MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
58



Rita teringat mengenai tabungannya yang sudah dia simpan selama dua tahun. Dia bangkit dan berjalan ke lemari pakaian.


Tabungannya sudah sangat lumayan karena di tempat itu dia mendapatkan banyak bonus juga.


"Hmm mau apa lagi ya?" Tanya Rita bingung. Dia menatap laptop yang dibelinya tahun lalu.


Dia menaruh lagi tabungan itu di dalam pakaian, takut ibunya tahu dan meminjam uangnya.


Sudah tentu ibunya tahu dan meletakkan kembali tabungan Rita. Ada perasaan bersalah dalam hati ibunya, membuat Rita berjuang sendiri.


Berharap saat Rita menikah nanti, dirinya bisa mengeluarkan biaya sendiri. Karena itulah ibunya selalu cerewet soal Rita harus banyak bekerja.


Tiga hari kemudian Diana dan Komariah datang berkunjung ke rumahnya. Rita senang dan menyambut mereka berdua.


"Hai, kalian! Ayo masuk," kata Rita dengan ceria.


"Kamu kelihatannya senang sekali ya," kata Diana.


"Hehehe ya dong akhirnya bisa rehat. Bagaimana kalian di sekolah?" Tanya Rita mempersilahkan duduk.


Diana dan Komariah berpandangan dan mereka mengangguk.


"Kamu harus tahu kabar terbaru selama keluar dari sekolah," kata Diana dengan wajah yang serius.


"Soal apa? Kenapa sih kalian kok serius? Tunggu sebentar aku ambilkan minum dan kue," kata Rita beranjak pergi.


Ibunya masih ada di sekolah, Prita juga kuliah sambil bekerja.


Rita datang dan menyimpan air serta cemilan. Koma dan Diana membawakan makanan kesukaan Rita yang disambut dengan bahagia.


"Ini tentang Asma," kata Koma setelah Rita duduk kembali.


"Haa dia lagi dia lagi," kata Rita.


"Iya, memang dia lagi kita baru tahu kebenarannya hari kemarin. Soal kamu dipecat itu memang penyebabnya dari dia," kata Koma.


"Kenapa kamu bisa tahu?" Tanya Rita.


"Kita kemarin menginterogasi dua staf yang tersisa ternyata ada kesepakatan antara mereka berdua dengan Asma dan Bu Dewi," kata Diana.


"Apa!? Tidak salah?" Tanya Rita menganga.


"Ya kami tidak sengaja mendengar sih, Ri mereka berdua sedang mengobrol di dekat jendela. Langsung kami dan guru sisanya melabrak mereka," kata Diana.


"Wah!" Kata Rita.


"Bu Asmi juga ada kan di dalam kantor nah dia diancam oleh Bu Dewi, kalau Bu Asmi sampai mengatakan yang sebenarnya," kata Koma.


"Diancam apa?" Tanya Rita.


"Gajinya akan ditahan. Tapi Bu Asmi kan dia kerjanya jujur ya jadi membeberkan semuanya di hadapan mereka," kata Diana.


"Jahat sekali! Lalu bagaimana?" Tanya Rita.


"Sebenarnya yang tidak kamu duga, soal pemecatan guru dan staf kepala sekolah kamu setuju," kata Diana.


"HAH!?" Tanya Rita kaget. Dia tidak bisa berkata apapun, jadi memang ada kesalahan dia?


"Tenang tenang Rita. Itu ada alasannya kok," kata Koma.


Rita mengangguk dan menghela nafas sambil berpikir lebih baik juga di pecat saja sudah.


"Setelah lama kami memaksa, akhirnya mereka berdua cerita yang sebenarnya," kata Diana.


"Ya waktu itu Asma datang sebagai pelamar baru. Mereka mengobrol banyak kemudian Bu Dewi bertanya tahu dari mana soal lowongan," kata Tris.


"Asma menjawab yah seperti yang kalian sudah tahu dan akhirnya Rita dikeluarkan. Setelah itu, Asma berkata lebih baik Rita dikeluarkan karena ke semua sekolah temannya seperti itu," jelas Karina.


"Wah! Paraaah," kata Rita sangat geram.


"Kalem kita bisa membalas dia kok," kata Koma.


