
"Ya kamu periksa dong. Aku telepon kamu, lihat nomornya sama tahu," kata Rita.
Nama Ney itu baginya adalah nama seperti semacam virus jamur yang harus dimusnahkan dengan obat salep Daktarin. Jamur yang harus dicabut sampai ke akar-akarnya supaya tidak tumbuh lagi.
Feb memeriksa, benar ternyata dia dikacangin! "Sialan dia," kata Feb.
"Sepertinya dia sengaja ya," kata Rita ternyataaa ini firasat tidak enaknya itu. Hmmm dia mulai berbuat ulah setelah berusaha mencerai beraikan Rita dan Arnila, sekarang entah apa lagi tipuan dia.
"Untuk apa?" Tanya Feb bingung. Sengaja? Tapi memang sih Feb sudah sangat jarang mendengar hubungan Ney dengan Rita.
"Kamu tidak tahu masalah aku sama dia?" Tanya Rita.
"Aaahhh! Ada! Dia cerita sesuatu dalam grup," kata Feb baru ingat.
Rita lebih melongo lagi mendengar apa kata Feb. "Grup? Dia cerita masalah aku dalam grup kalian?" Tanya Rita tidak percaya.
"Iya. Heboh sekali aku tahu apa yang kamu pikirkan Rita. Aku juga sependapat, dia banyak koar-koar dia cerita kalau kamu memanipulasi dia ke Arnila. Serius tuh? Lalu dia bilang kamu banyak menipu dia," kata Feb mencari tahu antara kaget tapi masa iya.
Rita semakin marah bertambah besar amarahnya. "Manipulasi apa!? Menipu? Kamu percaya sama omongan halu dia? Ahhh, aku lupa kamu kan satu kelompok sama dia tidak heran kalau percaya," kata Rita geram.
"Tenang tenang dulu mbak. Aku kan tidak kenal kamu tapi yang aku tahu sifat dan pribadi kamu, berbanding terbalik sama dia. Sebenarnya banyak yang meminta aku menelusuri kebenarannya," kata Feb dengan tenang.
Ney memang banyak sekali membohongi orang dengan kisah yang dia putar balikkan, entah ya untuk urusan apa. Sampai dia mengembangkan hobinya itu ke semua orang.
"Ya Allaah untuk apa coba dia memberitahukan kebohongan sama kalian?" Tanya Rita memijat keningnya.
"Yaa dia memang begitu kok orangnya. Kamu baru tahu ya? Tidak heran kalau kenyataannya tidak ada. Soal Arnila juga kan dia banyak mengatakan hal yang palsu, sebagian dari kami tidak percaya kok," kata Feb yang terdengar menghela nafas.
"Justru dia ya yang banyak fitnah aku. Arnila banyak cerita, dia juga yang menghalangi Arnila mengungkapkan semua kebenaran mengenai Ney ke aku. Lucu ya, dia seakan takut padahal dia sendiri hobinya menghancurkan orang," kata Rita mendengus tertawa.
"Iya, memang Rita. Kita semua heran saja kok bisa ya dia jadi teman kamu. Tabrakan dan berpantulan eh benar kan jadinya bermasalah. Arnila cerita apa sih?" Tanya Feb.
( Kenyataannya memang iya, Arnila banyak menceritakan sesuatu yang tidak saya ketahui mengenai perilaku Ney. Ternyata saat saya sudah jauh dari keduanya, Ney banyak menghasut Arnila, banyak menakut-nakutinya dengan mengatakan bahwa saya suka kirim santet ke dia dan Ney.
Aku pikir, hebat sekali ya saya bisa kirim begituan. Banyaaak sekali kisah mulai dari kejadian aneh yang dialami oleh Arnila, pertanda yang dialami oleh mereka berdua selepas saya pergi.
Arnila banyak meminta maaf karena ternyata dahulu saya berusaha menarik dia dari sisi Ney, karena tersadar bahwa Ney sumber masalahnya. Banyak hal aneh yang dialami oleh Ney dan Arnila termasuk soal Ulat.
Arnila tersadarkan oleh seorang pembimbing ahli agama, yang menyebutkan bahwasanya saya tidak memiliki niat jahat kepadanya. Saya justru menarik dia dari sisi Ney untuk menyelamatkannya.
Tapi saat itu Ney yang tahu, mengatakan bahwa saya mau menyesatkan Arnila lebih dalam. Sayangnya dahulu Arnila lebih mempercayainya dan "menendang" saya. Saya hanya bisa pasrah dan mendoakan Arnila secepatnya dibuat sadar.
Yang dimana Arnila cerita bahwa Ney mengatakan saya mendoakan kesialan untuk Arnila. Saya ingin merebut Arnila dari sisinya, saya katakan iya karena Ney itu Istidraj.
Arnila sangat terkejut. Saya banyak tahu kenyataannya bahkan sampai dia menikah kini, semua pertanda semakin jelas. Alasan saya berusaha menarik Arnila agar dia tidak terkena efek dari Istidraj yang ada pada Ney. Karena saya melihat Arnila adalah anak yang baik).
