
"Kalau tidak bisa menjaga bagaimana?" Tanya Rita.
"Bisa selingkuh karena menurut dia intim sama suami kurang. Biasanya suka cari selingkuhan gitu Rita. Jadi sebelum menikah, harus cari tahu dulu," kata Diana.
"Gangguan kan ya?" Tanya Rita.
"Iyalah. Normalnya kan intim itu cukup dengan suami dan ada waktu-waktunya kan.
Mungkin si pelakunya pernah melakukan itu semasa remaja awal dan ternyata ngeunah! Jadi weh kebiasaan," kata Koma.
Mereka bertiga tertawa bersama. Meski Rita menyembunyikan fakta bahwa Ney memang sering sekali berselingkuh.
Bisa jadi karena hyper ini. Kadang bicara dengan Ney dengan adanya unsur beginian, membuat Rita risih dan enggan banyak bicara.
"Kecanduan **** ya. Namanya Gangguan perilaku seksual Kompulsif atau dilakukan secara berulang-ulang. Beda ternyata dengan libido yang tinggi," kata Diana membaca sebuah artikel dari ponselnya.
"Nahhh maksudku yang ini libido tinggi masih bisa dikendalikan tapi orang yg hyper kalau tidak terpenuhi, biasanya ya cari di luar.
Mereka untuk menghindari nafsu berlebih bisa melakukan aktifitas yang bisa melupakan hasratnya tapi kalau hyper kebanyakan, ya menerobos sih.
Apalagi kalau orangnya senang selingkuh kemana-mana dari sejak pacaran. Udah deh itu mah dijamin rumah tangganya seumur buah terong," kata Koma lalu tertawa.
"Parah!" Kata Rita tertawa.
"Jadi menurut aku Ney itu hypersex. Kalau pas masa SMP dia sampai berbuat begitu. Dia tidak bisa menahan rasa inginnya ber intim," kata Diana.
Mereka berdua memandangi Rita. Rita bingung.
"Ney itu sudah menikah kan ya? Menurut aku dia masih suka cari laki-laki lain da pasti," kata Diana menebak.
Rita mengangguk. Mereka berdua kaget sekali. Rita tidak mau membicarakannya karena dia mengatakan pada Ney soal perselingkuhannya sama sekali tidak minat dia dengar.
"Wah! Sejak kapan?" Tanya Koma.
"Sebelum menikah juga sudah jalan sama orang lain katanya mah sepupu atau teman. Entahlah," kata Rita.
"Kata siapa itu?" Tanya Diana.
"Kata dianya sendiri terus temannya bilang itu pacarnya. Sebelum menikah dua hari kemudian putus terus herannya dia sedih dong. Kovlok kali," kata Rita.
"Beuh. Ya sudah nikah saja dengan orang itu. Ihhh," kata Diana.
"Dia pernah mengaku kalau nikah sama suaminya itu memang karena materi. Uangnya banyak, dia bisa mengubah sesuatu yang selalu diremehkan oleh orang.
Rasa suka dan cinta tidak ada, makanya memang aneh ya dia mau nikah sama tuh perempuan. Mana bilang ke aku kalau nikah sama Alex, anaknya dijodohin. Cuih!" Kata Rita.
Mana tahu juga jodoh Rita sama Alex.
"Hahahaha jangan mau! Emaknya seperti itu Rita Rita. Anak aku atau Diana saja ya kalau anak kamu laki-laki dan perempuan. Semoga saja pas," kata Komariah.
Rita tertawa mendengarnya sepertinya seru kalau memang benar bisa.
"Nih ya aku baca lagi ada ciri-cirinya untuk perempuan hyper. Memang benar kata kita hasratnya tidak mampu ditahan.
Memiliki lebih dari satu pasangan baik dalam pernikahan maupun perselingkuhan. Kalau Ney sudah pasti selingkuh.
Karena pas pacaran juga banyak kan selingkuhannya. Dan ketahuan semua bisa jadi untuk melakukan intimnya.
Kamu aneh kan pacarnya dia tidak ada yang bertahan lebih tiga hari apalagi, kamu sempat cerita kalau dia pernah disebut ***** alias Perempuan murahan.