"Kami berdua juga tidak percaya kalau Asma staf baru akan mengatakan hal itu. Meski kami tidak mengenal Rita," kata Karin.


"Tapi Bu Dewi lebih percaya Asma?" Tanya Koma.


"Iya, aku sudah sarankan lebih baik jangan terlalu percaya. Kan Asma baru diterima, Bu Rita sudah lebih lama bekerja disini," kata Tri.


"Memang Bu Dewi kan dari awal juga tidak menyukai Bu Rita," kata Karin membuat mereka terdiam.


"Iya memang jelas terlihat tidak suka aku sih," kata Rita.


"Lebih ke fisik kalau Bu Dewi tidak suka kamunya," kata Koma.


"Fisik lagi, fisik lagi. Aku kurus lho mananya yang langsing? Tinggi juga kalau masuk ruangan harus membungkuk," kata Rita.


Mereka semua tertawa sambil Rita membukakan bungkusan makanan.


"Yah bagi kamu kurus tapi di mata orang kan berbeda. Di makan ya," kata Koma.


Ini mungkin yang terlihat oleh Ney ya dalam kedua matanya, tubuh Rita sempurna padahal kurus seperti pohon.


"Aku sempat bertanya pada Bu Dewi, apa memang Bu Rita seperti itu? Beliau jawab apa gunanya berkerudung tapi aslinya licik seperti rubah. Ya kami merasa aneh," kata Tri.


"Rubah apa sih? Memang si ibu itu selalu menyangka aku banyak tingkah. Aku juga pernah kena labrak tapi waktu itu ada Bu kepala sekolah. Dia yang kena omelan," kata Rita.


"Sudah lama dong?" Tanya Diana.


"Lumayan memang jarang ada kan karena kakaknya ya tahu dia senang cari masalah," kata Rita sambil makan cemilan.


"Lalu yang jadi masalahnya, Asma bilang lebih baik Bu Dewi keluarkan Rita supaya guru lain tidak kena sifat liciknya. Begitu," kata Karin.


"Sabar Kom," kata Diana.


"Iya kami tahu kok, kami tukang ghibah tapi kalau sampai niat keluarkan Bu Rita. Tidak ada," kata Tri membela diri.


"Aku juga kaget baru kali ini ada pelamar yang terlihat jelas membenci orang," kata Karin menatap temannya.


"Kalau Asma memang agak minus, di kampus saja dia ambil karya Rita dan dijadikan hak milik dia," kata Koma sebal.


"Setelah itu kami berdua kaget, Bu Rita dan ketiga teman dikeluarkan. Bu Dewi lalu mendatangi kami dan mengancam, kalau sampai kakaknya tahu," kata Karin.


"Kami akan dikeluarkan dan gaji diambil," kata Tris dengan terisak-isak.


"Wah asli. Kalian laporkan? Diantara mereka berlima memang Tri dan Karin tidak terlalu mengganggu sih," kata Rita.


"Untuk yang tiga itu memang kami yang laporkan karena mereka mengganggu pekerjaan kami juga. Jadi kami mohon jangan sampai Bu Dewi tahu kalau kalian sudah dengar semuanya," kata mereka berdua.


Rita mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan menatap mereka tanpa berkata apapun.


"Jadi memang Asma ini benar-benar harus kita waspadai deh," kata Diana.


"Kita sudah tahu kelakuan dia seperti apa waktu kuliah. Kita pikir dia tidak begitu kalau soal pekerjaan," kata Koma.


"Dia ingin aku di keluarkan supaya bisa pengganti yang dekat sama kamu. Intinya memang Asma ingin jadi sahabat kamu, Diana," kata Rita tertawa.


"Aku tidak suka habis dari awal kenal saja sudah mengikuti aku kemana-mana. Kenapa sih dia sebegitu tertariknya?" Tanya Diana.


"Sama dengan Ney. Ke kamu sama, ke Rita ya begitu mirip Asma kan," kata Koma.


Mereka berdua mengangguk dan tertawa bersama. Dua orang yang harus dihindari dalam hidup, kalau bisa.


"Nah kalau soal kepala sekolah, beliau tahu kami selalu sakit karena pekerjaan di situ memang banyak," kata Koma menjelaskan.


