MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
113



"Seren mana?" Tanya Kazen.


"Lagi mengobrol sama dua keponakannya yang bandel itu," kata Shin.


"Ternyata bisa juga ya membalas omongan kita," kata Hay menatap Shin.


"Iya, saya memang miskin tapi tidak miskin wajah seperti kalian," kata Shin yang langsung diserang Toni dan Keyno.


Sayang sama dengan Kazen, Shin pun pandai bela diri dan mereka berdua mundur.


Rita datang lagi sambil membawa teko. "Oh, teman palsu kamu masih disini? Pasti masih usaha ya minta uang alias dana segar. Usaha tapi tidak mau menderita," kata Rita.


"Perempuan kurang ajar!" Teriak Raksa yang saat itu memang agak dekat posisinya dengan Rita.


Kazen marah dan Shin menghadang sisanya. Kazen takut Rita diapa-apain, tangan Raksa sudah memegang baju Rita dan menariknya.


"Kamu!!" Teriak Kazen.


Para petugas hotel berhamburan mereka sudah lelah dengan kelakuan keempat teman palsu Kazen. Beberapa mengambil tongkat satpam.


"Jangan... SEENAKNYA MENYENTUH!!!" Teriak Rita yang langsung menghajar wajah Keyno dengan teko yang dibawanya.


Tanpa peduli seberapa kuatnya tenaga yang Rita hentakkan ke arah wajah Keyno, Keyno merintih kesakitan.


Bahan tekonya bukan bahan yang ringan, petugas dapur menyusul untuk membawakan dan melihat kelakuan Keyno.


"Sakit sekali pasti itu," kata petugas lain.


Kazen menangkap Rita dan memeluknya, memeriksa kedua telapak tangannya yang memerah agak berdarah.


Telinga Teko agak tajam, dan sisi lainnya berhasil melukai Keyno. Dia merintih kesakitan, tidak menduga hajar an Rita membuatnya berdarah karena teko juga.


Ketiganya tidak menolong Keyno yang kesakitan, dia berdiri dan duduk di sofa. Temannya yang lain agak menyusut.


"APA??? MAU APA? SINI SISANYA!" Teriak Rita mendorong Kazen.


"Haduuuh kalau Rita sudah marah, dia yang paling sulit diredakan," kata Kazen menggaruk kepalanya.


Rita berlari mengejar sisanya yang lari menghindar. Hay kena getok pantat teko dan kesakitan. Raksa dan Toni melawan, Kazen geram.


Tangan Rita dipelintir, sebelum berhasil Rita dengan santai menendang area bahaya dan Raksa mengerang.


"Lihat jadi perempuan ya," kata Rita tertawa mengerikan.


"Awas ka..mu," kata Raksa yang masih berusaha melawan, di tampar oleh teko sekeras mungkin.


Sisa Toni yang ingin menghempas sorban yang dibawanya ke wajah Rita. Dia cepret kan dan ternyata ditahan oleh Kazen.


"Beraninya kamu," kata Kazen. Toni menciut dan Rita dibawa Shin dan Seren ke kamarnya.


Mereka berempat saling memegang yang kesakitan. Kazen yang hendak pergi, ditahan oleh mereka.


"Kekasih kamu itu preman! Masa kamu mau sama dia? Ikutlah dengan kita, tinggalkan dia. Oke?" Tanya Raksa yang sudah mendingan.


"Iya, kita kan sudah kenal sejak remaja masa hanya karena perempuan hutan itu persahabatan kita.." kata Hay.


"PEREMPUAN HUTAN KATA KAMU!? SINI BIAR AKU ROBEK WAJAH TUA KAMU!!" Teriak Rita yang langsung di bekam oleh Prita.


Hay menelan ludah dan dia memegang wajahnya. "Wajah tua? Aku?" Tanyanya ke semua orang.


"Memang kamu tua jadi aku tidak percaya kalau kamu buka usaha," kata yang lainnya.


"Sialan kalian," kata Hay.


"Kamu jangan terlalu memihak perempuan itu. Lihat dong kelakuan dia ke kita, harusnya yang sopan," kata Toni.


"Apa kalian bisa sopan pada semua perempuan? Satu saja begini hasilnya apalagi seribu," kata Kazen.


Mereka diam, dan Kazen ingin pergi saja.


"Satu lagi, dia perempuan yang baik memang tidak sesuai kriteria. Tapi dengannya aku tenang, nyaman. Aku susah dia tidak pernah pergi," kata Kazen.


"Kita juga selalu ada kok. Tapi kamunya saja yang tidak mau," kata Raksa.


"Ada? Kalian ingat saat perusahaan yang aku kembangkan bangkrut. Ada yang menawarkan bantuan?" Tanya Kazen menahan amarah.


"Kita juga punya masalah, Zen," kata Keyno.


"Iya masalah kalian itu kekurangan dana dan Aku. AKU SASARAN KALIAN!!" Teriak Kazen bergema.


Mereka diam.


"Saat kekasihku kecelakaan motor, satu kaki lumpuh. Aku tidak sama dengan kalian yang langsung menghina perempuan bahkan kekasih kamu sendiri Raksa.


Kamu tinggalkan dia tanpa dukungan! Kamu tuh sakit jiwa!" Kazen berseru.


Raksa kaget saat Kazen mengatakan hal itu, dia sadar bahwa Kazen tak sepenuhnya menerima pertemanan mereka.


"Menurut kalian apa aku main-main sama dia? Aku benar-benar menyayanginya tidak seperti kalian penuh kepalsuan!


