
"Terima kasih Kak," kata Prita yang memang kelaparan. Kazen mengangguk.
"Kamu suka menyimpan makanan?" Tanya Kazen pada Rita.
"Iya, karena dulu waktu mengerjakan tugas sekolah banyak jadi harus ada makanan," kata Rita melahap roti dan membuka susu cokelat.
"Tapi tidak gemuk ya. Tetap kurus," kata Kazen terlepas begitu saja.
Shin langsung menyikut pinggang temannya itu dengan tatapan tajam. Kazen langsung sadar dan ingin memperbaiki.
Dulu banyak perempuan yang sampai menangis gara-gara perkataan nya seperti itu.
"Eh, maksudku..." kata Kazen.
"Cacingan," kata Rita tertawa sambil terus makan.
Mereka bengong dan tertawa bersama, Prita pun ikut tertawa. Kazen menatap Shin, untunglah Rita tidak begitu sedih.
Rita agak salah tingkah namun dia tidak ingin terlalu tertarik pada kejadian sebelumnya dengan Alex.
Dia ingin berjaga jarak dengan laki-laki lain. Bukan menjaga hati karena sudah sangat sakit karena si Malaysia.
Kazen mengerti, dia tahu betul rasa sakit yang Rita rasakan. Inginnya dia berharap bisa menjadi obat penyembuh untuknya.
Dia sangat membenci Alex yang seenaknya dan lebih membela perempuan yang jelas memiliki niat jahat.
Kazen dan Shin juga memakan chiki dan banyak makanan lain. Sambil melirik jam tangan mereka.
Memeriksa kedua tangan Rita dan adiknya sudah tidak begitu gemetaran. Karena sudah kenyang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bapak menelepon dan Prita mengatakan bahwa perjalanan sedang macet.
Masih banyak tersisa mereka bingung.
"Ini cukup tidak ya di bagasi motor?" Tanya Prita.
"Mana mungkin tapi coba saja diatur. sebagian masukkan ke dalam tas," kata Rita berusaha berdiri.
"Aku bantu," kata Kazen.
Rita menatap ke bawah, dia memerah wajahnya berdekatan dengan Kazen. Sedangkan fokus pada kaki kanan Rita.
"Kami antar ya kali kamu sedang luka kalau ditekuk, nanti takut semakin parah," kata Kazen sangat cemas.
"Tidak perlu. Aku sudah baikan sudah banyak makan juga," kata Prita berjalan pelan.
Badan Kazen sangat kuat, Shin tidak membantunya menggotong Rita. Wajah Rita hampir kena dadanya dan langsung menghindar.
"Oh, maaf," kata Kazen menahan malu.
"I-iya," kata Rita pelan. Wajahnya panas!
Kazen menyandarkan Rita dan Rita berusaha menaiki motor. Kazen berada di kanan membantu Rita duduk.
"Jangan cemas kita kuat kok tadi kita sudah siap menghajar pakai tang," kata Rita memandangi wajah tampan Kazen.
Mereka kaget namun tersenyum. "Iya kalian kuat tapi tetap butuh bantuan untuk hajar mereka," kata Kazen.
"Karena ada kalian jadi lebih banyak terbantu. Sekali lagi terima kasih, kami bisa pulang kok," kata Rita lagi meyakinkan.
Prita menyalakan motor meski terpleset menaikkan sanggahan, akhirnya dibantu oleh Shin.
"Kami akan mengikuti dari belakang," kata Shin.
"Jangan sudah malam," kata Rita tidak enak juga.
"Kita laki-laki, tenang saja takutnya nanti ada yang iseng lagi. Kondisi kamu bukan dalam posisi menyerang," kata Kazen memaksa.
"Oke deh," kata Prita.
Mereka kemudian pergi duluan dengan kecepatan yang biasa karena Prita masih takut.
"Eh, Rita. Mereka keren sekali, mobilnya juga keren pasti orang kaya tuh," kata Prita.
"Hehehe iya benar. Aku sempat melirik juga. Oh iya kamu tahu? Mereka kan yang bertingkah konyol di depan mesjid ITB," kata Rita tertawa.
"Ohhh! HAHAHA bodor! Mereka masih mengikuti kita?" Tanya Prita.
