
Alex mengerti sekarang bahwa Rita lebih suka membicarakan hal secara umum bukan soal dirinya atau orang lain. Tapi kalau ada yang membuatnya sangat terganggu, dia akan beberkan semuanya nya nyaaa...
"Baiklah, sudah cukup aku tidak akan mengganggu kamu lagi Rita. Terima kasih untuk segalanya, kamu akan bahagia dengan orang lain bukan aku. Aku selalu mendoakan itu," kata Alex kemudian mengakhirinya tanpa menunggu balasan Rita.
Rita membacanya namun mereka berdua masih saling menunggu siapakah yang akan di blok pertama.
Kemudian berakhirlah percakapan mereka karena Alex tahu Rita bisa benar-benar pergi bila terus di usik. Tak ikhlas lah dia Rita benar pergi, berharap hanya gertakan dan blokir 3 hari seperti biasanya.
Sekilas Rita masih memikirkan perkara ulat, dia juga merasa aneh kalau hanya mereka bertiga saja yang mengalami. Yah, peduli amat sih pikir Rita mengibaskan tangannya.
Sekarang ada hal penting yang harus dia urus. Rita masih belum mematikan kontak Alex hanya sudah setengah hati membalas chatnya.
Dan... Rita berubah menjadi... Detektif Rita! Dia harus mengungkapkan kebenaran di balik kasusnya itu.
Feb juga mendukung memilih ikut bekerjasama karena menurutnya nama dia menjadi tercoreng.
"Oke, aku bantu kamu karena aku ingin namaku kembali bersih. Dan dugaan kamu dia memang sengaja kan. Tenang aku juga sependapat sama kamu," kata Feb mengetik dengan cepat.
Rita menyeka air matanya dan mulai memantapkan tekad! Aku akan melawan tantangan mu, Ney!
"Kamu seperti biasa saja ya karena dia sekarang sedang senang-senangnya Alex berhasil dia dapatkan," balas Rita.
"Ok, nanti aku rekam kalau dia menelepon dan chatnya aku kirimkan ke kamu. Tenang saja kalau dia berbohong, selalu keluar kebenarannya," kata Feb mengangguk.
Rita tidak masalah, ini bukan yang pertama kalinya Alex selalu begitu soal Ney. Bukan maksud memanipulasi hanya saja Rita ingin Alex mengerti bahwa dirinya enggan menerima pertemanan lagi dengan Ney.
Enggan menerima apapun yang Ney kirimkan entah dengan niat baik ataupun hanya cari muka. Kalaupun ada paket lagi yang dia kirimkan setelah peringatan terakhir ini, Rita akan membuangnya.
Rita sangat enggan menyentuh apapun yang berhubungan dengan Ney, mau barang atau makanan. Kenapaaa dulu Rita tidak menyadarinya, dan baru sekarang. Kalau Ney sangat mengganggu.
Meskipun paket terbungkus dengan plastik dan dus, Rita enggan memegangnya secara penuh. Seharusnya Alex memberikan peringatan kepadanya soal jangan mengirimkan apapun pada Rita.
Bagi Alex, Rita lah yang salah selama ini. Selama beberapa hari Alex memeriksa tidak ada chat apapun, Alex kecewa. Dia mencoba mengirimkan emoji senyum, sama sekali tidak pernah terkirim dan tidak ada balasan.
"Apa dia benar-benar ingin berakhir?" Tanya Alex dengan sedih. Berpikir apa dia salah? Otaknya dan otak Rita jauh berbeda.
Di lain tempat, Ney muncul dalam grup sosialitanya dengan koar-koar heboh bahwa namanya kini bersih. Rita meminta maaf karena berburuk sangka.
"Memangnya berburuk sangka seperti apa sih?" Tanya A.
"Iya, dia mengira aku sengaja kirim bedak ke dia padahal kan aku salah kirim saja," kata Ney tertawa.
"Tapi kok aneh ya kamu sampai kirim alamat rumahnya dia ke aku," kata Feb ikutan.
Anggota pada ribut dan tertawa yah ada juga.
"Lah kok bisa? Kamu suruh Feb yang kirim? Yah! Itu mah sama saja kamu sengaja," kata B memasang emot LOL.
Ney gemas sekali dengan kehadiran Feb karena memang dialah meminta tolong kepadanya. Eeh malah buka kartu.
"Iya memang aku salah ketik aku tahu alamatnya Rita untuk sesuatu yang lain bukan bedak. Lalu aku lupa malah kirim yang itu," jelas Ney berusaha mencari cara untuk tidak ketahuan.
"Masa sih? Aneh ya kalau sudah dapat alamat orang, kalau aku disimpan dimana tidak sampai 'salah kirim' ke Feb untuk paketnya," kata C.
"Memangnya kamu ingat salah kirim itu pas kapan?" Tanya Arsal.
"Di hari keempat paket itu datang ke rumah Rita. Menurut kalian aneh tidak sih sadarnya setelah paketnya sampai?" Tanya Feb.
"HAHAHAHAHA," balas semua orang. Ney tidak peduli ya memang salah kirim menurut pikirannya.
"Iyalah kalau begitu mah aku setuju dengan Feb sengaja bukan salah kirim ya. Aku pernah salah kirim di hari itu juga aku beritahu meski sadar di hari kedua. Mereka akhirnya membatalkan dan menunggu aku membetulkan alamat," kata Isnan.
"Yaa dia sudah blok aku jadi bagaimana caranya?" Tanya Ney.
