
Di tempat Ney, semuanya terbongkar sekaligus. Dia benat-benar tidak bisa memesan Hokben lagi bahkan untuk dirinya sendiri.
Karena nomornya sudah tertera jelas ya kecuali dia mengganti nomornya yang aman.
Dia meminta orang lain memesan sebagai nama Rita pun sama sekali tidak bisa. Rita saja dimintai KTP asli baru bisa memesan.
Ney tidak berusaha memesan lagi, dia enggan bermasalah dengan nama makanan Jepang tersebut.
Dia menyerah sudah dan berhenti berusaha mendekati Rita lagi. Yah sekarang sih nanti kalau bertemu dia akan meyakinkan Rita, kalau dirinya dahulu khilaf.
Apa kata Arfa masih terngiang membaca bahwa dirinya sudah dianggap mati. Berarti kan kehadiran dia memang sangat mengganggu ya.
Bahkan dalam mimpi pun, Arnila dan Rita sama-sama menjauhinya. Arnila pergi meninggalkannya karena melihat sesuatu tanpa sedikit pun bicara.
Rita yang terus menikmati makanan pun tanpa menatap atau memandanginya seolah-olah, dia hanyalah asap.
Ney merenung mungkinkah apa yang dikatakan oleh Arfa memang benar kenyataannya? Terbukti dengan dirinya yang memasuki mimpi mereka.
Karena bagi mereka dan mungkin semua orang, kehadirannya adalah mimpi buruk yang memang hanya dianggap asap.
Dia tidak suka mengetahui mereka berdua meninggalkannya, dan terus berusaha memperbaiki semuanya.
Mereka atau siapapun tidak ada yang membalas usahanya, bahkan semakin terkucilkan dan tidak dianggap. Acuh dan pergi.
Lama tidak ada kabarnya, Ney memeriksa akun PB dan membaca bahwa hari itu ada acara reuni SMA.
Dia berpikir pastilah dirinya akan ikut datang, meski tidak ada undangan yang di tujukan padanya.
Sudah saatnya dia beralih ke hal lain untuk mengistirahatkan ulahnya. Dengan percaya diri, dia datang ke tempat reuni itu.
Dia senang karena beberapa orang yang bersekolah sama dengannya juga hadir. Beberapa alumni memandangnya rendah tak menyapanya.
"Hai, Anjeli. Apa kabar? Bagaimana paket yang aku kirim sudah sampai kan? Kamu suka?" Tanya Ney menyapa salah satu alumni kelas satu, dimana dia sekelas dengannya.
Orang itu memandanginya dengan aneh dan mendengus lalu tertawa. Yang bernama Anjeli tertawa dan pergi bersama orang meninggalkan Ney.
Ney hanya diam berdiri memandanginya yang menjauh. Kesal ternyata Anjeli pun tidak ada kabar soal paketnya.
Kebanyakan dia menyapa orang-orang yang dia kirimi paket, namun tidak banyak orang yang berbalas sapaan.
Mereka memandanginya dan berkata tidak pernah menerima apapun dari kirimannya.
"Hah, aku jelas kok kirim paket ke kamu sebagai sapa. Nih alamat kamu kan," kata Ney menunjukkan.
Mereka tertawa berkata bahwa memberikan alamat palsu alias alamat entah siapa.
Yang membuat Ney kaget, mereka tidak pernah mengenalnya sejak SMA.
"Jadi aku kirim ini siapa?" Tanya Ney.
"Ya mana aku mau tahu hahaha jadi orang jangan sok dekat deh. Aku tidak kenal ya sama kamu," kata dia kemudian menertawakan.
Tapi ada juga yang mengatakan paketnya sudah sampai, Ney senyum dan bertanya bagaimana.
Yang lain mengatakan bahwa tidak membutuhkan barang yang Ney kirim, jadi mereka berikan saja ke orang lain.
Ney terdiam mendengarnya, dia tidak bisa berkata apapun. Dan meski dia kirimkan ke semua orang saat SMA, tidak ada satupun yang mengajaknya mengobrol.
