
"Orang seperti perempuan aneh itu kalau misal melihat Rita sukses di atas dia, bisa jadi orang gila asli tuh," kata Prita ketawa.
"Orang gila sungguhan?" Tanya Dinda dan Prita.
"Teman aku banyak seperti itu karena dari awal tidak ikhlas kan. Tahu temannya jadi orang sukses, kaya, dia frustasi. Mereka memang mendukung bahagia tapi bahagianya di bawah dia, sayang takdir tidak ada yang tahu kan," kata Diana.
"Terus kamu menyikap teman kamu itu bagaimana?" Tanya Koma.
"Ya aku bisa apa, biarkan saja. Kita menyikap hidup orang sewajarnya. Dia bahagia, kita senang. Dia susah, kita semampunya bantu jadi kalau sukses, kita sudah puas," kata Diana.
"Kalau dia mau ingat kita atau tidak bukan ukuran ya. Terserah dia saja kan," kata Rita.
"Tidak perlu kita susah payah mengingatkan dia seperti apa kita dulu berjuang. Kalau dia lupa, ya ikhlaskan saja tapi kalau tiba-tiba yang tidak kita kenal mengklaim usaha dia, itu yang aneh," kata Dinda menambahkan.
"Rita sendiri bagaimana? Pernah di lupakan?" Tanya Diana.
"Banyak sih, soal Ney bukan satu-satunya. Awal rasanya sakit hati tapi makin lama ke sini jadi biasa. Ya biarlah yang penting dia sukses, aku tidak pernah mikir lagi," kata Rita.
"Ah jadi bukan hanya Ney saja ya. Kalau mereka kembali lagi bagaimana?" Tanya Diana.
"Ya kembali saja tapi mungkin cara aku sudah beda, tidak akan sama seperti di awalan," kata Rita membetulkan hijabnya yang bergerak mengikuti alur angin.
"Pastilah, itu terserah kamu cara menerima mereka. Terima tapi tidak terlalu kenal kan, karena cara mereka di awal ya melupakan kamu," kata Diana.
"Kalau orang lain mungkin mereka kembali, ya main terima kan. Entah apa niatnya datang kembali tapi kalau aku tidak. Datang silakan tapi kalau diterima tidak ada lagi," kata Rita senyum.
"Teman Teh Diana yang jadi gila sungguhan. Setelah tahu temannya sukses bagaimana?" Tanya Prita penasaran.
"Ya dia berusaha menjatuhkan temanku sih. Banyak dari menghasut, memfitnah, sampai sebar kalau dia merebut suaminya. Macam-macam sih, tapi semua orang sudah tahu kelakuannya," kata Diana.
"Bisa sampai begitu ya," kata Prita kaget.
"Memang suaminya pisah?" Tanya Rita.
"Sudah cerai sebelum teman aku kenal sama orang itu. Jadi ya melihatnya jelas kalau dia ada niat menjelekkan namanya. Itu seru di daerah aku, dia sampai di usir dari desa," jelas Diana.
"Seram. Diusir?" Tanya Prita.
"Ya berakhir jadi orang gila, kurang bersyukur orangnya terlalu banyak berkhayal. Dia hidupnya begitu masih kurang," kata Diana.
Mereka semua menyimak kisahnya dan Diana jadi malu karena jadi pusat perhatian.
"Sudah sudah jangan lihat aku terus. Kan jadi malu," kata Diana mengusir pandangan mereka.
"Kalau ada orang cerita tapi pandangan kita melihat hp, melihat orang, apapun itu kan tidak sopan, Diana. Jadi malas cerita," kata Koma.
Diana menutupi wajahnya dengan bungkusan ciki besar dan tertawa.
"Kita jangan suka berbuat berlebihan hanya karena ingin dilihat orang baik. Kalau ada orang yang bilang kita tidak baik, atau apapun biarkan saja," kata Rita.
"Iya. Kita hidup di dunia kan sementara ya. Kita cari aman saja, berteman biasa tidak berlebihan. Jangan sampai senang mencari masalah, cari musuh. Minta maaf tapi mengulang lagi, itu tidak ada kerjaan," kata Diana.
