
Ney lebih banyak terdiam dan memperhatikan sekelilingnya. Kesal ada, marah ada kemudian mencari Kazen dan Rita lagi.
Dia menemukannya dan melihat betapa akrabnya mereka berdua. Kazen yang menggenggam erat tangan Rita membuat Ney sangat terganggu.
Menurutnya Rita dan Kazen tidak cocok ya dengan siapapun pasti tidak cocok termasuk Alex.
"Jadi memang Rita dengan anak Darma? Sial! Sepertinya hanya aku saja yang tidak tahu," kata Ney terus berjalan.
Setelah mendekat, ada kesempatan karena Kazen mencoba menyalakan mobil itu. Dan Rita berdiri di belakang.
"Wah wah jadi kamu memang sudah punya kekasih? Kok tidak pernah cerita me aku sih? Kan aku juga berhak mendengar ceritanya siapa tahu kamu membuat kisah palsu soal aku," kata Ney dengan nada bicara yang sinis.
"Rita, dia siapa sih? Dari tadi aku lihat terus mengekor kamu," kata Kazen muncul dari dalam mobil.
Ney diam mendengarnya dan menatap Rita dengan pandangan angkuh. Rita mengangkat bahunya.
"Mana aku tahu dari kemarin juga dia terus panggil nama aku, sok dekat. Aku tidak kenal, yuk aku mau lihat mobil yang di sana," kata Rita menarik tangan Kazen.
"Kamu lagi-lagi bilang tidak kenal aku? Beda ya kalau sudah berhasil punya kekasih tajir. Teman ditendang sama seperti yang kamu lakukan dengan Alex! Rita, kamu dengar tidak sih!?" Tanya Ney yang terus mengekor.
Meskipun Ney berkata yang membuat Rita panas tapi Kazen menenangkannya. Ney masih terus mengikuti dengan tatapan yang tajam.
Dia pikir dengan ikut masuk, bisa lebih banyak mengobrol dengan Rita yang dia pikir juga, Rita sudah benar-benar bisa dia dekati. Beramah tamah namun ternyata, tidak pernah Rita akui sebagai siapapun.
Ney memandangi Kazen yang tidak kalah tampannya dengan Alex, dalam hati dia kecewa dengan takdir hidupnya.
Ney memikirkan taktik dengan cara yang sama dia lakukan pada Alex. Untuk bisa lebih dekat dengan Kazen dan membuat perhitungan dengan Alex dan Rita.
"Sudah berapa bulan sih kalian berdua?" Tanya Ney bicara dengan jutek pada Rita.
Rita maupun Kazen tidak ada yang menjawabnya. Kazen mengajak Rita untuk mencoba menyalakan mobil tapi Rita terlalu takut.
"Tidak akan bergerak kok, kan ditahan sama penyangga nih," tunjuk Kazen.
"Sudahlah kamu saja," kata Rita mendorong Kazen masuk dalam mobil.
Kazen memberikan contoh dan Rita memperhatikan. Nampak mudah tapi nyatanya sukar.
Ney tidak pantang menyerah, dia terus bertanya sampai Rita menjawab. Dia tahu batas kesabaran Rita sampai se gimana dan sengaja dia mengekor.
"Eh Rita kok kamu bisa sih menggaet laki-laki seperti Alex? Sekarang dari anggota Darma. Kamu pakai sesuatu ya? Pelet asmara misalnya," kata Ney sebagai memancing emosi Rita.
"Bagaimana? Mudah kan? Ayolah kamu coba saja dulu menyalakan mobilnya," kata Kazen yang mendengarkan dan keluar.
"Tidak mau!" Kata Rita kesal.
Ney tahu dirinya memang diacuhkan mereka berdua tampak beberapa orang mengambil foto kemudian pergi.
"Aku duduk di sebelah kamu," kata Kazen.
"Rita bilang tidak mau kok dipaksa sih? Aku saja, aku bisa dengan mudah," kata Ney yang mau masuk.
Mereka berdua berpandangan tidak ada petugas disana karena tahu Kazen lebih berpengalaman. Ney masuk dan menyalakan mobil itu menggerakkan ban mobilnya.
"Lihat, mudah begini masa kamu tidak bi... sa," kata Ney yang berbalik ternyata mereka berdua sudah berada di tempat mobil lain.
Dengan kesal Ney memukul setir mobil dan terdiam sambil tertawa sendirian. Dia melihat Rita duduk di depan dan Kazen sebelahnya.
"Sial! Aku di kacangi!" Kata Ney kemudian keluar dengan berjalan menghentakkan kaki.
"Ini kesini, kamu masukkan kuncinya. Ini rem tangannya," kata Kazen menjelaskan. Ney duduk dengan amarah karena dia benar-benar tidak dipedulikan.
"Hueee," kata Rita agak takut saat mobil menyala.
