
Makanan yang mereka pesan satu per satu tersaji, bahkan tanpa sepengetahuan Rita ada pramusaji yang menyelipkan nomor teleponnya.
Pemandangan itu sudah biasa bagi Kazen, Prita tampak terkejut sambil menatap sang pelayan dengan tajam dan Rita.
Kazen tidak menyentuh atau menyembunyikannya, sampai Rita menyadari seutas kertas itu.
"Apa itu?" Tanya Rita menunjuk.
"Kertas," kata Kazen.
"Kertas tapi sepertinya penting. Sini aku buka," kata Rita. Kazen memberikannya, sang pelayan tampak kaget.
Rita buka dan tertera nomor 123223 di dalamnya dan membacanya dengan keras tanpa ampun.
"Hubungi aku ya di nomor ini, kita kenal mengobrol semalaman. Jangan sampai pacar kamu tahu. Love!!!" Kata Rita membuat pembeli kaget.
Kazen hanya tertawa mendengarnya. "Sudah biasa. Di luar negeri lebih agresif lagi,"
"Pasti langsung minta tidur ya di hotel," tebak Prita.
Kazen mengangguk. Rita remas dan lempar ke tempat sampah, pelayan hanya terdiam dan teman-temannya tertawa.
"Pasti matre hanya lihat fisik kamu sama tebal dompet doang," kata Rita cuek.
Pelayan itu langsung masuk bergegas ke dalam dapur, belangnya sudah ketahuan.
"Hahahaha!" Tawa Kazen agak bergema.
"Yah bagus deh kalau memang begitu tapi jangan dibaca sekeras juga," kata ibu.
"Biarin! Kan enak serasa diumumkan ya hubungan yang dia mau," kata Rita menatap tajam Kazen.
"Ampuuun," kata Kazen mengatupkan kedua makanannya.
Pelayan lain datang sambil meminta maaf atas masalah yang dibuat temannya. Mereka memaklumi, Rita tidak marah karena Kazen pun terlihat biasa.
Rita melihat sekeliling dan melihat seledri kualitas bagus. "Eh ada seledri bagus kita beli buat Bubu ya," kata Rita pada Kazen.
"Boleh," kata Kazen. Mereka berdiri untuk membeli dua ikat seledri dan Kazen membayarnya, meski Rita sudah lebih dulu menyerahkan uang.
Mereka makan tidak lupa Rita memfoto makanannya dan dia pasang di instagram nya. Dengan memasang tagar, "Mr. Marshmallow#lunch yg terlambat#so happy,"
Rita tertawa melihat beberapa foto yang dia masukkan, Kazen penasaran. Selama memiliki hubungan dengan Rita, dia tidak pernah mempersempit hubungan Rita dengan siapapun kecuali laki-laki.
"Update apa sih? Tampaknya kamu senang," kata Kazen mendekatkan bahunya.
Kalau perempuan lain mungkin langsung menutup ponselnya dan berkata tidak apa-apa, tapi kalau Rita langsung memberikan ponselnya.
Dia tidak peduli bila Kazen memeriksa semua isi ig. Toh tidak ada yang penting juga hanya penuh dengan ide-ide kreasi makanan, bungkus kado dan kreatifitas lainnya.
"Nih lihat," kata Rita.
Kazen senyum dan tertawa, foto Bubu pun ada dengan tagar My First Pet from Mr. Marshmellow.
Dia lihat yang lain kebanyakan foto hanya berisi satu atau empat kata-kata saja. Tidak ada alamat tempat dia berada dimana.
Sudah kenyang dan Kazen membayar semua yang sangat murah, apalagi mendapatkan bingkisan pertama datang.
"Kita jemput Bubu. Sudah sore," kata Bapak senang.
Bapaknya memang menyukai binatang yang lucu termasuk kucing dan kelinci. Mereka semua senang sekali.
Mereka tiba tempat bermain itu nampak sepi karena sudah sore. Rita dan Prita mencari Bubu, namun mereka tidak menemukannya.
Rita tidak yakin dan mencarinya lagi mungkin dia melewatkan satu tempat.
"Ada?" Tanya Prita heran.
"Tidak ada. Apa jangan-jangan dikembalikan ke kandang awal?" Tanya Rita menduga.
"Kan sudah dibeli. Tapi coba saja kan kata petugasnya banyak yang tidak jadi ambil dia kan," kata Prita.
Rita pergi, Kazen hanya memperhatikan begitu juga orang tuanya. Karena merasa ada sesuatu yang aneh, mereka bertiga menyusul.
"Kenapa Pri? Rita kemana?" Tanya Bapak.
"Bubu tidak ada dimana-mana jadi mau memastikan takutnya di kandang," kata Prita.
"Kuta ikut cari deh masa iya sih kelinci sebesar itu tidak ada," kata Bapak.
Rita kembali dengan wajah cemas dan sedih. Mana sudah dibayar yang gila saja kalau diambil orang.
"Ada?" Tanya semuanya.
"Tidak ada. Bagaimana dong?" Tanya Rita putus asa.
"Kita cari masih siang juga kan," kata Kazen menenangkan.
Mereka semua mencari ke semua sela permainan. Tidak ada! Rita sudah agak putus asa dan terdiam.
Petugas toko hewan pun datang ikut membantu, dia tahu biasanya dimana Bubu suka sembunyi.