Setelah itu mereka berbincang biasa dan Rita memeriksa hp karena Bu Dewi wakil kepala sekolah yang kedua menghubunginya. Menanyakan perihal tugas sekolah.
Di tempat lain kita mundur ke beberapa jam sebelum Feb memberitahukan Rita mengenai Ney yang akan mengirimkan Paket lagi.
Setelah sekian lama, Ney kembali datang dengan ide lain untuk mulai mendekati Rita.
Kali ini dia sendiri yang memesan Hampers berisi dua puluh empat cookies yang ukurannya lumayan.
Ney kirimkan dengan alamat yang dia dapatkan dulu. Kali ini dia juga mencantumkan alamat rumahnya dan membayangkan Rita pasti akan senang.
Ney tersenyum sudah lewat sebulan dia yakin, Rita sudah bisa menerimanya kembali.
Tidak lupa dia sampaikan hal itu kepada teman-temannya di grup.
"Aku mau kirim lagi kali ini Hampers," ketiknya menunggu komen yang lain.
"Ke?" Tanya Safa bingung.
"Rita," balas Ney.
Semua yang membacanya sudah malas dan bosan, lagi-lagi mulai berbuat ulah.
"Kamu serius sakit ya. Mau berapa kali sih kirim-kirim ke dia?" Tanya Anita.
Sampai heran dan mereka penasaran sosok Rita ini seperti apa. Ney sering sekali membicarakannya jadi membuat mereka mencari tahu.
Bertanya pada Feb namun tidak mendapatkan jawaban karena Feb tidak mau menceritakan apapun. Akhirnya mereka mencari tahu sendiri.
"Lebih baik kirim ke kita saja deh sudah pasti diterima daripada orang yang tidak suka kamu," kata Sana yang ikut masuk.
"Sana! Apa kabar?" Tanya yang lainnya.
Ney tidak menjawab, dia terus menjalankan aksinya. Dia pesan langsung dari tokonya.
"Kirim ke kalian kan sudah. Aku mau terus kirim sampai dapat berita, kirimanku sudah dia terima," kata Ney.
"Hah?" Tanya seseorang bingung membaca jawaban Ney.
"Lebih baik hentikan deh, buang-buang uang saja. Kalau memang dia menerima kamu, nanti juga ada panggilan telepon," kata Varinka.
"Mana ada kontak, aku sudah tahu dia masukkan alu ke daftar hitam. Pokoknya aku harus bergerak terus sampai dia menerima!" Pikir Ney dengan mantap.
"Untuk apa sih kamu kamu masih mau berbuat baik pada orang yang jahat sama kamu?" Tanya yang lain.
Sebagian anggota mempercayai ceritanya dan Ney senyum senang.
"Tidak apa-apa aku kan orangnya baik hati, aku rela kok disakiti sama Rita. Biar nanti dia dapat balasannya dari Allah," kata Ney mengetik.
Beberapa orang tertawa membaca jawaban Ney.
"Hahaha kamu itu kurang sadar ya? Kamu ikhlas disakiti tapi kamu juga mendoakan hal jelek kepada dia. Kalimat kamu itu juga kamu katakan pada semua yang sudah kamu sakiti," kata Safa tertawa.
"Kenapa sih ketua bisa menerima doa dalam grup?" anggota lain membuat komen.
Ney diam membacanya. Dia tidak membalas sama sekali.
"Kalau kamu senang di sakiti dan berharap dia kena karma, lalu bagaimana dengan orang-orang yang sengaja kamu adu domba, Ney?" Tanya Safa.
"Bicara ikhlas disakiti tapi dirinya sendiri tidak mengakui kesalahannya pada orang lain. Kamu mau jadi pelawak ya?" Tanya Arfa.
Ney tidak membalas semua komentar dan mengirimkan bukti pembayaran pada grup itu. Feb tentu saja melihatnya dan menghela nafas.
