
"Hahaha sampai pegang tiang listrik segala temannya. Sudah besar masih saja kelakuan konyol," kata Prita ketawa keras.
Beberapa orang pun tertawa melewati mereka karena Kazen seperti cicak memeluk tiang listrik.
Setelah membayar, mereka keluar dari kedai karena sudah pukul lima sore. Shin semakin heboh karena Rita akan pulang.
"Mereka keluar tuh. Cepaaat," tarik Shin tapi Kazen tetap memeluk tiang listrik itu.
"Tidaaak," serunya. Sebenarnya Kazen malu juga, ingin kenal tapi malu.
Akhirnya Rita dan Prita pun pergi menggunakan motor. Dan Shin menyumpahi serapah Kazen karena dirinya terlalu banyak mengulur.
"Lihat kan. Ini kesempatan! Seperti bukan kamu saja yang selalu menyelonong kenalan," kata Shin marah.
Kazen terdiam memandangi motor Prita. Shin kesaaaal sekali.
"Sudah! Aku mau pulang, kamu usaha saja sendiri!" Kata Shin pergi dengan marah.
"Shin! Tunggu! Oke oke aku akan kenalan," kata Kazen.
"Kenalan? DIA SUDAH JAUH!" Teriak Shin tidak peduli.
"Kita ikuti nanti, aku yang benar-benar ajak dia kenalan. Tapi temani ya," kata Kazen entaaah bagaimana caranya.
"Benar ya? Ini terakhir kalinya. Dasar bodoh!" Kata Shin bergegas menuju mobilnya. Kazen juga ikut, motornya dia titip di Mesjid ITB.
Motor Prita masih tidak begitu jauh dan mobil akan bergerak, Kazen dan Shin melihat mobil kijang berisi enam remaja menunjuk motor Prita.
Mereka berpandangan dan ikut menyusul, mereka memiliki firasat buruk sore hari itu. Kazen menyesal seharusnya dia ikuti saran Shin yang terus mengomel.
Dalam perjalan pulang, Rita dan Prita menertawai kekonyolan Shin dan Kazen. Tanpa tahu ternyata ada mobil kijang merah mendekati motor mereka.
Prita dan Rita awalnya menghindar karena memang ya beberapa mobil ada yang ingin maju duluan, dan mereka memberikan spasi.
"Hai, Kakak kenalan dong," kata yang depan menyapa.
Rita dan Prita tidak menggubris, mereka masih mengobrol dengan kecepatan biasa.
"Pri, hati-hati," kata Rita.
Tanpa terduga mobil kijang tersebut mendekati motor. Prita panik karena jalan mereka mepet ke jalanan lain.
"HEH! YANG BENAR DONG MENYETIRNYA!" Teriak Rita dengan keras.
Bukannya bersalah keenam remaja tersebut hanya tertawa keras dan semakin sengaja menyepet.
"Hahaha makanya yuk kenalan nanti kita benerin," ajak yang lain.
Prita dan Rita mulai menaikkan kecepatan dan mobil itu menyamakan juga. Sekali lagi mereka mepet motornya dan hampir terguling.
"KYAAA!! PRI!" Teriak Rita ketakutan.
"JELAMA GELO!!!" Teriak Prita sangat marah.
Keenam remaja itu terdiam, wajah Rita dan Prita sangat marah sekali.
"Pri, bisa tidak kemungkinan cari jalan lain?" Tanya Rita.
"SIAL!! Mana bisa kita sudah di pertengahan! Mana mau macet," kata Prita kesal luar biasa.
Akhirnya mereka mulai naik lagi beberapa mobil melihat ada yang aneh. Mobil kijang kembali meng gas dan kali ini mereka menyoraki dan mengejek.
"HAHAHA KALAH LU KALAH!! AYO BALAPAN!" Teriak yang lainnya. Kenapa juga sih harus mereka?
Prita dan Rita menahan kesal, pokoknya mereka harus lepas dari remaja gelo tersebut.
Hari semakin gelap, Rita cemas begitu juga Prita. Rita mencari pos polisi untuk melaporkan dan minta bantuan. Tapi nihil.
Di belakang mobil Kazen terjebak mobil lain, dia berteriak kesal.
"Zen, sepertinya mereka berdua dalam masalah," kata Shin cemas.
"Sial!! WOI MINGGIR!" Teriak Kazen mirip Tarzan.