"Masih rejeki," kata Bapak senang. Ikut mendatangi tempat itu.
Mereka melihat bulu Bubu meremang di pojok. Agak dalam juga mereka tidak bisa menggapainya.
"Coba panggil," kata Prita.
"Bubu. Bubu sini," kata Rita memanggil namanya.
Kelinci hanya trauma sudah beberapa kali dia ditinggalkan. Sedih dan terus menangis di pojok, dia enggan keluar sampai yang membelinya datang.
Mendengar suara Rita telinganya agak bergerak. Pelupuk matanya basah, dia pikir itu hanya khayalannya.
"Bisa?" Tanya Bapak.
"Uh! Susah! Dalam sekali. Bubuu," kata Rita.
"Kelinci itu sudah sering ditinggalkan, ditukar lagi dengan uang. Jadinya trauma sekali," kata petugas dengan sedih.
"Ditinggal di sini?" Tanya ibu agak terenyuh.
"Iya Bu. Dia dibeli karena kasihan lalu diajak bermain disini dan ditinggal begitu saja. Jadi memang sering diam di kandangnya, mungkin sedih juga lihat teman-temannya ada yang beli," kata petugas.
"Bubu sayaang," mereka bergantian memanggil.
"Iik iik," ucap Bubu agak sedih.
Rita mengambil seledri dan memasukkannya. "Yuk pulang sudah sore. Aku beli seledri enak khusus buat kamu saja,"
Bubu melihat daun seledri yang menyembul namun dia tidak mau keluar.
Agak ragu Bubu melangkahkan kakinya, dulu pun pernah begitu tapi mendengar kata Pulang.
Bubu enggan percaya tapi tidak ada salahnya kan mencoba?
Tangan Rita kesakitan karena harus menahan sisi lain dari tempat bermainnya. Dan sudah menyerah sampai akhirnya Bubu melangkah.
Hidungnya keluar mencium bau seledri dan Rita membelai lembut hidungnya. "Baiklah, terakhir ini aku akan mencoba percaya," pikir Bubu.
Bubu keluar dan semuanya menyambutnya. Kazen dan Prita mengulurkan tangan, begitu juga Bapak. Kedua matanya terharu, berkaca-kaca.
Dia menjilat semua tangan, ibu juga nampak lega. Kazen mengangkatnya dan menggendong.
"Ayo pulang. Lihat kan? Kami tidak meninggalkan kamu," kata Kazen senyum.
Bubu mengedipkan matanya, dan Prita mengusap air matanya. Rita mencium kepalanya dengan sayang.
Kazen menyerahkan Bubu pada Rita untuk digendong. Prita dan Rita memeluknya bersamaan, Bubu senang sekali dan menjilat wajah mereka.
"Jangan sedih lagi ya," kata Bapak membelai kepalanya yang mungil. Bubu menjilat juga dia bersyukur kali ini tidak meleset.
Mereka pulang jalan kaki, Prita berjalan sendirian sambil membawa belanjaan ibu.
"Bubu, tolong hibur adikku ya," kata Rita berbisik di telinga panjangnya. Bubu nampak mendengarkan dan memandangi Prita.
Prita dipanggil dan menyerahkan Bubu, Bubu lompat dan menyandarkan ke pelukan Prita.
"Nanti gantian," kata Bapak. Ibu memandangi kelinci yang ramah itu dan membelai kepalanya.
Bubu tahu ibunya tidak menyukai tapi dia akan berusaha untuk mengambil hatinya.
"Hmmm lembut sekali bulu kamu. Kami tidak akan membiarkan kamu sendiri," kata Prita memeluknya.
Kelinci yang Rita pilih adalah jenis Rex. Yang di katakan kelinci paling ramah dan hanya butuh tiga hari untuk mendekatinya. Dan berumur panjang bila benar merawatnya.
"Kenapa kamu memilih Bubu? Padahal kelinci lain banyak yang bagus. Ada Polandia, Mini lop, Eropa, Fuzzy lop, Netherland Dwarf dan Jersey Wooly. Mereka bagus lho," kata Kazen yang tertarik pada Polandia.
"Kelinciku yang awal juga Rex karena sangat ramah. Mereka seperti lebih mengerti perasaan manusia. Kalau lokal terkesan cuek, "Sesuka aku"," kata Rita.
Kazen tertawa mendengarnya. "Jadi sudah ada sejarahnya toh. Lalu kenapa memilih yang cacat?" Tanyanya.
"Seperti aku," kata Rita.
"Maksudnya? Menurutku kamu tidak cacat," kata Kazen.
"Cacat. Masalah aku dan Bubu sama, di kaki. Kaki dia luka dan mengering lebar kan, bagaimana dengan kakiku? Aku mengalami kecelakaan dan harus ditopang penyangga," kata Rita.
"Ahh aku mengerti," kata Kazen.
"Kamu tidak masalah meskipun kaki aku cacat, justru kamu banyak membantu. Untuk Bubu juga, aku ingin menjadi kekuatan baginya," kata Rita tertawa.
Sekilat mungkin Kazen mencium kepala Rita dan tetap kena jotos. Kazen mengelus dagunya dan masih tertawa.
Bubu bersandar pada bahu Prita menatap mereka berdua yang kemudian saling bercanda. Dalam perjalanan, Bubu berganti tempat.
Bubu tidur di pangkuan tangan Bapak, Bapak senang sekali
Bersambung ...