku suka tapi ada yang tidak aku suka. Ya ini," kata Rita meringis.


"Aku pikir berdarah. Alatnya tumpul tapi kok sesakit ini ya. Lain kali sebelum ke sini, kita pasang perekat komedo dulu, Rita," kata Diana. "Selanjutnya apa?" Tanya Diana.


"Pemijatan kepala dan rambut. Dikeramas mirip salon tapi dengan dibalur bahan herbal," jelas Rita memberikan keterangan.


"Untung yang begini sebulan sekali. Kalau aku ke sini setiap minggu," kata Diana.


"Hidung kamu bolongnya bertambah," kata Rita. Mereka tertawa lagi.


Kita mengulang ke beberapa minggu setelah Rita dikabarkan di pecat secara sepihak.


Dengan meja yang mewah dan megah duduklah pemuda tampan dengan setelan kemeja putih beserta jas, tersemat logo perusahaannya.


Tatapannya sangat serius dan kadang terlihat merenung dan berpikir ke arah layar laptopnya.


Wajahnya putih, kedua bahu yang tegap mirip pipa terbuat dari beton. Ya pokoknya lurus, keren dan tegap deh.


Mirip beruang kutub utara yang warnanya putih. Kalau diam mirip beruang yang jinak, setelah kenal lebih baik kabur ke balik dunia.


Pemuda itu menghela terus menerus kadang menutup wajahnya dan berdiri di jendela mencari sesuatu.


Rekan kerja datang untuk melaporkan pekerjaannya sama sekali tidak di gubris. Di sapa sampai di ketok juga sama sekali tidak terdengar.


"Kenapa si bos? Menghela terus aku lihat," katanya menghampiri.


Pemuda itu tidak tahu bahwa rekannya mendekati meja dan melihat apa yang dilakukannya.


"Bos," kata rekannya lagi. Tidak ada jawaban.


Dia mendengar bisikan halus, dan mendekatkan telinganya pelan.


"Kemana dia?" Tanyanya termenung menatap... layar laptop yang berisi penampakan dari cctv.


Rekan bingung kenapa juga cctv dia lihat begitu serius. "Siapa?" Tanya rekannya.


Pemuda itu masih serius menatap laptopnya. Wajah rekannya bete tapi dia juga menjadi penasaran, apa sih yang dicari?


"Kamu mengawasi siapa sih?" Tanya rekan.


Pipinya dia sengaja di tempelkan ke bosnya yang masih tidak sadar. Pemuda itu tersentak bulu kuduknya berdiri dan kaget memandangi rekannya.


"Apa-apaan sih?" Tanyanya sambil berdiri agak marah.


Dia mendorong pemuda itu menjauhi laptopnya dan di tutup.


"Tidak perlu semarah itu. Kau memandangi layar dengan serius sampai tak dengar sapaan dan ketukan," kata rekannya bernama Shin.


"Tidak ada apa-apa," katanya memegang laptopnya seperti memegang buku.


"Ayolah, beritahu aku siapa tahu bisa membantu. Tumben kamu memasang banyak cctv sejak kembali dari New York," kata Shin meletakkan map.


"Tidak banyak hanya enam," kata pemuda itu membetulkan kemeja dan jasnya.


"Itu banyak! Lalu?" Tanya Shin melipatkan tangannya. Badan Shin tidak jauh beda dengan pemuda tersebut.


Gagah dan juga atletis tapi berkulit kuning langsat, rambutnya lurus dia buat gaya mirip Cha Eun Woo.


"Hmmm, begini sebelum aku ke NY sebenarnya aku sudah ada gebetan disini," kata pemuda itu.


"Hmmm tidak mengherankan. Di setiap negara kamu punya gebetan," kata Shin membuat pemuda itu terdiam.


"Tapi ini berbeda. Ya, aku akui itu benar," kata pemuda itu menjelaskan.


"Bedanya apaaa? Dia punya jenggot? Atau wajahnya aneh?" Tanya Shin.


"Berjilbab," kata pemuda itu membuat Shin terdiam lalu ketawa sangat keras.


"HAHAHA mana mungkin kamu punya gebetan berjilbab. Kamu harus diperiksa ke dokter," kata Shin tertawa.


"Tiga hari lalu aku melihatnya. Yang lalu tiga bulan aku kembali ke Bandung lagi. Dia masih sama. Aku punya banyak gebetan tapi tidak satupun yang menjalin serius kan," kata pemuda itu.


"Iya juga sih. Kamu hanya sebatas bermain, sebatas kekasih yang sering dicampakkan," kata Shin masih tertawa.


Pemuda itu tidak peduli yang penting gebetannya ternyata masih sama. Meski dirinya pergi berkelana jauh ke negara lain.


"Sudahlah! Aku tidak percaya kamu serius. Bagi kamu semua wanita itu takdirnya untuk dipermainkan. Ingat kan," kata Shin yang beranjak pergi.


Pemuda itu menarik kerah baju rekannya dan menyeretnya untuk duduk.


"Dengar dulu! Kali ini aku serius! Pernyataan aku dulu ya karena kamu tahu posisi aku, lingkungan beracun di sana," kata pemuda itu duduk di depannya.


Shin menghela nafas, yah dia percaya saja deh semoga kali ini sang Jilbab memang membuat bosnya jatuh cinta.


"Lalu apa itu tujuan mu menyuruh warga sana memasang cctv? Dengan produk mahal yang kamu tawarkan?" Tanya Shin.


Pemuda itu mengangguk dan mengambilkan laptopnya lagi. Memutar rekaman sebelumnya.


Rita! Yang menyapa orang tua murid yang berpapasan dengannya.


"Kamu beralasan sebagai pengawas jalanan? Untuk melihat dia!?" Tanya Shin beristigfar.


"Biasa saja keles," ucap pemuda itu menatap Shin yang lebay.


Pemuda itu mengangguk lagi dengan mantap. Dalam kedua matanya, ada keseriusan yang membuat Shin menganggap ini memang serius.


"Aku serius," ucap pemuda itu.


"Ya ampun, Zen! Jangan-jangan itu hanya alasan," kata Shin yang tersadar.


Pemuda itu lalu memukul bahu Shin dengan keras. "Kamu hebat!"


"GILA!" Teriak Shin.


Bersambung ...