"Oh ya sudah tidak apa-apa," kata Ney yang hanya menjadi pendengar saat mereka mengobrol.
Karena capek dia mencari tempat duduk. Melihat semua orang datang bersama teman satu geng atau yang dekat.
Dia duduk sambil memandangi yang lainnya ada juga yang duduk sendiri, dia hampiri namun orang tersebut memutuskan pindah.
Hampir tidak ada yang dia kenal padahal menurutnya sewaktu SMA banyak yang dia kenal, dan jalan bersama.
Alhasil Ney mengambil beberapa makanan dan minuman.
"Eh, eh kamu kenal sama dia? Sampai di kirim paket segala," kata A.
"Kenal tapi tidak terlalu. Orangnya aneh, aku hanya menyapa saja sama seperti yang aku lakukan pada orang. Dia anggap aku mau dong temenan dengannya," kata B tertawa.
"Sepertinya siapapun yang menyapanya, kesannya mau berteman ya," kata A.
"Tapi siapa yang undang dia ke acara ini?" Tanya C.
Mereka sama sekali tidak tahu. Reuni itu terdapat tiga kelas dari 3A sampai 3C. Sedangkan Ney tentu saja bukan masuk ke kelas mereka, hanya pernah satu kelas.
"Sepertinya dia salah kelas deh," kata yang lainnya.
Saat itu Ney disapa seseorang. Yang dia agak merasa tidak mengenalnya tapi setelah dipikir, tentu dia kenal.
"Hai, Ney kan? Apa kabar?" Tanya perempuan tersebut dengan menggunakan pakaian agak santai.
"Oh, hai juga. Siapa ya? Kita kenal?" Tanya Ney bertanya.
"Oh! Errr kita pernah satu kelas," kata perempuan itu.
"Oh, hanya pernah satu kelas. Tapi maaf ya aku mungkin lupa nama kamu. Siapa ya?" Tanya Ney senyum bermakna pengusiran.
"Nama aku Xin Yiang. Iya hanya pernah sekali sekelas bukan seterusnya," kata Xin mendelik menyesal deh sudah menyapa.
Wajah Ney pun nampaknya kurang ramah dan bersahabat. Xin hanya mendengus.
"Tionghoa bukan Mandarin. Mandarin itu bahasa bukan negara, Ney. Masa kamu bisa salah? Haha," kata Xin menertawakan.
Ney senyum kecut mendengarnya. Dia mendelik agak tidak peduli toh yang menyapanya ternyata anak pindahan yang tidak jelas.
Xin kemudian duduk sebelah Ney meski tidak enak ya awalannya mereka mengobrol. Xin dengan logatnya yang kental membuat Ney agak tidak nyaman.
"Kamu sudah lama kan di Indonesia kok logatnya masih ada ya," kata Ney.
"Haha tidak lama kok Ney, aku di Indonesia sampai kuliah lalu aku pulang ke Cina. Aku kan orang sana, masa iya logatnya harus berubah," kata Xin.
"Oh aku juga sebentar lagi jadi warga Malaysia, kan sekarang suami aku bekerjanya disana," kata Ney agak pamer.
"Bukannya suami kamu tempat asalnya di Amerika? Kalau begitu kenapa masih di Indonesia?" Tanya Xin.
"Kok kamu bisa tahu?" Tanya Ney agak kaget.
"Suami aku kan kantornya sama dengan suami kamu hanya berbeda tempat. Dia suka lihat suami kamu dan sempat mengobrol. Kalau tidak salah dengar, suami kamu di Malaysia kalau ada kerja sampingan deech," kata Xin membuat Ney terdiam.
Mendengarnya Ney terdiam, agak salah tingkah. Awalnya mau pamer eh malah kecele. Mana suami Xin dengan suaminya sempat mengobrol juga.
"Tapi kalau memang mau pindah seharusnya logat kamu berubah dong jadi Melayu. Kamu bisa bahasa mereka? Atau menggunakan bahasa Inggris?" Tanya Xin menahan tawa.
"Oh, aku menggunakan bahasa kedua mereka bahasa Inggris," kata Ney dengan bangga.
