
"Eh sudah sudah mengobrol nya yang penting sekarang aku anggap dia sebagai fans fanatik sekaligus sasaeng kan? Makanan dataaang," kata Rita yang antusias melihat waitress datang.
"Iya Rita, begitu saja meski kamu bukan artis tapi karena banyak yang iri. Anggap saja mereka begitu hehe. Asma juga fans kamu jadi dibuat senang saja supaya kamu tidak banyak kepikiran soal mereka," kata Diana tersenyum melihat pesanannya.
"Diana kok pesanannya agak mirip Rita sih?" Tanya Koma.
"Hehehe makanan kesukaanku kan sama dengan Rita, Kom. Tukar boleh kalau mau," kata Diana.
Koma kemudian tukaran makanan dengan Diana, dan Rita juga menaruh pesanannya di tengah meja. Mereka tidak makan hanya mencicipi dahulu menunggu pesanan Prita dan lainnya sampai.
"Terus teman dia satunya lagi siapa tuh?" Tanya Koma mengingat-ingat.
"Arnila," jawab Rita.
"Dia belum sempat kamu kenalkan ke kita ya?" Tanya Koma.
"Memang belum. Soalnya dia anak Cianjur sih kalau ke Bandung ya saat liburan saja atau ada urusan lain," kata Rita yang makan sushi nya 1 biji.
"Oh, dekat juga sama yang aneh itu?" Tanya Diana makan dengan nikmat.
Sushi di tempat itu sangat murah dan Rita membeli yang 2 porsi. Dia sangat suka sushi yang ada di kedai tersebut, karena banyak macamnya.
Termasuk katsu yang sangat dia sukai di padukan dengan 3 macam keju yang membuat katsu tersebut sangat tebal. Prita menggelengkan kepala melihat pesanan Rita yang menumpuk.
"Buset," kata Prita namun terlihat dengan tatapan menggiurkan.
Kedua temannya tertawa melihat nafsu makan Rita yang besar karena makanan Asia. Rita suka juga beberapa makanan Sunda hanya tertentu.
"Mau yaaa," kata Rita menggoda adiknya.
"Ya mau dong. Ingin coba juga. Prita pesan yang beda jadi bisa cicip dong," katanya cengengesan.
"Tuh ambil saja. Jangan lupa dipotong-potong dulu," kata Rita memberikan pisau.
"Sahabat dia, Arnila itu?" Tanya Koma yang ambil potongan juga.
"Tidak tahu meski terlihatnya begitu kata aku tapi kata yang ruqyah aku bukan. Ya sama seperti aku ke dia bagaimana, hanya teman selintas. Karena dia sahabatnya juga beda, Arnila beda," kata Rita mengacung jempol yang dia makan.
"Hmmm alasan berteman nya juga tidak jauh beda dengan kamu ya Rita," kata Diana.
"Ya begitu deh," kata Rita yang mantap sekali memakan makanan tersebut dengan banyak keju di dalamnya.
"Pantas rekomendasi sekali ya. Ini parah sih kejunya lumer, tebal terus... wahhh," kata Diana serasa terbang.
"Harganya juga lumayan dari Rp. 70.000 sekarang promo hanya Rp 45.000 saja," kata Rita menggelengkan kepalanya menatap iklan.
"Perasaan kita sih kamu sama temannya agak mirip," kata Diana.
"Karena mudah ketipu ya?" Tanya Rita membuat keduanya tertawa lagi termasuk Prita.
"Memangnya kamu sadar kalau kena tipu orang?" Tanya Koma tertawa ngakak.
"Yaa semacam kalau ada maunya bicara manis, tapi kalau tidak ada keperluan menghilang. Kebanyakan yang aku lihat begitu sih Asma juga kan sama," kata Rita.
"Kamu polos sih jadi memang harus hati-hati, kita yang lihatnya juga greget apalagi waktu kamu kenalin perempuan aneh ke kita semua," kata Koma tertawa.
"Huuh," kata Rita dengan wajah datar. "Diana, tumben kamu tidak pesan steak?"
"Kamu?" Tanya Diana bertanya pada Rita.
"Lah, Rita mana mungkin pesan. Kan dia tidak suka daging," kata Koma mengingatkan.
"Oh iya! Aku lupa, teman-teman yang dekat aku semua suka daging. Baru kali ini kamu seorang yang tidak suka. Boleh nih?" Tanya Diana.
"Ya silakan. Kan aku tanya tumben juga. Pesanlah," kata Rita memberikan menu dan selembar kertas.
"Mbak, aku mau pesan yang ini satu," kata Diana.
"Baik, dimohon tunggu sekitar 10 menit ya Kak," kata pelayan kedai kemudian masuk kembali.
"Kalau Prita tahu soal teh Rita berteman dengan perempuan aneh ini sejak lama ya," kata Koma.
"Iya kan satu sekolah dengan Rita," jawab Prita.
"Kalau yang satunya lagi sudah kenal?" Tanya Diana.
Prita mengangguk. "Pernah dikenalin tapi tidak begitu kenal soalnya kan, Prita baru masuk kuliah," katanya.
