MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
57



"Biarkan saja deh memang orangnya aneh," kata Asmi membawa seblak baso.


"Kalau aku dimarahi karena dandanan ku terlalu tebal. Setebal apa coba," kata Koma.


"EH!?" Tanya mereka bertiga.


"Tapi memang ada alasannya Bu Dewi kurang bisa berdandan," kata Asmi meminum kuahnya dengan nikmat.


"Hah!? Ya kalau begitu kenapa.." kata Koma.


"Kan bisa ikut kursus kecantikan," kata Rita.


"Bu Dewi sudah menikah?" Tanya Diana.


"Sudah," kata Asmi menatap mereka.


"Kalau begitu apa masalahnya jangan-jangan..." kata Rita menebak.


"Suaminya ganteng sih mungkin ya melihat sekolah ini banyak guru dan staf yang lebih menarik. Ya takut kepincut kali," kata Asmi.


"Kalau guru banyak yang muda sekalian menarik perhatian ibu-ibu agar menyekolahkan anaknya disini kan," kata Diana memakan mie goreng pedas.


Mereka saling memperhatikan lalu guru-guru yang lain. Asmi yang berwajah oriental seperti bule, Rita yang tinggi semampai, Komariah yang langsing, Diana berlesung di kedua pipinya dan guru lain dengan keunikan tersendiri.


"Itu kan bukan salah kita. Bu Dewi kurang percaya diri saja," kata Diana.


"Karena kalian bertiga masuk ke dalam kriteria suaminya. Ya yaa harap maklum saja," kata Asmi mengangguk.


"Hah!? Serius Bu?" Tanya mereka bersamaan.


"Aku kan sudah bekerja disini lebih lama dari Bu Rita. Waktu Bu Rita masuk, Bu Dewi sudah protes," jelas Asmi.


"Oalaah," kata Rita menepuk dahinya, pantas sih Bu Dewi seakan menganggapnya musuh.


"Ditambah kedatangan kalian berdua jadi nadanya nyelekit kan. Dia iri ke guru dan staf yang lebih darinya. Jadi dimaklumi saja ya," kata Asmi dengan senyum.


"Kapan ya kepala sekolah pulang?" Tanya Rita.


"Semuanya juga bertanya seperti itu, Bu kalau ada Bu Dewi, semua irang terancam sih. Aku juga," kata Asmi sedih.


"Sampai semua orang lho. Memangnya kenapa sih?" Tanya Rita sibuk mengunyah makaroni.


"Bu Rita tidak dengar kabarnya dari sekolah lain? Bu Dewi sudah banyak memasuki sekolah dan membuat beberapa guru dikeluarkan. Dengan alasan tidak logis," bisik Asmi.


"Serius, Mi?" Tanya Rita kaget.


"Serius lah. Sekarang dia masuk sekolah kakaknya, ada kemungkinan guru dan staf disini juga dikeluarkan," kata Asmi.


Mereka berempat termenung sambil memakan makanan mereka. Rita menghela nafas kejadian soal Asma ada kemungkinan dia dikeluarkan.


"Sepertinya aku kena deh," kata Rita menatap mereka.


"Ah, jangan begitu Rita," kata Koma dan Diana agak cemas.


"Bisa jadi karena dia mencari alasan agar orang-orang bisa dikeluarkan," kata Asmi menjawab.


"Ih, Bu Asmi juga ikut-ikutan," kata Koma memegang bahu Asmi.


"Habis bagaimana Bu Koma. Kenyataannya memang begitu," kata Asmi meletakkan mangkok yang kosong di depan mereka.


Mereka semua tegang hari ini tapi juga pasrah. Yang jadi pertanyaannya masa iya Bu kepala sekolah akan menurut?


Meski Bu Dewi adiknya tapi pasti kan sebagai kakak melihat keonaran nya di setiap sekolah?


"Yuk, sebentar lagi istirahat selesai. Semoga perkiraan aku meleset," kata Asmi berdiri diikuti mereka bertiga yang sudah lemas.


Rita membereskan bajunya dan membuang sampah jajanannya. Dia kembali ke ruangannya dengan tegap!


Tidak disangka melihat Bu Dewi yang baru saja keluar dari ruangan staf. Mereka saling berpapasan, Bu Dewi melirik jutek ke arah Rita.


"Apa sih masalahnya dengan Bu tua itu?" Tanya Rita pelan lalu masuk ke ruangan.


