
Mereka kemudian pergi, sang kelinci merasa ada suatu rasa pada Rita. Dia mengikuti berusaha, kemana Rita pergi. Kelinci itu menyembunyikan kekurangannya.
"Rita, dia ikuti kamu lho," kata ibu tertawa.
Rita berbalik, sang kelinci pun berbalik pura-pura tidak melihatnya. Meski dia melirik. Rita menjulurkan lidah dan matanya.
Kelinci berbalik dan mengangkat satu tangannya sambil men dengking. Petugas keheranan, dia tahu itu arti bahwa kelinci ingin bersamanya.
"Kelihatannya dia ingin kakak membelinya," kata petugas tertawa.
"Mana mau aku beli kamu!" Kata Rita dengan jutek.
Kelinci cokelat itu menatap dengan iba, menurutnya itu cara perkenalannya meski sakit. Kelinci terus mengikuti meski Rita membelai kelinci yang lain.
Dia menunggu sampai Rita beranjak pergi. Perlahan dia berhenti terus menatap Rita yang sibuk melihat hewan lain.
"Aku tidak mau beli ah. Sudah berdarah begini," kata Rita.
Kelinci menurunkan kedua telinganya, dia tahu kelakuannya jelek. Kelinci tidak mengikuti Rita lagi, seakan dia dapat mendengar apa yang Rita katakan.
Kelinci itu diam dan duduk memandangi ke bawah. Dia sedih sudah beberapa orang menolaknya terutama karena kakinya yang cacat.
"Anggap saja itu perkenalan dia. Kamu sama galaknya," kata Kazen.
Rita merenung, berbalik menatap kelinci itu. Sudah cukup jauh dan kelinci itu hanya duduk dengan telinga yang terkulai.
Dia sempat melihat harga kelinci tersebut yang cukup murah. Alasannya karena sakit pada kakinya. Rita menatap kakinya yang sudah sembuh dan memandangi punggung Kazen.
Rita berbalik, jarak dia dan kelinci penggigit tadi ada satu meter namun karena para kelinci sibuk tidur, jalannya terlihat jelas.
Rita lempar semacam kacang tepat ke kepalanya. Sang kelinci tidak melihat, Rita lagi melemparkan beberapa.
Karena terganggu, kelinci tersebut menatap ke depan. Rita melambaikan tangannya ke arah kelinci.
Kelinci agak ragu tapi petugas menepuk pantatnya dan berkata, "Kakak itu mungkin mau ambil kamu. Ayo sana,"
Masih ragu tapi... kelinci berlari dengan riang. Dala. hati dia berharap memang orang itu mau mengadopsinya. Dia tiba di depan Rita dan Kazen.
"Kamu cepat ya larinya," kata Rita senyum.
Kazen tertawa. Kelinci masih ketakutan dan Rita mencoba lagi mengambilnya. Petugas datang dan membantu.
Kelinci hanya diam, dia menatap Rita dengan matanya yang besar. Dia terduduk begitu saja dalam dekapannya.
"Kamu kenapa, sudah menggigit ternyata pendiam," kata Kazen membelainya.
"Jangan gigit aku lagi ya kalau tidak, aku jadikan kamu sate!" Mata Rita membuat kelinci lebih terkulai telinganya.
"Jangan diancam begitu dong. AW!!" Teriak Kazen.
Memang seperti itulah perkenalannya sang kelinci. Menggigit telapak jari semua orang sampai berdarah.
"Kelinci ini memiliki kekurangan Kak," kata petugas.
"Hah? Masa sih? Tunggu," kata Rita memeriksa. Kelinci berbalik dalam dekapan tapi tidak bisa bertingkah apapun.
Rita berhasil menarik dengan lembut dan melihat luka lebar di kaki kirinya dan kering.
"Iya itu. Banyak yang menyukainya tapi setelah dilihat, mereka kembalikan lagi," kata petugas membelai kepala kelinci.
Telinganya masih terkulai pertanda dia sangat sedih dan enggan Rita kembalikan.
"Duh Rita, pilih yang lain saja deh ibu juga yang lihatnya jijik. Lukanya lebar dan besar," kata ibu enggan memegang.