"Kalau kamu belum bisa menguasai bahasa asli mereka sih belum bisa disebut warga Malaysia.
Kamu bangga mau jadi warga sana tapi lebih memilih bahasa kedua? Duuh, coba ya mbak mikir. Kalau mau jadi warga asli, kamu harus menguasai bahasa Melayu," kata Xin menertawakan dengan keras.
Wajah Ney merah padam. Orang yang dia selalu remehkan ternyata lebih banyak tahu.
Dia tidak peduli lalu mengeluarkan ponsel terbarunya itu. "Lihat, sekarang aku punya ponsel terbaru lho. Tidak seperti kamu yang pastinya ya masih ponsel jadul," katanya.
Xin hanya menatap ponsel itu tanpa ekspresi yang bagaimana hanya menahan tawa.
"Iya, ponsel aku memang masih yang jadul dan norak. Wah, hidup kamu jadi mewah ya sekarang beda sama aku," kata Xin merendahkan diri.
"Iya dong. Status aku sekarang naik ke puncak, nih buktinya aku beli ponsel berjuta-juta. Harus berbeda dong dari yang miskin saat menikah jadi kaya," kata Ney menyindir.
Xin melipatkan kedua tangannya, menatap Ney yang memang tidak berubah kesan songong nya. Pantas tidak ada yang mau kenal dekat.
"Hmm menurut aku status itu tidak ada gunanya deh," kata Xin menaruh tangannya ke atas meja.
"Itu penting lho untuk menunjukkan bahwa kamu berkualitas. Dulu memang ya aku banyak diremehkan sekarang? Aku lebih kaya dong dari kamu.
Suami kamu masih jualan ponsel? Dih, tidak malu? Oh iya jualan ponsel juga bisa sih ke luar negeri ya. Nanti aku coba deh tanya suami aku apa ada lowongan," kata Ney dengan nada angkuh.
"Cih," kata Xin berdiri kemudian pergi ke kerumunan lain.
Ney tertawa menang dan mendorong jauh kursi yang Xin duduki tadi. Dia minum dengan angkuh sambil terus bergaya bahwa ponselnya paling mahal.
Banyak anak lain memandanginya dan enggan mendekati. Xin kembali ke teman-temannya dan memandangi kesal pada Ney.
"Kamu kenapa Xin?" Tanya Ayu, Ratna dan Rita ( bukan Rita Ashalina ).
"Itu si songong menyebalkan sekali kata-katanya," kata Xin dengan bercampur kalimat Mandarin.
"Hahaha lagian kenapa juga kamu menyapa dia. yang lain saja tidak ada," kata Rita.
"Dia bilang apa?" Tanya Ratna.
"Tampaknya senang sekali punya ponsel jebolan baru. Tinggi sekali nadanya mendengarnya saja sudah menyesal aku datangi dia," kata Xin meminum jus.
"Masih dia? Iya sih keadaannya berubah semenjak menikah tapi lihat, tetap saja tidak ada yang mau menemani dia kan," kata Ayu.
"Dia pakai ponsel apa, Xin?" Tanya Rita.
"X1X1 dooong itu kan ponselnya sudah terlalu lama ya. Maksudnya rasa barunya itu sudah terlewati," kata Xin.
Mereka tertawa mendengarnya. Xin lalu mengeluarkan ponsel paling mahal yang membuat ketiganya histeris.
"Gila kamu! Punya ponsel ini juga!?" Tanya Ratna terkejut.
"Wah, salah sasaran dia kalau kamu pamerin ponsel ini," kata Rita.
"Aku juga bisa ya kalau pamer tapi untuk apa sih? Lagipula aku sama dia? Maaf ya bukan level, sudah ah aku ke sana dulu ya. Mau sapa para guru," kata Xin melambaikan tangannya.
Mereka bertiga mengangguk dan saling berpandangan menatap Ney yang masih saja duduk sendirian.
"Rencana kalian aku pikir sama deh," kata Rita cekikikan.
"Yuk yuk, kita julid di depan dia," ajak Ayu.
"Ayo. Dia harus diberi pelajaran," kata Ratna.
Bersambung ...