"Makanya aku heran ya buat apa sih kamu menghabiskan uang kirim barang ke orang yang sudah blok kamu? Kalau kamu sudah di blok berarti dia tidak mau lagi ada kontak sama kamu," kata Wendy.
"Iya kamu sudah jelek di mata dia. Menurut kita sih lebih baik kamu kirim ke orang yang benar-benar teman kamu saja. Soal Rita, biarkan saja toh dia bahagia juga tanpa kamu," kata Safa baru muncul.
Tapi Ney masih saja bersikukuh agar terus berusaha sampai mendapatkan Rita kembali. Meski Rita menolak dengan terus berusaha pasti berhasil.
"Makanya malah aku yang kena amarah Rita mana Ney tidak mengaku kalau dia yang pesan. Kalian juga sudah tahu tabiat dia," kata Feb.
"Gila ya harusnya kamu yang kasih kabar, ya bilang saja ke Feb kalau kamu mau beritahu Rita. Menurut aku Rita pasti mengerti asalkan kamu tidak ajak dia chat lagi," kata Ketua grup menyarankan.
"Apa gunanya sih malah Feb yang suruh? Kamu sudah tahu nomor dia hubungi saja jangan menelepon. "Ri, aku salah kirim paket nih. Sori kalau sudah datang bisa kirim balik? Nanti aku ganti. Maaf ya," gitu doang. Susah?" Tanya Safa.
Ney diam tidak membalas, ya memang itu cara ter mudahnya kena blok juga dia punya banyak nomor lain. Apa susah ya sih? Bilang dan sesudahnya pergi, tidak perlu sampai membuat salah paham.
"Aku awalnya ada sih pikiran begitu tapi nanti dia marah," kata Ney.
"Dijamin tidak akan marah asalkan kamu chat soal paket saja. Setelah itu sudah tinggalkan dia. Dia marah kalau kamu chat dengan tema lain," kata Isnan lagi.
"Menurut aku sih buang-buang waktu sekali ya kamu mengejar orang yang sudah tidak mau diganggu. Sudah jelas dia blok semua media tapi kamunya memaksa supaya balikan jadi teman. Ya kalau aku sih sudah pasti balas perlakuan kamu," kata E.
"Kamu cari muka ya ke dia? Setelah berhasil hancurkan hubungan dia sama laki-lakinya? Soalnya ada yang sama kasusnya dengan orang ini," kata Safa curiga.
Ney diam, dia tidak peduli siapa saja yang mirip atau sama kasusnya dengan Rita. Dia hanya ingin membersihkan kembali namanya yang menurutnya gara-gara Rita, nama dia kotor.
"Kamu juga cerita kalau dia terganggu karena merasa kamu berbuat jahat ke dia. Jadi, bagaimana kelakuan kamu sekarang?" Tanya Anna.
Banyaaakkk sekali yang berkomentar membuat Ney pusing harus menjawab yang mana. Dia sadar sudah banyak salah menjelaskan yang akhirnya malah menjadi jebakan batman untuk dirinya.
Merasa tidak jahat tapi dia mengganggu terus sampai memaksa. Sekarang, mereka keheranan Rita dituduh olehnya lah yang jahat. Selama ini sudah 2 tahun Rita tidak pernah menghubunginya atau mengganggu.
Justru Ney juga yang terus mendatanginya.
"Kamu kok seperti tidak kapok ya mau disebut apa sama dia. Teruuus saja mengganggu, kamu tidak punya rasa malu ya? Suatu hari nanti semua yang kamu perbuat akan berbalik menyerang kamu," kata Asna.
"Kalau memang salah kirim untuk apa juga kamu masih mempermasalahkan? Rita kan sudah minta maaf tidak perlu juga kali kamu cerita disini," kata Safa.
Ney kebanyakan hanya membaca dia terlalu mumet untuk menjawab. Pertanyaan anggota grup seolah-olah tiada henti dan terus memanjang. Mereka saling menjawab satu sama lain dengan pemikiran mereka.
"Aku lebih setuju itu muslihat kamu saja supaya bisa dianggap memang orang itu yang salah. Kan kamu memang begitu orangnya, tidak pernah mau disalahkan padahal kamu sendiri yang buat masalah," kata Arfa muncul juga.
Ney benar-benar hanya diam seharian itu apalagi Arfa muncul juga. Sekarang makin sering entah kenapa. Tapi sebagian juga mendukung memang Ney salah kirim dan Rita terlalu heboh.
"Pokoknya ya aku memang salah kirim," balas Ney.
"Alamat salah, dia beri nomor Rita juga bilangnya itu nomor dia yang baru. Soal alamat juga bilangnya alamat rumah baru dia. Kesannya sengaja supaya aku percaya jadi kambing hitamnya dia nanti," kata Feb.
"Hahaha sampai nomor mah bukan salah tapi memang sengaja. Ah kamu kurang pintar ya buat taktik," kata anggota lainnya.
Kemudian Ney menghampiri chat Feb secara pribadi. "Maksud kamu apa sih bilang begitu di grup?"
"Lho kan memang kamu mendatangi aku buat pesan bedak," balas Feb menyeringai.
"Kan aku sudah bilang kalau aku memang minta tolong karena harganya murah pasti dari akun kamu," kata Ney kelepasan.
Saat dia menyadarinya sudah terlambat, Feb sudah terlebih dahulu memfotokan bukti pengakuan. Ney juga memukuli kepalanya, kenapa malah keceplosan.
Bersambung ...