MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
117



"Tenang, dia masih aman meski kelihatannya si pengganggu itu ada niat lain. Ingin kenalan ya Mbak?" Tanya Shin ke petugas lain.


"Iya, dia memaksa memberitahukan nama kekasih Tuan. Tapi tidak saya beritahu," kata petugas yang tadi menangkap basah kelakuan Ney.


Rita duduk dan membuka maskernya, dia menghirup udara sejuk. Perutnya juga merasa lapar sih, makan siang masih lama juga.


Dia mencari makanan, toko apapun lah. Dan menangkap sebuah kedai kecil menjual Burger yang mirip MicDo. Ruta senyum lebar melihatnya dan memandangi Kazen yang masih mencari parfum.


"Beli ah," kata Rita senang sekali.


"Selamat datang. Pesan apa?" Tanya petugas.


"Hmmm dua paket AB ya," kata Rita melihat jumlah makanan.


AB berisikan tiga burger, tiga kentang goreng, tiga puding dan tiga minuman. Petugas langsung memberikan struk pembayaran dan berkata menunggu selama lima belas menit.


"Baik Kak, ditunggu lima belas menit ya.Pembayarannya nanti kalau sudah jadi," kata petugas.


"Sip!" Kata Rita senyum dan berjalan kembali ke sisi seberang. Dia melihat ke arah kiri terdapat beranda.


Dia kesana dan menikmati pemandangan dan angin yang sejuk namun panas. Rita menutup kedua matanya merasakan desiran angin yang membuat jilbabnya melambai.


Entaaaah bagaimana, Ney terlihat menuju tempat parfum lagi. Dia masih penasaran dengan Rita, dan menari di luar. Namun Rita tidak ada dimanapun.


Dia mendapatkan pesan dari Sana yang menitipkan membeli burger enak di lantai enam dekat toko parfum.


Meski sebal akhirnya dia lakukan karena Sana karakternya sangat keras apalagi senang mengancam juga sama dengannya.


Ney melihat kedai itu dan langsung membelinya, dan yah sama dia harus menunggu. Melihat tampilan makanan, dia juga memesan yang sama.


Dia hanya membeli dua burger saja dan tidak begitu menunggu lama. Petugas memberikan makanan tersebut dan Ney langsung membayar ya.


Saat berjalan, dia tidak sengaja melihat Rita yang tengah berdiri di beranda. Lagi-lagi membelakanginya, dan Ney bersorak bahwa dirinya memang sangat beruntung.


Dia berdehem dan berjalan menuju Rita dengan senyuman mengembang. Dia sangat percaya diri mendekati sang harimau.


Seren hendak menyusul Rita dan kaget sampai membeku di tempat, dia bergegas mencari Kazen dan Shin. Tidak ditemukan, dan agak mencaci maki kedua laki-laki itu.


Akhirnya Seren inisiatif hendak membawa Rita tapi langkahnya kembali membeku karena Ney sudah tepat di belakang Rita, hendak menepuk bahunya.


Seren ingin rasanya berteriak saat itu, dia hanya berharap dunia berhenti berputar. Tiba-tiba...


TELOLET TELOLET


Suara dering ponsel Ney berbunyi, Seren menutup mulutnya wajahnya pucat pasi.


Ney kesal sekali mendengarkan deringnya dia tidak pedulikan namun deringnya juga tidak berhenti. Dia mundur sambil menatap Rita dan berjalan ke arah lain.


Seren lega hampir pingsan dengan agak lemas bergegas menuju Rita.


Ney menuju toko lain dan mengangkat ponsel dengan marah. "Kenapa sih kamu menelepon di saat tidak tepat!"


"Kamu kok marah sih? Tidak tepat karena apa? Pesanan ku kamu beli kan?" Tanya Sana.


"Nih, sudah aku beli. Ya aku mau kenalan sama seseorang kali saja aku bisa jadi sahabat dia," kata Ney yang sedikit-sedikit kembali.


