MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
91



Bagaikan memori kembali mengenai salah kirim paket, membuat Ney terkejut mendengarnya. Dia menatap nomor tersebut berkata dalam dirinya kenapa merasa tersindir?


"Mohon cek kembali ya Bu. Karena kami telah memeriksa tidak ada pesanan dengan nama tersebut," kata Manajer.


"Lho? Kok bisa? Saya benar-benar pesan kok," kata Ney kembali bingung.


Bagaimana bisa pesanannya tidak ada? Dia yakin melihat sendiri ATMnya berkurang dan berproses menuju tempat.


"Lewat mana ibu memesannya? Apa aplikasi Hokben?" Tanya Manajer menyamakan keterangan yang mereka dapat.


"Iya, saya pesan lewat aplikasi, saya juga sudah menyertakan nomor teleponnya kan," kata Ney menggigit kuku jarinya.


Manajer akhirnya menemukan pelaku yang memang memakai identitas palsu, dan lokasi Ney pun sudah dapat diketahui.


Entah ya betapa begonya dia, menghubungi pusat Hokben menggunakan nomornya sendiri, lalu mengaku sebagai Rita.


Kini nomor aslinya tertera dan mereka menuliskan nomornya.


"Nomor telepon yang ibu berikan apakah itu nomor asli atau nomor lain?" Tanya Manajer ingin lebih yakin.


Ney diam, agak terkejut dan mencari alasan. "Itu nomor saya yang lain tapi aktif,"


Manajer dan petugas cengengesan, sudah ketahuan lah muslihatnya masih saja tidak mau mengaku.


"Apa benar ini dengan Rita Ashalina sendiri?" Tanya Manajer.


Ney kesal kenapa sih ini petugas berbelit-belit? Terus bertanya soal keaslian Rita?


"Betul Pak, nama saya Rita Ashalina. Apa perlu bertanya berkali-kali?" Tanya Ney kesal.


"Memang ini aturan kami, Bu supaya tidak ada yang mengatas namakan orang lain. Kami perlu kepastian," kata Manajer membuat Ney diam.


Kemudian Fahri datang petugas pertama yang memegang kasus Ney.


"Bagaimana?" Tanya Manajer.


"Yang asli ini," kata Fahri menunjukkan lokasi Rita.


"Benar ini yang asli?" Tanya Manajer melihat posisinya.


"Benar Pak, minggu lalu orangnya sendiri yang mengirimkan lokasi dia. Saya dan teman-teman telusuri bahkan ada yang ke rumahnya. Bertanya ke tetangga, memang Rita yang asli ada di Lembang," kata Fahri.


"Kamu catat nomor orang ini dan sebarkan ke Hokben yang ada di Mall," kata Manajer.


"Baik, Pak," kata Fahri kemudian pergi.


Ney sebal kenapa lama dibalasnya, apa mereka sudah tahu kalau dirinya bukan Rita?


"Halo? Halo? Kok lama sekali! Saya sudah bayar lho kemarin. Mana pesanannya?" Tanya Ney lagi-lagi tertawa.


"Stok kami masih banyak Bu tapi orang yang bernama Rita Ashalina sendiri tidak merasa memesan dari aplikasi. Bagaimana Bu?" Tanya Manajer langsung.


Ney kaget, jadi mereka sudah hubungi Rita? Dan...


"I-itu saya kok. Mungkin Bapak salah nomor dan orang. Saya ini Rita Ashalina!" Kata Ney dengan gugup.


"Ini saya sedang menghubungi orangnya dan diangkat oleh bersangkutan. Bagaimana Bu apa mau dilanjutkan aktingnya?" Tanya Manajer yang sebenarnya sama sekali tidak menghubungi Rita.


Ney hanya terdiam, tidak menyangka kalau Hokben pun ternyata menunggu dirinya kembali menghubungi, bahkan menelepon.


Ney tidak tahu lagi harus bagaimana, yang hanya bisa dia lakukan termenung dan buntu pikirannya.


"Saya Rita, Pak. Masa Bapak tidak percaya?" Tanya Ney yang sudah berada di ujung tanduk.


"Baik, bila memang tetap pada pernyataan itu. Tolong sebutkan dimana Anda tinggal?" Tanya Manajer.


Tentu Ney bisa menjawab, "Di Lembang,"


Manajer mengangguk, masih bisa bersabar. "Baik, bukankah aneh bila Anda tinggal di Lembang tapi memesan Hokben dari Bogor?


Dua hari kemarin petugas kami sudah mengantarkan pesanan ke tempat yang Ibu katakan tapi herannya Bu Rita membalas, tidak memiliki aplikasi Hokben.


Tapi sekarang Anda mengakuinya," kata Manajer.