"Jadi setujunya di sini beliau memutuskan kamu tidak perlu dulu bekerja sementara waktu. Diberikan waktu seminggu untuk rehat," lanjut Diana.


"Jadi sebenarnya Bu Dewi mengeluarkan kamu tapi kata kepala sekolah itu bukan pemecatan. Ya agak membela adiknya sih ya," kata Koma menghabiskan satu bungkus kacang.


"Daripada disebut rehat, aku memilih keluar saja," kata Rita.


"Iya sih disuruh rehat seminggu sama saja dipecat kan ya? Kita juga berpikiran begitu sih," kata Koma.


Untung kita berdua masih dalam percobaan," kata Diana.


"Tiga bulan atau sebulan?" Tanya Rita.


"Seminggu, Rita tapi kita mau mundur saja," kata Diana.


Komariah mengangguk, Rita bengong.


"Lho? Kenapa? Jangan dong ini bukan salah kalian kok. Aku tidak merasa terintimidasi," kata Rita panik.


"Ya tetap tidak enak Rita. Kita masuk juga karena ingin bertemu kamu lagi, kerja bersama. Tapi kalau kamunya di pecat, ya untuk apa kita masih bertahan," Kata Koma.


"Ya tapi kan... niatnya pengalaman jadi kalau pindah ke sekolah lain, kalian sudah punya hitungan," kata Rita menatap dengan sedih.


"Jangan cemas deh soal itu," kata Diana tertawa.


"Kita baru percobaan lho ya bukan asli guru di sana," kata Koma lagi.


"Kita juga belum dapat gaji kan jadi ya sesuka kita saja," kata Diana cengengesan.


"Iya juga sih," kata Rita.


"Asma sudah diterima jadi staf disana tanpa ujian," kata Diana.


"Hah? Bu Dewi tidak menguji?" Tanya Rita.


"Tidak, semua staf dan guru kan menjauhi Asma. Semuanya kan ada tes hanya dia yang tidak, ya sudah mencurigakan. Ah, aku malas bekerja dengan dia," kata Diana membuka ponselnya.


"Sepertinya dia meyakinkan Bu Dewi kalau gerakannya lebih cepat dan baik dari kamu. Itu kan pekerjaan Rita saja segudang ya," kata Koma sambil merenung.


"Kenapa dia seperti begitu? Aku kan menawari kerja malah dibilang memaksa. Benar-benar tidak punya sopan santun!" Kata Rita kesal sekali.


"Dia iri sama aku dan Koma, bisa diterima kan apalagi teringat ada kamu. Ya komplit kan," kata Diana.


"Di kampus saja seperti apa kelakuannya?" Tanya Rita.


"Okelah dia ingin dekat aku tapi kalau caranya dengan menjatuhkan posisi orang, maaf saja ya," kata Diana dengan gaya khasnya.


"Berarti ini yang kedua kalinya ya dia berbuat begitu. Masih ingat soal martabak? Kan dia melemparkan salahnya ke Rita," kata Koma.


Mereka berdua ingat kejadian menyebalkan itu. Yang membuat Rita dijauhi oleh satu kelas dan kelas lainnya tanpa tahu apa-apa.


"Dia sebarkan soal martabak ke staf kampus, dosen parah!" Kata Diana tertawa keras.


"Tapi aku senang hanya kalian berdua yang tidak mempercayai ceritanya. Terima kasih," kata Rita.


Keduanya tertawa.


"Selain kita ada Linda, Tamada dan Ina mereka juga tidak percaya cerita Asma. Kita berlima kan tahu belangnya dia," kata Diana.


Rita mengangguk tertawa. "Setelah ketahuan kebenarannya, gantian dia yang kena banyak hujatan. Terus menangis lapor ke para staf,"


"Diceramahi kan jangan suka menjatuhkan orang, kalau memang tidak suka ya jauhi saja. Tapi dia mendekati lagi kan," kata Koma.


"Bagusnya dari dia kalau salah ya mengakui dan minta maaf. Bukan membantah, pergi dan meninggalkan kesalahannya sendiri menumpuk," kata Rita.


"Nanti lagi kalau kamu dapat pekerjaan lain, aku sarankan jangan tawari ke Asma. Kalau kita kan aman tidak akan makan teman sendiri," kata Koma.


Bersambung ...