MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
105



Seorang ibu-ibu memakai gaun mewah warna hitam keluar, senyum pada mereka. Ney harus tahu siapakah dia dan menguping.


"Sudah selesai reuninya?" Tanya ibu itu kepada Xin.


"Sudah, aku mau pulang saja Mih, membosankan!" Kata Xin dengan manja.


"Ayo, Papih sudah menunggu kita di restoran. Kita makan siang bersama," kata ibu itu. Sontak Ney langsung melesat siapa tahu bisa diajak juga.


"Siang, Tante," kata Ney menyapa.


Xin mendelik begitu juga Artha. "Gila nih orang, tidak tahu diri dan kurang rasa malu sekali," bisik Artha. Xin setuju.


"Siang. Siapa?" Tanya ibu itu.


"Xin janji mau ajak aku jalan-jalan hari ini," kata Ney senyum.


Xin menganga, ibu itu heran menatap Xin. Xin menggelengkan kepalanya dan menatap sengit pada Ney. Ney tidak peduli, dia harus tah idenya mengenai targetnya.


"Oh, sayangnya Xin tidak pernah mengatakan ada janji lain dengan siapapun. Kamu siapa Xin?" Tanya mertuanya.


"Dia teman saya waktu di SMA," kata Xin sebelum Ney menjawab.


Ney menatapnya dengan senyum sesuatu.


"Tapi mereka bukan teman dekat atau sahabat Mah, ya sekedar kenal saja," sambung Artha membuat Ney kecut.


"Ohh begitu," jawab ibunya mengerti. Wajahnya agak curiga menatap Ney, kebanyakan orang pasti mengaku teman anak atau menantunya.


"Maaf, ibu ini orang tuanya siapa?" Tanya Ney.


Ibu itu kaget dan memandangi Artha. "Oh hahaha wajar sih kamu tidak tahu ya karena baru kenal anak dan menantu ibu," katanya membuat Ney kecut juga.


"Saya lupa pernah lihat tapi entah dimana," kata Ney.


Xin menahan tawa bersama Artha. Ney merasa kikuk karena memang tidak tahu.


"Waktu kelulusan memangnya kamu hadir?" Tanya Artha.


"Kelulusan? Hadir dong," kata Ney grogi.


"Kalau tahu kenapa bertanya? Kecuali saat kelulusan, kamu sedang mengejar ketertinggalan ujian karena nilainya rendah. Misal," kata Artha tertawa.


Ney memandang Artha agak kesal karena itulah Ney tidak tahu siapa ibu glamor ini.


"Saya ibunya Artha dan mertuanya Xin. Iya ya kalau kamu hadir pastinya tidak perlu bertanya. Saya juga penyumbang terbesar untuk kampus dimana kamu berkuliah sama dengan Artha," kata ibu itu.


Ney kaget, dia pernah sih membaca sebuah nama di urutan paling puncak. Nyonya Shien Long siapaa begitu pokoknya panjang.


Ney pikir pasti anaknya juga bernama cina, dia pikir itu Xin ternyata Artha! Tapi namanya... oh iya! Seingat Ney, nama Artha pun ada SL di ujung namanya.


"Artha namanya SL itu Shien Long?" Tanya Ney kaget.


"Iya nak. Itu nama keluarga besar kami, aneh juga ya kalau kamu bari tahu sekarang," kata ibunya dengan kesan curiga.


Ney kaget, dan memilih terus memainkan peran sebagai Temannya. "Oh, ibunya Artha. Saya Ney, pernah satu kelas dengan anak ibu,"


Mereka bertiga tersenyum.


"Sehari-hari Artha saat kuliah selalu berpakaian seperti anak liar. Bajunya kucel dan sering pakai sarung," Kata Ney tidak peduli dengan tatapan mereka.


"Ya ampuun kamu begitu saat kuliah? Apa gunanya Mama belikan kamu kaos seharga dua puluh juta? Haduuh memang anak ini senang berpenampilan seperti pengemis," kata ibunya membuat Ney menganga.


