
"Apa sekarang mereka masih ada kontak?" Tanya Kazen.
"Hmmm kami tidak begitu mau ikut campur urusan dia sih.
Kalau dia mau cerita, ya kami siap mendengarkan dan memberikan saran.
Tapi kalau dia tidak mau ceritakan, ya tidak kami paksa," kata Komariah.
"Jadi dia jarang cerita soal hubungannya dengan laki-laki pertama itu?" Tanya Kazen.
"Bukan jarang ya, dia cerita kalau tidak bisa ditangani lagi. Ya ada cerita soal orang yang tidak tahu malu, mengaku sebagai sahabat tapi omongan menyimpang," kata Koma.
Kazen tahu ini pasti soal Ney.
"Kalau soal Alex, ya dia cerita kalau sudah tidak bisa menahan. Waktu itu dia ceritakan semuanya," kata Koma.
"Menurut kami sih, sebenarnya dia ada rasa suka pada Alex. Tapi kelakuannya ternyata tidak menduga, lebih membela orang yang dia tidak kenal daripada yang sudah dia kenali," kata Diana.
"Susah sih mereka baru bertemu sehari," kata Komariah.
"Oh, sudah bertemu? Hmmm agak aneh ya kalau begitu kenapa dia masih membela orang lain sih. Ada kemungkinan dia mempermainkan perasaan teman kalian," kata Kazen.
Mereka berdua setuju.
"Kalau soal Ney, memang menjadi suatu trauma terdalam buat Rita sih. Karena Ney dikenalnya dari SMP ya, tapi kelakuannya benar-benar kurang ajar," kata Diana dengan marah.
"Memang dia itu punya banyak masalah sih dengan orang. Dirinya sendiri juga banyak masalah," kata Kazen.
"Eh? Apa?" Tanya mereka bersamaan.
"Oh! Tidak apa-apa. Aku juga sama berpikir mereka berdua sangat aneh kan. Lalu apa kalian tahu kalau Rita kecelakaan?" Tanya Kazen.
Menurut Diana dan Komariah, tampaknya Kazen tidak begitu tertarik dengan masalah Ney dan juga Alex.
Mereka yakin, pemuda tersebut mungkin sudah mengetahui mengenai mereka bertiga.
"Kami akan menjenguknya setelah menangkap pelaku nomor ini," kata Diana tersenyum.
Kazen tertawa. "Aku... apa bisa..."
"Ya ya ya kita tahu maksud kamu. Kamu tertarik ya pada sahabat kami?" Tanya Koma.
Kazen mengangguk, mereka berwajah serius.
"Aku sempat berkomunikasi dengan laki-laki yang pertama. Meminta dia untuk tidak menyakiti Rita bila memang serius, tapi ternyata dia melanggar," kata Koma.
"Oh, waktu aku pulang ya ke Bengkulu itu?" Tanya Diana.
"Iya, Rita bingung mau memperkenalkan kamu ke Alex. Terus kamu bilang kan sibuk, jadi ya cuma aku yang bisa," kata Koma.
"Jadi kamu dikenalkan? Kenapa tidak dari tahun lalu?" Tanya Kazen aneh.
Diana dan Komariah tersenyum.
"Rita ingin menguji kesetiakawanan Ney. Kalau kami berdua kan tidak diragukan, tapi kalau Ney? Makanya dia berani merundung Rita," kata Diana.
"Aaah aku mengerti sekarang. Apa jangan-jangan Rita juga ragu pada Alex?" Tanya Kazen.
"Iya makanya dia satukan dengan Ney meskipun jadinya harus dia yang sangat kecewa. Apalagi dengan Ney, yang dia sangat percayai ya," kata Koma.
"Kenal dari SMP tapi tampaknya Ney ini tidak kenal Rita sama sekali," kata Kazen, mereka setuju.
"Aneh kan? Kita saja kenal Rita selama tiga hari juga sudah nyaman, dan kita tahu banyak. Tapi kalai Ney, agak tidak normal," kata Koma.
