
"Aku tidak percaya ya kamu bisa kenal sama orang seperti itu. Aku mah mau pingsan saja pas lihat," kata Koma memperagakan gaya pingsannya.
"Hahaha lebay ih!" Kata Rita memukul pelan Koma.
"Iya hahaha habisnya diluar tipe kamu kan. Aku juga heran," kara Diana tertawa.
"Iya sih aku baru sadar setelah di ruqyah," kata Rita tertawa tipis.
"Kamu serius ketempelan? Dari dia?" Tanya Diana.
"Lah apa hubungannya sama si dia?" Tanya Rita heran.
"Ya kali dari Ney. Dia kan tidak ada positifnya ke kamu. Bukan ya?" Tanya Diana.
"Bukanlah! Ada yang mengikuti saja lalu akunya tidak merasa," kata Rita.
Lalu Rita ceritakan semuanya soal ketempelan nya, sekaligus soal asal mula kenal Ney, Arnila dan juga Alex.
Diana dan Koma sudah terbiasa Rita memang senang berselancar di internet wajar kenal Alex.
"Hebat ya kamu bisa kenal orang negara sebelah," kata Diana.
"Tapi kita sudah tahu sih memang kamu lebih ada arah kenal orang luar Indonesia, Rita," kata Koma.
"Hehehe sekalian mengasah bahasa Inggris meski tetap ya agak-agak rancu," kata Rita.
"Sepertinya jodoh kamu orang negara luar deh Ri soalnya yang sesama Indonesia tidak ada yang cocok kan," kata Diana senyum lebar.
"Yaaa belum tahu juga kaaan," kata Rita mencubit pinggang Diana.
Mereka berdua menatap Rita dan tersenyum.
"Ya kali. Lalu soal cerita ketempelan itu bagaimana?" Tanya Koma kembali ke cerita tadi.
"Pantas sih setiap kuliah mata kamu satu seperti mengantuk. Apa itu efeknya?" Tanya Diana.
"Kamu sadar kan? Aku juga padahal tidurku cukup kok. Aku kira karena terlaku pulas kan biasanya kelopak mata terlipat kan," kata Rita, mereka mengangguk.
"Hampir setiap kali, aku kira mata kamu lagi sakit," kata Diana.
"Itu dari rumah?" Tanya Koma yang tahu kalau rumah Rita selalu terjadi keanehan.
"Bukan, entah dari mana aku hanya diberi tahu kalau pulang keadaan sepi dan gelap jangan lupa baca Al Fatihah atau ayat Kursi. An Nas juga bisa," kata Rita.
"Kamu pasti jarang melakukannya," kata Koma menebak.
"Aku kira tidak akan ada apa-apa kan ternyata benar ada yang mengikuti," kata Rita merinding.
"Apa mungkin karena kita dulu sering berpetualang hiking ke gunung?" Tanya Diana mengingatkan.
Mereka terdiam dan berseru bersama, "OH!"
"Bisa jadi sih waktu kita pergi ke gunung TB kan? Ingat tidak kalian soal keanehan itu?" Tanya Rita. Mungkin saja dari situ.
"Oh iya! Kan salah kita juga ya waktu itu bolos kuliah dan nekat menuju sana kan," kata Koma menimpali.
Mereka kemudian diam dan saling merenung, mereka bolos kuliah karena dosen yang membuat jenuh kelas.
Selalu membuat mereka mengantuk dosennya selalu bercerita.
Tanpa persiapan apapun, mereka hanya membeli air dan cemilan.
Mereka lalu hiking bertiga, mendengar mitosnya tidak boleh ganjil mereka tidak memperdulikan.
"Kita salah sih seharusnya tidak ganjil," kata Koma menyesali.
Rita berpikir, dia teringat sesuatu juga sepertinya ada kejadian yang sama sama namun berbeda.
"Saat itu kan tidak hujan ya tapi entah kenapa banyak kabut," kata Diana.
"Udaranya juga dingin seharusnya kan panas atau sejuk," kata Koma.
"Kita juga tidak berdoa sebelum memasuki jalan setapak kan," kata Rita.
Mereka semua saling berpandangan kemudian mengangguk dan menghela nafas.
"Apa karena saat itu kamu ketempelan?" Tanya Koma.
Rita mengangkat bahunya, tidak ada yang tahu. "Kalian pernah ruqyah?"
"Aku bekam sih," kata Diana.
"Ada efeknya?" Tanya Koma dan Rita.
"Aku kan memang suka pusing jadi darah kotornya dibuang. Setelah itu jadi agak ringan," kata Diana menunjukkan bekas bekam di dahinya.