Kalau aku harus memilih antara kalian atau dia, aku pilih kekasihku! Dia tidak palsu dan selama aku dengannya, tidak pernah dia meminta uang atau apapun!


Mereka berempat diam, dan mengumpat. Kalau saja kebiasaan mulut mereka bisa ditahan, mungkin Kazen akan berikan seperti biasa.


Kemudian mereka diusir oleh pihak hotel dan mengancam akan dijebloskan ke penjara bila muncul lagi.


Mereka pergi dengan tangan kosong, Kazen memang bukan teman mereka. Mereka tidak pernah merasa berteman.


"Ini semua gara-gara kekasihnya! Lihat saja aku balas dia," kata Keyno yang memeriksa wajahnya.


"Jangan deh. Dia ternyata bisa menghajar kuat dengan kita yang badannya di atas dia," kata Toni.


"Aku juga tidak mau. Bisa-bisa beneran jadi perempuan," kata Raksa.


"Kalian jangan pengecut deh! Yang harus kita waspadai itu Kazen, tanpa dia keluarganya bisa menghentikan pasokan makanan. Kita dalam bahaya kalau perempuan itu, kita bisa leluasa," kata Hay.


"Kita tidak mau ikutan. Waktu hajar aku, itu memang benar-benar tenaganya. Sepertinya kita harus hentikan kebiasaan jelek kita ini," kata Keyno.


"Kalian semua pengecut!" Kata Hay.


Mereka mengobrol lagi dalam mobil dengan masih Hay yang keukeuh ingin balas dendam.


Raksa sudah lelah dan memandang ke arah kanan, terkejut dan menyuruh ketiganya melihat jendela.


"Apaan sih, Rak? Ketakutan begitu. Memangnya ada apa?" Tanya Toni.


"Li-lihat saja dulu. Ituu!!" Kata Raksa ketakutan.


Mereka bertiga berbalik dan terkejut berteriak histeris. Wajah Rita menempel sambil membawa teko lebih besar.


"KAMU MAU BALAS DENDAM? KELUAAAAR!!!" Teriak Rita yang masih memuncak marah.


Kazen, Seren dan Shin berlari sambil tertawa. Rita memukul-mukul teko itu ke arah jendela mobil mereka. Petugas hotel hanya diam tertawa melihat Rita yang berusaha merusak mobil Toni.


"NOOO BURUAN!! Jalani mobilnya! Cepat!!" Teriak Toni ketakutan.


"KELUAAAR!!!" Teriak Rita dengan tenaga yang kuat. Dia pukul spion yang langsung ambrol jatuh.


"Stoop Rita," kata Seren terhenti dengan suara kelelahan.


Rita pindah dan memukul jendela sebelah Toni.


"Perempuan gila!!" Teriak Hay menghina.


Dan tiba-tiba... BRAK BRAK!! PRAAANG!


Kaca jendela rontok sebagian Rita tertawa menakutkan membuat mereka berempat ketakutan luar biasa.


"AAAAAAAAAAA!!!" Mereka berempat teriak bersamaan.


Mobil berhasil dinyalakan, Kazen berhasil memeluk Rita dan membawanya menjauhi mobil. Takutnya dia di tabrak sengaja tapi tidak, mobil itu menabrak papan dan mengebut kabur.


Perginya mereka, Rita mengumpat kesal dan membalasnya pada Kazen yang dengan mudahnya dilawan hanya menggunakan satu tangan.


Rita terus koar-koar bahwa Kazen sangat bodoh punya teman palsu. Shin, Seren dan Prita hanya terduduk melihat kebrutalan Rita pada Kazen.


"Kakak kamu bukannya kalem ya?" Tanya Seren.


"Kalau diganggu jadi brutal. Sahabat dia semua juga tahu, jadi jangan sampai dia meledak marah," kata Prita.


"Seram ya," kata Shin.


"Tapi Kak Kazen kan kuat jadi pasti baik-baik saja," kata Prita dengan santai kembali ke kamar.


Rita berhenti kelelahan, dia berjongkok dan Kazen mengajaknya masuk kamar.


"Lelah kan? Kita rehat dulu aku buatkan makanan enak," kata Kazen. Rita memeluk badan Kazen yang besar, tangannya tidak mampu saling menjangkau.


"Diet dong. Badan kamu besar sekali mirip beruang," kata Rita.


"Badan aku memang beginiiiii," kata Kazen.


Rita tertawa hanya Kazen yang bisa membuat mood Rita kembali normal. Sebelum jalan-jalan, mereka makan di kantin.


"Maaf, tekonya tadi saya pakai untuk hajar orang," kata Rita membungkuk.


"Hahaha saya lihat tekonya baik-baik saja. Tangan kamu pasti luka," kata koki mengambilkan perban.


"Iya tapi tidak apa-apa nanti juga sembuh kalau aku makan banyak. Ini sudah diberi Betadine juga," kata Rita menunjukkan.


"Kamu kuat ya. Ini tambahan untuk kamu, terjamin teko ini sangat kuat bahannya," kata koki tertawa.


Kazen membuat waffle yang enak, Rita tidak suka madu jadi dia ganti dengan selai dan taburan cokelat dan keju.


Rita makan dengan lahap, energi hantamannya berkurang gara-gara menghajar empat orang tadi.


Kazen pun Rita suapi karena membalas teman-teman tadi dengan mengancam jangan berbuat macam-macam. Apalagi merencanakan soal Rita.


Bersambung ...