"Tapi setelah Rita kenal Alex ini, dia mengaku-aku sebagai sahabatnya. Dari sini kita bertiga tahu muslihat dia seperti apa," kata Diana.
"Bukan Rita saja tapi ke semua orang dia begitu. Matre ya? Senang teman yang kaya daripada yang dibawah," kata Kazen.
"Iya. Kelihatan sekali karena Ney pernah memfitnah soal Diana ke Rita, dan sebaliknya. Tapi yang dia tidak tahu kalau hubungan kita sudah seperti kakak adik," kata Koma.
"Wah, dia pasti kaget sekali," kata Kazen tertawa.
"Rita kan langsung labrak dia, dijebak juga. Mana pakai pengeras suara jadi apa yang Ney beritahukan ke Rita ya terdengar sama aku juga," kata Diana.
"Langsung dilabrak?" Tanya Kazen bengong.
"Iya kalau Rita begitu sih. Kebetulan nya Ney ini menelepon Rita dan bilang kalau Diana sebenarnya tidak suka berteman sama dia," kata Koma.
Kazen tertawa. Memang sih menurut pendapatnya Rita itu semacam Banteng, ada orang yang bicara tidak sesuai karakternya, siap-siap diseruduk.
"Dia kejebak ya saat tahu Diana ada di samping Rita," kata Koma ketawa.
"Pasti wajahnya semerah lobster," kata Diana tertawa juga.
Ternyata Kazen tidak perlu cemas, dia pikir Rita perempuan yang sangat lembut membuatnya agak cemas.
Ternyata galak dan langsung melabrak orang yang bermasalah dengan para sahabatnya.
"Sepertinya Alex ini tidak peduli seberapa sakitnya sahabat kalian. Sudah? Saya mau bayar dulu," Kata Kazen berdiri.
Saat Kazen pergi, Diana dan Komariah juga berdiri. Kue dan minuman sudah habis, ini juga pertama kalinya mereka memakan kue selembut awan.
"Na, menurut kamu bagaimana soal Kazen? Apa dia akan sama dengan Alex?" Tanya Koma.
"Semoga saja tidak meski aku juga agak takut sih. Rita sudah cukup sedih karena Alex, semoga Kazen bisa membuatnya lebih bahagia," kata Diana.
"Semoga mereka berjodoh ya hehehe," kata Koma. Diana setuju.
"Kalau Alex tahu Rita punya yang baru, aku sumpahin dia menyesal!" Kata Koma.
"Kazen ganteng ya. Rita beruntung disukai laki-laki seganteng Kazen," kata Diana.
"Setelannya juga tampak seperti pria pekerja keras, lalu ramah dan sopan sekali. Meski galak juga ya hahaha," kata Koma.
"Rita juga galak, semoga langgeng," kata Diana mendoakan.
Selesailah kilas balik tersebut, Rita mengerti. Diana dan Komariah berjanji tidak akan menceritakan bagian Kazen selalu mengawasi Rita dengan cctv.
"Oooh begitu ceritanya hehe. Ayo di minum dulu," kata Rita mengambil gelas.
"Ibumu pergi ke sekolah?" Tanya Diana mencari.
"Iya," jawab Rita dengan senang.
Hanya mereka bertiga yang tahu bahwa senyum Rita adalah palsu. Terbesit kesedihan mendalam.
"Aku ijin keluar dulu ada yang ketinggalan," kata Kazen.
"Oh, iya maaf tidak bisa mengantar," kata Rita agak lesu.
"Nanti aku kembali lagi kok," kata Kazen.
Kazen kembali dengan bingkisan yang agak banyak serta kue tart. Rita bengong melihatnya, dia bingung juga.
Diana dan Komariah sudah tahu karena Kazen bertanya pada mereka. Yah, mereka juga sama terkejutnya.
"Ya ampun! Tidak perlu repot-repot," kata Rita asli terkezut.
"Tidak merepotkan kok kan menjenguk," kata Kazen.
Mereka semua tertawa, ini seperti acara lamaran saja karena ada simbol kue.
Seren dan Shin bengong melihat Kazen yang jaraaang sekali berwajah malu dan gugup. Padahal namanya playboy kok bisa se gugup itu?