Rita menceritakan secara garis besar tidak dia ceritakan soal santet atau gangguan aneh yang terjadi pada Arnila serta Alex sendiri. Termasuk soal fitnahan yang dibuat Ney diceritakan pada Arnila.
"Wah, Rita kamu bukan korban yang baru sih tapi ada banyak juga yang sama kejadiannya persis dengan kamu. Dan jujur mereka hidup baik-baik saja tanpa kehadiran si tukang pembuat masalah," kata Feb.
"Parah ya bukannya tobat dan banyak mengoreksi dia malah banyak membuat fitnah. Dia juga pernah ke aku bilang kalau dirinya ikhlas difitnah toh nanti juga aku diberi hukuman sama Allahnya. Kata dia," cerita Rita yang membuat Feb tertawa keras.
"Allahnya? Hahaha kamu tahu kalau dia sama sekali tidak pernah ibadah? Bukan Allah swt Rita, kamu tidak sadar ya. Allahnya dia itu bukan Allahnya orang Islam," kata Feb.
Rita kaget mendengarnya, jangan-jangan Feb juga tahu kalau Ney sebenarnya... ah! Pasti tahu sih dia juga sudah tahu seperti apa Ney yang sebenarnya.
"Oh ya? Kalau jarang ibadahnya aku tahu karena waktu SMP aku pernah ajak dia sholat tapi selalu ditolak. Kafir bukan sih?" Tanya Rita langsung.
Feb tertawa. "Iya semacam itulah. Teman-temannya dia juga ya sama tidak jauh dari dia sendiri. Tapi dia tidak berani ya kalau kamu mulai ungkit soal Allahnya kamu. Pernah ajak mengaji?" Tanyanya.
"Pernah. Aku sih yang mengaji dia hanya mengganggu, banyak bertanya soal apapun jadi aku matikan saja ponselnya. Selesainya dia marah-marah," kata Rita.
"Iya memang hobinya mirip setan sih mengganggu orang yang hobinya mengaji, berbuat kebaikan, kepintarannya itu dia gunakan untuk menghancurkan orang. Ya syukur deh kamu jauh dari dia Rita, Arnila juga aku yakin sekarang dia bahagia," kata Feb.
"Memangnya di grup dia sama kelakuannya?" Tanya Rita sambil duduk. Dia chat dengan Alex menggunakan laptopnya.
"Ya begitu sama saja. Dia memang banyak membuat masalah juga dalam grup, Rita. Banyak yang meminta dia dikeluarkan sih. Lalu masalah bedak ini kamu mau bagaimana?" Tanya Feb.
Rita terdiam, dia sedang memikirkan rencana serangan balik. "Hmmm tampaknya aku merasa dia ada niat membersihkan namanya deh,"
"Hah!? Lalu apa hubungannya sama aku?" Tanya Feb.
"Ya kamu jadi pihak yang tengah kan tidak tahu tujuan dia beli bedak lalu kamu juga tidak menolak keanehan. Kalau ada masalah dengan paketnya, pasti kamu yang kena marah sama aku kan. Mengerti tidak?" Tanya Rita.
Feb terhenti melangkah dan terdiam, otaknya agak-agak slow respon mendengar penjelasan Rita.
"Tunggu tunggu, maksudnya?" Tanya Feb.
Rita menghela nafas. "Dia sengaja membuat kamu jadi orang kedua antara aku dan dia. Paket ini kalau aku tahu pengirimnya siapa, aku pasti marahnya ke kamu bukan dia. Dia itu berani membuat masalah, tapi tidak berani menghadapi resikonya. Kalau kamu laporkan, aku yakin dia pasti menyalahkan kamu,"
"Ah aku tidak percaya ya soal itu tidak mungkin Ney akan menyalahi aku. Kan dia yang minta tolong aku belikan, dia juga sudah bayar kok transferannya. Kok kamu jadi begitu ya," kata Feb.
"Yehh malah tidak percaya. Ya sudah sono coba saja deh omongan aku benar apa tidak. Kalau ternyata tidak benar berarti dia sudah jadi anak baik tapi sementara. Kalau benar apa dugaan aku, terserah kamu," kata Rita.
Feb terdiam, dia agak ragu karena dia sudah tahu seperti apa Ney ini. Sudah banyak juga paket yang Ney kirimkan dan tidak sedikit yang memarahinya untuk berhenti mengirimkan apapun.
"Kamu berteman sama dia lebih lama dari aku. Sudah berapa abad? Kamu lebih kenal sisi negatifnya dari aku. Tabiat dia juga kamu lebih tahu, jadi buktikan saja hasil dugaan aku yang hanya teman bayangannya," kata Rita.
Telepon ditutup, Rita menunggu hasilnya bagaimana ya kalau Feb menghubunginya atau chat membalas.
Bersambung ...