Rita menatap ke belakang, karena malam tidak terlihat tapi Kazen melambaikan tangan dengan serius.
"Masih. Berkat mereka kita selamat," kata Rita.
"Dia bisa berkelahi lho kamu lihat bagaimana remaja itu terpelanting," kata Prita.
"Iya. Langsung bonyok memar kan wajah mereka," kata Rita mengingat kejadian itu.
"Parah tapi sepertinya tertarik sama kamu deh. Sudah sama dia saja nanti, lupakan Alex kampret itu," kata Prita kesal.
Rita tertawa mendengarnya, yah Prita adalah satu-satunya keluarga yang sangat dekat dengannya. Soal Alex pun dia yang pertama tahu dan mau dengar semuanya.
"Sudahlah, Alex sudah tidak ada lagi dalam ingatan, Pri. Semoga dia menikah dengan orang lain sekarang. Jadi aku bisa move on," kata Rita.
Motor mereka memasuki kawasan Lembang, udara mulai naik. Rita gerah karena kakinya diperban dengan begitu tebal.
"Nanti kalau ditanya ibu bapak, bagaimana?" Tanya Prita.
"Tidak perlu bilang memangnya mereka peduli," kata Rita.
Ibunya kepala sekolah yang sangat sibuk, sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk anak-anaknya terutama Rita.
"Apa kakinya sakit?" Tanya Prita yang sebisa mungkin agak pelan.
"Tidak karena terkena angin yang dingin lagipula perbannya tebal sekali," kata Rita menatap kakinya.
"Soalnya kita pakai motor takut terkena guncangan," kata Prita membuka pelindung kaca helmnya.
Dalam mobil Kazen memicingkan matanya dan panik, "Shin, kenapa dia membuka kaca helm? Kan dingin. Tidak baik,"
Shin hanya mendengarkan omelan sahabatnya yang penuh kecemasan. Mau dibilang apapun, tidak ada gunanya.
"Dia bisa masuk angin," kata Kazen.
"Iya iya iya tenang saja dia kan orang Lembang," kata Shin menggelengkan kepala.
Akhirnya mereka sampai si rumah, motor dimatikan agar tidak berisik mengganggu tetangga.
Kazen cepat keluar dan membantu Rita turun.
"M-makasih. Maaf berat," kata Rita malu sekali.
"Ringan kok hehe. Aku bantu," kata Kazen membuka gerbang dan Prita membopong motornya masuk.
Rita mencoba jalan, setidaknya bisa dia seret karena perbannya membentuk kakinya.
"Bagaimana caranya masuk rumah?" Tanya Kazen.
Shin sengaja batuk keras dan mengatakan Lembang dingin.
"Yuk Rita," ajak Prita yang membantu berjalan.
"Maaf ya tidak menawari kalian masuk. Sudah terlalu malam," kata Rita.
"Iya, tidak apa-apa. Eh, maaf!" Kata Kazen.
"Ya?" Tanya Rita heran.
Prita juga bingung kenapa nih?
"Nama kamu boleh tidak aku tahu. Maaf tidak sopan kamu lagi sakit," kata Kazen salah tingkah sambil menggosokkan kedua tangannya ke belakang baju.
"Aduh, kenalan saat ada musibah," kata Shin sengaja.
Kazen mengepalkan tangan kanannya dan Shin terkekeh-kekeh.
"Cieee ternyata ada udang dalam baskom," kata Prita juga menggoda.
Rita tertawa. "Namaku Rita Ashalina. Kamu?"
"Kazen Mahendra Darma. Panggil saja Kazen," kata Kazen akhirnya berhasil mendapatkan nama Rita.
"Kazen ganteng!" Seru Shin lagi dan setelahnya masuk mobil.
Mereka berdua terdiam, Rita bingung dan Kazen pun bingung.
"Anuuu harus masuk," kata Rita.
"Oohhh saya juga harus pulang," kata Kazen salah tingkah.
"Oya iya," kata Rita.
"Besok," kata Kazen.
"Ya?" Tanya Rita.
"Kalau kerjaan aku sudah beres, aku boleh ke sini lagi kan? Maksudnya ingin tahu apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kazen.
"Ohhh hoh ya boleh. Dengan temannya lagi?" Tanya Rita.