Xin hanya tertawa mendengarnya, Ney berpendapat ibunya lebih senang memamerkan sesuatu.


"Eh iya hehe," kata Ney yang berpikiran salah lawan.


"Artha memang begitu katanya supaya bisa mendapatkan perempuan yang tulus, bukan yang pura-pura. Jaman sekarang ya neng, memang sudah berbeda sih," kata ibunya.


Ney jadinya salah tingkah mendengar penuturan ibu Artha. Jadinya kecele sendiri, apalagi ternyata benar saja ponsel mungkin?


"Saya senang lho Artha mendapatkan Xin. Awalnya saya cemas karena nama Xin tampak berbeda saat kenal, eh sama-sama Cina," kata ibunya tertawa keras.


"Oh iya tapi bukankah mereka beda agama, Tante?" Tanya Ney.


"Beda? Ah! Namanya ya hoho Xin Islam tulen. Meskipun Nama saya Shien Long tapi kami semua Islam kok. Jadi tidak masuk kumpul kebo kan ya," kata ibunya menatap Ney.


Xin mengucapkan sesuatu dalam mulutnya, 'Rasain lo!' lalu tertawa gembira, Ney hanya terdiam.


"Kalau kamu mau tahu ya, waktu saya berpenampilan layaknya sarung kotor, itu Xin selalu menyiapkan baju bersih untuk solat. Xin juga selalu bawa mukena, kalau kamu temannya harusnya tahu dong," kata Artha.


Ney terdiam mendengarnya. Yah hanya sama-sama sekilas, ibunya menatap senyum pada mereka berdua.


"Kaget ya Mbak, ternyata Artha itu anak orang kaya? Makanya jangan menilai orang dari tebalnya dompet, sekarang kecewa kan?" Tanya Xin saat ibu dan Artha mengobrol.


Ney menatap Xin sangat jutek dan Xin tertawa keras kali ini. Mertuanya berbalik melihat jari tangan menantunya kosong.


"Cincin aku yakin imitasi," kata Ney.


"Hahaha!" Kata Xin.


"Xin, kemana cincin yang mamih belikan? Kamu tidak pakai?" Tanya mertua membuat Ney melongo.


"Aduuh pakai dong! Biar yang sering meremehkan kamu itu makan ludahnya sendiri! Kamu yang dulu kumel sekarang berubah menjadi incess," kata mertuanya kesal.


"Ah mamih aku lebih sudak terlihat sederhana dan miskin, jadi orang toxic pun tidak ada yang berani mendekat. Contohnya orang yang sekarang ngaku teman," kata Xin memandangi Ney.


"Tapi kan mamih belikan itu ratusan juta apa gunanya kalau kamu simpan? Ayo pakai!" Pinta mertuanya mencari cincin itu.


Ney hanya terus kaget dan melongo, jadi benar apa kata yang lain kalau Xin berubah menjadi sultan.


Yang sudah dia lakukan tidak akan bisa kembali, mau berusaha mendekati pun sudah yakin tertutup.


"Kalau aku pakai, orang-orang toxic pasti bermunculan. Biarlah Mih, aku memilih begini," kata Xin.


"Ya sudah terserah deh. Ponselnya mana? Kamu tidak jual kan?" Tanya mertua.


Bertambahlah kekagetan Ney. Para teman-teman yang lain memperhatikan dari jauh, mereka tertawa memandangi wajah Ney yang berubah pucat.


"Masih masih yang benar saja aku jual. Inikan ponsel terMAHAL kalau dibandingkan X1X1 mana ada setara kan," kata Xin melirik Ney.


Dia kesal sekali, yah rasakan lah pamer tapi salah lawan.


Xin lalu memeluk ibu mertuanya dan memberikan jari tengah kepada Ney, Ney langsung menggenggam tasnya dan agak menghentakkan kakinya.


"Yuk, Ma kita pergi kalau kelamaan di sini nanti ada yang mulai bicaranya tinggi. Padahal bukan level aku juga," kata Xin.


"Ya sudah ayo. Kamu yang setir mobil nya, Tha," kata ibunya.


