
"Hahaha cemburu ni yee," kata Kazen pada Prita.
"Enak saja. Aku juga punya. Dia lagi menuju ke sini," kata Prita mencibir padanya.
"Oh ya? Siapa? Siapa?" Tanya Rita penasaran.
"Nanti saja lihat," kata Prita ketawa.
Rita agak berjarak dengan Kazen, dia grogi apalagi membayangkan tubuhnya yang atletis. Yahhh melenceng sedikit wajar kan hehehe..
Saat didorong tadi oleh adiknya dan wajahnya kena ke dada Kazen, Rita agaaak merasakan lekukan itu yang langsung dia hajar dirinya sendiri.
Pikiran aneh mulai mendatanginya. Kazen sih ya biasa saja sudah biasa dia merasakan wajah wanita. Prett!
Saat mengobrol dengan Prita otomatis kan dia berbalik dan wajahnya agak memanjang ke adiknya. Dan otomatis juga tampilan perut six pack Kazen samar-samar terlihat.
"Rejeki lah kalau terlihat meski samar," pikir Rita yang tetap menampar wajahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Kazen senyum.
"Tidak perlu senyum-senyum. Menyebalkan!" Kata Rita masih ingat saat Kazen memeluknya, untuuuung wajah mereka tidak nempel.
"Ihh wajah kamu merah. Demam?" Tanya Kazen dengan nada usil.
"Berisik!" Kata Rita galak dan membuat Kazen semakin gemas.
Sambil menatap langit, Rita memohon maaf karena sempat tergoda ingin memeluk Kazen lagi. Hahahaha!!
Kazen masih tertawa dan berbicara dengan Prita, diam-diam Rita melirik dirinya dan menyelidiki tiap bagian tubuhnya. Kalem tidak mesum.
Rita menatap tangan dan jemarinya yang jenjang, kuat dan agak berisi tapi bukan gemuk. Kuat begitulah penampilannya, Rita memantapkan hati dan kuat untuk menyelidiki lainnya.
Tangan Kazen memang berotot karena rajin olahraga tapi kalau jalan kaki yah agak payah. Kalau kaki tidak terlihat tapi sudah tentu berotot juga.
Tidak perlu dibayangkan lah, laki-laki mah begitu. Yang terlihat jelas dan nampak oleh Rita.
Sekarang ke tubuh atau badannya dan pundak yang tegap. Tinggi semampai juga tapi berisi tidak seperti Rita yang kurus.
Wajahnya Asia tidak terlihat orang bule, rambut hitam dan bergelombang agak keriting. Kalau Kazen merapihkan rambutnya, keluar deh tuh otot-otot tangannya.
Daripada kena hajar, Kazen selalu berjongkok semua keluarga tertawa melihatnya. Ototnya seksi, haduuh bisa melayang roh kalau lihat.
Intinya semuanya mirip Hulk tapi kulitnya tidak hijau. Putih agak kuning langsat, kalau senyum memang membuat Rita salah tingkah.
Rita memutuskan untuk melihat bunga yang lain daripada jadi dosa melihat penampilan Kazen yang menggoda iman.
Sebenarnya Kazen tahu bila Rita memperhatikannya, dan pura-pura sibuk. Dia tidak ingin mengganggu Rita setelah Rita jalan sendiri, Kazen tertawa.
Kazen gembira sekali akhirnya meski sebentar dia bisa memeluk Rita. Apa yang begitu saja bisa membuat laki-laki melayang ya?
Wajar, Rita seperti roti yang tidak pernah dibuka alias terus tersimpan dengan baik. Kazen adalah orang kedua yang memeluk Rita.
Yang pertama tentu saja Alex, tapi ya sama dengan Kazen tidak bisa terlalu lama. Kalau lama, tulang wajah dan area pribadi taruhannya.
Pacar Prita datang, Prita menghampiri. Pacarnya agak-agak yahh tidak peduli dengan sambutan Prita. Namun Prita memaklumi.
"Kenapa ada di sini?" Tanya Adion pada Prita.
"Aku ikut dengan mereka. Bahaya kan kalau berdua. Yuk, aku kenalkan," kata Prita yang ingin memegang tangan pacarnya.