"Dan maaf, suara Anda dan Rita yang asli sangat berbeda. Jadi saya sarankan berhenti memalsukan data seseorang," kata Manajer.


Kok bisa tahu? Ternyata teman dari petugas pertama pernah sengaja membuat sesuatu dengan bertanya alamat.


Menelepon lalu Rita jelaskan bahwa alamat itu bukan di sini dan menjelaskan dengan lengkap.


Jadi memang suara Ney dan Rita sangat jauh sama.


Ney tidak bisa berkata apapun lagi kali ini dia sendiri yang kena ulahnya. Apalagi malunya sampai ke langit, ketahuan memalsukan data orang.


"Baik, sepertinya Anda telah tersadar, kami hanya ingin menginformasikan untuk berhenti menggunakan data orang lain.


Dengan niat untuk menipu kami dan mencemarkan nama baik pemilik nama yang asli.


Dan pesanan Anda sudah kami batalkan di hari Anda memesan, dengan ini saya berharap Anda belajar dari pengalaman.


Kami telah menyebarkan nomor Anda kepada para petugas sebagai cara darurat. Bila Anda terus menjalankan aksi seperti ini, Andalah yang akan rugi.


Semoga Anda kapok tidak lagi berpura-pura sebagai Rita Ashalina ya Bu. Bila terus bersikeras harap sebutkan nomor KTP. Terima kasih," kata Manajer menutup.


"Tapi saya memang..." kata Ney mulai menjelaskan.


"Untuk informasi Anda, kami telah mengetahui nomor asli Anda. Bila tidak ingin ditindak lanjuti mohon hentikan kebiasaan Anda.


Yang selalu memakai nama orang lain sebagai pemesan. Selamat siang dan selamat beraktifitas kembali." kata Petugas center.


Selesai ditutup mereka bersorak riang tampaknya banyak sekali yang melakukan hal tersebut, salah satunya Ney.


Ney terduduk dengan lemas, hpnya terjatuh begitu saja. Usahanya yang entah baik atau jahat, ya gagal semua.


Rencana pamer pada teman-temannya pun gagal sudah. Mana dia sudah gembor-gembor juga plus ada yang bertanya kelanjutannya.


Setelah membaca yang terakhir, dengan cepat dia membuka kartunya dan menggantinya. Dia merasa berdebar Rita sudah membuat jalan yang lebih berduri untuknya.


Dirinya tentu sudah tidak bisa lagi memesan seenaknya, mana suaranya juga sudah pasti direkam.


Ney kemudian memeriksa saldo ATMnya. Benar, ada pemberitahuan saldo yang dia gunakan untuk memesan Hokben, telah kembali masuk ke rekeningnya.


Sia-sia semuanya memang Rita menolak keras kehadiran barang-barang atau apapun yang berkenaan dengan Ney.


Tampaknya memang sudah masuk daftar hitam yang tidak akan pernah berubah putih.


Karena dia yang pertama masuk sampai daftar Danger bagi Rita, tidak ada yang lain.


Dari liptint ups bedak maksudnya, hampers, lalu sekarang hokben. Yang selanjutnya sudah bisa dipastikan teror dari dirinya yang terus menghubungi Rita.


Seperti di tahun-tahun lalu, sejak dia lulus SMP sampai kuliah. Itulah pekerjaannya yang berusaha terus mendekati Rita.


Ney hanya terdiam memikirkan semua perkataan Rita yang tidak pernah dia tarik kembali.


Justru yang ada hanya penyesalan bisa mengenalnya sejak dari SMP. Seharusnya dia lebih mendengarkan apa kata orang-orang bahwa Ney bukan orang yang baik.


Ney ingin melaporkan hal itu pada Alex namun Alex sudah sebulan ini tidak ada kabar apapun.


Ney mulai berpikir apa memang benar hubungan Alex dan Rita sudah berakhir? Karena dari Alex pun tidak memperlihatkan obrolan apapun.


Dirinya merasa resah dan gelisah, ada sesuatu yang menurutnya belum selesai. Ya belumlah, penyelesaian dengan Ney akan sangat mengenaskan!


Sebagai akhir kisah menyebalkan nya di season kedua ini. Ney mencari akun Alex tapi tidak ditemukan di mana pun.


Nomor hpnya pun sudah tidak terdaftar, Ney bingung apa yang telah terjadi padanya. Akun Pacebuk pun sudah tidak dapat dicari.


Kini Ney benar-benar frustasi mengetahui memang benar mereka berdua sudah lama tidak ada hubungan.


Akun Rita apalagi sudah lama tidak aktif hanya instagram saja namun itu juga sejak enam tahun yang lalu selalu dikunci.


Ney hanya bisa melihat foto profilnya saja tanpa bisa membuka ke dalamnya. Sungguh pemandangan yang membuatnya gila!


Bersambung ...