Suasana hening, dia melihat kelima staf tersentak memegang kertas putih di tangan masing-masing.


Di mejanya ternyata ada sebuah amplop putih, dia keheranan. "Punya siapa dan dari siapa?" Tanyanya.


Mereka berlima tidak menjawab, lalu Rita membuka terdapat selembar kertas yang menyatakan dia di pecat.


Kaget membacanya, dia meremas kertas itu. Bu Dewi!


"Apa-apaan ini!? Aku dikeluarkan karena fitnah seseorang?" Tanya Rita kesal dan melempar kertas itu ke lantai.


"Kami juga," kata mereka menangis bersamaan.


Hanya bertiga yang dikeluarkan, dua lagi bekerja biasa. Kok bisa ya? Rita merasakan ada rencana tersembunyi.


Ternyata tidak hanya dirinya dan tiga staf namun ada sepuluh guru kelas yang dipecat dengan alasan aneh.


Ruangan guru ramai sekali dengan amplop putih, beberapa staf menangis karena temannya kena pecat.


"Rita, kamu dikeluarkan juga?" Tanya Diana turun ke lantai satu.


Rita memberikan kertas yang sudah dia remas dan merapihkan semua barangnya.


"Ya Allah! Guru di atas juga ada sepuluh orang yang dikeluarkan," kata Koma dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Ya mau bagaimana lagi. Kalian berdua aman ya karena masih dalam percobaan. Jangan sampai keluar ya, terus bertahan," kata Rita.


Guru dan staf yang diberikan amplop putih terpaksa harus meninggalkan sekolah hari itu juga. Beberapa menangis karena memang tidak adil.


Dalam perjalanan pulang Rita dan beberapa guru menebak, apakah ada keterkaitannya dengan pelamar baru?


"Oh ya, Ibu-ibu waktu kalian pertama mengajar di sekolah ini, apa kalian di tes?" Tanya Rita.


"Iya karena kan tujuannya mengajar ya. Aku di uji untuk bernyanyi dan menciptakan lagu anak," kata Aisyah guru kelas A.


Rita termenung jadi hampir semua guru dan staf juga di tes namun tidak ada di dalam kantor. Semuanya termasuk Rita, di uji dalam kelas.


Asma yang aneh karena tidak ada pengujian meskipun masuk ke staf keuangan.


"Berapa jam kalian di tes?" Tanya Rita.


"Hmm tidak lama sih. Ada 15 menit sisanya ya mengobrol. Bu Rita sama kan?" Tanya Bu Hasna.


"Iya sama kalian merasa aneh tidak. Pelamar yang baru sepertinya tidak ada pengujian," kata Rita.


"Ah, masa sih Bu? Mungkin besok," kata Bu Aisyah.


"Tapi biasanya kan di uji hari itu juga kalau Bu kepala sekolah," kata staf lain.


"Ah sudahlah Bu kita jangan sudzon. Mungkin besok di ujinya, kita bisa tanyakan pada guru lain kan," kata Bu Aisyah meski tahu maksud Rita.


"Iya ya aku bisa tanya pada Koma dan Diana," kata Rita.


"Nah itu. Kita kan masih satu grup sekolah tampaknya Bu Dewi tidak tahu," kata Bu Hasna yang memperlihatkan grup mereka masih aktif.


"Pelamar baru itu berada di dalam kantor selama 1 jam lho. Masa sih di ujinya disana?" Tanya Rita.


"Ah serius? Kalau begitu aneh sih. Kita semua di uji dan wawancara kan dalam kelas bukan kantor. Kita lihat besok saja ya," kata Bu Poppy.


Rita melewati jalan yang dipasang cctv dan dia tersorot begitu saja. Pulang dan naik angkotan umum menuju rumahnya.


Ibu kaget pukul dua kenapa Rita sudan pulang?


"Tumben, jam segini sudah pulang," kata Ibu membukakan pintu.


"Aku di pecat," kata Rita dengan lemas karena membawa buku-buku.


"Kok bisa?" Tanya ibunya.


Di ruang keluarga Rita menceritakan semuanya dan ibu kaget hanya masalah sepele?


"Harusnya kamu jelaskan, tidak seperti itu kan kenyataannya. Dan buat apa sih kamu masih ajak Asma ikut?" Tanya ibu kesal.


"Sudah Bu, tapi orangnya tidak mau tahu. Orang yang protes, tidak disukai, semuanya dikeluarkan," kata Rita bersandar di sofa.