"APAAN SIH!?" Tanya pengemudi depan.
"TEMAN KITA DI PEPET MOBIL LAIN. DEPAN!! MAKANYA MINGGIR!" Teriak Kazen.
Pengemudi itu keheranan dan melihat memang ada motor yang sengaja dipepet. Alhasil para pengemudi saling melaporkan dan salah satunya memanggil polisi.
"Kalian bantuin dong. Kasihan mereka tadi hampir terguling," kata pemotor lain.
Shin dan Kazen mulai kesal untunglah beberapa mobil menepi dan menyilakan mereka menyusul.
Motor dan mobil pun saling mengebut tampaknya motor Prita memang sengaja mau digulingkan.
"Pak, tolong Pak lapor polisi," kata Shin cemas.
"Siap," kata pengendara yang lain.
Lanjut di bagian Rita dan adiknya, mereka masih terus dikerjai oleh keenam remaja.
"Ayo kita kenalan sajalah daripada terus begini," ajak yang rambut belah tengah.
Rita mengacungkan jari tengah pada mereka yang yah otomatis mereka marah dan semakin mepet. Alhasil hal itu juga terlihat oleh pengendara lain.
Mereka membunyikan klakson agar mobil itu menyingkir namun mereka meneriaki pengendara dan mencemooh.
Akhirnya mobil itu mepet ke motor dan Prita teriak. Salah satu remaja mencolek Rita dan tertawa. Hampir saja dia di tarik.
Dalam kesempatan itu, Rita berhasil menjambak salah satu temannya. Alhasil dia berteriak kesakitan dan Prita ngebut!
"AAAAA!!!" Teriak temannya kemudian dilepaskan kepalanya. Rita dan Prita tertawa keras.
Sudah pasti yang lainnya menertawai dan melakukan pembalasan. Hari mulai masuk malam, Rita dan Prita semakin cemas dan takut.
Mereka menangis, tepatnya menahan. Kedua tangan gemetar namun Rita menyoraki Prita untuk maju sampai rumah.
Mobil belakang remaja itu mencium ketidakberesan sejak awal dan berusaha menyusul untuk menghentikan mobil namun apa daya, mereka mengebut.
Bukannya berhenti para remaja pun mengacungkan jari tengah ke semua pengendara.
"Woi! Berhenti! Kalian mengganggu pengendara lain!" Teriak supir dan beberapa mobil seberangnya.
BRAK!
"AAAAAAA!!!" Lengking Rita kesakitan membuat Prita panik dan oleng motornya.
"RITA!!" Teriak adiknya.
Teriakannya didengar para mobil lain dan mereka langsung mengebut melihat Rita memegang kaki kanannya dengan meringis.
Keenam remaja semakin kesetanan dan berusaha membenturkan lagi. Mobil mendekat dan dengan kesal Rita mengepalkan tangan dan memukul keras dinding mobil itu.
DUAG!!
Prita menahan motornya dengan kaki, sambil sedikit menghentikan laju motor. Keenam remaja sangat terkejut, kepalan Rita menghasilkan suara keras.
"Maju. Maju," kata Rita pada adiknya. Sambil menangis, mereka ngebut.
"Tangannya berdarah," kata Prita dengan suara bergetar.
Rita meringis ternyata memukul benda keras itu suangaaat sakit!! "Sepertinya retak,"
"Huaaaaa," Prita menangis sambil menjalankan motornya. Mereka berharap itu menghentikan mereka. Wrong!
Mereka melihat Rita meringis, mereka terdiam. Tangan Rita berubah merah menjadi biru hijau.
"Kak, menepi saja. Kami ada kotak P3K. Serius!" Kata yang pinggir.
Mereka tidak menjawab dan terus melaju. Mobil kijang itu pun semakin melaju juga mereka terus membuat Prita sebal.
Memang tidak ada kapoknya, mobil mereka dibenturkan lagi dan korbannya kaki Rita.
"Kita berhenti saja. Kalau begini, kamu bisa kehilangan kaki!" Teriak Prita tidak kuat.
Motor itu menepi di sebuah rumah kosong. Mereka berdua turun, tangan Prita gemetaran membantu Rita turun.
Rita menahan rasa sakit yang segunung memegangi kakinya yang nampaknya lebih retak.