Jadi ya memang menurut aku ya begitu dia. Ada kemungkinan dia pacaran selama tiga hari, lalu ganti beda lagi ya kegiatannya hanya untuk itu," jelas Diana.
"Hah? Serius dia disebut begitu?" Tanya Koma ke Rita.
"Iya pernah justru aku dibilang pacarnya jangan mau berteman sama dia. Aslinya murahan disebut begitu di depan banyak orang. Ya otomatis kan aku jadi jaga jarak se jauhnya?" Tanya Rita.
"Wahhh," kata Koma kehabisan kata.
"Nih lanjut terlalu sering ganti-ganti pasangan seksual. Jadi kalau ada orang punya pacar A, dia sudah punya cadangan B, nah A putus, dia cari cadangan C. Ya begitu saja terus sampai puas," kata Diana.
"Bisa kena HIV tidak sih?" Tanya Rita.
Diana mencari tahu. "Ow ow ow bisa kena HIV kan berganti pasangan lalu kalau diisi dengan kegiatan intim ya bisa,"
"HIIII," Kata Rita dan Koma.
"Itu mah penyakit yang dia ciptakan sendiri sih. Kalau yang memang niat menikahnya baik, pasti bisa dikendalikan. Atau bisa dibicarakan dengan suami," kata Diana.
"Ya itu mah termasuk kebiasaannya dia waktu remaja tidak ada yang membimbing terus punya teman juga yang sama miring otaknya. Ya sudah hancur semua," kata Koma.
"Untung ya aku bertemu kaliaaaan," kata Rita memeluk kedua bestie nya.
"Iyalah lingkungan kamu sama dia beda jauuuh dari planet Saturnus ke bumi. Keluarga kamu juga kan mengerti agama," kata Diana senyum malu.
"Dia bilang aku pelit sedangkan dia mengaku orang kaya. Tapi beli steak saja bilang tidak punya uang," kata Rita tertawa.
"Pas SMA? Kan masih suka ketemu ya?" Tanya Diana.
"SMP juga pernah. Banyak bohongnya, kaya itu entah maksudnya kaya kemana. Tapi kalau uang tidak begitu banyak," kata Rita.
"Ya makanya sekarang dia lampiaskan karena suaminya banyak uang. Sudah punya anak?" Tanya Koma.
"Ada satu," kata Rita.
"Kebanyakan yang berumah tangga tidak ada lagi urusan sama luaran, Rita.
Tapi kalau dia sampai banyak mengganggu, memang dia anggap keluarganya dia itu tidak penting.
Nanti pasti dia banyak berulah supaya dapat perhatian dari kamu. Ingin dikasihani," kata Koma.
"Lah sekarang? Sama Kazen saja bagaimana?" Tanya Diana.
Rita menceritakan soal Ney yang mendatangi kantor Kazen dengan sengaja. Mereka tidak banyak komentar, memang sakit si Ney.
Mereka berkomentar apalagi wajah Ney terpampang dalam televisi meski di blur tapi mereka kenal sosoknya itu.
Kazen ditarik masuk, dan membungkuk pada Diana dan Komariah.
"Kalian sedang santai?" Tanya Kazen duduk bersama.
"Iya. Meski sekolah sudah dibuka, tapi hanya sampai jam sebelas saja. Jadi kita bisa mengobrol," kata Diana.
"Nih supaya lebih asyik," kata Kazen membawakan dua bungkus keripik Syeton besar.
"Asyiiiik terima masih," kata mereka bertiga.
"Guru yang lain mana? Tumben sepi," kata Kazen.
"Mereka dibawa kepala sekolah ada rencana kita dibagi dua. Aku disini kok," kata Rita.
"Makan nih enak lho," kata Rita membuka telapak tangan Kazen.
Kazen senyum keduanya menggoda dirinya dan Rita yang masih tetap mesra. "Cieee,"
"Pulang hari ini sampai malam ada rapat," kata Kazen ikut makan.
"Oke," jawab Rita.
"Hahaha maksudnya dia ingin kamu tungguin," kata Diana.
"Kerjaan aku juga banyaaak," kata Rita.
"Iya juga," jawab mereka.