Dia melihat perempuan bule berada di sana. Dia melihat tampaknya perempuan berjilbab itu berhadapan dengannya.


Ney berusaha melihat wajah Rita namun susah! Karena kaca toko tidaklah seperti cermin, apalagi dengan banyaknya pantulan dari botol kaca.


"Kenalan sama siapa? Sudah deh mau kamu kenalan akhirnya kamu juga yang buat masalah! Tidak kapok ya kamu sama yang sudah sudah? Cepat turun deh, aku sudah sampai," kata Sana.


"Pokoknya tunggu saja deh. Nanti aku ke bawah kalau misi ku sudah komplit!" Kata Ney dengan suara agak keras.


Suasana di lantai enam memang sepi dan hening karena baru buka. Suara Ney yang kesal dan keras sekilas masuk ke pendengaran Rita.


Rita agak kaget dan berbalik, mencari tahu. "Suaranya kok mirip si setan itu ya?" Tanyanya merinding.


"Rita!" Seru Seren membuatnya kaget setengah mati.


"Ya Allah kaget! Lagi serius," kata Rita berjongkok.


"Aduh, hampir saja aku juga ingin pingsan tahu! Kamu tidak tahu kan apa yang terjadi tadi?" Tanya Seren bernafas lega, ikut jongkok juga.


"Memang kenapa?" Tanya Rita.


"Tadi kamu fokus mencari apa?" Tanya Seren.


"Seems like i hard some voice, i know,"


( Kelihatannya aku mendengar suara yang aku kenal )


kata Rita sambil memegang kedua tangannya.


Seren bernafas pasrah. "Kamu sedang apa di sini?"


"Aku sedang menunggu pesanan Burger daei kedai sana. Kelihatannya lezat," kata Rita menunjukkan bon.


Seren lemas sekali membuat Rita keheranan.


"Kamu tahu sejak tadi musuh kamu itu ada di tempat yang sama dengan kita! Tadi ya terlihat dia mau menepuk bahu kamu, mungkin ajak kenalan. Aku yakin dia tidak tahu kalau itu adalah kamu," kata Seren.


"Hahaha kamu namai dia begitu? Serius, aku hampir pingsan untungnya dering ponsel dia berbunyi terus. Tinggal satu senti saja," kata Seren menenangkan dirinya.


Rita bengong, Allah masih berada di pihaknya kalau saja Ney sampai berhasil. Ney pasti yang menganga, dan.. mulai berkata halusinasi yang tidak sesuai kenyataan.


"Memang setan sih dia. Dia bagaimana ke aku?" Tanya Rita yang menganga kalau orang yang membuatnya terganggu, tidak lain ternyata Ney!


Seren menceritakan semua yang dia lihat dari awal datang sampai tadi.


"Dia tahu!?" Tanya Rita masih kaget.


"Belum untungnya kamu maniak gamers ya jadi dia sempat menepuk bahu kamu, kamu tidak balas. Menurut laporan petugas toko.


Tenang saja semua pegawai sini sudah tahu, orang yang kenal keluarga aku dan Kazen tidak akan mereka biarkan diganggu," kata Seren menepuk bahu Rita.


"Wah! Wah," kata Rita lemas, untung juga Seren menitipkan topinya jadi memang Ney tidak bisa melihat wajahnya.


"Parah ya Kazen sudah berusaha menyembunyikan kamu lho. Semuanya tidak terduga Ney seperti mengekor," kata Seren tertawa.


"Wah memang gila sih dia kalau sudah kepo sama sesuatu akan terus dikejar. Tapi kalau tidak bisa tercapainya itu sampai dia mendapatkan orang yang lebih," kata Rita.


"Iya, kami tahu kok," kata Seren ikut duduk.


"Hah? Tahu soal?" Tanya Rita bengong.


"Semua yang kamu alami dari tahun lalu," kata Seren.