"Teh Rita masih berteman sama yang bicaranya tidak nyambung itu?" Tanya Anne.
"Sudah tidak kok, ada masalah biasaaaa kalau sama yang itu memang sering bermasalah. Makanya teh Rita kan sudah jauh dari tahun kenal dia. Lulus SMP juga jarang main dan chat," kata Prita.
Kedua temannya mengangguk. Mereka juga mengacungkan jempolnya.
"Tadinya aku tidak akan ikut teh, kalau harus bertemu lagi dengan teman teteh uang waktu itu. Eh ternyata benar beda kata Prita," kata Dinda senyum.
"Hehehe banyak ya yang tidak nyaman sama dia. Mira juga sama bahkan tidak mau bertemu lagi, kalau main lebih baik jangan diajak katanya," kata Rita.
"Ya bagaimana tidak nyaman teh, nadanya tinggi terus kalau mengobrol temanya bikin keki bukan menarik," kata Dinda.
"Sudah tidak berteman lagi kok. Yang ini sahabat teteh di kampus sampai kita kerja juga nih bersama," kata Rita.
Anne dan Dinda berkenalan dan mengobrol bersama. Kebanyakan Diana dan Koma tidak begitu banyak bertanya soal privasi mereka.
"Beda sih karena kita tidak satu arah dengan dia, Rita. Kebanyakan orang lebih senang bicara santai, tema bebas tidak banyak mikir. Ya dia arahnya tidak sama saja," kata Diana.
"Bagus sih sudah lepas sekarang teh, daripada nanti terlambat malah merusak privasi teteh dengan teman-teman," kata Anne.
"Aku sih dari sejak pertama lihat teh Rita kenal terus jadi teman dia juga sudah tidak suka. Sudah dibilang teh Rita tetap saja berteman sama dia, sekarang kerasa kan?" Tanya Prita menatap Rita.
"Iya iya," jawab Rita sebal.
"Tuh kan adik sendiri juga tidak suka, Ri. Memang sih kita tidak boleh memilih orang tapi dengar dan lihat berapa orang yang mengatakan bahwa dia bukan orang yang baik. Mereka pasti punya alasan yang tidak kamu tahu," kata Diana.
"Bukan karena bicaranya tidak nyambung, tapi banyaklah hal yang tidak kamu lihat," kata Koma.
"Waktu dulu kita mengobrol juga nadanya tidak enak didengar ya. Terus kesannya meninggi sekali, kita ngobrol Teknik, dia bicara hal lain," kata Anne.
"Hahahaha sama aku saja sering begitu. Makanya aku selalu bilang, "Dengarkan dulu orang kalau bicara, kamu cerna dan jawab. Jangan asal, tidak nyambung!" Dia cuma diam," kata Rita.
"Iya makanya kita ini kebanyakan tidak se arah dengan pemikirannya. Makanya jadinya tidak nyaman, dia harus cari orang yang sepemikiran sama. Atau yang orangnya sama dengan sifat dia," kata Koma menjelaskan.
"Sifat, visi, pikiran dan kepribadian sangat bertolak Rita dengan kamu, kita semua. Jadi ya salah sambung sih. Mirip kabel telepon sama Televisi, salah lilit kan tidak ada yang menyala," kata Diana.
Semuanya setuju, Rita hanya diam dan menghela nafas. Seharusnya dia lebih mendengarkan apa kata teman-teman SMP nya dulu, adiknya, keluarganya serta teman-teman semasa SMA yang pernah bertemu dengannya.
"Lalu soal dia dengan Alex ini, kami yakin itu hanya muslihat dia supaya bisa pansos," kata Diana dan Koma setuju.
Rita diam mendengarnya, ya bisa jadi karena dulu dia tidak begitu. Sekarang setelah tahu Rita kenal Alex, entah kenapa jadi pribadi yang membuat Rita muak.
Semua yang dia lakukan tahun lalu akan terbongkar dengan sendirinya saat mengetahui Rita sudah tidak bersama Alex dan kembali sendiri untuk fokus dengan pekerjaannya. Semua usahanya terbuang percuma apalagi Alex pun dijodohkan dengan orang lain oleh kedua orang tuanya.
Mereka akhirnya makan bersama setelah pesanan Prita dan temannya sampai, begitu juga dengan pesanan Diana.
Tidak ada yang bicara lagi, mereka sibuk mengunyah, merasakan kelezatan setiap makanan yang ada di meja tersebut. Rita mencoba makanan milik Prita dan temannya, begitu juga dengan mereka.
Beberapa orang melihat meja mereka yang penuh makanan dan mereka terlihat menikmati terutama Koma.
"Entah kenapa kalau melihat Koma makan terlihat sangat lezat," kata Rita. Diana setuju.
"Ehhh harus dong," kata Koma dengan makan penuh gaya.
"Hahaha cocok kalau kamu buat konten makan deh," kata Rita.
"Makan itu harus dinikmati, jangan asal masuk tanpa dirasa," kata Koma dengan gaya mukbang.
Bersambung ...