MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
8



Ney leluasa mengerjakan yang lain sambil bernyanyi riang dan memangku anaknya sambil bernyanyi dan tertawa. Pembantu hanya menggelengkan kepala sedih melihat majikannya bertingkah aneh semenjak kedatangannya.


Rita saat itu sedang mengobrol dengan Alex sambil mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Empat hari produk itu sampailah di rumahnya, saat dirinya masih berada di sekolah.


Ponselnya berdering ada chat dari adiknya. "Rita, ada paket nih,"


Rita baca dan bengong, "Paket? Dari?"


"Lho? Bukannya kamu yang belanja?" Tanya Prita heran.


"Kapan? Tidak ada kok coba kamu foto kan," kata Rita sambil menulis kembali.


Prita lalu mengirimkan foto paket itu, paket yang langsung dipesan dari toko. Rita melihatnya, Mistis??


"Hah? Apa itu? Aneh. Ya sudah simpan saja dulu di kamar," kata Rita sambil mikir apa itu dari Alex? Arnila kah?


"Oke," balas Prita.


Rita lalu bertanya pada Alex. "Kamu kirim paket?"


"Tidak. Aku tidak kirim apapun selain cake yang minggu lalu itu. Memangnya ada yang kirimkan paket ke kamu?" Tanya Alex penasaran. Jadi mikir siapa ya?


"Iya, tapi aku tidak merasa pesan apapun deh," kata Rita berpikir lagi. Arnila? Tapi kan dia tidak punya kontaknya dan harus tanya bagaimana? Emailnya pun sudah hilang begitu saja.


"Salah kirim mungkin?" Tanya Alex menduga.


"Tidak tahu nanti aku cek deh di rumah," balas Rita.


"Cieee dari laki-laki ya?" Tanya Alex menahan esmosi.


"Cemburu yaaaa," balas Rita tertawa kecil.


Mereka berdua saling diam dan Rita memberitahukan bahwa dia sedang sibuk menulis laporan anak-anak. Alex juga memfoto dirinya sibuk di antara kertas-kertas dan tumpukan buku laporan.


Sore pukul 4 Rita akhirnya bisa pulang bersama-sama dengan guru yang lain sampai naik angkot. Rita tiba di rumah dan masuk kamarnya, Prita sedang bersama teman-temannya di ruang tamu.


Dia kemudian melihat paket kotak itu dan berpikir punya siapa? Lalu mencari petunjuk hanya ada kode barang dan nama toko. Dia membuka laptopnya dan mencari petunjuk.


"Iya ya toko mana mau memberitahukan siapa yang pesan," kata Rita akhirnya mencari tahu lewat kode. "Kalau salah kirim kenapa bisa ke alamat rumah aku?" Tanya Rita aneh.


"Hmmm tidak ada, hanya waktu dan tanggal pengiriman saja. Tempatnya juga tidak ada namanya, duh kok perasaan aku tidak enak ya?" Tanya Rita memegangi dadanya.


Ada semacam rasa yang tidak enak, seakan-akan ada yang sengaja mengirimkannya ke alamat Rita. Entah kenapa firasatnya sangat buruk soal paket itu.


Akhirnya Rita membiarkan paket itu dan terdapat perasaan sangat tidak enak akhirnya dia membacakan ayat kursi dan meniup ke arah kotak itu.


Ponselnya berbunyi, Alex men chat nya karena kepo juga soal paket. "Sudah pulang?" Tanyanya.


"Sudah," balas Rita.


"Sudah cek paketnya?" Tanya Alex.


"Sudah, tapi masih belum tahu dari siapa. Aku lupa toko mana mau beritahu siapa yang pesan," kata Rita masih aneh.


"Iya lah. Lalu bagaimana? Kamu buka?" Tanya Alex yang tidak sabar juga. Kira-kira siapa?


"Tidak. Aku merasa tidak beli sih dan..." balas rita agak tidak nyaman.


"Apa?" Tanya Alex tidak sabaran.


"Aku punya firasat buruk soal paket ini. Kenapa ya?" Tanya Rita memandangi paket itu.