"Owh, dia jadi agak beda ya," bisik Seren.
"Iya. Mungkin memang Rita perempuan yang beda ya. Aku juga melihat dia kok jadi imut," kata Shin.
"Jangan sampai Zen tahu kamu mengatakan dia imut. Mengerti kan efeknya?" Tanya Seren.
"Aku tahu," kata Shin menahan tawa.
"Imut" adalah kata yang terlarang bagi Kazen kalau ada yang mengatakannya begitu, siap-siap diberikan tugas segunung dan lembur satu bulan penuh!
Pegawai dan sahabatnya sendiri pun tidak pernah mengatakan kata itu meskipun mereka sangat kesal.
Tapi kalau Rita yang katakan bagaimana ya? Bisa jadi diberi segudang bingkisan seperti kemarin malam.
"Iya sih menjenguk, tapi ini... seperti aku sedang ulang tahun saja. Terima kasih ya," kata Rita senang.
Semriwing angin hangat berhembus dalam hati Kazen. Dia senang sekali melihat senyum tulus Rita tanpa kesedihan.
Diana membantu Rita menaruhnya di sebelah kursi.
"Lain kali kalau kesini jangan bawa apa-apa. Datang saja sudah cukup," kata Rita sangat malu.
Kesan itu sama saat Rita menerima kue tart dari Alex, ya yang dikira Ney adalah dari Arnila. Rita juga senang, karena kue itu memiliki bunga sakura yang indah.
Kazen mengangguk dan duduk kembali, pintu gerbang terbuka. Rita agak tegang, mungkinkah...
"Assalamualaikum!" Kata Prita yang membuat Rita lega.
"Walaikumsalam," kata semua orang kecuali Seren.
"Lho? Ada tamu ya? Eh kak Kazen dan..." kata Prita sambil berpikir.
"Shin," kata Shin sendiri.
"Ohh iya iya yang menolong kita waktu kemarin ya. Ada Teh Diana dan Teh Komariah juga. Waduh, ada apa ini?" Tanya Prita melihat bingkisan agak besar di samping kursi.
"Kita mau menjenguk," kata Kazen.
"Prita pulang secepatnya takut ada apa-apa dengan Rita tapi ternyata lagi banyak tamu ya," kata Prita melepaskan sarung tangannya.
"Tenang bantuan telah datang," kata Diana.
"Hai, saya Serenity," kata Seren berdiri agak cemburu Shin dan adik Rita saling kenal.
"Oh. Ya salam kenal, cantiknya! Pacar siapa?" Tanya Prita langsung.
"Pri, simpan kan dong ini ke kamar," kata Rita memotong.
"Oke oke, jadi bule cantik ini pacar siapa? Apaaa kak Kaz..." tebak Prita.
"Pacar saya," kata Shin langsung.
"Oalaaa maaf ya aku kirain. Oke deh aku simpan dulu," kata Prita dengan senang.
"Sekalian ambilkan cemilan dong di kamar. Terserah apa saja," kata Rita yang diacungi jempol oleh Prita.
Diana dan Komariah ikut membantu, sudah tentu mereka ber ghibah mengenai Kazen di dapur dan kamar.
"Makan enak lagi nih," kata Prita cekikikan. Mereka berdua juga sama.
"Semoga kali ini Rita bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih yang asli," kata Diana.
Prita datang membawakan teh untuk tamu Rita.
"Silakan diminum. Maaf ya hanya ada teh," kata Rita senyum.
"Aih, tidak perlu," kata Shin.
Kazen langsung meminumnya membuat Shin menatap datar.
"Kan disuruh minum," kata Kazen cuek.
"Haha kalian pasti haus kan dari Bandung ke Lembang, perjalannya panjang. Tidak ada yang mabok kan?" Tanya Rita menatap mereka bertiga.
"Seren," kata Kazen dan Shin bersamaan menunjuk.
"Kalian!" Teriak Seren sebal memukul jatuh tangan mereka.
"Hahaha!" Kata Rita tertawa melihat kelakuan mereka bertiga.
Bersambung ...