MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
121



"Alex datang tidak ya? Kalau datang, dan dia bertemu Rita bisa gawat! Sebelum mereka bertemu, aku yang harus bertemu salah satu dari mereka dan berusaha menjauhkan," pikir Ney.


"Kamu minat ikut kesana? Tumben," kata suaminya sambil menonton berita.


"Ya kali ada harga yang murah," kata Ney beralasan.


"Mana ada yang murah. Itu semua mobil mewah, Ney. Kalau kamu mau mobil itu, aku jujur tidak bisa membelikannya. Membeli ponsel X1X1 saja sudah cukup membuat aku kelelahan!" Kata suaminya tanpa menatap istri.


Ney terdiam, tentu dia ingat bagaimana seringnya suami lembur dan kerja di mana-mana. Sedangkan dirinya asyik memamerkan hasil yang di dapat.


"Oh ya soal masa lalu, kita lupakanlah ya kan sama-sama minus juga. Saat itu aku khilaf dan.. ya banyak pikiran," kata Ney duduk sebelah suaminya.


Suaminya terdiam, yah sudah bosan juga mendengar alasan klasik istrinya tersebut.


"Sama-sama minus memang tapi tidak se minus kamu. Yah kita lupakan oke, alasan aku menikah sama kamu berharap kamu bisa berubah dari kebiasaan jelek kamu. Tapi kalau tidak..." kata suaminya.


"Kalau tidak apa?" Tanya Ney, dia berharap apa yang Sana katakan tidak terjadi.


"Temanku banyak yang cerai setelah mengetahui pasangannya sering selingkuh. Jadi kamu sudah tahu kan bagaimana akhirnya," kata suami membuat Ney kaget.


"Aku... akan berubah! Aku janji," kata Ney memegang tangan suaminya.


"Terserah kamu deh aku tidak mau ambil pusing lagi," kata suami sambil merokok.


Ney hanya diam mendengarnya, selama ini memang suaminya terkesan datar dan dingin. Dia hanya pulang langsung menuju anaknya, yang biasanya mencium kening Ney kini sudah tidak.


Bicara pun seakan jarang, suaminya lebih sibuk bercanda dengan anak pertama. Ney juga agak tidak peduli, apapun yang dia minta suami akan berikan.


Namun komunikasi antara mereka pun terbilang renggang. Berkali-kali suaminya tahu dimana istrinya berada bila dirinya sedang sibuk bekerja.


Ney masih memperhatikan berita di televisi, dia tidak berpikiran macam-macam mengenai apa yang dikatakan suaminya.


Baginya itu hanya bercanda karena pernikahan mereka masih terbilang cukup muda. Setahun sudah mereka lalui, meski Ney merasa perhatian suaminya semakin berkurang.


Karena suaminya tidak dapat membantu mendapatkan tiket tersebut, Ney mencoba membuat logo perusahaan Darma. Sangat sulit dia temukan.


Dalam dunia web, sama sekali tidak ada seperti apakah logo keluarga besar itu. Tetapi kisah keluarga mereka ada hanya sedikit.


Lama kelamaan dia menyerah juga dan menyaksikan berita. Suaminya tentu saja keluar entah kemana, dia tidak pernah lagi mengatakan hendak kemana.


Dia mendengarkan penjelasan sang reporter bahwa pameran khusus itu akan dimulai dari pukul tiga sore. Ney yakin Rita pasti akan datang karena melihat wanita asing.


"Aku ada ide," kata Ney yang memikirkan cara licik agar bisa masuk.


Pukul dua menuju tiga sore, Rita tengah bersiap di kamar hotelnya. Prita dan temannya akan datang juga di pukul delapan malam.


"Kalian datang saat makan malam saja," kata Seren sewaktu tiba di hotel dan melihat keempatnya sudah ada.


"Baik, Kak. Terima masih," kata mereka semua.


Prita diberikan tiket masuk dari Shin dengan logo khusus yang memperbolehkan mereka masuk.


"Wow!" Seru mereka.


Kartu undangan tersebut berwarna putih dengan hiasan garis emas dan terdapat semacam gambar logo Darma.