"Tenang ini sudah di buat tidak bisa jalan kok," kata Kazen tertawa.
"Aku belum pernah belajar baru motor," kata Rita.
"Wow! Berarti bisa dong pakai motor," kata Kazen gembira.
Ney tertegun mendengarnya. "Rita kamu bisa pakai motor? Sejak kapan?" Tanyanya.
"Sekarang gerakkan saja bannya ke kanan dan ke kiri," kata Kazen.
Rita lakukan meski dengan gemetaran. Ney kecele semua pertanyaan tidak pernah terjawab.
"Dengar ya, Rita itu penakut! Aku saja deh yang gantikan lihat saja tangannya gemetaran HAHAHA! Mana bisa juga sih dia beli mobil begini masih untung bisa mencoba.
Keluarganya kan masuk ke menengah bawah," kata Ney dengan suara agak keras. Sengaja ya.
"Memalukan sekali. Siapa sih? Dari tadi mengikuti Kazen terus,"
"Itu kan pemandangan yang sudah biasa. Maklum banyak penjilat kan,"
Ney tidak peduli apa kata orang, perkataannya pasti membuat Rita marah dan memukulnya. Dengan begitu dia akan bebas mengatakan pada orang-orang kalau Rita memang jahat.
"KAMU INI SIAPA SIH!? DARI TADI YA BICARANYA TIDAK SOPAN!!" Teriak Cay yang terus memperhatikan.
Ney kaget dengan suara yang lebih garang dari dirinya, kesan galak, dan keras muncul.
Kazen dan Rita keluar dari mobil, suara itu dia kenal. Ya Cay datang dengan sikap angkuh sambil membawa minuman lain.
"A-aku teman Rita tapi dia bersikap tidak kenal," kata Ney yang otomatis merendahkan suaranya karena kaget.
"Terus saja kamu mengaku temannya temannya. Kalau orang ya sudah kenal dan ada kontak dengan Darma atau Princess, pasti banyak yang mengaku teman! Kamu ini tidak tahu malu ya," kata Cay dengan galak.
Ney diam mendengarnya dan Kazen agak tertawa. Rita bengong.
"Sejak tadi lho tiba-tiba dengan seenaknya duduk dengan kita. Bilang teman Rita padahal Rita sendiri sama sekali tidak ada pembicaraan," kata Praya.
"Iya, aneh sekali lalu merasa dekat dong. Sok sekali ya nadanya," kata Iara.
"Sebegitu nya sekali ya ingin dikenal orang dari kelas atas? Sampai tidak ada etika dan sopan santun," kata Cay menghardik Ney.
Ney diam melirik Rita yang sama sekali tidak membelanya. Dia hanya sendirian. Rasain! Seperti itulah perasaan Rita saat dirinya di bully ramai-ramai olehnya dan teman-temannya.
"Ya mungkin memang benar temannya dia tapi tidak perlu ya kamu sampai meninggikan suara. Sengaja agar semua orang mendengar, itu ciri dari sikap perempuan kampungan. Kamu tidak tahu ya?" Tanya Iara tertawa.
"Sepertinya dia terlalu banyak nonton film deh, ada kan orang yang merasa hebat bicara tinggi supaya terdengar. Yaa itu hanya dalam film kenyataannya, tidak seperti itu," kata Praya sambil minum sesuatu.
"Lagipula aneh ya sampai bisa masuk ke pameran khusus dengan memalsukan identitas. Hebat," kata Cay tertawa membuat Ney kaget.
"Aaah aku dengar kamu mengaku sebagai teman adiknya Rita?" Tanya Cay mendekati Ney.
Cay agak tinggi setara dengan Rita dengan penampilan mewah memakai baju pesta yang agak terbuka berwarna hitam. Dengan hiasan rantai emas yang menjuntai.
"Ya ampun, dia sampai bilang teman adik aku? Dia saja tidak kenal dengan mereka," kata Rita pada Kazen.
"Itulah orang-orang yang ingin juga dianggap penting. Karena dalam penglihatan dia, kamu sudah di tingkat aku dan mereka.
Yah siapapun akan melakukan cara agar dianggap sebagai orang terdekat. Itulah yang terjadi saat kamu nanti diskes Rita," kata Kazen.
"Jadi saat susah, ditinggalkan dan saat sukses, disebut sebagai Sahabat? Hanya untuk pamor kan?" Tanya Rita.
"Itulah yang sering ada di sekitar kami dan kami suatu hari nanti. Tapi kalau memang kamu tidak kenal, jujur saja. Jadilah diri kamu sendiri. Jangan jadi Faker," kata Kazen.
"Dia tadi bilang katanya bisa masuk karena ada kenalan temannya yang bekerja disini," kata Rita memberitahukan.
Ney mendelik ke arah Rita dan kesal kenapaa juga Rita beritahukan? Ney ingin mengatakan sesuatu tapi dipotong dengan suara tawa keras Cay.