Kazen menatap Rita, wajahnya agak terkejut apa jangan-jangan Rita suka...
"Kamu tidak mungkin datang sendiri, mungkin. Jalan menuju ke sini kan panjang," kata Rita dengan santai.
"Ohh benar juga. Dia juga ingin tahu apa kamu akan baik-baik saja. Errr kamu suka sama Shin?" Tanya Kazen.
"Hah? Oh! Tidak, aku tidak minat dengan om-om," kata Rita dengan polosnya.
Kazen tertawa keras mendengarnya dan menatap Shin yang bengong.
"Kalau begitu lebih suka yang berondong?" Tanya Kazen.
"Eh? Oh! Tidak juga hehehe saya punya trauma sama berondong karena kejadian tahun lalu. Jadi yang biasa saja," kata Rita.
"Oh begitu," kata Kazen dengan suara ramah.
"Ohh jam berapa kamu akan datang?" Tanya Rita.
"Sekitar jam dua," jawab Kazen mantap.
"Baiklah," kata Rita.
Kemudian Kazen pulang dengan Shin dan Prita menutup gerbang lalu menggoda kakaknya.
"Benar kan dia ada hati sama kamu. Cieeee," kata Prita.
Rita tertawa malu. "Jangan lupa makanannya,"
Mereka masuk ke dalam rumah dan sempat dimarahi oleh ibu karena pulang terlalu malam.
Bapak kaget Prita membawa sekantong plastik besar berisi makanan begitu juga Rita. Dia berjalan agak menyeret.
"Kamu kok jalannya begitu sih?" Tanya Bapak aneh. Dan kemudian datang membuka belahan.
"Astagfirullah. Kamu kenapa?" Tanya Ibunya kaget.
Mau tidak mau diceritakan semuanya oleh Prita dan Rita. Namun ibu hanya mau mendengar kisah Prita saja.
Rita sambil membuka makanan dan menawarkan pada Bapaknya. Kedua mata bapak berlinang air mata.
Tapi tidak dengan ibunya yang bersikap masa bodoh dan Prita kesal.
"Bu! Apa hanya itu respon ibu? Rita itu habis kecelakaan! Motor kita dipepet mobil remaja. Dibenturkan! Dan korbannya kaki kanan Rita!" Kata Prita.
"Oh ya? Masa? Ya ampun! Masih selamat kan cepat ganti baju," kata ibunya tidak peduli.
Rita dibopong oleh Bapak dengan wajah yang memerah. "Ayo, kita ke rumah sakit,"
"Tidak udah," kata Rita.
"Bapak siapkan mobilnya. Prita kamu ikut," kata Bapak tanpa bertanya pada ibu.
Ibu tidak menjawab saat mereka pergi, ibu juga tidak menawarkan untuk ikut. Mereka bertiga pergi ke Rumah sakit terdekat dan memeriksa.
"Cukup istirahat empat hari ya jangan dipakai berjalan jauh atau lama," kata dokter sekalian memberikan obat penurun demam dan obat anti sakit.
"Apa perlu pakai penopang kaki dok?" Tanya Bapak.
"Ya kalau teteh nya harus berjalan cukup jauh. Jangan bekerja dulu ya minta cuti," kata dokter.
"Tidak usahlah," kata Rita.
"Pakai saja. Saya beli tongkat penopang kakinya," kata Bapak mengeluarkan dompet dan lembaran uang berwarna pink.
Keluar dari sana, Rita sudah memakai tongkat dan dibantu oleh Prita. Bapak menembus obat lalu mereka pulang.
Dalam mobil, Bapak menyeka air matanya dan Prita menawarkan dia yang menyetir.
"Besok kamu jangan kemana-mana dulu," kata Bapak dengan suara sedih.
"Kan aku kena pecat, Pak," kata Rita.
"Iya ya syukurlah. Semua juga ada hikmahnya," kata Bapak.
"Pak, Ibu keterlaluan masa hanya begitu reaksinya?" Tanya Prita yang kemudian menyetir.
"Ibu kamu lelah, ditambah tampaknya kaget tidak bisa bilang apapun melihat Rita. Biarkan saja, semoga dengan kejadian Rita ini. Ibu tersadar," kata Bapak.
Bersambung ...