Dibawahnya banyak sekali sponsor mobil yang terkenal dan beberapa makanan yang kita kenal.


Ada juga logo Alfarizki namun sayang bahkan Rita sama sekali tidak tahu yang mana. Kazen pun enggan mengatakannya.


Di samping kartu terdapat empat topeng desain yang Rita buat.


"Waaah! Jadi Sailor Moon kita," kata Anne tertawa.


"Kalau kalian mau, bisa dikreasikan lagi sesuai selera," kata Rita yang sudah siap.


"Kamu sudah dapat topengnya?" Tanya Prita.


"Ada di Kazen," kata Rita kemudian keluar.


Shin sudah siap namun Seren tidak bersamanya.


"Dia tuan rumahnya di tahun ini," kata Shin sebelum ditanya.


"Wah!" Kata Rita dan lainnya.


Kazen keluar dengan topengnya, tidak kalah kaget Rita karena mirip Endymion termasuk gaya rambutnya.


"ENDYMION!!" Seru mereka semua membuat Kazen bingung.


"Wah, tinggal cari Queen Serenity nya," kata Fitri.


"Hahahaha. Nih Serenity aku," kata Kazen memegang tangan Rita.


Untungnya Rita sudah menyesuaikan dengan handsock yang dia punya, seragam dengan gaun yang dia pakai.



Rita pakai topengnya, dan bergaya layaknya Sailor Moon.


"Kita cocok lho sudah ada lima lalu pangerannya," kata Sasmi.


"Sini sini aku foto kan bergaya layaknya prajurit Moon," kata Shin yang membuat arahan gaya.


Setelah selesai, mereka kirim ke instagram masing-masing. Hanya Rita yang tidak lakukan.


"Tidak update?" Tanya Kazen.


"Malas ah nanti dilihat sama yang nyinyir," kata Rita.


Ugh! Kazen gemas sekali melihat baju dan dandanan Rita, tapi disentil nya kepala dia yang agak mulai mikir hal lain.


"Sadar woi sadar," kata Kazen bicara sendiri. Rita mencubit pinggangnya.


"Kamu keren," kata Rita memerah malu.


"Aiiih," kata Kazen membalas.


Saat itu Ney sibuk mencari gaun pesta juga dan tentu ponselnya berdering, dia melihat sesuatu Rita update foto.


"Hahaha norak sekali topengnya! Dasar kekanak-kanakan masa sih mereka maunya saja pakai beginian. Memang seleranya Rita sekali," kata Ney tertawa dengan keras.


"Apa sih? Suara kamu kalau tertawa keras," kata suaminya masuk ke kamar melihat keadaan berantakan.


"Ini, Rita baru saja update foto pakai topeng. Aneh sekali bukan di usianya," kata Ney memperlihatkan.


"Ya menurut kamu norak tapi semua undangan menggunakan topeng ini lho," kata suaminya.


"Hah? Masa sih?" Tanya Ney kaget.


"Tuh di beritanya ada. Kamu mau kemana sih? Isi lemari berantakan begini," kata suaminya.


Ney langsung lari menuju ruang televisi dan ya benar topeng yang dipakai Rita rupanya sebagai syarat para undangan yang datang.


Ney menganga melihatnya beberapa tamu membuat hiasan yang mereka inginkan sebagai ajang kreatifitas juga.


"Yang pikiran norak itu hanya kamu ya orang-orang yang satu otak. Menurutku bagus kok. Kamu lihat tidak di undangannya ada logo Darma," kata Suami mengarahkan telunjuk.


Pantas Ney tidak bisa membuatnya memang ribet sekali dan bukan angka dari huruf D. Semacam binatang atau apalah.


"Ya ampun ribet sekali," kata Ney.


"Sengaja karena pasti banyak yang berusaha membuat logo mereka supaya bisa masuk," kata suami lalu duduk kembali.


Dia membeli beberapa makanan dan ditaruh begitu saja di meja tanpa piring ataupun sendok.


"Kamu mau pergi kemana?" Tanya suaminya.


"Oh, itu Sana ajak aku jalan-jalan," kata Ney mencari alasan.


Lagi-lagi berbohong. Memang sudah jadi kebiasaannya. Suaminya tidak ambil pusing, dia pun sudah tahu taktik Ney, dan membiarkannya bebas semaunya.


