
"Begitu amat sih," balas Alex cemberut.
"Hahahaha," balas Rita.
Alex duduk di kursi dekat jendelanya. Rita sudah sebegitu kuatnya dalam keluarga yang tidak memiliki dukungan. Terbalik dengan keluarga Alex yang penuh kehangatan dan dukungan banyak orang.
Karena itu Alex ingin sebisa mungkin membuat Rita bahagia meskipun dirinya lemah karena sakit. Dengan kehadiran Rita ternyata mampu membuatnya semangat.
"Tidak, aku sudah sering makan itu hehehe," balas Alex
"Huh," balas Rita. Benar juga Alex kan orang kaya ya makan cake seperti ini sih bagi dia seperti dapat kutu.
"Hehe dihabiskan ya. Tapi kok hanya setengah sih? Aku belinya bulatan penuh deh," kata Alex kebingungan.
Rita menggigit bibir bawahnya dan menceritakan semuanya. Alex menepuk dahinya, dan kemudian kesal dan marah. Kakak Rita memang salah satu orang yang paling tidak mendukung dirinya terhubung dengan Rita. Mirip Ney.
~ Asli Rin mirip sekali kelakuannya dengan Ney. Tapi Rin enggan kenal dekat dengan Ney katanya karena aura Ney sangat jelek ~
"Kok kamu beri sih?" Tanya Alex mangun.
"Lah masa tidak?" Tanya Rita.
Alex menghela nafas, "Kakak kamu itu sama sekali tidak tahu terima kasih. Pasti dia mengira aku kirim buat dia kan?" Tebaknya.
"Kok tahu?" Tanya Rita melongo.
Tepat dugaannya tidak salah juga dia meminta pemilik toko menempelkan nama Rita di kuenya.
"Iyalah tahu! Aduuh, gemas aku uuu sama kamuuu! Dia merasa aku ini punya hutang ke dia," ketik Alex pasti menduga Rita tidak mengerti.
"Hutang apa?" Tanya Rita pusing.
"Semacam kamu barang jualan, kalau aku suka kamu, aku harus bayar. Ini istilah sebutannya saja ya jangan marah," kata Alex waspada.
Rita diam membacanya. Masa iya? Tapi mungkin juga Rita teringat apa kata-kata kakaknya tadi.
"Iya dia bilang begitu karena dia kakakku jadi cake ini lebih pantas buat dia. Apa harus aku kasih semua? Sayang amat," kata Rita sedih.
"Ya jangan! Itu apa hubungannya? Kan yang suka kamu itu akuuuuuu," balas Alex gemaaasss sedunia deh.
"Iya aku tahu mungkinkah dalam pikirannya kalau kamu mau sama aku, ya segala macam kamu harus kasih ke dia bukan aku," kata Rita membuat Alex pingsan.
"Iya ituuu yang aku bilang tadi, masya Allah!! Makanya aneeeeh sampai kamu beri juga. Dia itu sudah berkata jahat sama kamu, tapi setiap kamu punya sesuatu yang bagus, mulutnya jadi manis kan," kata Alex lagi beristigfar karena Rita.
"Ya memang begitu dia mah sejak dulu aku sekolah juga," kata Rita mengerti.
"Terus, ibu kamu tidak melarang atau memberi nasehat?" Tanya Alex.
"Dia kesayangan ibu," kata Rita dengan sedih.
"Astagfirullah tapi jadinya nanti kalau dewasa..." kata Alex menahan nafas, sudah paham lah!
"Ya sama saja dia sudah menikah bahkan lebih parah. Dia tadi di bilang tuh kalau dia adalah makhluk yang harus diistimewakan," balas Rita.
"Tuh kan benar dugaanku," kata Alex kesaaal.
"Mirip ya dengan seseorang," kata Rita teringat lagi.
"Dengan? Aku? Mana nyaaaa," kata Alex sebel.
"Ney. Dia ingin diistimewakan sama aku sebagai Sahabat karena aku kenal kamu. Karena itu dia tendang dan sakiti temannya sendiri seenaknya. Kamu tidak tahu kan? Tapi bagi kamu, aku yang menyakiti dia. Kamu sama dengan ibuku," balas Rita kemudian diam.
Alex diam membacanya, nama itu juga baginya sangat buruk. Alex menghela nafas bahkan disamakan dirinya dengan ibunya Rita. Alex bertanya-tanya, apa dirinya sudah salah menilai?
"Ya jangan diberi laa kamu tolak," kata Alex enggan bertanya soal Ney.
"Berarti aku egois dong sesuai kata-kata kamu," kata Rita teringat sentakan Alex dulu.
Alex diam, masih saja Rita ingat semua kata-katanya di tahun lalu. "Ya bukan begitu juga supaya dia tahu diri lah. Aku kirim buat kamu, apa dia tidak baca namamu?"
"Mana mau peduli dia. Tidak suka sama kamu juga, dia kan tidak suka kalau aku bahagia. Mirip seseorang," kata Rita.
"Sudahlaaaah kenapa sih dia dibawa-bawa terus?" Tanya Alex kesal.
"Kok Marah? Kan dia kawan spesial kamu, teman yang paliiiiing kamu CAREEE," kata Rita.
"Bukaaaan. Aku tidak suka sama dia, bukan kawan aku juga. Aku tidak pernah minta dia jadi kawan aku!! Sungguh!" Kata Alex.
"Tapi dia suka membanggakan lho sebagai kawan kamu. Angkat dong 1 strata kan sama kamu, bangga dong," kata Rita membuat Alex kaget.
Beberapa menit hening Alex menunggu jawaban tapu tidak ada. Rita saat itu sedang menikmati cakenya.