"Kazen, Ney datang ke kantor?" Tanya Diana.
"Iya. Benar-benar ya tuh orang harus di geprek duku baru diam sepertinya," kata Kazen membuat mereka tertawa.
"Geprek saja kalau mau orangnya mirip kulit badak," kata Rita menyiapkan minum untuk Kazen.
"Dia sampai ikut hadir di pameran? Kenapa diijinkan masuk?" Tanya Koma.
"Saya ingin tahu apa yang akan dilakukannya," kata Kazen.
"Ya pasti mengganggu Rita apalagi saat tahu dia sama kamu, sudah pasti langsung beringas," kata Diana.
"Tenang saja saya sudah punya rencana baik," kata Kazen duduk dengan sopan.
"Ini minumnya. Kamu mau keju? Kita dikasih oleh-oleh dari wakil kepala sekolah," kata Rita mengambilkan bagiannya.
Kazen makan dan menyukainya, yah Rita tidak tahu kalau dirinya sangat sering memakan keju tersebut.
"Soal Ney sudah selesai deh sekarang, masalah yang dulu sebelum aku kecelakaan. Pasti kalian belum lakukan," kata Rita.
"Oh! Nomor aneh yang membela kamu dan memberitahukan Asma kan?" Tanya Koma semangat.
Kazen tersentak, dia sudah lupa sama sekali dengan nomor itu.
"Bukaaaan ada lagi," kata Rita. Kazen legaaa sekali kan sudah ketahuan juga.
"Kita sama-sama tahu siapa pemiliknya," kata Rita menatap Kazen yang tertawa.
"Lalu nomor yang manaaa," kata Kazen.
"Nomor yang selalu dihubungi oleh Kuney. Aku sudah ganti nomor," kata Rita.
Kazen ingat memang nomor Rita sudah terblok dan dia hack juga untuk menyelidiki nomor-nomor aneh yang masuk. Dan dia lupa untuk menghapusnya!
"Dia masih hubungi nomor kamu!?" Tanya Koma.
"Ya pasti meski dia tidak tahu tidak akan tersambung lagi tapi nadanya seperti tersambung. Dan ternyata ada yang ambil alih nomor aku itu," kata Rita mengeluarkan sim cardnya.
Kazen ingin sekali mengambilnya tapi dia harus membuat Rita tidak tahu. Macam hilang atau kemana.
"Sekarang nomor kamu yang ujungnya 90?" Tanya Diana.
"Iya awalnya kan 36," kata Rita.
"Kok bisa diambil alih? Tahunya dari mana?" Tanya Diana.
"Kakakku sempat menelepon mau nitip Hokben. Lalu dia menelepon yang dijawabnya laki-laki dia pikir Kazen," kata Rita.
Kazen ingat persis salah satu pelayannya yang menjawab. Ahhhh sial!
"Kazen juga tahu dan dia memberikan nomor ini sama aku. Iya kan?" Tanya Rita.
"Iya karena itu nomornya aman. Rita, aku balik ya Shin menelepon," kata Kazen memperlihatkan ponselnya.
"Oke. Pulangnya hati-hati," kata Rita.
Kazen berbalik dan langsung berlari menuju kantornya secepat mungkin. Dia tidak membawa mobil niatnya berjalan santai.
"Rita, kamu tidak curiga soal nomor yang Kazen beri?" Tanya Koma.
Ada logo yang tidak jelas dan berbeda dengan simcard yang mereka punyai. Seperti dibuat khusus.
"Kenapa sih kalian? Mana ada ini isinya aneh-aneh. Aku kan sama dia sudah delapan bulan," kata Rita.
"Selama itu juga dia memperlakukan kamu seperti kakak bukan pacar. Kamu pasti merasakannya kan?" Tanya Diana.
"Iya juga sih aku merasa dia seolah menjaga aku. Masa iya di sewa oleh Alex?" Tanya Rita.
"Tidak tahu ya menurut aku dan Diana, Kazen menyembunyikan sesuatu yang besar dengan rapi," kata Koma.
"Kok kalian firasatnya tajam siiiih," kata Rita dan mereka tertawa dengan kompak.
Bersambung ...