Kelinci men dengking pelan seperti menangis, Rita membelai kepalanya agar tenang namun kelinci masih menangis.
"Tapi memang bulunya lembut kan, anaknya baik hanya ya begitulah," kata petugas.
"Wah dia menangis. Kamu mau aku beli?" Tanya Rita.
Kelinci menyeka air matanya, dia pasrah saat Rita menaruhnya dalam kandang itu. Kemudian Rita dan Kazen pergi, kelinci ikhlas dia berjalan kembali ke kandangnya.
Rita mencari kelinci warna coklat lainnya namun perilaku mereka terlalu pendiam, ada juga yang bar-bar membuat Rita pusing.
"Yang tadi sajalah," kata Rita.
Mereka mencari dan melihat ekor kelinci itu bergerak kemungkinan menangis. Kazen tertawa dan memegangnya sehingga kelinci tersebut berbalik dan kaget.
"Ayo," kata Rita mengulurkan tangannya.
"Tampaknya dia terkejut," kata Kazen membelai kepalanya.
"Kalian memilihku? Benarkah? Benarkah?" Pikir kelinci agak kaget.
Rita langsung menggendongnya dan memeluk erat, dia bingung menatap Kazen dan mendapatkan ciuman mesra.
"Bubu," panggil Rita.
"Sudah siapkan nama toh," kata Kazen tertawa.
"Nama? Untukku? Aku Bubu?" Pikir kelinci itu. Dia senang dan berusaha duduk dengan mengangkat kedua telinganya.
"Senang ya kamu. Kita berteman ya," kata Rita memeluk Bubu.
Bubu menyandarkan kepalanya dan tampak tertidur merasakan belaian tangan besar Kazen.
"Dia senang tuh, sampai tidur. Akhirnya kamu punya rumah," kata Kazen tertawa.
Prita juga senang agak cacat bukanlah kekurangan mereka untuk menyayanginya.
Semua orang memang dia gigit dan membelainya. Prita tampak sedih dan Rita memberikan Bubu kepadanya dengan alasan mau jalan-jalan.
Bubu menjilat wajah Prita dan Prita memeluknya. "Terima kasih, Bubu," kata Prita.
Kaki Bubu Rita perlihatkan, Bubu tampak malu dan enggan melihat.
"Nanti kita ke dokter hewan ya supaya kaki kamu dirawat," kata Rita menenangkan.
Mereka mendatangi semacam tempat bermain untuk hewan dan Rita mendaftarkan nama Bubu. Beberapa petugas berharap Rita memang membelinya.
Prita melepaskan Bubu, dia heran. Lalu berlari dan kembali lagi menatap Prita.
"Kamu kenapa? Tenang saja kami tidak akan meninggalkanmu. Ayo main," kata Prita.
Bubu berlarian dia masih terus melirik ke belakang beberapa menit, mereka menitipkannya. Petugas menghela nafas membuat Rita keheranan.
Mereka melihat cafe yang manis dan lucu.
"Duh, masa kita masuk sana," kata ibu.
Melihat lebih banyak remaja yang berada di sana untuk makan.
"Tidak apa-apa dong memangnya ada tulisan orang tua dilarang masuk? Ayo," ajak Rita.
Mereka masuk dan memang jadi pusat perhatian karena Kazen. Beberapa pengunjung berteriak histeris tapi saat melihat Kazen menggandeng Rita, mereka kesal.
"Jangan dipikirkan," kata Kazen.
"Duduk dimana?" Tanya Bapak.
Mereka memilik dekat jendela. Menu diberikan dan petugasnya agak centil mendekati Kazen.
Kazen tidak peduli dan memesan, bertanya pada Rita. Petugas itu terlihat nyinyir pada Rita dengan agak jutek menuliskan pesanan.
Tanpa ada yang bertanya, Kazen mengatakan, "Aku tidak tertarik dengan wanita lain selain yang ada di sisiku sekarang,"
Ibu dan bapak masih memilih menu. Prita hanya menahan tawa dan Rita bingung.
"Aku kan tidak tanya," kata Rita yang membuat petugas itu agak malu.
"Hahaha ya kalau kamu bertanya apa aku tertarik memiliki simpanan, aku tidak minat. Cukup kamu," kata Kazen tertawa.
Bersambung ...