"Beres. Oh iya Ney," kata Artha berhenti.


Ney menatap Artha agak waspada. "Apa?"


"Lain kali kalau kita bertemu lagi, aku harap perangai kamu diubah. Masa bertemu teman masih songong, pamer barang. Untuk apa? Yuk!" Kata Artha membuat Ney diam.


"Sial! Malah aku yang di buat K.O sama mereka. Ahhh!! Aku sama sekali tidak tahu soal apapun! Tahu begini, dari dulu aku tidak meremehkan siapapun," kata Ney yang kesal dan keluar mencari angkot.


Sambil menunggu Ney menatap mobil hitam mewah itu dan mendengus kesal. Semua rencananya benar-benar hancur, dia pun heran kenapa semuanya bersamaan dengan perginya Rita Ashalina dan Arnila sekarang pun Alex.


Dalam mobil Artha, ibunya bertanya soal keanehan tadi. "Artha, benar perempuan yang tadi teman kamu?"


"Aku juga tidak tahu tapi memang aku pernah dengar dari teman, aku sering dijuluki sama dia, Sarung Kotor," kata Artha menjalankan mobil.


"Tadi pernah satu kelas. Kok bisa?" Tanya ibunya.


"Sekali saja aku tidak tahu kalau dia sampai mengingat aku," kata Artha tertawa.


"Ya dia hanya ingat orang-orang yang menurutnya dibawah level dia. Sama aku juga sering bentrok, waktu SMA kan pernah berantem juga. Mulutnya kotor," kata Xin membuka ponselnya.


Artha mengangguk, ibunya mengerti.


"Kamu sekelas kenapa?" Tanya ibunya.


"Di kelas aku mendadak mati lampu Ma. Jadi otomatis kelasku disatukan sama dia. Hanya sehari itu saja," kata Artha.


"Aslinya juga aneh kok Mih. Di SMA juga tidak ada yang akrab sama dia, orangnya suka keluyuran sama laki-laki," kata Xin.


"Kamu tidak kan?" Tanya mertua.


"Aku keluyuran kan karena kerja bukan main liar," jelas Xin.


"Mamih tidak suka kalau dia benar jadi teman kalian. Mamih harap kalian tidak dekat sama orang seperti itu. Auranya bikin orang stres," kata ibunya merinding.


"Hahaha kan sudah Xin bilang teman yang salah paham ya kan?" Tanya Artha.


"Aku tidak ada yang salah ya menyapa semua orang. Dan bukan hanya dia saja yang aku sapa, tidak kuduga membuat dia merasa jadi teman aku hahaha," kata Xin.


"Iya syukur deh. Sebentar Mamah mau menelepon Ayah," kata ibunya.


"Xin, kok dia bisa datang ke reuni kamu?" Tanya Artha aneh.


"Aku juga aneh. Orang ini bukan kelas dia," kata Xin.


"Memangnya reuni minggu lalu tidak ada yang undang dia?" Tanya Artha.


"Tidak ada. Safa, Varinka hadir mereka tapi aku kan tidak terlalu kenal juga," kata Xin mengangkat bahunya.


"Gila ya bisa ketemu itu orang hahaha wajahnya tampak bete," kata Artha.


"Harus tuh memang sangat menyebalkan. Kamu dengar kan, Teman katanya hahaha siapa yang mau jadi teman makhluk aneh," kata Xin.


"Coba kamu tanya ke teman semasa SMA kenapa mereka tidak undang Ney?" Tanya Artha.


Xin kemudian bertanya pada sahabatnya, Siana. Siana menjelaskan bahwa mereka tidak mengharuskan mengundang orang yang selalu membuat masalah.


"Untuk apa aku undang orang yang sudah ejek fisik saudara aku? Jadi kami sekelas kompak, tidak akan ada yang mengundang dia. Dia datang ke reuni kelas kamu? HAHAHA sarap itu orang,"


Begitulah apa kata Siana. Intinya siapapun tidak membutuhkan kehadiran pembuat onar dan cerita soalnya selesai.


Bersambung ...