"Sudah, ibu kesana dan menghadap langsung orangnya!" Kata ibu beranjak dengan marah.


"Tidak perlu! Apa-apa jangan ikut campur deh! Ini masalah aku toh memang tuh orang bermasalah!" Kata Rita menolak bantuan ibunya.


Yah sudah sering ikut dalam masalahnya.


"Jadinya kamu tidak ada pekerjaan kan," kata ibu.


"Bagus kan, aku bisa rehat sementara waktu," kata Rita.


"Ya sampai kapan?" Tanya ibu yang tidak suka kalau Rita berada di rumah.


"Sampai Rita tidak lelah," jawab Rita seenaknya.


"Lalu kapan kamu ada rencana untuk bekerja lagi? Jangan banyak malas-malasan di rumah!" Kata ibunya menggerutu dan duduk.


"Tidak akan cari dulu, ingin istirahat," kata Rita menyalakan televisi. Sudah lama juga dia jarang menonton dalam kotak besar itu.


"Masa kamu tidak malu sama orang-orang tidak bekerja?" Tanya ibunya mulai berkhotbah.


"Tidak tuh," jawab Rita sudah terbiasa. Apa salahnya ingin istirahat dari kesumpek an pekerjaan.


"Ya sudah, bagaimana kalau kamu sementara bekerja dengan kakak? Dia butuh bantuan," kata ibu.


"Ga!" Jawab Rita.


Kemudian ibu terus mengomel panjang dan seenaknya mengaitkan dengan kesibukan dan biaya hidup.


"Rita punya uang, kuliah juga ibu tidak pernah beri biaya. Aku kerja sendiri, jadi kalau aku mau istirahat tenang saja. Tidak akan minta untuk biaya hidup," kata Rita membuat ibunya diam.


"Masalahnya bukan begitu, hanya ibu lelah lihat kamu di rumah terus," kata ibunya.


"Ya jangan di lihat lah, biasanya juga ibu tidak pernah anggap aku ada kan. Pokoknya aku tidak akan cari kerjaan dulu. Titik!" Kata Rita.


Ngomel lagi, terus sepanjang kereta api. Lama-lama capek juga Rita mendengarnya dan membanting remote televisi ke sofa.


"Kenapa sih ibu kalau bicara selalu bernada kesal sama Rita? Kakak tiga bulan tidak bekerja, ibu tidak pernah marah-marah atau ceramah sama dia! Rita mau kerja atau tidak, bukan urusan ibu!" Kata Rita kesal dan menuju kamarnya lalu menguncinya.


Ibu terdiam mendengar apa kata Rita. Lalu terduduk, menghela nafas dan berpikir. Saat anak pertamanya enggan bekerja memang benar, ibu tidak memarahinya.


Bahkan Prita juga, yang diam-diam menjadi asisten dosen di universitas ternama. Hanya yang ibu tahu, Prita tengah berusaha belajar untuk S2.


Rita berbaring di kamar, menyeka kedua matanya yang berair. Hidungnya mimisan kembali karena stres bekerja dan... soal Ibu.


Ibu tidak tahu perjuangan Rita dalam bekerja di sekolah tersebut. Sering mimisan karena tugasnya yang menumpuk dan dikejar jadwal penilaian.


Ibunya hanya bertanya bila dia memiliki persediaan makanan. Hanya itu, tidak pernah ditanyakan kabar atau soal sekolah.


Masalah kuliah juga dia berusaha keras agar tidak banyak meminta. Jualan baju, kaus kaki, apapun dia lakukan. Sampai akhirnya diterima bekerja saat lulus.


Ibu tidak pernah menanyakan soal nilai akademik, prestasi di kampus atau apapun. Ibu berfokus pada adiknya dan anak pertama.


Yang ibu tahu, Rita sudah lulus dan baru melihat nilai yang Rita dapatkan. Mendapatkan Cum Laude yang baik, namun tidak ada ucapan selamat.


Hanya Prita yang memberikan bunga serta kado kecil. Ibu hanya membaca dan menaruh, Rita tidak perduli.


Sejak itu juga dia memang sibuk dalam pekerjaannya. Ibu hanya menganggap Rita anak yang malas tidak suka bekerja.


Namun bangga juga setelah tahu gaji Rita cukup besar namun yah, masih tetap sama tidak ada obrolan yang berarti.


Bersambung ...