Alex tidak menjawab kalau sampai Rita merasakan begitu tandanya ada yang salah. Firasat Rita sangat tajam sampai paketnya tidak dia buka sih. Alex berpikiran juga antara Ney atau Arnila yang mengirimnya.


"Lalu bagaimana?" Tanya Alex tidak mau menduga-duga.


"Hmmm sebentar aku mau lihat alamat. Alamatnya memang alamat rumah aku kok, tapi nomornya. AH! Ada nomor ponsel," kata Rita dengan teliti ya! Ternyata dibaliknya ada alamat rumahnya dan nomor yang tidak dia kenal.


"Hubungi saja mungkin penggemar kamu," kata Alex lega meski masih tetap aneh. Apa motifnya?


"Aku bukan artis tahu," balas Rita dapat petunjuk.


Lalu Rita mencoba hubungi nomor tersebut entah toko atau pengantar paket.


"Halo?" Tanya orang do sana, sentak Rita tahu siapa pemilik suara itu. Dia bengong.


"Feb?" Tanya Rita masih bengong.


"Hah!? Iya ini dengan Feb. Ini siapa ya?" Tanya Feb kebingungan.


"Ini Rita woi! Untuk apa kamu kirim paket ke aku segala? Punya dosa?" Tanya Rita kaget.


Feb juga kaget saat sedang ber malasan. "Hah!? Siapa yang kirim paket ke kamu?" Tanya dia heboh juga.


"Nih," kata Rita mengirimkan penampakan paket tersebut dari berbagai posisi.


Feb memukul dahinya kebingungan. "Apa!? Aku tidak tahu kalau alamat itu rumah kamu. Sumpah!" Kata Feb yang bengong melihat fotonya itu.


"Terus siapa? Untung belum aku buka," kata Rita.


( Di kasus yang aku alami, aku sudah keburu membuka karena memang aneh dan memang aku merasakan firasat sangat buruk yang ternyata... itu kiriman dari Ney!! )


"Itu... itu si Ney yang pesan," kata Feb memberitahukan.


"APA!?" Teriak Rita dalam chatnya. ( Hanya dengan namanya saja sudah buat aku sangat marah. Nama ya kalau lihat orangnya mungkin saya sudah jambak dan banting orangnya ).


Feb berjalan mondar mandir ternyata dia baru mengerti kalau Ney sengaja dan bodohnya Feb tidak sadar alamat rumahnya.


"Dia pesan bedak sejelek ini? Tidak salah?" Tanya Rita menjauhi kotak itu dari pandangannya. Dia melihat nama produk tersebut. Bedak Mistis.


"Serius!" Kata Feb.


"Ada buktinya?" Tanya Rita. Yah tidak perlu juga sih soalnya dia langsung tahu maksud Ney mengirimnya produk itu ke rumahnya.


"Yahhh dia menelepon aku sih katanya dia minta aku belikan karena pakai akun dia ongkosnya mahal," kata Feb.


"Tidak ada pengaruhnya Bu mau pesan di akun manapun kalau orangnya ada dimana. Harganya sama ongkosnya yang beda," kata Rita kesal.


"Iya aku tahu makanya memang agak aneh juga biasanya dia pesan produk mahal. Lah ini murahan," kata Feb.


"Kamu sadar bedak itu diproduksinya di kota dia?" Tanya Rita melihat asal pengiriman.


"Iya, aku sudah sadar. Bodohnya aku," kata Feb memukul kepalanya sendiri. "Aku mau coba pesan benar tidak sih harganya sama?" Tanya Feb penasaran.


Ternyata memang sama saja hanya di ongkos kirim yang berbeda. Bandung lebih murah.


"Terus kenapa dia pakai nomor aku sih?" Tanya Rita masih bete.


"Hah!? Itu nomor kamu? Tapi kata Ney itu nomor dia. Bagaimana sih?" Tanya Feb benar-benar masuk perangkapnya.


"Kamu kan lebih lama kenal dia masa sampai tidak tahu kalau dia tukang bohong? Arnila saja banyak dihasut sama dia soal aku. Masa kamu tidak kenal aslinya?" Tanya Rita masih dengan nada kesal.


Bersambung ...