Rita hanya bengong mendengarnya, pikirannya seakan terhenti mendengar penuturan Seren. Wajahnya memerah bukan marah, melainkan malu.


"Tidak apa, wajar dan normal. Kazen itu mirip Alex tapi dia lebih bisa bertahan. Kuat jantungnya kamu robohkan juga dia tidak akan tepar kok. Hanya Kazen cemas nyatanya kamu juga kuat," kata Seren.


"Aku bisa tahu darimana dia bisa mengetahuinya," kata Rita menghela nafas.


Seren tertawa, "Kuliahnya Alex sama dengan Kazen tapi mereka tidak saling terhubung. Memang kebetulan saja," kata Seren.


"Wah. Dia pasti kaget kan soal aku dan Alex?" Tanya Rita.


"Sangat tapi syukurlah kamu ditinggalkan begitu saja sama dia," kata Seren sambil memberikan sebuah minuman.


Rita menatap minuman itu. "Apa ini? Javaganics?" Tanya Rita.


"Bagus lho itu apalagi untuk orang yang malas makan buah. Vitaminnya banyak, coba deh," kata Seren yang meminumnya dengan nikmat.


Rita mencoba dan dia memejamkan matanya. "Asaaam!! Jeruk toh?" Tanyanya.


"Hahaha tidak asam sekali kok. Aku selalu membeli minuman ini, terutama kalau habis olahraga jadi segar! Kalau tidak kuat bisa ditambah madu," kata Seren.


"Beli dimana? Aku baru tahu," kata Rita.


"Teman aku jualan, dia berikan satu pak gratis ya sekalian aku bagikan ke beberapa teman. Ini masih ada sisa empat," kata Seren.


"Memang sih segar. Kalau mau, hubungi ke Seren?" Tanya Rita.


"Tidak perlu. Langsung saja pesan ke instagramnya. Sebentar, kamu bisa chat dia juga, dia jual satuan dan satu boks gitu," kata Seren memperlihatkan nama pemilik Javaganics.


Rita melihat dan mencari alamat tersebut yah langsung keluar alamat ig pemiliknya.


"Ohhh di Antapani. Oh lemon? Pantas asam sekali. Aku coba tambahkan deh nanti kalau mulai sekolah, aku mau coba masukkan," kata Rita.


"Lemon Juice Javaganics," kata Rita membacanya.


"Mereka juga jual bibit sarinya lho. Kalau yang ini kan sudah mereka campur tambahan jadi sebenarnya tidak begitu asam. Rita ada penyakit lambung kan ya wajar sih pakai madu saja," kata Seren.


"Hah? Untuk diet juga bisa? Pantasan Seren selalu minum," kata Rita.


"Hehehe cocok sih di aku. Kamu minum itu kalau teringat kelakuan si aneh tuh, bisa langsung jadi lemon," kata Seren tertawa.



"Kemasannya lucu ya pas di tas. Ini yang bibit? Pasti lebih asam," kata Rita.


"Hahaha iyalah. Dicampur pakai air dong, jangan gula. Rasanya ada yang nanas juga tapi aku lebih cocok sama lemonnya," kata Seren.


Satu botol asli dia habiskan membuat Rita merinding, dia masukkan ke dalam tasnya. "Berapa kali dia muncul?"


"Berkali-kali!! Kami bertiga kaget sekali tapi memang kebetulan sih, dia sama sekali tidak tahu kan kamu pakai topi," kata Seren.


Tiba-tiba tanpa mereka berdua duga, mikrofon melantunkan namanya.


"Kak Rita, pesanannya sudah selesai silakan melakukan pembayaran," kata petugas.


"OH MY GOD!!" Teriak mereka berdua yang kemudian histeris berlarian, Rita membayar dan mereka langsung masuk toko baju.


"Hati-hati," kata Seren mencari tempat persembunyian.


Petugas toko pun terheran-heran, Seren meminta mereka untuk tetap bekerja jangan mempedulikannya.


Bersambung ...