Setiap 2 bulan sekali dia selalu melakukan bekam sampai darahnya normal.
"Kalau kamu bagaimana?" Tanya Rita ke arah Koma.
"Berarti bukan hanya aku saja setidaknya kita sesudah itu saling bersihkan diri," kata Rita.
"Iya kita juga kan selalu mengikuti pengajian di kampus . Sudah otomatis kena ruqyah Pak Karim kan," kata Koma ketawa.
"Aku ingat sesuatu!" Kata Rita.
"Apa?" Tanya Diana.
"Itu bukan yang pertama kalinya aku hiking ke gunung TB," kata Rita teringat pengalamannya yang lain.
Mereka berdua memandangi Rita dengan pandangan kaget.
"Ke gunung yang sama?" Tanya mereka.
"Iya. Aku pergi bersama teman-temandi kampus Dago, entah apa mereka masih ingat apa tidak tapi bukan ganjil kesana. Kita genap tetap saja mengalami hal aneh," kata Rita.
"Wah, kalau genap juga sama saja sih berarti memang gunung itu menakutkan ya," kata Koma.
"Keanehannya apa tuh?" Tanya Diana penasaran.
"Ketemu nenek-nenek," jawab Rita.
"Nenek-nenek!?" Tanya mereka bersamaan.
"Kok bisa?" Tanya Diana antusias.
"Iya iya semangat sekali sih kalian. Aku saja merinding," kata Rita menatap Diana dan Koma.
"Hehehe manusia?" Tanya Koma.
"Maybe," jawab Rita.
"Kamu bolos kuliah?" Tanya Diana.
"Bukan karena memang sudah direncanakan sejak dua hari lalu. Kuta berkumpul di kampus itu," kata Rita.
"Itu kejadian waktu kamu kuliah D2 bukan?" Tanya Diana.
"Iya!" Kata Rita.
"Cerita intinya saja aku yakin awalnya sama saja kan," kata Koma.
Mereka berdua memang senang kisah horor termasuk film horor berbeda dengan Rita.
"Intinya kalau aku dengan mereka agak berisik lah waktu itu memang jalannya sepi kan menuju puncak. Tapi kita juga bertemu dengan kelompok lain yang sedang hiking," kata Rita.
"Waktu itu lumayan tidak sepi, kita kan sepi sekali," kata Diana.
"Iya. Beda ya lalu Aku, Yati, Deti dan Fitri kita memang ada rencana mau hiking dan ke gunung TB," jelas Rita.
Prita datang sudah tahu cerita tersebut dan membawa minuman ke depan.
Temannya yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Kejadiannya sama kita juga mengalami keadaan berkabut, kita saling berpegangan tangan dan berdempetan. Kesananya kabut hilang dan udara sejuk. Fitri itu yang paling semangat hiking karena badannya kecil sih," kata Rita.
"Oh, aku tahu Fitri dulu kamu kenalkan itu kan?" Tanya Diana.
"Yang kecil kan badannya terus putih mulus kulitnya?" Tanya Koma.
"Iya yang itu! Namanya Fitri, aku juga sering curhat sama dia. Meski badannya paling mungil tapi dewasa sekali pemikirannya. Sebelum kenal kalian ya," jelas Rita.
"Masih suka kontak?" Tanya Diana. Kalau teman-teman Rita yang Dago mereka suka karena seru dan rame.
"Masih hanya dia sekarang jadi kepala sekolah SD jadi sibuk sekali," kata Rita.
"Lalu?" Tanya Diana.
"Nah kita yang bertiga kan jalannya santai sambil mengobrol. Tiba-tiba ada yang bicara menggunakan Sunda, 'Bade kamarana cu? ( Mau kemana cu? ) Jreng jreng," kata Rita tertawa ke arah mereka.
Mereka juga ikut tertawa, agak kaget ternyata sengaja Rita prank.
"Duuuh, kamu ih kaget kan," kata Koma mengelus dadanya.
"Hahaha habis serius sekali sih," kata Rita.
"Kamu ceritanya meyakinkan sih," kata Diana yang juga agak kaget.
"Padahal aku agak jelek kalau bercerita di depan anal-anak. Lanjut," kata Rita menahan tawa.
"Itu muncul tiba-tiba?" Tanya Koma agak kaget.
"Iya tiba-tiba, sudah ada di sebelah kiri Yati. Makanya kita juga kaget. Kalau ada yang mendahului kita pasti tahu kan," kata Rita.
"Terus?" Tanya Diana.
Bersambung ...