MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
55



"Kenapa kamu pikir aku akan menderita?" Tanya Ney membalas chatnya Alex.


"Bukti kamu banyak mengejar orang adalah kamu pernah berbuat sesuatu pada mereka. Dan terlintas penyesalan bukan, kamu berharap waktu bisa terulang. Setelah lewat beberapa bulan mereka akan lupa, tapi itu hanya imajinasi mu saja," kata Alex.


"Aku ini sudah menikah, hidupku lebih baik dari dia," balas Ney.


"Jadi hentikan mengganggu mereka. Nikmati saja hidupmu tanpa perlu melihat mereka memiliki apa. Mudah kan," kata Alex.


Ney tidak bisa melakukan itu, ada yang membuatnya terus penasaran pada beberapa orang termasuk Rita.


"Kenapa kamu ingin aku berhenti mengganggu Rita? Aku kan hanya mengirimkan paket saja," kata Ney keceplosan lagi.


Alex membacanya ya memang sengaja ternyata tanpa disadari, Ney katakan sendiri.


"Bagi dia, kamu itu pengganggu. Sadarilah tempatmu, sudah cukup kamu kejar Rita kalaupun hasilnya dia tetap tidak mau menerima lagi," kata Alex dengan sabar.


Tentu Ney beranggapan tidak bermaksud mengganggu, mengirimkan hampers pun hanya sekedar memulai obrolan yah kalau Rita mau.


"Aku hanya ingin memberi kode saja sama dia kalau kapanpun dia butuh bantuan atau teman mengobrol, aku selalu ada dan mau," kata Ney.


Alex menghela nafas, inilah mungkin yang membuat Rita malas ada obrolan lagi. Kalaupun butuh, dia bisa cerita ke yang lain sudah tentu bukan Ney.


"Dia tidak akan pernah hubungi kamu. Dia sudah menganggap kamu itu di luar wilayah dia, jadi sia-sia saja menurut aku," kata Alex.


"Wah wah aku tidak menyangka ya di depan kamu membela berpihak sama aku. Ternyata dalamnya kamu ada setuju dengan yang dikatakan Rita," kata Ney.


"Setidaknya aku tidak palsu. Dan selalu memberikan solusi terbaik untuk Rita meski kadang, tidak masuk," kata Alex kalem.


Ney sebal sekali, tetap saja meski sudah terpisah Alex masih penasaran. "Ya berarti kamu juga plin plan dong. Mau kamu itu apa sih sebenarnya? Ceramah terus! Aku tidak butuh ya saran kamu," kata Ney.


"Ya Allah! Susah sekali sih anak ini!" Kata Alex stres.


"Kamu memang peduli ya sama Rita sekalipun dia banyak membuat kamu menderita," kata Ney.


"Ya aku peduli. Sangat padanya, aku tidak masalah dia lama mencerna yang penting pada akhirnya dia bahagia. Yah meski stres juga sih menjelaskannya, harus detail ujungnya dia paham," kata Alex.


"Kenapa aku menurut kamu ikut campur karena dia itu tidak mengerti perkataan kamu. Kalau tanpa bantuan aku, semakin lama dia kenal kamu. Memangnya kamu tidak keberatan?" Tanya Ney merasa usahanya ternyata tidak masuk hitungan.


"Aku lebih suka dia mencerna dan mencari tahu sendiri. Tidak apa dia bertanya pada kamu, tapi bukan berarti kamu masuk ke urusan kami," kata Alex.


Ney diam banyak ingatan saat Alex memarahinya untuk tidak ikut campur masalah Rita.


Dia harus belajar sendiri. Rita memang belajar sendiri, hanya Ney saja yang geram sendirian sampai akhirnya bertindak tanpa Rita inginkan.


Ya akhirnya seperti sekarang malah merusak hubungan mereka, belun lagi dia banyak meneror Rita dengan nomor-nomor yang berbeda.


Dari sekedar membantu menjadi super kepo sampai akhirnya mencari tahu apapun soalan Alex.


Dimana Rita sudah mendapatkan info yang dia butuhkan. Bukan soal keluarganya tapi kepribadiannya.


"Jadi kamu lebih menerima Rita yang tidak peka?" Tanya Ney.


"Iya. Karena bisa memudahkan aku mengaturnya dengan lebih halus tapi karena kamu ikut campur, pemikiran dia jadi kacau," kata Alex.


"Aku hanya niat membantu," kata Ney.


"Tapi kamu membuat segalanya menjadi kacau dan akhirnya, kita berpencar kan. Kalau saja dulu kamu lebih sabar, mungkin hasilnya tidak seperti sekarang," kata Alex.


"Kalau aku mengganggu dia pun, itu bukan urusan kamu!" Balas Ney akhirnya.


"Ya silakan ganggu dia sesuka kamu, hasilnya juga akan terlihat bagaimana. Hanya aku menyarankan hentikan dari sekarang," kata Alex.


"Memangnya kenapa? Kamu mau coba hentikan saya? Mana bisa!" Kata Ney dengan kesal.


"Aku hanya memberimu saran, bila di luar sana banyak orang yang kamu sakiti sama seperti Rita atau Arnila. Hati-hati mereka adalah orang yang sebenarnya sangat kuat," kata Alex.


Ney tidak peduli apa kata Alex menurutnya dia akan terus mengejar Rita sampai Rita mau kembali kepadanya.


"Lalu kenapa? Kamu pikir aku akan takut apa sama mereka," balas Ney jutek.