Ney menunggu ditanya tapi tidak, agak aneh juga biasanya dicecar banyak pertanyaan tapi sekarang sudah tidak.


"Kamu tidak tanya kemana aku pergi?" Tanya Ney memastikan.


"Mau aku banyak tanya pun jawabannya pasti akan lebih banyak alasan. Jadi percuma, sesuka kamu pergi kemana karena aku pun akan sesuka hati pergi," kata suaminya dengan santai.


"Hmmm menurut kamu, Rita datang tidak ya ke sana?" Tanya Ney.


"Pastilah kalau memang benar temannya Serenity, atau kalau tidak ada yang Rita kenal selain wanita itu," kata suaminya.


Ney akhirnya dapat jalan ya dia akan datang dan mengatakan bahwa dia adalah teman Rita yang ikut diundang.


Ney sudah menyiapkan susu tambahan untuk anaknya, dan pergi saat suaminya bermain dengan anaknya. Dia tidak peduli asalkan tujuannya berjalan lancar.


Ney juga sudah membuat topeng yang sama. Dia menjalankan mobil menuju tempat pameran dengan hati yang riang dan terlihat dirinya menang.


Tiga sore telah datang para tamu sudah banyak yang datang. Kazen, Rita dan Shin juga menuju mobil dan sudah memakai topeng.


"Jam delapan ya Pri," kata Rita mengingatkan.


"Siap!" Kata Prita mengerti.


"Jangan lupa dibawa tiketnya," kata Kazen.


"Sudah," kata ketiga temannya.


"Kalau nanti di sana kamu tidak nyaman, jangan ragu katakan padaku ya," kata Kazen.


Rita mengangguk. Dia juga sudah lama tidak pergi jalan-jalan, dan senang. Ujian untuknya telah dimulai oleh keluarga Darma.


"Gayaku bagus tidak?" Tanya Kazen sambil menyetir.


"Keren! Mirip tuxedo bertopeng," kata Rita semangat.


Shin hanya terdiam menatap sahabatnya yang kini agak berubah. Dia tahu sahabatnya itu sangat membencinya Anime, tapi setelah kenal Rita dan jadi kekasihnya, semuanya berubah.


"Yah cinta memang bisa merubah segalanya sih," kata Shin bergumam tertawa.


Beberapa jam perjalan, mereka tiba di sebuah gedung besar. Rita menganga melihatnya, mereka bertiga turun.


Rita hanya bengong menatap gedung itu dan banyak sekali mobil mewah yang terparkir. Beberapa orang memakai gaun yang indah dan berkilauan.


Kazen senyum melihat Rita. "Ayo," ajaknya ke dalam.


Shin sudah duluan untuk mencari Seren pastinya dan keluarganya juga. Mereka memberikan undangan dan dipersilahkan masuk.


"Sebenarnya kalau denganku, kita tidak perlu undangan tapi tidak apa-apa," kata Kazen.


Rita tertawa, mereka masuk dan lagi-lagi Rita hanya bisa kaget dalam hati. Isinya lebih luas dengan lampu besar dan kecil yang tampak seperti berlian.


Beberapa orang menyapa Kazen tanpa bertanya siapa yang dia bawa. Mereka sudah terbiasa dengan Kazen yang selalu membawa perempuan.


"Tumben," kata salah seorang perempuan.


Kazen senyum dan berlalu menatap Rita yang terkesan dengan indahnya isi gedung itu.


"Hai Kazen," kata perempuan berambut perak yang menyodorkan tubuhnya untuk mencium Kazen tapi ditolak.


"Maaf, aku sudah meninggalkan kebiasaan itu," kata Kazen membuat perempuan itu agak salah tingkah.


"Oh, well.. siapa ini?" Tanyanya agak sinis ke arah Rita.


Rita hanya senyum.


"Kekasihku," jawab Kazen membuat perempuan itu sangat kaget.


"Tampaknya dia suka sama kamu," kata Rita berbisik.


"Banyak wanita yang tergila-gila padaku bukan hanya suka," kata Kazen tertawa jahil.


Bersambung ...