"Memaksa seperti biasa," kata Feb.
"Aku tidak memaksa," kata Ney.
"Ya itu kamu memaksa namanya. Kirim barang ke semua orang yang tidak suka sama kamu. Ada niat apa sih? Lebih baik kirim yang sudah pasti ke orang yang dekat kamu sekarang," kata Feb.
"Dia memang begitu orangnya semenjak punya banyak uang. Dulu tidak ada kan?" Tanya Sana.
"Oh iya, aku juga jarang dengar Rita pernah diberi kado ulang tahun," kata Safa.
"Rita nya juga tidak mau kan. Safa dan Varinka ulang tahun apa ada dia kasih kado? Tidak ada. Ya sekarang dia hanya ingin mendapat kesan bisa beli apapun," kata Anita.
"Pamer," kata Arfa satu kata yang mereka semua setuju.
Ney terdiam. Isi grup sudah sangat seru saat melihat Arfa muncul lagi.
"Kamu kemana saja sih, Fa? Sibuk ya di toko?" Tanya Anita.
"Iya, Ta waktu itu ada yang datang minta solusi, aku sudah bilang meski malas lihat orangnya. Tapi aku harus profesional ya. Aku katakan sama dia untuk menjauhi teman dia yang sangat berbahaya, tapi malah terus didekati," cerita Arfa.
"Siapa tuh? Kasih tahu dong namanya," kata yang lain.
Ney meremas jemarinya. Masa iya Arfa akan beberkan semuanya? Meski mereka berdua sangat ber pantulan.
Kalau Arfa sudah muncul, penyakit pamernya harus hilang karena pasti ketebak semua maksudnya.
"Se berbahaya apa sih orangnya, Fa?" Tanya Safa.
"Kalau kita kenal, bahaya juga dong?" Tanya Varinka.
"Kita sih tidak karena dia tidak kenal dan dia tidak peduli sama orang yang tidak dia tahu. Masalahnya cuma berbahaya untuk orang yang bertanya soal dia saja," kata Arfa membuat Ney kebat kebit.
"Eh, siapa sih Fa? Orangnya ada dalam grup ini?" Tanya Feb pura-pura.
"Iya, orangnya ada di grup ini. Sudah jelas dia jadi musuhnya. Tahu musuh malah di dekati dengan wajah tanpa dosa. Kalau dia sudah menuju puncak, bisa hangus," kata Arfa.
Semuanya kaget tapi siapa sih? Sebagian yang memiliki naluri tajam sudah tahu bahwa itu adalah Ney.
Korbannya sudah tentu Rita, jadi mereka yang sudah tahu tidak terlalu banyak bertanya.
"Sebutkan namanya," pinta Anita.
"Kamu itu sudah tidak pernah dianggap ada. Tidak akan bisa menarik hatinya lagi, mau kamu kirim sebanyak apapun paket atau hampers, tidak ada gunanya," kata Arfa.
Ney menggigiti kuku jempol tangannya, mau tidak percaya tapi mungkin memang begitu. Apalagi hampers nya sudah terkirim menuju Bandung.
"Iya meski aku tidak tahu ya, lebih baik kamu batalkan kiriman kamu," kata Anggota lain.
Ney enggan membatalkan, kali ini bukan salah kirim lagi tapi memang dia yang kirim untuk Rita.
Dia pikir Rita bisa dibujuk dengan makanan? Setelah banyak menghina, banyak fitnah dan menakuti orang dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh Rita.
"Bagi Rita, kamu sudah mati!" Kata Arfa.
"Ohhh aku tahu sekarang," kata yang lainnya mengerti.
Semuanya pasti soal Ney - Rita, dan mereka sudah menduga juga. Dianggap mati? Wow lebih sadis lagi.
"Wah sampai dianggap mati sudah sadis tuh," kata Sana tertawa. "Aku sudah tahu lho Rita itu seperti apa," katanya.
Mereka banyak bertanya namun Sana memasang harga yang mahal karena menurutnya pantas Rita memilih pergi.
Bersambung ...