Prita memeriksa tangan kanan Rita yang membiru dan terdapat gumpalan bintik-bintik merah. Sekali lagi Rita memukul benda keras, meletus lah nampaknya seperti dalam film.
Prita terus menerus menangis, Rita juga sama. Ah mereka hanya bisa pasrah kepada Allah swt saja.
Kedua tangan gemetaran dengan hebat tapi otak mereka masih jalan.
"Pri, bawa tang?" Tanya Rita dengan suara serak dan berusaha tenang.
Mobil kijang pun berhenti di depan mereka. Satu per satu turun sambil senyum. Satu orang membawa kotak P3K tapi dengan diletakkan di bagasi mobil mereka.
Prita mengangguk. "Ada untuk apa?"
"A..da ber..apa? Ke-kelu..ar..kan," kata Rita menahan sakit dan hembusan angin dingin.
"Bi-bisa ber...diri?" Tanya Prita takut.
"Bisa. Cepat...ambil!" Kata Rita bersiap untuk yang terburuk.
Prita ambil dengan cepat meski tangan gemetaran, dia tetap memerintahkan tangannya untuk bertingkah dengan benar.
Para pengendara memandangi mereka, jarak Rita dan remaja agak jauh.
Prita berikan satu pada Rita. Rita menahan rasa sakitnya dan memegang tang besar.
Saat pengendara melihat itu, dengan sigap mereka menghentikan mobil, motor serta truk.
"Mereka mau diserang. Tolong cepat tolong!" Teriak supir truk.
Kazen dan Shin juga sudah hampir sampai, karena tidak sabar Kazen keluar dan berlari dengan sangat cepat.
Rita bernafas sulit karena harus menahan darah yang mengalir ke tanah dari kakinya.
"Tenang, ini obatnya. Kakak hanya perlu kemari saja. Kita tidak akan nakal," kata yang wajahnya sipit.
"Kalian memang sengaja. Kaki kakak saya retak dan berdarah karena kalian!" Teriak Prita dengan suara gemetaran.
Mereka menyorot senter dan melihat genangan darah. Mereka saling berpandangan.
"Maaf kak, maaf. Kami hanya ingin menggoda tadi tidak tahu kalau kakinya sampai memar," kata yang botak.
"Rita, bagaimana ini? Mereka sudah minta maaf," kata Prita dengan bodohnya.
"Iya, tuh kata adiknya. Nih obatnya," kata mereka.
Sementara beberapa orang audah berlarian menuju tempat mereka bahkan dari seberang juga.
Prita tidak tega dan berjalan ke arah mereka. Para remaja dengan sopan menunggu namun Rita menarik keras baju Prita dari belakang.
"KAMU PIKIR TIDAK ANEH, KALAU MEREKA TIDAK ADA MAKSUD MAIN-MAIN. KENAPA MEREKA SENGAJA MEMBENTURKAN MOBIL!?" Teriak Rita membuat Prita kaget sekali.
Prita diam sambil menangis, dia membanggakan otaknya yang pintar namun kebodohannya mungkin saja akan membuatnya dijebak.
"Pegang tangnya. Kalau terburuk, kita hajar kepala mereka sampai bolong!" Kata Rita erat menggenggam.
"Maaf, Rita," kata Prita menangis namun memegang tang dengan mantap.
Para remaja sadar taktik mereka terbaca oleh Rita apalagi terlihat jelas mereka memegang tang ukuran besar.
Malam semakin mendekat, Kazen sudah hampir sampai. Suara siren mobil polisi pun terdengar dari atas atas dan bawah.
Kedua mata mereka menutup dan menyebutkan Allahu Akbar beberapa kali sampai berharap bantuan datang. Allah swt tidak tidur dan mereka yakin meminta pertolongannya.
Para remaja mendekat entah bicara apapun, mereka sibuk mengucapkan nama-nama suci Allah swt. Kemarahan mereka tersapu, selanjutnya berpasrah.
"Jangan takut. Kami..." kata remaja baju kuning.
Sebelum mereka berdua dapat mendengar kalimat, sebuah jeritan keras membangunkan mereka.
Tendangan maut melayang ke arah dada remaja kuning itu dan terhempas sangat jauh dengan bunyi BRUK.
Pengemudi sampai dan membantu Kazen memukuli remaja tanggung sebagian menangkap lalu di tampar sekeras mungkin.
Bersambung ...