"Kok tidak ada chat? Aku menunggu dari tadi," kata Alex.
"Ohhh sedang makan cake sambil nonton Anime," balas Rita.
"Jahat sekali. Ya kalau kamu mau berbagi dengan anggota keluarga lain boleh, tapi kakak kamu tidak perlu," kata Alex dengan mood kembali tenang.
Alex sangat tahu, Rita memang tidak menyukai Ney sejak dulu dan bahkan Ney sendiri pun dulu lebih pertama tidak menyukai Rita. Namun karena Rita memang tidak peka, jadinya membuat Ney seenaknya.
Alex tahu sebenarnya Ney sudah lama mengusir Rita dan Rita sebenarnya sudah pergi jauh tapi entah kenapa malah Ney yang selalu mendatanginya. Meski begitu Rita hanya mengobrol seadanya saja dan memang selalu jaga jarak dengan Ney.
"Tapi lihat dong, bagian aku lebih besar dari dia karena ibu tahu cake ini kamu yang kirim," kata Rita senang.
Memang susah deh kalau dengan Rita, dia meski dijahati kakaknya sendiri tapi masih tetap memberikan bagiannya. Kadang ini yang membuat Alex bangga, tapi membuat dia sangat gemas.
"Iya deh," kata Alex.
Alasan mengapa Rita masih bisa sebegitu baiknya karena Rin adalah kakak kandungnya, saudara sedarah. Memang jahat kelakuannya tapi ada Allah ini. Allah tidak tidur kan dan selalu Rin mendapat balasannya saat itu juga.
Bedanya dengan Ney? Dia bukan saudaranya, bukan sedarah dengannya bukan kewajiban Rita harus bertingkah menerima semua errornya. Dia membuat keonaran dan masalah, tanggung sendirilah akibatnya nanti.
Saudara toxic cukup jaga jarak tapi kalau teman toxic, WAJIB hukumnya di Blacklist supaya kamu tetap terjaga kewarasannya. Dan bisa melangkah maju ke masa depan yang indah.
"Sudah begitu dia sebelum aku kenal kamu juga. Aku kan adiknya jadi lebih tahu. Aku kira kalau dia menikah hilang Toxic nya ternyata makin parah," kata Rita.
"Aku sangat tidak suka kakak kamu. Pikirannya tidak logis dan dia memikirkan sesuatu soal kamu, sangat jahat," kata Alex.
Alex pikir ibunya memang jahat selalu memihak kakaknya namun dia menyadari sesuatu. Tidak sepenuhnya begitu, ada sesuatu yang membuat ibunya melakukan hal itu.
"Ibu kamu ingin kamu bisa mandiri,ingin buat kamu kuat makanya beliau sengaja berbuat begitu," jelas Alex.
"Tapi kan jelek juga. Setiap aq butuh pemikiran masukan, ibu selalu banyak alasan," kata Rita.
"Iya sisi lainnya tidak menampakkan sosok ibu sejati sih. Memang baginya kakak kamu yang paling istimewa," kata Alex.
"Ya memang," kata Rita.
"Rita, kamu harus selalu ingat. Meski nanti kita berakhir tapi aku akan menjadi orang pertama yang terus mendukung kamu. Bila kamu diganggu seseorang, ingat kamu punya Allah!" kata Alex memandangi jadwal sesuatu.
"Hmmm? Mau pergi ya? Kamu sekarat?" Tanya Rita.
"Bodoh! Bukan laah ya ini kata penyemangat saja," kata Alex tertawa.
"Kamu kan sering bilang sekarat sekarat eeh 3 tahun berlalu mananya yang sekarat? Dompet kamu ya pasti foya-foya pesta," tebak Rita.
"Hahaha," balas Alex.
"See? Benar ya. Kamu mau periksa ya? Jangan bilang sekarat-sekarat bodoh! Allah itu pemegang nyawa. Kamu sekarat kalau nanti ketemu lalu aku hajar bertubi-tubi," kata Rita tertawa.
"Sadisnya," kata Alex merinding.
"Kalau... ternyata kamu masih aman dan bisa hidup 1000 tahun. Bagaimana?" Tanya Rita.
"Mana ada 1000 tahun," kata Alex ketawa.
"Kura-kura bisa," balas Rita.
"Ooh jadi kamu samakan aku dengan hewan ya," kata Alex.
"Kamu beruang bukan kura-kura," kata Rita membuat Alex tertawa sampai rebahan.
"Aduuh sakit perut," kata Alex masih tertawa.
"Jadi? Kalau kamu tahun ini masih Aman. Mau melakukan apa?" Tanya Rita serius.
Alex terdiam, tersenyum. "Aku sudah punya rencana. Itu sudah aku pikirkan bila aku tidak beruntung dan saat aku masih beruntung, rencana itu akan berjalan,"
"Paling juga rencana kamu mau nikahi 20 perempuan kan," tebak Rita.
Alex terkekeh-kekeh membacanya. "Bukanlah koit sudah burungku. Meskipun lama tapi nanti kamu pasti tahu dan... aku juga akan mengalami sesuatu yang di luar dugaan," kata Alex merasakan sesuatu yang gawat.
"Pasti menyalahkan aku lagi," kata Rita.
"Maaf. Tapi bukan salah kamu tapi aku. Yah kalau memang masih ada usia untuk bertemu kamu, aku akan jelaskan semua. Rita, kamu mau dengan siapapun aku selalu mendoakan yang terbaik," kata Alex membuat Rita bertanya-tanya apakah kepalanya mulai sakit lagi? Tumben bijak.
Bersambung ...