"Suatu hari mereka akan membalas semua perlakuan kamu termasuk Rita," kata Alex.


"Hahaha mana adaaa mereka berani membalas. Soal Rita juga bisa apa dia membalas ke aku? Mau kirim salah paket juga? Dia tidak akan berani," kata Ney tertawa keras.


"Jangan memaksakan kehendak orang agar mereka menerima mu, meski kamu kirimkan hampers," kata Alex membuat Ney bengong.


"Aku tahu bukan hanya Rita saja tapi semua orang yang kamu kenal. Aku bisa lihat, paket berisi benda yang sama kamu kirimkan pada Rita. Senang ya menghabiskan uang dengan percuma?" Tanya Alex.


Ney berdiri, dia menganga. Alex bisa melihatnya? Dari mana? Ney panik dan heboh, kenapa dulu dia tidak mendengarkan peringatan Rita?


"Wah, parah ini orang! Aaa! Aku terlalu meremehkannya! Apa yang Rita katakan ternyata benar, bodohnya aku ini!" Kata Ney berjongkok dan memegang kepalanya.


Sana memperhatikan Ney dan tertawa mengejek, pemandangan yang biasa dan Sana berganti masuk keluar toko.


Dia membeli perlengkapan desain dengan berbagai pernak pernik menarik. Ney tentu tidak membantunya karena sibuk mengobrol dengan Alex.


Yah tidak masalah sih, Sana mengajaknya hanya untuk sesekali saja. Soal pekerjaannya memang selalu dia kerjakan sendiri dan Ney hanya men cerocosnya.


"Dia ini siapa sih!? Seenaknya memberikan ceramah! Soal paket terserah aku dong mau kirim ke dia atau semua orang!" Kata Ney sangat marah, ingin rasanya membanting sesuatu.


Alex kemudian kembali ke pekerjaannya, dia sudah puas mempertanyakan segalanya. Alex berharap semoga kali ini dia berhenti mengejar Rita.


Karena sampai kapanpun tidak akan ada perubahan dalam tekad Rita, Alex melihatnya.


Alex teringat apa kata Arnila yang menyebutkan, dirinya menyesal dulu dia membantu Ney menyerang Rita.


Ternyata dia pun sudah salah paham mengenai Rita, tentu Rita membeberkan segalanya karena Arnila mulai bisa mendengarkan.


Dulu ya boro-boro karena akibat pencucian pikiran dari Ney yang mengatakan bahwa Rita lah penjahatnya.


Rita juga dikatakan yang sering mengirimkan hal-hal mistis kepadanya, dimana Rita sibuk dengan pekerjaannya.


Kalau memang benar apa yang dikatakan Arnila, kemungkinan memang Ney yang memiliki niat tidak baik. Iri berlebihan membuatnya ingin menjatuhkan Rita.


Awal Ney merasa jatuh dan frustasi, dia menjadi ragu akan keputusannya membuat Rita menyesal menjauhinya.


Kemudian Ney berubah pikiran, tidak yakin kalau mereka berdua sudah benar-benar berpisah.


Bentrokan dalam kepalanya dimulai, dan Ney memutuskan untuk menahan rasa amarahnya pada Alex.


Dia akan berusaha menyelidikinya meski tidak ada seorangpun yang bisa membantunya.


"Aku tidak percaya kalau mereka berdua sudah berakhir. Dulu pun mereka berkata begitu tapi ternyata, masih ada hubungan," kata Ney dengan pasti.


"Sudah?" Tanya Sana yang bosan.


"Makan yuk. Kamu beli apa saja sih? Oh untuk mendesain toko nanti?" Tanya Ney melihat peralatan.


"Saking fokusnya ya sampai tidak tahu apa yang aku kerjakan sedari tadi. Yuk makan," kata Sana.


Dalam hati Ney, dia memantapkan hati akan mulai mendekati Rita supaya berbaikan. Senyuman aneh kembali muncul, apa yang dikatakan Alex dia anggap sebagai kentut.


"Kalau memang mereka sudah berakhir berarti ini kesempatanku supaya bisa berbaikan dengan Rita. Setelah Rita berhasil, aku bisa menyuruhnya mendekati Arnila untuk menerimaku dan... kita berteman lagi deh bertiga," pikirnya dengan senang.


"Kamu mikir apa sih? Kelihatannya senang sekali," kata Sana.


"Memang aku sedang senang kok karena semua tujuanku akan tercapai sebentar lagi," kata Ney memasukkan ponselnya.


"Hah? Paling juga kalau sudah tercapai, kamu hancurkan lagi," kata Sana tertawa.


"Sesuka kamu lah. Pokoknya aku akan pastikan Rita dan Arnila berteman lagi sama aku," kata Ney.


Hari itu berakhir, Rita dan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing. Prita ingin ke suatu toko dahulu bersama Rita.


Sepanjang jalan, mereka akhirnya memasuki toko yang dimasuki oleh Sana. Prita membeli beberapa pernak pernik lucu untuk tugasnya.


Saat berjalan ke luar toko, Prita tampak kaget melihat sesosok manusia yang dia kenal.


"Hah? Kok mirip... Teh Ney?" Tanya Prita sendirian.


Jarak mereka cukup jauh namun mata Prita yang tajam menatap ke depan, yakin itu memang Ney dan temannya.


"Pri, sudah?" Tanya Rita.


Prita menatap kakaknya dan kemudian menyeretnya pindah lokasi. Meski nampak aneh, Rita ikuti saja.


Bersambung ...