Adion menepis tangan Prita, dia terdiam wajahnya agak sedih. Kazen melihat hal itu begitu juga Rita.
"Sepertinya pernah lihat," kata Rita merenung.
"Lihat dimana? Kapan?" Tanya Kazen.
"Sekitar kedai Bakmi Jawa di dekat sekolah SMA 1," kata Rita.
"Pacarnya kok seperti itu sih?" Tanya Kazen menunjuk.
Prita bergegas berjalan di sampingnya, nampak wajah Adion yang tidak ramah. Seperti meremehkan.
"Pacar?" Tanya Rita mendatangi.
"Iya. Namanya Adion, ini kakakku, Rita," kata Prita mengenalkan.
"Apa ka..." kata Rita namun Adion hanya memandangi Kazen yang memfoto bunga.
Prita agak kikuk dan Rita mendengus. "Tidak sopan sekali sih. Putus!" Katanya.
"Adion, kakakku memperkenalkan dirinya. Kamu kok seenaknya," kata Prita. Adion juga enggan menyapa orang tua Prita.
"Oh iya Kak. Duduk yuk, aku kan jauh ke sini," kata Adion melengos begitu saja ke tempat duduk.
Prita agak ingin menangis dan Rita menyuruhnya menyusul. Rita kemudian menghampiri Kazen, dia bercerita soal pacar Prita.
"Kelihatan kok orangnya minus sopan santun. Heran apanya sih yang Prita sukai? Orang biasa tapi sombong," kata Kazen.
Adion duduk dengan seenaknya Prita harus mencari kursi tanpa bantuannya. Kalau ibu ada, sudah di tendang itu pacarnya.
"Itu siapa?" Tanya Adion.
"Yang mana?" Tanya Prita menatap.
"Ituu laki-laki yang dekat sama siapa? Yang sama perempuan itu ya," kata Adion dengan nada songong.
Prita menatap Adion sudah tahu kakaknya tapi kok bicaranya begitu. "Itu kakakku kan tadi.."
"Ya itulah. Siapa? Pasti bukan laki-laki biasa kan. Kok mau sih jadi pacar perempuan itu? Hahaha," kata Adion.
Prita menahan amarah, soal kakaknya nampak seperti perkataan Rin. Yah apa yang Rin katakan saat bersama ibunya, sudah tentu Prita juga dengar.
Adion tidak menjawab dia asyik menyalakan ponselnya dan bermain Mobile Legend.
Ternyata Prita dan Adion masih dua Minggu pacarannya tapi kok bisa tahan ya? Dan selama menit itu juga mereka hanya saling berdiam diri.
"Rita, sini. Itu adik kamu kok kamu diamkan? Pacarnya kurang ajar biar aku hajar dia," kata Kazen yang ingin beranjak pergi.
"Jangan. Biar Prita yang urus. Jangan ikut campur soal masalah orang, aku yakin Prita bisa mengatasinya," kata Rita menahan tangan Kazen.
Kazen dan Rita berpandangan, Kazen menatap tangan Rita yang memegangnya.
"Kamu tidak takut batal wudhu?" Tanya Kazen cengengesan.
"Ya wudhu lagi saja daripada kamu kesana ikut campur," kata Rita.
Kazen senyum mencubit sedikit pipi kiri Rita.
Prita mengungkapkan sesuatu namun Adion nampak tidak peduli. Prita pun berdiri, "Kalau mau mau pulang. Pulang saja,"
Adion masih diam dan sibuk memainkan permainan itu. Prita pergi dan menghela nafas.
"Sudah deh untuk apa dipertahankan? Heran kok bisa jadian?" Tanya Rita.
Prita ceritakan kalau Adion adalah pemilik toko foto kopian. Awal dekat tidak seperti itu tapi setelah melihat rumah Prita, dia merasa sangat bangga.
"Sejak itu kelakuannya jadi berubah katanya biar setara jadi harus diubah. Padahal dulunya dia baik lho," kata Prita sedih.
"Haha alasan itu. Tingkahnya menyebalkan," kata Kazen.