"Hahaha mana ada orang luar yang bisa masuk lalu kerja disini, Rita.
Kamu saja bisa masuk karena kekasih Kazen kan? Seren kalau kamu kenal selain Kazen, wakilnya Shin sebagai kekasihnya.
Seren kan tuan rumahnya sekarang, jadi semua orang tentu yang bekerja dengannya. Dan lihat... tidak ada pekerjanya orang Indonesia," kata Cay menunjuk.
Ney hanya diam, menutup mulutnya semua alasan terbongkar. Wajahnya memerah, kedua mata berkaca-kaca dan agak ketakutan.
"Pra, panggil petugas segera keluarkan penyusup ini! Identitas palsu, mengaku-aku teman, hahahaha sayang ya semua akting kamu terbongkar," kata Cay memperlihatkan kuku tangannya berwarna emas.
Memang salah lawan sekali ini, kalau berhadapan dengan orang-orang kelas atas.
Ney ketakutan, itulah kenapa suaminya mengatakan jangan main-main.
Tapi karena Ney mengedepankan ego dan tujuannya, akibatnya dia sendiri yang terpelanting.
Rita agak kasihan melihatnya, Kazen pun tidak mau membela. Ney berlari ke arah Rita tapi tidak menyentuhnya.
"Rita, tolong bantu aku dong. Aku kan selalu menolong kamu sejak lama, masa begini kamu balasnya?" Tanya Ney dengan ketakutan.
Rita mendengus dan tertawa.
"Sejak lama? Pernah membantu aku? Apa? Maksud kamu membully? Yang kamu maksud, membantu aku dengan Alex?" Tanya Rita.
"Iya. Itu kan berkat..." kata Ney tersadar pandangan Rita juga sama dinginnya.
"Jangan lupa. KAMU yang membuat aku dan Alex TAMAT. Sekarang camkan rasa yang pernah aku alami, aku tidak akan menolong kamu yang dimana bagiku orang asing," kata Rita dengan nada sangat datar.
Ney diam, tidak ekspresinya bukan marah tapi Rita ternyata masih ingat jelas apa yang sudah dia lakukan terhadapnya.
"Ini adalah pembalasan dari hasil karyamu sendiri. Jangan harap ada yang membelamu," Kata Kazen geram.
"Sudah biarkan saja nanti juga dia keluar sendiri kalau lama-lama tidak diperhatikan.
Mungkin ya dia merasa aku memang mirip temannya itu dengan nama yang sama.
Makanya dia memalsukan identitas hanya untuk meyakinkan apakah aku benar temannya atau memang.. mengaku-aku," kata Rita senyum.
Mereka bertiga menghela nafas.
"Jangan seperti ini Rita, jangan selalu mengasihani orang yang memang sudah tidak tahu malu. Orang licik seperti memang pantas dikeluarkan," kata Iara berkacak pinggang.
"Iya iya, keluarkan saja," kata Praya setuju.
Ney terus terngiang kata-kata Rita yang tidak akan pernah lagi membelanya dahulu. Inilah hasil dari semua pemikiran miringnya, dia harus menghadapi sendiri semuanya.
"Dia bilang berasal dari keluarga kaya tapi lihat deh baju pestanya itu bahannya kualitas rendah.
Kalau An tahu, bisa tertawa sampai mati. Jangan mimpi deh menyetarakan kedudukan kami dengan kita.
Kalau dari penampilan saja, lebih ke kelas bawah," kata Iara.
Ney menahan rasa malunya, menurutnya gaun pesta itu sangat memukau teman-teman di grupnya tapi tidak di tempat itu.
Rita bersyukur dalam hati, semenjak ibunya menjadi kepala sekolah, selalu mendapatkan bingkisan termasuk bahan baku yang sangat bagus.
Baju yang Rita pakai adalah hasil jahitan ibunya, makanya lolos penilaian dari orang-orang ini.
"Harus kasih hadiah nih untung ibu bisa jahit. Dan selalu dapat hadiah bahan baju bermerk. Duh Gusti lulus ujian yang ini," pikir Rita menarik nafas.
Ney tentu ingat darimana dia membelinya. Anak-anak grup memberikan pujian pada Anita dan lainnya yang membeli baju mewah.
Ney belanja di sebuah mall yang jauh dari tempatnya ada diskon sebenarnya saat itu. Dia mencari kain dengan warna yang sama lalu diberikan pada tukang jahit.
Dia pamerkan pada mereka dengan harga fantastis. Tentulah tidak ada yang tahu bahwa sebelumnya bahannya bukan kualitas atas.
Sekarang, ada seseorang yang bisa mengenal bahan apa dan bagaimana harganya. Membuat Ney sangat malu sekali berpikir dia sudah selangkah lebih awal daripada Rita.
Bersambung ...