Adion sadar Prita tidak bersamanya dia berjalan menuju Prita dan memarahinya. Rita tidak menerima adiknya sampai dibentak.
Adion tidak memperdulikan Rita, dan berkata bahwa Rita tidak perlu ikut campur.
Hampir ada pertengkaran termasuk Prita yang mulai menangis karena Adion berubah drastis.
Dia masih terus saja memarahi Prita. Prita melawan dan detik kemudian, Kazen menghajarnya.
Prita dan Rita kaget, orang lain melihat dan kaget juga. Kazen membentaknya kalau dirinya tidak cukup pantas menjadi laki-laki sejati.
Adion hanya terdiam menatap Prita dengan marah. Rita mengusirnya dengan mendorong sampai terjatuh.
"Bangga kamu bisa pacaran dengan adik saya? Sampai kamu berubah seperti ini? Takut dikucilkan? Keluarga kami tidak memandang siapapun dari materi atau bahkan fisik.
Tapi pikirkan kembali apa bagus kamu yang berubah ini pantas menjadi kekasih adik saya? Pergi!!" Kata Rita dengan galak.
Adion terdiam akhirnya tukang parkir datang dan membawanya pergi. Malu, ya begitulah. Adion hanya terdiam bersama motornya.
Prita tidak peduli dan menangis harus seperti ini. Kazen membawa mereka berdua ke suatu tempat.
"Sudah, tenangkan dulu saja. Untunglah ibu dan Bapak sedang jalan-jalan..Sampai mereka kembali, tenangkan diri," kata Rita.
Lima belas menit, Prita sudah kembali biasa dan ibu bapak datang dengan perasaan senang. Ibu membawa satu plastik kecil berisikan bibit bunga.
"Hei, ada toko binatang peliharaan. Mau lihat?" Tanya Kazen sumringah.
"Ayoo," kata Rita semangat dan menarik Prita.
"Kamu kenapa, Pri? Kok sedih sekali. Adion mana?" Tanya ibu.
Rita kaget senyum getir ternyata ibu lebih tahu mengenai kekasih Prita. Prita jarang menceritakannya yang ternyata memang baru jadian.
"Adion brengsek, Bu," kata Prita lalu dijelaskan.
"Ya sudah untung belum lama takutnya kamu mengalami kekerasan. Relakan saja," kata ibu.
Mereka semua tiba di sebuah toko yang luas dengan rumput plastik di sekitarnya. Terdapat beberapa rumah-rumah sebesar ukuran kucing.
"Kamu suka kelinci kan?" Tanya Kazen.
Kazen menunjuk kandang kelinci yang berisi nya dua puluh macam-macam kelinci.
"Waaa!" Kata Rita semangat.
Semua kelinci keluar masuk saat Rita datang, dan mereka waspada. Sebagian ada yang mengangkat kepalanya dan mereka membelai.
Tiba-tiba Rita melihat satu ekor kelinci berwarna cokelat. Rita menghampirinya, kelinci tersebut agak memojok. Dia maju dan mengangkat tangannya.
"Lucuu. Halo," kata Rita menjulurkan tangannya untuk memegang.
Petugas toko langsung berlari hendak memperingatkan tapi...
"OUCH!!" Seru Rita kesakitan. Telapak jarinya berdarah dan si kelinci mundur.
"Kak, tidak apa-apa baru saya mau memberikan peringatan. Kelinci yang satu ini memang senang menggigit tangan. Makanya kami pisahkan," kata petugas mengambilkan betadine.
"Nakal! Kamu jahat! Berani ya gigit jari aku!" Kata Rita memukul pelan kepalanya.
Sang kelinci terdiam namun masih menatap Rita dan lainnya. Kazen mengeluarkan tensoplas.
"Sini, aku pasangkan," kata Kazen.
"Eh, jangan!" Kata Rita menolak.
"Kenapa? Nanti infeksi," kata Kazen.
"Aku.. alergi itu," kata Rita.
Kazen tidak tahu ternyata masih ada hal lain yang tidak dia ketahui meskipun sudah banyak menyadap Rita.
Bersambung ...